Cinta Untuk Dokter Nisa

Cinta Untuk Dokter Nisa
Formula Nathan


__ADS_3

Afifah terus melangkahkan kakinya dengan santai, tidak ada rasa takut sedikitpun di dalam hatinya, ia tersenyum melihat sekeliling menyenangkan diri.


Afifah mulai mencium aroma tidak sedap, ia menghentikan langkah kakinya, memperhatikan setiap ruangan tanpa nama.


Mata Afifah melihat selokan berwarna merah darah, dan berpikir itu adalah cairan obat.


"Rumah sakit ini sangat besar, tetapi kenapa banyak gedung yang tidak terpakai?" Afifah melanjutkan langkahnya.


"Kenapa menjadi sepi, tadinya aku melihat banyak orang berjalan kemari, kemana mereka menghilang?" Afifah kebingungan karena jelas-jelas ia melihat banyak pria berpakaian Dokter berjalan ke arah gudang.


Nathan berlari dengan sangat kencang, tidak memperdulikan banyak orang yang telah ia tabrak, ada banyak kekhawatiran yang ada di otaknya.


Bila ada orang asing yang masuk ke gudang penyimpanan tanpa identitas khusus maka akan langsung di bius dan dihilangkan ingatan atau di jadikan korban organ.


Nathan sangat khawatir jika, Afifah melihat isi gudang akan banyak pertanyaan yang ia lontarkan dan Nathan tidak mau semua itu terjadi.


Afifah berada pada gedung paling ujung dan , ia membaca papa nama bertuliskan penyimpanan pusat medis.


"Aku sangat lelah dan haus karena terus berjalan, tidak adakah orang yang bisa aku tanyakan?" Afifah memutar tubuhnya mencari orang.


"Aku melihat seseorang berlari ke dalam gedung ini." Tangan Afifah memegang gagang dan ingin membuka pintu dengan perlahan, ia berharap ada seorang yang membantu dirinya kembali ke ruangan Nathan.


Sebuah tangan kekar menahan tangan Afifah yang menoleh kearah pria tampan tersenyum manis.


"Apa kamu tersesat?" Nathan tersenyum lembut kepada Afifah, baju kemeja telah basah keringat karena berlari.


"Nathan." Afifah terduduk di lantai.


"Kenapa?" Nathan menatap Afifah khawatir.


"Aku lelah berkeliling mencari jalan kembali ke ruangan kamu." Wajah Afifah terlibat pucat.


"Aku akan menggendong dirimu." Nathan bersiap mengangkat tubuh mungil Afifah.


"Tidak, aku hanya butuh istirahat sebentar, aku senang kamu bisa menemukan diriku." Afifah menyenderkan tubuhnya di dinding gudang.


"Sebaiknya kita pindah tempat." Nathan memperhatikan gudang.


"Sebentar saja, aku benar-benar lelah, rumah sakit ini tidak berujung." Afifah menjilati bibirnya yang kering.


"Maafkan aku yang telah meninggalkan dirimu sendirian di ruang kerja ku." Nathan menatap wajah pucat Afifah.


"Ini salahku yang berjalan tanpa tujuan dan tidak tahu jalan." Afifah mengusap keringatnya.


"Ini salahku yang telah membuat dirimu tidak bisa pergi jauh dariku." Nathan berbicara dalam hati dan mengambil ponselnya untuk menghubungi seseorang agar mengantarkan air minum. Seorang pria mengendarai mobil mengantarkan air minum.


Pintu belakang langsung terhubung dengan jalan raya, jalur khusus untuk membawa pesanan.


"Silahkan Tuan, saya permisi." Pria dengan pakaian perawat memberikan kunci mobil dan botol minuman.


"Terimakasih." Nathan mengambil kunci mobil dan air minum.


"Minumlah." Nathan membuka botol mineral dan menyerahkan kepada Afifah.


"Terimakasih, maaf telat merepotkan dirimu." Afifah meminum air mineral dengan hati-hati.


"Kenapa kondisi tubuh ku sangat lemah, biasanya aku bisa berkeliling desa dengan berjalan kaki." Afifah menatap Nathan.


