
Mobil Jade langsung memasuki perkarangan rumah Stevent, mengantarkan Viona dan Ayumi, ia segera menjalankan mobil untuk segera kembali ke rumahnya. Hanya ucapan terimakasih dan senyuman cantik dari dua wanita luar biasa bagi Jade. Mereka berdua berjalan menuju pintu utama dan di sambut oleh Salsa.
“Selamat datang, Nona Viona.” Salsa tersenyum.
“Halo Salsa, apakah Kak Nisa ada di rumah?” Viona terlihat tidak bersemangat, ia berjalan menuju ruang tamu dan berbaring di sofa..
“Robot buatan Jepang.” Ayumi menatap tajam pada Salsa dan tersenyum, ia telah bertemu dengan apa yang ia cari.
“Aku tidak tahu akan bertemu dengan kamu begitu cepat.” Ayumi berbisik di telinga Salsa.
“Perkenalkan diri anda!” Salsa mendeteksi data Ayumi dengan mengeluarkan sinar berwarna biru menyinari seluruh tubuh.
“Halo Salsa, aku adalah Ayumi Tadashi Yanai.” Ayumi membuka maskernya dan tersenyum pada Salsa yang langsung terdiam dan menunduk.
“Bangun Salsa, apakah kamu produk gagal Papa Mark?” Ayumi kembali mengaktifkan Salsa dengan ponselnya dan berjalan mendekati Viona.
“Nona Ayumi katakan perintah anda.” Salsa berjalan mendekati Ayumi.
“Ayumi, bagaimana Salsa bisa patuh pada dirimu?” Viona menatap Salsa yng terus menunduk.
“Aku tidak tahu.” Ayumi melihat kearah Salsa.
“Duduklah, aku akan memanggil kakak ku.” Viona tersenyum dan berjalan menuju kamar keponakannya.
Ayumi memeriksa tubuh Salsa dan memperbaikinya, ia tidak tahu kenapa robot itu menjadi patuh pada dirinya.
“Papa Mark tetap masih memiliki kelemahan.” Ayumi tersenyum.
“Salsa, buatkan aku jus buah segar.” Ayumi berbisik si telinga Salsa.
“Baik Nona Muda.” Salsa berjalan ke dapur.
Viona dan Nisa memperhatikan interaksi Ayumi dan Salsa, Nisa heran karena Salsa bisa patuh pada pengawal adiknya yang baru pertama kali datang kerumahnya.
“Ayumi, kenalkan istri kakak ku Anisa Salsabila.” Viona menggandeng Nisa.
“Halo Nyonya Nisa, saya Ayumi Tadashi Yanai.” Ayumi menunduk dan tersenyum.
“Ayumi, tidak usah terlalu formal, kamu terlihat masih sangat muda dan cantik.” Nisa menyentuh pipi Ayumi.
“Terimakasih Nyonya.” Ayumi menunduk, raut wajahnya terlihat sedih melihat wajah Nisa.
“Kemarilah.” Nisa menggandeng tangan Viona dan Ayumi bersama.
“Kak, kita mau kemana?” Suara Viona terdengar manja.
“Makan siang.” Nisa tersenyum.
“Ada apa dengan wajah cemberut ini?” Nisa mencubit pipi Viona.
“Duduklah!” Nisa menarikkan kursi untuk Ayumi dan Viona.
__ADS_1
“Kenapa anda lakukan itu Nyonya?” Ayumi menahan tangan Nisa.
“Tak apa, kamu bisa menjadi adikku dan memanggilku kakak.” Nisa menekan pundak Ayumi dengan lembut agar duduk.
“Terimakasih.” Ayumi menunduk.
“Viona, tidak boleh cemberut di depan makanan, setelah ini kamu bisa ceritakan semuanya.” Nisa mengusap kepala Viona.
“Baiklah.” Viona tersenyum manja.
“Ayo kita makan.” Nisa membaca doa makan dan mengambilkan nasi untuk Ayumi dan Viona.
Mereka bertiga makan bersama dengan tenang tanpa suara hingga selesai, Ayumi segera beranjak dari kursi dan mengambil semua piring kotor membawanya ke tempat pencucian piring.
“Salsa bisa melakukannya, kemarilah beristirahat.” Nisa menarik tangan Ayumi berjalan ke ruang tengah bergabung dengan Viona yang terlihat bermalas-malasan.
“Ada apa dengan gadis kecil itu?” Nisa tersenyum melihat Viona.
“Nona Muda, ini jus Anda.” Salsa menyerahkan segelas ju buah pada Ayumi.
“Nona Muda, bagaimana Salsa bisa memanggil dirimu Nona Muda?” Nisa menatap heran pada Ayumi.
“Mungkin karena aku melakukan perkenalan yang salah pada Salsa.” Ayumi tersenyum gugup, ia mengambil jus dari tangan Salsa dan duduk di samping Viona.
“Ada apa dengan dirimu?” Nisa mengusap kepala Viona yang langsung memeluk pinggang kakaknya dan menangis.
