
Fauzan, Ayesha dan Kenzo duduk di ruang pertemuan milih Restoran Abi Ramadhan, mereka membahas tentang perusahaan yang bergerak di bidang mesin – mesin besar.
Ayesha fokus dengan layar komputernnya, sesekali Kenzo mencuri pandang untuk melihat mata indah Ayesha.
Terdengar ponsel Fauzan berdering nada panggilan, Fauzan melihat layar ponsel, nama yang jarang menghubungi dirinya kecuali hal terdesak.
“Assalamualaikum Pa.” Fauzan menerima panggilan, seketika Ayesha menoleh kearah Fauzan ketika ia mendengat Fauzan menyebutkan papa.
Fauzan melirik Ayesha, ada rasa khawatir di hati Fauzan karena Raja hampir tidak pernah menghubungi dirinya.
“Fauzan, apakah putri bersama kamu?” tanya Raja.
“Ya.” Jawab Fauzan.
“Papa mau kalian segera kembali ke kerajaan Arab!" tegas Papa.
“Kenapa kami harus segera kembali ke Arab?” tanya Fauzan membuat Kenzo melihat kearah Ayesha dan Fauzan.
“Putra Sultan Brunei melamar Ayesha.” Tegas Raja yang membuat Fauzan terdiam dan melihat melihat kepada Ayesha dan Kenzo.
“Kami akan segera kembali ke Arab.” Ucap Fauzan mengakhiri panggilan.
“Ada apa? Kenapa papa tidak berbicara dengan diriku?” tanya Ayesha pelan.
“Papa mau kita segera pulang ke Arab.” Fauzan membereskan berkas di atas mejanya.
“Kenapa?” tanya Ayesha lembut.
“Putra Sultan Brunei Darusalam melamar dirimu.” Ucap Fauzan melihat kearah Kenzo yang terdiam dan menunduk.
Kenzo merasa dirinya memang tidak pantas untuk Ayesha yang seorang tuan putri, pasti ada banyak pangeran yang melamar Ayesha, bertemu dengan Ayesha baginya hanya keberuntungan dan hadiah dari Tuhan.
Ayesha melirik kearah Kenzo, ia tidak tahu apa yang Kenzo rasakan setela mendengarkan perkatan Fauzan.
Menikahi dirinya karena kebetulan atau ada cinta yang telah Allah selipkan di hati mereka berdua dengan cara yang tidak terduga.
“Baiklah, kita pulang.” Ayesha tersenyum.
Kenzo mengangkat kepalanya dan melihat kearah Ayesha yang tersenyum di balik cadarnya.
‘Apa kamu bisa ikut Kenzo?” tanya Fauzan mengejutkan Kenzo.
“Apakah aku pantas untuk ikut?” Kenzo balik bertanya.
“Apa kamu tidak mau melamar Ayesha langsung kepada Raja?” Fauzan kembali bertanya.
“Tentu saja, aku akan ikut ke Arab.” Kenzo tersenyum penuh keyakinan.
“Kita akan pulang setelah menyelesaikan semua proyek dan pabrik beserta perusahaan ini stabil.” Tegas Fauzan.
Mereka menyelesaikan meeting dan keluar ruangan bersama, selama Kenzo tinggal di pesantren Ayesha menginap di hotel.
“Tuan Fauzan, Apa saya boleh berbicara dengan Ayesha?” tanya Kenzo.
“Tentu saja, antarkan Ayesha kemali ke hotel dengan selamat!” tegas Fauzan berjalan menuju kamarnya.
__ADS_1
“Baiklah, terimakasih.”Kenzo berjabat tangan dengan Fauzan
“Kita akan berbicara di ruang makan restoran.” Ucap Kenzo dan Ayesha hanya mengangguk dan barjalan di samping Kenzo dengan jarak yang cukup jauh.
Ayesha duduk berhadapan dengan Kenzo, ia menundukan kepalanya melihat kaki yang terbungkus sepatu kets berwarna putih.
“Ayesha, maukah kamu menikah dengan diriku?” Kenzo meletakkan sebuah kotak kecil berwarna putih di atas meja.
Ayesha mengangkat kepalanya dan melihat kotak kecil di atas meja, pria pertama yang menyentuh dirinya adalah Kenzo, cinta atau tidak Ayesha hanya mau satu pria yang menyentuh dirinya yaitu suaminya.
Cinta akan tumbuh ketika bersama, Kenzo pria yang baik dan Ayesha yakin, Tuhan akan memberikan jodoh sesuai dengan cerminan dirinya, jika dia adalah wanita baik di mata Allah maka Allah akan kirimkan pria baik untuk dirinya.
“Tentu saja.” Jawab Ayesha yakin, ia mengambil kotak kecil dan membukanya.
“Apa aku boleh memakainya?” tanya Ayesha tanpa melihat Kenzo yang terpaku menatap kepada Ayesha, ia masih tidak percaya Ayesha menerima lamarannya dengan cepat tanpa meminta wakt untuk berpikir.
Ayesha mengangkat kepalanya dan melihat kearah Kenzo yang masih terdiam dan terpaku menatap dirinya, ia meletakkan kembali kotak kecil di atas meja.
‘Aku akan kembali ke hotel.” Ayesha berdiri dan berjalan meninggalkan Kenzo.
“Ayesha.” Kenzo menghentikan langkah kaki Ayesha.
“Ya.” Ayesha tidak menoleh.
“Pakailah cincin ini ketika kamu sudah berada di kamar.” Kenzo berdiri dan memberikan kotak berisi cincin kepada Ayesha.
“Baiklah.” Ayesha mengambil kotak dari tangan Kenzo.
“Ayesha, aku mencintaimu.” Ucap Kenzo pada Ayesha yang hanya diam tanpa sepatah katapun.