"Mungkin karena kamu tidak sehat.". Nathan mengindari tatapan Afifah karena ia berbohong.


"Tubuh ku baik-baik saja, aku tidak punya penyakit lain." Afifah melihat sekeliling.


"Sebaiknya kita pulang agar kamu bisa beristirahat." Nathan membantu Afifah berdiri.


"Sepertinya aku berjalan terlalu jauh." Afifah melihat mobil sport Nathan terparkir di belakang gudang.


"Apa Aku tidak jadi bertemu dokter?" Afifah melihat jam berwarna putih di tangannya.


"Kamu harus beristirahat, kita bisa kembali lagi besok." Nathan tersenyum lembut.


"Baiklah." Afifah mengikuti Nathan berjalan menuju mobil sport merah.


Nathan menutup pintu mobil, ia melihat Afifah yang telah memejamkan matanya dan tertidur karena kelelahan, tubuhnya sangat lemah.


"Maafkan aku sayang, hanya ingin yang bisa aku lakukan agar kamu tidak bisa jauh dariku, aku tidak mau kehilangan wanita yang aku cintai." Nathan menyentuh pipi Afifah dengan lembut.


Mobil sport melaju dengan kecepatan sedang meninggalkan rumah sakit dan kembali ke villa.


Melihat mobil Nayla terparkir di depan pintu Nathan segera memutar mobil dan keluar dari halaman villa, ia tidak mau Nayla mengganggu Afifah.


Mobil terus melaju hingga ke tepi pantai yang sangat indah dengan restoran dan hotel menghadap ke laut lepas.


Nathan menghentikan mobilnya dan melihat Afifah yang masih tertidur pulas. Menatap wajah cantik dengan bulu mata lentik dan bibir kecil tetapi seksi menggoda.


"Kamu sangat cantik." Nathan menyentuh pipi Afifah yang membuka matanya perlahan.


"Apa kita sudah sampai di rumah?" Afifah melihat sekeliling.


"Pantai." Afifah tersenyum dan keluar dari mobil, ia berlari menuju air laut yang sangat jernih.


Beberapa orang melihat Afifah, kagum akan kecantikan gadis kecil berbalut pakaian tertutup. Nathan tersenyum dan berlari mengejar Afifah yang terlihat senang melihat laut.


"Sayang, berhati-hati." Nathan mendekati Afifah dan melirik beberapa pria yang menatap Afifah.


Wanita cantik itu tersimpan di desa sehingga tidak ada yang bisa melihat kecantikannya. Menghabiskan hari-hari bernama anak kecil dan pasien.


Ketika ia keluar dari desa, semua orang kagum akan kecantikan yang luar biasa dan berbeda, usia dewasa tetapi Afifah memiliki wajah imut gadis remaja.


"Nathan, aku sangat suka pantai." Afifah tersenyum cantik.


"kita bisa pergi ke pantai setiap hari." Nathan tersenyum.


"Dulu aku selalu pergi bersama Asraf dan kami dimarahi." Afifah tersenyum.


"Bisakah kamu melupakan Asraf?" Nathan menatap tajam kepada Afifah.


"Kenapa? dia adalah adikku." Afifah tidak suka dengan kalimat Nathan.


"Karena aku cemburu jika kamu terus menyebutkan nama pria lain di hadapan ku." Nathan memegang hijab Afifah yang melayang tertiup angin.


"Dia adikku." Afifah menekan suaranya.


"Aku tetap tidak suka." Nathan menundukkan kepalanya mendekat pada wajah Afifah yang harus mendongak karena Nathan yang sangat tinggi.


"Lepaskan!" Afifah menarik hijabnya dan berjalan menjauhi Nathan.


"Aku merasa aneh dengan pria itu, apakah ada orang yang cemburu dengan saudaranya sendiri." Afifah terus berjalan.


Nathan mengikuti Afifah dari belakang, ia khawatir wanita itu akan pingsan karena terlalu lelah.


"Hai gadis, kamu sangat cantik, bolehkah kita berkenalan?" Seorang pria berdiri di hadapan Afifah yang langsung mendongak.


"Jangan ganggu kekasihku!" Nathan mendorong tubuh pria itu hingga tersungkur di pasir.


