
Terdengar adzan ashar dari ponsel Nisa, ia membuka matanya perlahan, melihat Stevent yang masih terpejam tanpa ada gerakan kecuali nafas yang terlihat turun naik dengan lembut.
Nisa melepaskan genggaman tangannya, turun perlahan dari ranjang, mendekati suaminya.
" Assalamualaikum Suamiku, Aku sholat Ashar dulu, jika kamu mendengarkan diriku, sholat lah dalam tidurmu " Nisa berbisik lembut di telinga Stevent dan mencium dahi Stevent.
Nisa berjalan perlahan menuju kamar mandi, ia melihat Dokter Aisyah telah bersiap melaksanakan shalat Ashar di ruangan sholat.
" Kau sudah bangun?" Dokter Aisyah memperhatikan Nisa berjalan perlahan memegang perutnya.
" Iya, aku harus sholat Ashar" Nisa tersenyum
" Wudhu lah, saya akan menunggu kamu di ruangan, kita sholat berjamaah " Dokter Aisyah menepuk lembut pundak Nisa, ia berjalan menuju ruangan sholat.
Nisa membersihkan diri, ia mengganti pakaian yang telah disiapkan, mengambil wudhu dan segera berjalan menuju ruangan dimana Dokter Aisyah telah menunggunya.
" Kamu sholat duduk saja " Dokter Aisyah memberikan mukenah kepada Nisa yang hanya mengangguk.
Mereka melaksanakan sholat berjamaah hingga selesai. Nisa bergesas merapikan mukena.
" Kamu tidak mengaji?" tanya Dokter Aisyah.
" Aku akan mengaji di dekat suamiku, agar ia selalu mendengarkan kalimat Allah" Nisa tersenyum. Ia meninggalkan ruangan dan kembali kepada Stevent, Nisa telah menghafal Al-Qur'an sejak kecil di pesantren.
" Setelah masuk 3 Ampul, Stevent akan bangun" Dokter Aisyah tersenyum menyuntikkan ampul ke dua ke tubuh Stevent.
" Terimakasih Dok" Nisa tersenyum dan kembali melanjutkan bacaannya.
Dokter Aisyah berjalan ke dapur sederhana miliknya, membuat makan malam dengan bahan seadanya, Desa yang masih terisolir akan kesulitan mendapatkan bahan makanan, warga desa hanya berharap dari hasil kebun dan hasil hutan yang masih alami.
Nisa berjalan mendekati Dokter Aisyah,
"Ada yang bisa saya bantu Dok?" Nisa melihat sayuran segar di atas meja.
" Istirahatlah temani suamimu, saya akan menyiapkan makan malam sederhana untuk kita berdua " Dokter Aisyah terus melakukan aktivitasnya.
" Dokter harus membuka bagasi mobil, Jhonny telah menyiapkan semuanya, yang saya sendiri belum tahu ada apa di sana?" Nisa tersenyum memegang tangan Dokter Aisyah.
" Baiklah, kamu menggunakan mobil yang besar pasti ada banyak barang yang bisa masuk" Dokter Aisyah dan Nisa berjalan ke belakang klinik yang menjadi satu dengan rumahnya.
Mata Dokter Aisyah dan Nisa terkejut melihat satu tokoh makanan berada di dalam mobil, mereka berdua tertawa bersama.
" Siapa yang memindahkan toko kedalam mobil" tanya Dokter Aisyah segera membawa bahan makanan yang ada di dalam mobil.
"Jhonny assisten pribadi Stevent, kurasa dia lebih perfect dari Stevent, hahaha " Nisa tertawa menahan perutnya.
" Aku belum bertemu dengannya" Ucap Dokter Aisyah merebut barang yang di pegang oleh Nisa.
" Eh, aku bisa membawanya" Nisa bingung
" Kamu harus segera sembuh, aku butuh bantuan dirimu untuk dapat menyembuhkan suamimu" tegas Dokter Aisyah.
" Kurasa usianya belum terlalu tua hanya kepribadiannya saja terlihat dewasa" Nisa berbicara dalam hati mengamati Dokter Aisyah yang energik.
"Baiklah aku akan patuh" Nisa duduk menjadi penonton Dokter Aisyah yang mondar-mandir mengakut barang dari mobil.
" Katakan terimakasih ku kepada Jhonny, ohya kita tidak usah bicara terlalu formal, aku akan menganggap dirimu sebagai adikku" Dokter Aisyah tersenyum.
" Alhamdulilah, Nisa punya saudara lagi" Nisa memeluk Dokter Aisyah.
" Dokter Aisyah adalah penyelamat yang dikirimkan Tuhan untuk kami" Nisa memeluk erat Dokter Aisyah.