Melangkahkan kaki bersama menuju hotel dengan adanya jarak diantara mereka berdua agar tidak saling bersentuhan. Kenzo mengantar Ayesha sampai depan pintu kamar dan mengucapkan salam.
“Ayesha,” sapa Kenzo kepada Ayesha yang akan membuka pintu kamarnya.
“Ya, Ayesha memutar tubuhnya menghadap Kenzo.
“Aku telah jatuh cinta kepada dirimu.” Tegas Kenzo menatap Ayesha.
“Terimakasih, assalamualaikum.” Ayesha membuka pintu dan masuk ke dalam kamarnya.
“Waalaikumsalam.” Kenzo tersenyum melihat Ayesha yang hilang di balik pintu.
Ia merasa sangat bahagia, karena lamarannya diterima oleh Ayesha, ia yakin cinta akan tumbuh diantara mereka berdua, walaupun Kenzo telah jatuh cinta lebih dulu kepada Ayesha dengan pesona wanita Soleha yang luar biasa.
Kenzo tersenyum bahagia, ia berjalan keluar dari hotel dan menuju Pesantren, membawa hati yang berbunga – bunga dan rasa syukur kepada Allah yang telah mempertemukan dirinya dengan Ayesha seorang wanita yang luar biasa.
Ayesha merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur melihat cincin berwarna putih dengan berlian di atasnya.
Dengan mengucapkan bismilah Ayesha memasukan cincin pada jari manis sebelah kiri, cincin sangat pas di jari Ayesha dan langsung mengunci tidak bisa dilepas lagi.
“Bagaimana Kenzo bisa membeli ukuran yang sangat pas di jariku?” Ayesha tersenyum melihat jari manisnya yang semakin manis dan cantik dengan cincin berlian putih.
Ayesha membersihkan diri dan bersiap untuk tidur, ia melihat ponselnya yang hampir tidak pernah ia gunakan.
Membuka aplikasi chat, sebuah nama yang tidak asing yaitu putra Sultan Brunei yang pendiam, tampan dan cerdas pernah mengirim pesan kepada dirinya tetapi tidak pernah Ayesha balas.
__ADS_1
Hanya orang – orang tertentu yang memiliki nomor ponsel Ayesha, tetapi ia tidak tahu darimana pria itu mendapatkan nomor ponsel dirinya.
“Allah akan pilihkan jodoh terbaik untuk diriku.” Ayesha mematikan ponselnya dan tidur.
***
Viona duduk berdua dengan Valentino di taman depan restoran, setelah makan malam bersama mereka melanjutkan dengan mengobrol berdua.
“Viona, bagaimana kuliah kamu?” tanya Valentino.
“Aku sedang liburan.” Jawab Viona, matanya melihat sekeliling restoran, ia berharap bisa melihat Fauzan untuk menyembuhkan luka di hati karena Kenzo yang telah menyukai wanita lain setelah Nisa, ia benar – benar tidak bisa bersanding dengan Kenzo yang memiliki standard tinggi.
“Apa kamu menunggu seseorang?” tanya Valentino memperhatikan Viona.
‘Hah, ah tidak ada.” Viona tersenyum dan melihat wajah tampan Valentino.
Fauzan berjalan keluar dari restoran, ia melihat Viona sedang duduk berdua dengan seorang pria yang tidak ia kenal di taman restoran dengan lampu yang tidak terlalu terang.
“Apakah itu adik Stevent?” Fauzan melangkahkan kaki mendekati Viona dan Valentino.
“Apa yang dilakukan seorang gadis muda diluar rumah pada malam hari?” Fauzan menatap tajam pada Viona.
“Pangeran.” Viona terkejut dan langsung berdiri.
“Siapa pria ini?” tanya Valentino dan ikut bediri melihat kearah Viona dan Fauzan begantian.
“Apakah kamu saudara Viona?” tanya Fauzan kepada Valentino.
“Bukan, kami hanya teman,” jawab Valentino.
“Viona, apa kamu tahu, tidak pantas bagi seorang wanita berada diluar rumahnya tanpa ditemani seorang mahramnya.” Suara tegas Fauzan membuat Viona yang dari tadi menatap wajah Fauzan kini menunduk.
“Apa maksud anda?” tanya Valentino tidak mengerti.
“Sebaiknya kamu antarkan Viona pulang!” tegas Fauzan.
Viona berlari ke mobil tanpa pamit, ia sangat malu kepada Fauzan, ia telah melakukan kesalahan yang mempermalukan dirinya di depan Fauzan.
“Viona.” Valentino berlari mengejar Viona tetapi tangannya di tahan Fauzan.
“Sebaiknya, kamu tidak mengulanginya dengan membawa seorang gadis keluar berdua.” Tegas Fauzan.
“Siapa dirimu yang ikut campur urusan kami?” Valentino menarik tanganya dan mengejar Viona.
“Aku hanya menganggap dirinya seorang adik seperti Ayesha, malam hari adalah waktu dimana sering terjadinya pelecehan terhadap wanita.” Fauzan melanjutkan langkah kakinya menuju hotel.
***
Semoga Suka, Mohon dukungnnya berikan like, Komentar, bintang 5 dan Vote, dan kepada sahabat yang telah memberikan dukungannya Author ucapkan Terimakasih.
Baca juga Novelku “Arsitek Cantik” dan Novel Kakakku “Nyanyian Takdir Aisyah dan Cinta Bersemi di Ujung Musim.” (Fitri Rahayu), Terimakasih.
Semoga kita semua dalam keadaan sehat dan selalu mendapatkan perlindunganNya, Aamiin.
Love You All and Thanks For Reading.
__ADS_1