"Aku kira dia lebih cocok menjadi adik kamu." pria itu tersenyum.


"Hentikan!" Afifah menarik kemeja Nathan.


"Jika bukan karena kekasihku, aku akan menghancurkan wajah dan membutakan mata kamu!" Nathan berbisik di telinga pria yang telah berdiri.


"Jangan pernah muncul lagi di hadapan ku lagi!" Nathan tersenyum dan menarik tangan Afifah melewati pria yang tersenyum.


"Menarik, sangat menyenangkan melihat pria yang overprotektif pada wanitanya, pasti ia mendapat dengan sulit." Pria itu tersenyum dan melihat Afifah yang menoleh melihat dirinya.

__ADS_1


"Wanita dengan wajah yang menggemaskan." pria itu terus memperhatikan Afifah yang melepaskan tangannya dari genggaman Nathan.


"Kenapa kamu sangat kasar, aku tidak suka." Afifah menghentikan langkahnya.


"Maafkan aku." Nathan menghadap Afifah.


"Apa kamu suka memukul orang?" Afifah menatap tajam kepada Nathan.


"Aku akan memukul orang yang akan bersalah." Nathan tersenyum tampan.


"Apakah pria tadi bersalah?" Afifah tidak memindahkan tatapannya.


"Ya, dia bersalah karena telah menggoda dirimu." Nathan menatap tajam kepada Afifah.


"Dia hanya menyapa." Afifah melewati Nathan.


"Dengar Afifah, kamu hanya milikku." Nathan menghalangi jalan Afifah.


"Aneh." Afifah kembali melewati Nathan.


"Dia sangat menggemaskan." Nathan tersenyum dan berjalan di samping Afifah.


"Afifah, apa kamu marah?" Nathan memiringkan kepala dan tubuhnya.


Afifah benar-benar lebih pantas menjadi adiknya, walaupun usia mereka sama tetapi dengan tinggi yang hanya batas dagu Nathan dan wajah imut membuat Afifah terlihat seperti gadis remaja yang menggemaskan.


"Tidak." Afifah tidak memperdulikan Nathan, ia terus berjalan hingga sampai ke depan restoran.


"Apa kamu lapar?" Nathan tersenyum.


"Ya, sekarang waktunya makan siang." Afifah menaiki tangga restoran.


"Apa kamu membawa uang?" Afifah menatap Nathan.


"Tentu saja, kamu bisa makan apa saja." Nathan tersenyum melihat wajah menggemaskan Afifah.


"Aku harus kembali ke desa." Afifah segera duduk di kursi pinggir pagar restoran terapung.


"Kenapa?" Nathan duduk di depan Afifah.


"Aku tidak punya apa-apa disini, ponsel dan dompet ku tidak ada pada diriku, aku tidak memiliki identitas diri." Afifah membuka buku menu.


"Tunggu di sini, jangan beranjak dari kursi." Nathan berlari ke arah mobil dan mengambil dompet wanita dari dalam mobil.


"Apa ini?" Afifah membuka dompet dan melihat kartu kredit berwarna emas dan hitam.


"Kamu bisa mengunakan kartu itu untuk membeli sesuatu yang kamu mau dan suka." Nathan tersenyum.


"Apa yang akan aku beli, aku hanya mau ponsel dan dompet ku sendiri." Afifah memasukkan kembali kartu dompet ke dalam dompet dan menyerahkan kepada Nathan.


Nathan menatap Afifah dengan tatapan kecewa, wanita dari desa itu tidak tertarik dengan uangnya.


"Kamu bisa menyimpannya." Nathan meletakkan dompet di tangan Afifah.


"Kamu saja yang menyimpannya, baju tidak bisa pergi kemanapun tanpa dirimu." Afifah meletakkan dompet di atas meja dan kembali memilih menu.


Nathan menarik napas panjang dan membuangnya, ia meletakkan dompet di dalam saku celananya dan melambaikan tangannya memanggil pelayan restoran.


"Selamat siang Tuan, silahkan pilih menu Anda." Pelayan tersenyum ramah kepada Nathan yang tidak melihatnya sama sekali.