" Alhamdulilah, aku senang punya keluarga baru, jangan lupa sampaikan terimakasih ku kepada Jhonny" Dokter Aisyah mengusap kepala Nisa dengan lembut, ia melepaskan pelukannya tersenyum dan kembali melanjutkan aktivitas membawa barang-barang.
" Baiklah Dokter Aisyah dan Jhonny ta'aruf aja " Nisa tersenyum menggoda Dokter Aisyah.
__ADS_1
" Aku sudah tua, ngak ada yang mau " Dokter Aisyah tertawa.
Mereka berdua bercanda bersama, keduanya sangat cocok seperti saudara kandung, merasakan kebahagiaan dalam kesepian.
Dokter Aisyah menutup pintu mobil dan masih banyak barang yang belum ia keluarkan.
Mereka harus menyelesaikan masakan untuk makan malam. Kedua wanita muslimah kembali ke dapur tidak lupa selalu mengunci pintu untuk berjaga - jaga.
Nisa hanya bisa berdoa berharap Nathan tidak akan datang lagi ke kamar perawatan Stevent di rumah sakit , karena jika Nathan datang dan melihat Nisa dan Stevent tidak ada di kamar Nisa yakin Nathan akan mencarinya sampai dapat dan mengancam keselamatan Stevent.
Makanan telah tersedia di atas meja sayuran segar dan seekor ikan panggang yang di bumbui kuning. Nisa memperhatikan ikan yang belum pernah ia lihat.
Dokter Aisyah melihat Nisa dan tersenyum, ia yakin pasti Nisa tidak pernah memakan ikan Gabus.
" Aku sengaja memanggang ikan gabus untuk kamu" Dokter Aisyah mendekat ikan dalam piring ke depan Nisa.
" Ikan Gabus?" Nisa bingung, ini pertama kali ia mendengar ikan Gabus.
" Ini adalah ikan air tawar, bagus untuk membantu penyembuhan luka dalam dan pasca operasi" jelas Dokter Aisyah.
" Dimana Dokter mendapatkannya?" tanya Nisa yang terus memperhatikan ikan.
" Air dan hutan di sini masih alami, anak - anak memancing di kali dan aku membelinya, kamu sangat beruntung " Dokter Aisyah tersenyum.
" Terimakasih Dok" Nisa tersenyum terharu.
" Baiklah Ayo kita makan, aku tahu kamu sudah sangat lapar " Dokter Aisyah memberikan nasi di atas piring Nisa.
" Tapi aku harus makan bersama Stevent dan menyuapkannya" Nisa menatap Dokter Aisyah.
" Sekarang kamu harus menjaga kondisi tubuh kamu agar segera pulih, kamu harus mencari bahan obat untuk suamimu" tegas Dokter Aisyah.
" Baiklah" Nisa dan Dokter Aisyah menikmati makan malam bersama tanpa ada yang berbicara. Membereskan dapur, membersihkan peralatan makan dan sesekali Nisa mendekati suaminya untuk berbisik dan melaporkan kegiatan yang ia lakukan bersama Dokter Aisyah.
" Assalamualaikum Suamiku, jika sudah sembuh kita akan menjodohkan Dokter Aisyah dengan Jhonny, hihihi" Nisa tertawa di telinga Stevent
" Aku tidak akan mampu seperti dirimu, aku berada di sini karena lari dari kenyataan" Dokter Aisyah berbicara di dalam hatinya menahan sesak ketika ingat masa lalunya.
" Dokter kenapa Stevent belum bangun, biasanya di waktu Magrib ia akan membuka mata" Nisa mengusap kepala Stevent.
" Penawar sedang bekerja di dalam tubuh memakan Virus, tengah malam nanti aku akan menyuntikkan 1 ampul lagi, istirahat lah" jelas Dokter Aisyah.
" Apa kamu tidak menghubungi keluarga kamu, mengatakan keadaan Kalian? " Dokter Aisyah mengalihkan pembicaraan.
" Kami pergi tanpa ada keluarga yang tahu, hanya Jhonny dan beberapa orang kepercayaan, aku juga mematikan ponselku, agar tidak ada yang mengetahui keberadaan kami" Nisa menatap wajah tidur Stevent.
Ia tidak mau Nathan menghubunginya, dan bahkan akan melacak keberadaan Nisa.
Pria itu terlalu cerdas namun kecerdasannya digunakan pada jalan yang salah.
Malam telah larut, Nisa tidur dengan memeluk tubuh Stevent, Dokter Aisyah telah menyuntikkan Ampul yang ketiga. Ia melihat wajah lembut Nisa dan wajah sangar Stevent.
" Tuhan mengirimkan dirimu untuk melembutkan hati pria ini" Dokter Aisyah tersenyum dan meninggalkan Nisa dan suaminya menuju kamar miliknya yang berada di sebelah ruang tamu.
