Cinta Untuk Dokter Nisa

Cinta Untuk Dokter Nisa
Aku Tidak Mau Sendiri


__ADS_3

Nisa menggenggam erat tangan Stevent, ia tidak ingin Stevent meninggalkan dirinya sendiri di Ruangan itu.


"Sayang, kamu harus istirahat, aku akan menunggu di luar." Stevent tersenyum sedih melihat wajah Nisa yang khawatir.


"Jangan pergi." Nisa menahan tangan Stevent dengan kedua tangannya.


"Kenapa sayang? Ada apa?" Stevent menatap menyelidiki Nisa yang menunduk.


"Aku tidak mau sendirian." ucap Nisa sedih, ia tidak mau berdua dengan Nathan di dalam ruangan.


"Aku tidak boleh di sini Sayang, kamu butuh perawatan." ucap Stevent Bingung, ia juga tidak mau meninggalkan Nisa.


"Boleh, tidak ada larangan, kamu suamiku." ucap Nisa.


"Tapi yang mereka katakan, kamu harus banyak istirahat dan tidak boleh di ganggu." ucap Stevent.


"Mereka bohong." tegas Nisa kesal.


"Apa maksud kamu, sayang?" Stevent memegang pipi Nisa.


Nisa diam, ia tidak ingin melukai Stevent tetapi tidak mau terulang kembali kejadian bersama Nathan.


"Katakan!" Stevent menatap Nisa.


"Stevent ingin memisahkan anda dengan Nyonya Nisa." Jhonny masuk ke ruangan.


Stevent melepaskan tangannya dari Nisa ia tidak ingin Nisa merasakan emosi yang telah mengalir di seluruh tubuhnya.


Ingin berjalan meninggalkan Nisa dan menemui Nathan.


Nisa menarik tangan Stevent dan menggelengkan kepalanya.


"Kemarilah." suara lembut Nisa menyejukkan hati Stevent.


"Jhonny tutup semua gorden dan pintu!" perintah Stevent.


"Kamera Tuan?" tanya Jhonny.


"Biarkan saja." Stevent naik ke tempat tidur Nisa.


Dengan cepat dan sigap, Jhonny melaksanakan perintah Stevent, ia berjaga di depan pintu.


"Apa yang Nathan lakukan kepada dirimu?" Stevent merebahkan tubuhnya di samping Nisa dan mengusap perut Nisa.


Nisa memiringkan tubuhnya menghadap Stevent dan meletakkan tangannya di leher Stevent.


"Apa kamu akan marah?" tanya Nisa memelas.


"Tidak." Stevent memandang lekat wajah Nisa penuh dengan kerinduan.


Nisa mengusap lembut pipi Stevent dengan tangannya yang halus.


"Cium Aku." ucap Nisa mengalikan topik pembicaraan.


Stevent tidak perlu menunggu waktu lama, ia secara mencium bibir Nisa dengan lembut.


"Aku mau tidur." Nisa memeluk dan menyembunyikan wajahnya di dada bidang Stevent menikmati aroma tubuh yang ia rindukan.


"Tidurlah, aku akan menjaga dirimu." Stevent mengusap kepala Nisa yang tertutup hijab.


"Sayang, apa kamu sudah makan?" tanya Nisa memainkan dagu Stevent.


"Aku sudah kenyang setelah bertemu dengan dirimu." Stevent menyentuh hidung Nisa.


"Tapi aku lapar." ucap Nisa manja.


"Baiklah aku akan memesan makanan." Stevent mengambil ponselnya.


"Hubungi Dokter Aisyah dan berikan ponsel padaku!" Nisa tersenyum dan Stevent melakukan yang telah Nisa perintahkan.


"assalamualaikum Stevent." Aisyah menerima panggilan.


"Waalaikumsalam." Jawab Nisa.


"Nisa, Apakah Stevent didekat kamu, bagaimana dengan Nathan?" Aisyah khawatir.


"Dokter Aisyah Aku lapar." ucap Nisa tidak perduli dengan pertanyaan Aisyah.


"Baiklah, aku akan membawakan makanan kesukaan dirimu." panggilan terputus.


"Apa yang terjadi dengan Nathan?" tanya Aisyah pada dirinya sendiri.


"Dokter Aisyah mau kemana?" tanya Valentino.


Aisyah dan Valentino mendapatkan ruangan khusus dari Nathan.


"Ke ruangan Nisa, ia lapar." ucap Aisyah berjalan menuju kantin rumah Sakit.


Aisyah membawa makanan Nisa mengunakan meja dorong.


Jhonny melihat Aisyah, ia segera membuka pintu utama untuk kekasihnya.


"Jhonny." Aisyah tersenyum, Jhonny tidak menjawab ia hanya memandang wajah wanita yang ia rindukan.


"Entah sampai kapan aku harus menunggu dirimu?" ucap Jhonny dalam hati.


"Jhonny, bisakah kamu menyingkir dari hadapanku?" ucap Aisyah.

__ADS_1


Jhonny segera bergeser ke samping dan melihat Aisyah tersenyum melewati Jhonny.