"Afifah Sayang, apa kamu sudah memilih menu?" Nathan menarik menu dari tangan Afifah.


"Ya, Cumi dan udang saus tiram serta ikan gulai pedas asam manis." Afifah tersenyum cantik kepada pelayan.


"Baiklah apa ada tambahan lain Tuan?" Pelayan kembali melihat wajah tampan Nathan.


"Tidak." Nathan menyerahkan buku menu.


"Pria itu sangat tampan." rekan pelayan menunjukkan kepada meja Nathan.


"Kamu benar, Aku pikir gadis itu adiknya terlihat masih muda tetapi ia memanggilnya Sayang." pelayan menggerutu.


"Anak remaja lebih suka berpacaran dengan pria dewasa karena banyak uangnya dari pada pria seumuran dengan mereka." para pelayan bergosip.


"Kamu benar pasti dia anak SMA yang membutuhkan uang untuk biaya sekolah." seorang tertawa.


"Pakaian tertutup padahal otaknya memikirkan cara cepat mendapatkan uang." seorang pelayan melihat ke arah Afifah.


"Kenapa pria tampan itu tertarik pada gadis kecil dengan pakaian tertutup?" seorang chef meletakkan menu di atas nampan.


"Entahlah." Mereka tertawa bersama menikmati gosip pengunjung restoran.


"Apa kalian bekerja untuk bergosip?" Seorang pria berdiri di depan pintu dapur.


Mereka segera mengantarkan pesanan Nathan dan Afifah dan menatap di atas meja.


"Silahkan menikmati." Pelayan tersenyum manis.


"Terimakasih." Afifah membalas senyuman pelayan.


Seorang pria memperhatikan Afifah dengan senyuman, ia bisa menebak dari gaya bicara dan sikap Afifah adalah wanita dewasa yang memiliki wajah gadis remaja.


"Dia adalah wanita yang menggemaskan, tidak akan ada yang bisa menebak usianya." Pria itu tersenyum.


Afifah menikmati makan siang bersama Nathan dengan elegan, ia adalah wanita dewasa yang bisa membawa diri.


Berusaha melupakan rasa sakit yang ia alami semasa kecilnya, hingga membuat Afifah melupakan semua hal, trauma berlebihan dan perlakuan kejam dari orang tuanya.


Afifah menjalani hidup bagaikan air mengalir, mengikuti arus yang mengantarkan ia entah kemana. Hidup tanpa beban karena terlalu banyak luka dan derita yang ia alami.


Nathan memperhatikan Afifah, ia tidak bisa memahami wanita yang ada didepannya, ada banyak rahasia yang tersimpan dan terkubur di dalam ingatan yang telah dihapuskan.


Mereka telah selesai menikmati makan siang dan menghabiskan semua makanan yang tersaji di atas meja. Afifah tersenyum manis melihat Nathan makan dengan lahap.


"Kenapa kamu tersenyum?" Nathan melihat Afifah.


"Aku suka melihat makan habis tidak bersisa." Afifah merapikan peralatan makan dan menyusunnya sehingga memudahkan para pelayan membereskannya.


"Pelayan bisa melakukannya." Nathan menahan tangan Afifah.


"Tidak apa membantu mereka mempercepat pekerjaan mereka." Afifah tersenyum.


Nathan merasakan ponselnya berdering dan melihat sebuah pesan dari kepala pelayan yang mengatakan Nayla telah pulang.


"Sebaiknya kita pulang, pasti kamu sangat lelah, tunggulah di sini aku kan pergi membayar." Nathan beranjak dari kursi dan berjalan menuju kasir.


"Apakah aku bisa membersihkan meja sekarang?" seorang pelayan wanita mendekati Afifah.


"Tentu saja." Afifah tersenyum.


"Terimakasih." Pelayan memindahkan peralatan makan ke meja dorong.


"Maaf, apakah kamu seorang pelajar?" tanya seorang pelayan.


"Aku seorang guru." Afifah tersenyum dan beranjak dari kursi, ia tidak mau menghalangi para pelayan membersihkan meja.


"Benarkah?" Pelayan saling tatap tidak percaya.


"Sayang, ayo kita ke mobil." Nathan menarik hijab Afifah.