Stevent membuka matanya perlahan dan sangat berat, ia merasakan tubuhnya sangat lelah karena terus berbaring.
Stevent menggerakkan kepala dan mengangkat tangannya perlahan, ia dapat melihat seorang wanita berwajah lembut memeluk tubuhnya.
Stevent tersenyum, ia mengusap kepala Nisa yang tidur dengan menggunakan jilbabnya.
Menyentuh pipi lembut dan halus istrinya.
"Aku sangat merindukan dirimu" Stevent berbisik. Nisa membuka matanya melihat suami tampannya tersenyum dengan kepala yang dapat ia miringkan dan tangan terletak di pipi Nisa.
" Masya Allah, Alhamdulilah ya Allah" Nisa segera duduk air matanya mengalir membasahi pipinya, ia menatap Stevent bahagia, seakan kerinduan akan tatapan suaminya.
__ADS_1
" Kenapa kamu menangis" Stevent berusaha mengangkat tangannya ingin menghapus air mata Nisa.
Nisa tahu apa yang ingin dilakukan Stevent, ia menundukkan wajahnya mendekat ke arah Stevent, memejamkan matanya merasakan sentuhan lembut jari - jari hangat Stevent mengusap air mata di pipi Nisa.
" Kemarilah, berikan aku ciuman, Aku sangat merindukanmu" Suara Stevent lembut, Nisa membuka matanya dan tersenyum, ia mencium dahi, hidung, pipi kanan dan kiri dan terakhir kecupan di bibir Stevent.
Nisa melihat jam di tangannya pukul 2 dini hari.
" Aku akan sholat tahajud" Nisa turun dari tempat tidur mencium dahi Stevent, DNA berlalu menuju kamar mandi.
Stevent seakan tak ingin melepaskan genggaman tangan, serasa begitu lama ia tidak menyentuh tangan istrinya, Ia benar-benar merindukan Nisa.
Nisa melaksanakan sholat tahajud di ruang sholat dan kembali kepada suaminya dengan senyuman manisnya.
" Kita dimana?" tanya Stevent memperhatikan ruangan yang asing.
" Klinik Dokter Aisyah, ia yang mengobati dirimu " Stevent kembali menggenggam tangan istrinya.
" kenapa wajahmu pucat" Stevent menyentuh pipi Nisa, ia tidak tahu Nisa terluka.
"Cahaya lampu yang redup membuat wajahku yang cantik ini terlihat pucat" Nisa tertawa menutupi kebohongannya, ia tidak ingin membuat Stevent khawatir.
" Benarkah, kemari dekatkan wajahmu aku ingin melihat lebih jelas" Stevent menatap Nisa.
" Apa kamu lapar?" tanya Nisa mengalihkan pembicaraan.
" Aku merasa kenyang setelah melihat dirimu" ucap Stevent menggoda.
"Nisa berjalan ke dapur dan mengambil nasi berserta sayuran.
" Ayo makan" Nisa mengambil makanan dengan tangannya.
" Aku tidak Suka sayuran Desa" Stevent melihat ngeri.
" Tapi aku suka sayuran Desa yang segar alami bebas pengawet dan pestisida" Nisa tersenyum.
Stevent membuka mulutnya perlahan seakan takut dengan sayuran yang masuk ke mulutnya.
Ia mengunyah perlahan dan tersenyum lalu membuka kembali mulutnya dengan lebar. Nisa tahu pasti Stevent baru merasakan enaknya sayuran hijau dipetik langsung dari kebun.
Stevent mengabiskan satu piring nasi dengan sayuran. Nisa membawakan baskom, cangkir berisi air, pasta gigi.
" Kamu mau apa?" Stevent memperhatikan Nisa heran.
" Aku akan membersikan Gigi kamu" Nisa menekan tombol tempat tidur hingga Stevent bisa duduk.
Stevent dengan manja membuka mulutnya, tersenyum bahagia, seperti anak kecil. Nisa perlahan dan hati-hati membersikan mulut dan Gigi Stevent.
Mereka melewati malam bersama dengan canda tawa dan manja, kadang Stevent minta dicium. Nisa merebahkan tubuhnya di samping Stevent pada ranjang yang sempit, ia menahan perih perutnya Karena berdempetan dengan Stevent.
Ia tidak mungkin menolak permintaan Stevent yang menyuruh Nisa berbaring dan memeluk dirinya.
Jika bukan karena ramuan dedaunan yang ditempelkan pada perut Nisa, mungkin luka goresan akan kembali terbuka dan berdarah.
*
*
*
♥️ Thanks for Reading 🤗
Selalu berikan Author like n komentar 😘
Diberikan Vote alhamdulilah 😘
__ADS_1
♥️Love You Readers 💓