Jhonny berlari dan membuka pintu ruangan Nisa.


"Assalamualaikum." sapa Aisyah.


"Waalaikumsalam." jawab Nisa dan Stevent serempak.


Nia telah duduk di tempat tidur dan Stevent duduk di sampingnya, tangan yang selalu berpegangan.


"Stevent, bagaimana kamu bisa masuk kemari?" tanya Aisyah.


"Karena aku suaminya." Stevent tersenyum dan memandang Nisa.


"Baiklah, pasti Kalian saling merindukan." Aisyah mendekat dan membawa makanan untuk Nisa.


"Dokter Aisyah Terimakasih banyak." Nisa tersenyum.


"Aku menganggap dirimu adalah adikku." Aisyah mengusap kepala Nisa.


"Berikan kepadaku." Stevent mengambil alih meja dorong.


"Jhonny, bagaimana dengan Pangeran Fauzan?" tanya Stevent melihat kearah Jhonny.


"Anda tenang saja Tuan, Tuan Fauzan mendukung Anda." tegas Jhonny.


"Baguslah." Stevent tersenyum.


"Dokter Aisyah, menikahlah segera dengan Jhonny, kasihan dengan Jhonny." Nisa dan Stevent tersenyum dan mereka melihat ke arah Jhonny.


Jhonny melihat kearah lain tanpa ekspresi dan tidak perduli dengan tatapan tiga orang di depannya.


"Apa kalian sedang menghinaku." Jhonny berbicara dalam hatinya.


"Aku juga mau bermanja dan bermesraan dengan Aisyah." gerutu Jhonny di dalam hatinya.


"Makanlah, aku akan menunggu di luar." Aisyah berjalan meninggalkan Nisa dan Stevent..


Aisyah melewati Jhonny yang menunggu untuk menutup pintu.


Jhonny dan Aisyah duduk di sofa, mereka saling berhadapan.


"Apa kamu sudah mau menikah dengan diriku?" tanya Aisyah.


"Ya." jawab Jhonny singkat.


"Bagaimana Jika kita menikah di balai pernikahan kota?" tanya Aisyah.


"Apakah kita tidak mengadakan pesta?" tanya Jhonny.


"Kita bisa melakukannya nanti." Aisyah tersenyum.


"Pernikahan kita akan sah secara hukum dan Agama." jelas Aisyah.


"Apa yang harus aku lakukan?" tanya Jhonny.


"Pertama, Apa Agama kamu?" tanya Aisyah memberanikan dirinya.


"Aku tidak tahu." Jawab Jhonny polos.


"Astaghfirullah ya Allah." Nisa menarik napas dalam-dalam dan membuangnya.


"Kenapa?" tanya Jhonny bingung.


"Berikan kartu tanda pengenal mu!" Aisyah meminta KTP Jhonny.


Jhonny berdiri mengeluarkan dompetnya dan menyerahkan kepada Aisyah.


"Aku hanya meminta kartu pengenal kamu." Aisyah tidak mengambil dompet yang diberikan Jhonny.


"Ada banyak kartu, kamu bisa memilihnya." Jhonny meletakkan dompetnya samping Aisyah.


"Apa - apaan Pria ini." gumam Aisyah mengambil dompet Jhonny.


Aisyah membuka dompet Jhonny, tidak ada uang tunai, ada banyak kartu ATM dan kartu kredit black dan golden, KTP Jhonny terselip paling dalam.


Tangan Aisyah sedikit gemetar, ia sangat khawatir dengan Agama Jhonny.


Jhonny terus memperhatikan Aisyah, yang sedikit ragu - ragu untuk mengeluarkan KTP Jhonny.


Perlahan Aisyah melihat KTP Jhonny dan membaca keterangan kepercayaan.


"Islam." Aisyah tersenyum.


"Apakah agamaku sangat penting?" tanya Jhonny.


"Tentu saja, jika kamu bukan beragama Islam kita tidak bisa menikah." Aisyah memasukan kembali kartu Jhonny.


"Pilihlah kartu kredit yang kamu mau." ucap Jhonny.


"Apa, tidak perlu Stevent terus mentransfer uang ke rekening ku." Aisyah tersenyum.


Wajah Jhonny terlihat kecewa, ia mengambil dompet dari tangan Aisyah dan memasukkan kembali ke dalam saku celana.


"Kamu selalu menolak diriku." ucap Jhonny menatap tajam kepada Aisyah.


"Ah, bukan seperti itu, aku belum membutuhkannya." Aisyah tersenyum dan mengetahui Jhonny tersinggung.

__ADS_1


"Setelah menikah aku akan menghabiskan uang kamu." Aisyah berbicara sembarangan.


"Benarkah, aku kebingungan menghabiskan uang yang terus bertambah di rekening ku." Jhonny tersenyum.


"Apa, Ah pria aneh." gumam Aisyah tersenyum dan menahan tawa.


Mereka berdua kembali terdiam dan tidak ada lagi kelanjutan rencana pernikahan.


Jhonny benar-benar lambat dalam urusan dirinya sendiri, tetapi ia bisa bekerja cepat untuk Stevent.