"Kenapa kamu suka menarik hijab ku?" Afifah menatap Nathan.


"Jadi apa yang harus aku tarik?" Nathan tersenyum.

__ADS_1


"Lupakan." Afifah masuk ke dalam mobil dan duduk manis.


Nathan mengendarai mobil hingga berhenti di sebuah supermarket mewah, ia melihat Afifah yang memandang keluar tetapi tidak niat untuk keluar.


"Kenapa kita berhenti di sini?" Afifah melihat kearah Nathan.


"Kita harus membeli ponsel baru untuk dirimu, jika kamu tersesat kamu bisa menghubungi diriku." Nathan tersenyum dan membukakan pintu untuk Afifah.


"Bisakah aku menunggu di mobil saja." Afifah masih berdiam di kursinya.


"Kenap Kamu bisa memilih ponsel yang kamu suka." Nathan menatap Afifah.


"Aku tidak mau masuk ke dalam sana." Afifah menunduk.


"Kenapa?" Nathan menunduk melihat wajah Afifah.


"Aku pernah tersesat di supermarket dan hanya Asraf yang berhasil menemukan diriku." Afifah melihat kearah Nathan.


"Baiklah, apa warna kesukaan dirimu?" Nathan tersenyum.


"Kamu bisa memilih sesuai keinginan dirimu." Afifah tersenyum.


"Baiklah tetaplah berada di mobil jangan keluar!" Nathan tersenyum pada Afifah yang menganggukkan kepalanya seperti anak kecil penurut.


Nathan berlari cepat menuju tempat pembelian ponsel, ia tidak mau meninggalkan Afifah terlalu lama.


"Harusnya aku memesan dari rumah saja dan tidak perlu membeli di sini." Nathan menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Hari ini aku terus berlari." Nathan tersenyum sendiri.


Afifah memperhatikan sekeliling, ia melihat pria yang tidak asing tetapi ia lupa namanya, pria tampan, tegas dan terlihat dingin berjalan melewati Afifah masuk ke dalam mobil.


"Siapa pria itu?" Afifah keluar dari mobil dan melihat Asraf duduk di kursi pengemudi di samping pria yang melewati dirinya.


"Asraf, Asraf." Afifah berteriak dan mengejar mobil yang semakin menjauh dari tempat parkir.


Afifah terus berlari, ia tidak tahu kondisi tubuhnya tidak bisa terlalu lelah akibat dari formula yang Nathan berikan kepada dirinya.


"Asraf." Afifah berteriak, ia terjatuh di jalanan, merasakan kepala pusing dan dadanya sesak.


Dunia seakan berputar dan semakin gelap, ia tidak sadarkan diri ia jalanan, sebuah mobil berhenti tepat di depan Afifah.


Seorang wanita berjilbab keluar dari mobil dengan terburu-buru dan melihat Afifah yang telah pingsan.


"Jhonny gendong gadis ini ke tepi jalan!" Asiyah terlihat khawatir. Ia segera mengambil kotak obat yang ada di dalam mobil dan memeriksa kondisi tubuh Afifah.


"Tubuhnya sangat lemah, ia harus segera di impuls" Aisyah melihat ke arah Jhonny.


"Kita harus membawanya ke rumah Sakit." Aisyah melihat sekeliling, sebuah klinik tidak jauh dari supermarket.


"Itu klinik." Jhonny menunjukkan tangannya.


"Bawa gadis ini!" Aisyah menatap Jhonny.


"Apa aku harus menggendongnya lagi?" Jhonny menatap Aisyah.


"Aku mengizinkan dirimu untuk menolong orang." Aisyah tersenyum.


Jhonny segera mengangkat tubuh Afifah berjalan bersama Aisyah menuju klinik. Nathan yang kebingungan mencari Afifah melihat Aisyah dan Jhonny.


"Berikan kepada diriku." Nathan merebut Afifah dari tangan Jhonny.


"Nathan, apa kamu mengenali gadis ini?" Aisyah melihat ke arah Nathan.


Jhonny menatap Nathan penuh benci karena telah mencelakakan Nisa dan Stevent.