Nisa terkejut, ia melirik kepada Ayumi yang terlihat biasa saja meneguk jus buah segar buatan Salsa dengan santai.
“Viona, katakana ada apa?” Nisa mengusap punggung Viona.
“Gagal, Stevent mengatakan kamu berhasil bahkan memenjarakan para penjahat.” Nisa melepaskan pelukan Viona dan menatap wajahnya.
“Ya, tetapi itu semua berkat bantuan Ayumi dan diriku hanya melakukan sedikit saja.” Viona kembali memeluk Nisa.
“Itu tidak akan jadi masalah, semua orang butuh tim dan sukses bersama, seroang dokter saja tidak bisa melakukan operasi sendirian.” Nisa mengusap air mata Viona.
“Tetapi aku telah mengecewakan pangeranku.” Viona menangis semakin menjadi-jadi.
“Viona tenanglah, kamu bukan anak kecil yang terus merengek.” Nisa memegang pipi Viona.
“Tuan Fauzan terlalu berharap lebih pada Nona Viona.” Ayumi meletakkan gelas di atas meja.
“Nona Viona, kenapa anda menangis, harusnya anda tersenyum bahagia.” Ayumi meatap tajam pada Viona.
“Apa maksud kamu Ayumi?” Viona melepaskan pelukannya dan mengusap air mata.
“Menurut saya, Tuan Fauzan sangat perhatian dan khawatir kepada anda.” Ayumi tersenyum.
“Bagaimana mungkin.” Viona menyenderkan tubuhnya.
“Seorang pangeran rela datang ke kota kecil hanya untuk mengawasi anda dari kejauhan, itu membuat anda cukup berbangga hati Nona.” Ayumi tersenyum cantik dan melirik Nisa.
__ADS_1
“Apa yang dikatakan Ayumi benar sayang.” Nisa tersenyum.
“Berpikir baiklah sayang.” Nisa mengusap kepala Viona, ia bisa melihat senyuman di wajah cantik asik Stevent.
“Aku mau beristirahat.” Wajah Viona memerah, ia berlari ke kamar yang ada di lantai atas.
“Kenapa nona Viona harus jatuh cinta pada pangeran Fauzan?” Ayumi melihat Viona.
“Kenapa Viona tidak boleh jatuh cinta kepada Fauzan?” tanya Nisa melihat wajah cantik Ayumi.
“Karena itu akan sangat sulit bagi nona Viona, Tuan Fauzan menginginkan wanita sempurna seperti adiknya Putri Ayesha.” Ayumi menatap Nisa.
“Mungkin sulit tetapi tidak ada yang tidak mungkin jika Tuhan menghendaki, selama manusia mau berusaha dan berdoa.” Nisa tersenyum pada Ayumi yang menunduk.
“Apa kamu tidak lelah Ayumi?” Nisa duduk di samping Ayumi.
“Tidak Nyonya, saya sudah terbiasa.” Ayumi tersenyum.
“Apa kamu mau bertemu dengan putra dan putri kembar kami?” Nisa menyentuh tangan Ayumi dengan lembut.
“Apakah anda telah memiliki anak?” tanya Ayumi.
“Ya, kemarilah.” Nisa menarik tangan Ayumi dan berjalan bersama menuju kamar Azzam dan Azzura.
“Putra-Putri anda sangat tanpan dan cantik Nyonya.” Ayumi tersenyum melihat Azzam dan Azzura.
“Terimakasih.” Nisa tersenyum.
“Apakah mereka robot pengasuh?” tanya Ayumi melihat dua robot yang menatap dirinya dlam diam.
“Ya, hadiah dari papaku.” Nisa tersenyum.
“Aku juga memiliki robot pengasuh ketika masih kecil.” Ayumi menatap Nisa.
“Benarkah?” Nisa tersenyum.
“Nyonya, saya pamit untuk beristirahat.” Ayumi keluar dari kamar Azzam dan Azzura, ia berlari menaiki tangga dan mencari kamar Viona.
“Jika dia diasuh oleh robot berarti ia tidak mempunyai ibu.” Nisa menarik napas dalam dan membuangnya dengan berat.
***
Mobil Fauzan melewati pesantren dan menuju parkiran Hotel, pria itu menoleh perkarangan rumah Abi Ramadhan, tetapi tidak melihat mobil Viona terparkir pada tempat biasanya.
“Kemana dia pulang?” tanya Fauzan dalam hatinya.
“Tuan, apakah anda mengkhawatirkan nona Viona?” Asraf tersenyum.
“Tidak ada yang perlu dikhawatirkan, wanita itu akan menjaga dia dengan baik.” Fauzan menatap tajam pada Asraf.
Fauzan dan Asraf keluar dari mobil dan berjalan bersama masuk ke dalam hotel, pria itu segera masuk ke kamar dan mengunci diri, ia sangat lelah.
__ADS_1
"Apakah Viona marah?" Fauzan membuka semua pakaiannya, ia membersihkan diri.
***(Ngantuk)***(Up Dikit)***(Maaf)***