"Aku tidak mau lagi sendiri di tempat tidur." Jhonny tersenyum.


***


Nathan mematikan kamera di ruangan Nisa, Seorang dokter pria membersihkan dan mengobati luka Nathan.


"Sudah selesai Tuan Nathan, luka anda akan segera sembuh tanpa bekas." ucap Dokter pria.


"Kami boleh keluar!" tegas Nathan.


"Baik Tuan." Dokter muda segera meninggalkan ruangan Nathan.


Roy duduk di kursi kerjanya dan memperhatikan Nathan yang sedang Emosi.


"Ada apa Tuan?" tanya Roy.


"Selidik tentang Fauzan Arsyad dan adiknya Ayesha secepatnya!" perintah Nathan.


"Baik Tuan." Roy segera membuka Laptop di depannya dengan kecepatan luar biasa.


"Silahkan Tuan." Roy beranjak dari kursi dan memberikan laptopnya kepada Nathan.


"Dia benar-benar pangeran Arab." ucap Nathan.


"Mana tentang adiknya?" tanya Nathan heran.


"Saya tidak bisa membuka tentang Putri Arab, seakan datanya tidak pernah ada, mungkin mereka merahasiakan keberadaan putri Ayesha." Roy menunduk.


"Tidak bisakah kamu menemukan petunjuk lain?" tanya Nathan.


Roy kembali mengambil laptop dari tangan Nathan dan fokus dengan pencarian tentang Ayesha.


Roy membuka Grub rahasia pencari fakta tentang kerajaan Arab yang menyembunyikan kelahiran putri mereka.


Putri Arsyad adalah wanita yang sangat cantik, sehingga ia harus menutup wajahnya dengan cadar.


Menyembunyikan identitas dan namanya di jejaring sosial, demi kebesaran sang putri untuk beraktivitas.


Tidak menyukai kehidupan sosialita, sering melakukan perjalanan sendiri dengan pakaian sederhana.


Suka Membantu dan menolong orang yang membutuhkan tanpa membawa identitas diri seorang putri.


Tidak ada yang mengetahui wajah tuan putri, tetapi berdasarkan pengamatan dia adalah wanita yang cantik karena terlahir dari bibit dari bobot terbaik.


Memiliki kecerdasan di atas rata-rata, tetapi bersikap seperti biasa saja.


Jadi tidak akan ada yang bisa menemukan berita atau informasi tentang Ayesha kecuali pencarian tentang Putri kerajaan Arab.


"Menarik, Dia hampir memiliki kepribadian seperti Nisa, Bagaimana jika aku menculik Ayesha?" Nathan tersenyum.


"Berarti anda ingin berperang dengan kerajaan Arab dan menghancurkan negara kita." ucap Roy yang menghilang senyuman di wajah Nathan.


"Bagaimana Fauzan bisa mengetahui bisnis kita?" tanya Nathan.


"Tidak ada yang tidak bisa dilakukan oleh pangeran Arab dan itulah alasan kenapa ia yang memegang kendali bisnis kerajaan Arab." jelas Nathan.


"Apa Aku tidak bisa melawan pangeran Fauzan?" tanya Nathan menatap Roy yang hanya diam karena tidak perlu memberikan jawaban.


"Baiklah, Aku bukan lawannya, bagaimana dengan Stevent?" tanya Nathan.


"Mereka sudah lama bekerja sama, sekarang Stevent akan membantu pangeran Fauzan mengembangkan bisnisnya." jelas Roy lagi


"Hmm." Nathan meletakkan dagu lancipnya di atas tangannya.


"Adalagi rahasia tentang pangeran Fauzan." ucap Roy.


"Apa?" tanya Nathan penasaran.


"Pria yang berhasil melihat wajah putri Ayesha akan di nikahkan dengannya." tidak ada yang terlewat oleh Roy.


"Mungkin hati Anda bisa berpindah ke wanita lain, tetapi jika wanita itu adalah tuan putri Ayesha, perjuangan anda semakin berat." gumam Roy.


Nathan merebahkan tubuhnya di kursi kerjanya, ia mengingat pertemuan pertama dirinya dengan Ayesha dan Fauzan.


"Apa kau tahu Roy, Pangeran itu telah menghina diriku, ia mengatakan aku tidak pantas berkenalan dengan adiknya." geram Nathan.


"Putri Ayesha belum pernah dikenalkan dengan siapapun Tuan, jadi anda tidak perlu tersinggung, Pangeran Fauzan sangat menjaga adiknya." jelas Roy lagi.


"Oh benarkah." Nathan tersenyum.


"Aku berharap anda tidak menambah masalah dengan Pangeran Fauzan." Ucap Roy dalam hati.


************


Semoga Suka, Mohon Dukungan rekan semua dengan Like Komentar Vote dan Bintang 5 😘 Terimakasih.


Baca juga "Arsitek Cantik" dan Nyanyian Takdir Aisyah" " Cinta Bersemi di ujung Musim"

__ADS_1


Semoga Kita semua selalu dalam keadaan sehat dan mendapatkan rezeki yang berlimpah Aamiin 😇


__ADS_2