"Tentu saja, ia bersama diriku." Nathan berjalan menuju mobilnya.


"Kenapa ia pingsan di tengah jalan dan kondisinya sangat lemah seperti keracunan." Aisyah mengentikan langkah Nathan.


"Dia sedang sakit dan aku tahu kondisi dirinya." Nathan membaringkan tubuh Afifah di kursi dan menutup pintu.


"Nathan, gadis itu harus segera di rawat di rumah sakit." Asiyah terlihat khawatir.


"Apa anda lupa aku adalah seorang ahli kimia?" Nathan tersenyum dan mengendarai mobil meninggalkan Aisyah dan Jhonny.


"Aku curiga dengan tubuh gadis itu." Aisyah melihat mobil Nathan yang telah hilang dari pandangan.


"Ayo kita pulang." Jhonny menggenggam tangan Aisyah.


"Jika aku bertemu lagi dengan gadis itu aku akan mengambil darahnya." Aisyah berbicara sendiri dan berjalan bersama Jhonny kembali ke mobil.


***


"Kenapa kamu harus bertemu dengan dokter Aisyah" Nathan melirik Afifah.


Sebagai seorang Ahli kimia tidak sulit bagi Aisyah untuk mengetahui kondisi tubuh seseorang yang terkena racun begitu juga dengan Nathan.


"Cukup sekali ini saja kamu keluar dari rumah." Nathan mengendarai mobil dengan kecepatan tinggi menuju villa miliknya.


Mengendong tubuh Afifah hingga ke kamar dan membaringkan di atas tempat tidur.


"Apa yang ia lihat hingga berlari ke jalanan?" Nathan membuka kemejanya yang telah lengket oleh keringat.


Menyuntikkan satu ampul cairan pada tangan Afifah untuk menstabilkan kondisi tubuh dan menetralkan formula yang telah membuat Afifah lemah.


"Ternyata formula ini cukup berbahaya pada tubuh wanita ku." Nathan mengusap keringat di wajah Afifah dengan handuk basah.


***


Nayla mondar-mandir di ruang tengah menunggu kepulangan Nathan dari rumah sakit, ia tidak tahu jika kakaknya membawa wanita ke villa.


"Paman, kenapa Nathan belum kembali, tidak biasanya dia berada begitu lama di rumah sakit."Nayla melipat kedua tangannya di dada.


"Apakah nona Nayla telah menghubungi nomor ponsel Tuan muda?" Kepala pelayan menunduk.


"Ponsel dia tidak aktif." Nayla duduk di sofa.


"Mungkin Tuan Muda sedang sibuk." Kepala pelayan tersenyum. Ia tahu tuannya sedang sibuk dengan seorang wanita yang sangat dicintai.


"Aku sangat kesal, Nathan tidak memiliki waktu lagi untuk diriku." Nayla meneguk jus buah segar.


"Dulu Nisa yang merebut Nathan dariku sekarang tidak boleh ada orang yang mengambil waktu dan perhatiannya untuk diriku." Nayla tersenyum.


"Tuan muda juga butuh pendamping hidup, usianya tidak muda lagi." Kepala pelayan menunduk.


"Apa paman menghina diriku?" Mata Nayla melotot.


"Maaf Nona, seorang pria berbeda dengan wanita." kepala pelayan melirik Nayla.


"Lupakan, aku tidak mau berdebat dengan Paman." Nayla beranjak dari kursi dan berjalan menuju mobilnya meninggalkan villa Nathan.


"Tuan Nathan harus melepaskan diri dari nona Nayla, jika ingin hidup bahagia bersama orang yang ia cintai." Kepala pelayan melihat kepergian Nayla.


***


Mohon dukungnnya berikan like, Komentar, bintang 5, Tips dan Vote. Terimakasih.


Baca juga Novel Author berjudul “Arsitek Cantik” dan "Mengejar Cinta Ariel"


Novel Kakakku “Nyanyian Takdir Aisyah dan Cinta Bersemi di Ujung Musim.” (Fitri Rahayu). Terimakasih.


Semoga kita semua dalam keadaan sehat dan selalu mendapatkan perlindunganNya, Aamiin.

__ADS_1


__ADS_2