
Rumah Utama Stevent.
Viona duduk bersama Mama Veronika. Ia sangat merindukan Nisa, Viona merasa sepi tanpa Nisa.
"Ma, kenapa setiap Papa pulang ke rumah Kak Stevent selalu pergi?" tanya Viona heran.
"Entahlah, Mama tidak tahu." jawab Mama.
"Viona, kamu tidak ke kampus?" tanya Mama.
"Aku kangen Kak Nisa." Viona memanyunkan bibirnya.
"Apa kamu tidak memiliki nomor ponsel Nisa?" tanya Mama.
"Sebaiknya, aku jalan-jalan ke pesantren." Viona beranjak dari kursi kembali ke kamar untuk mengambil tasnya.
"Viona, Mama tanya apa kamu jawab apa?" Mama Veronika memperhatikan Viona yang tidak perduli.
Mama Kembali membaca majalah fashion yang ada di tangannya.
Viona kembali dengan pakaian yang telah rapi.
"Ma, Viona pinjam mobil Mama boleh?" wajah Viona memelas manja.
"Sayang, mobil merah itu punya siapa?" tanya Mama.
"Itu punya kak Nisa hadiah dari kak Stevent." Viona menyenderkan kepalanya di bahu Mama Veronika dan mengambil kunci mobil di atas meja.
"Sayang, nanti Stevent marah." ucap Mama khawatir.
"Jangan katakan padanya, bye Ma." Viona berlari menuju garasi mobil.
Viona menyentuh mobil Nisa yang hampir tidak pernah dipakai.
"Oh, cantik sekali secantik kak Nisa." Viona tersenyum, ia segera masuk kedalam mobil Mama berwarna hijau terang.
"Ah, aku merasa canggung, sudah lama tidak mengendarai mobil." Viona berbicara sendiri dan memasang sabuk pengaman.
"Baiklah, membaca doa." Viona mengadahkan tangannya berdoa sebelum ia menjalankan mesin mobil.
"Bismillah." Viona bersemangat mengendarai mobil Mama.
Viona berharap tidak ada bodyguard yang mengikuti dirinya.
Mobil berjalan perlahan meninggalkan garasi dan membelah jalanan kota menuju pesantren.
Viona sangat bersemangat, ia benar-benar senang bisa mengendarai mobil sendirian.
Ditemani lagu-lagu islami dan sholawat menyejukkan hati.
Viona berhenti di depan sebuah minimarket ia mau membeli beberapa cemilan dan perlengkapan menulis untuk anak-anak pesantren.
Beberapa petugas minimarket membantu Viona membawakan barang belanjaan dan memasukkan ke dalam bagasi mobil.
Seorang pria tampan memperhatikan Viona dari dalam mobilnya.
"Viona, ia belanja banyak sekali, cemilan dan perlengkapan sekolah, mau kemana dia?" pria itu bertanya pada dirinya sendiri.
Viona tersenyum cantik, mengucapkan terimakasih dan memberikan sejumlah uang kepada beberapa karyawan minimarket yang telah membantunya.
Setelah semua beres, Viona segera masuk ke dalam mobil dan melanjutkan perjalanan yang tidak jauh lagi sampai tujuan.
Mobil Viona telah sampai di depan gerbang pesantren, ia tidak bisa masuk ke dalam karena gerbang terkunci.
Gerbang hanya dibuka ketika hari Minggu, karena sering datang para donatur.
Viona keluar dari mobil dan membuka pintu pagar ke rumah Umi.
Pria yang dari tadi mengikuti Viona ikut keluar dari mobilnya
__ADS_1
Ia memperhatikan tulisan di atas gerbang Pesantren Ramadhan.
"Apa yang Viona lakukan di pesantren dan tidak pergi kuliah?" tanya Zayn pada dirinya.
Zayn berjalan masuk ke dalam halaman rumah Umi dan Abi.
Ia melihat Viona telah masuk ke rumah, Zayn berdiri di samping mobil hitam milik Kenzo dan menyenderkan tubuhnya.
Kenzo berjalan dari pesantren menuju rumah Umi, ia melihat seorang pria yang tidak ia kenal.
"Assalamualaikum." sapa Kenzo lembut.
"Waalaikumsalam." Zayn menoleh ke arah Kenzo.
"Maaf, apa yang anda lakukan di sini?" tanya Kenzo.
"Ah, perkenalan saya Zayn seorang Dosen." Zayn mengulurkan tangannya kepada Kenzo.
"Kenzo." Jawab Kenzo singkat dan menerima uluran tangan Zayn.
"Aku mengikuti Mahasiswi Ki yang tidak masuk kuliah hingga sampai kemarin." Zayn menjelaskan agar Kenzo tidak salah paham.
"Siapa Mahasiswi Anda?" tanya Kenzo duduk di atas bagian depan mobilnya.
"Viona, sebenarnya saya tidak perlu khawatir dia tidak masuk kelas karena dia Mahasiswi cerdas." Zayn tersenyum.
"Oh, dia sering kemari, karena pemilik pesantren ini adalah istri Stevent kakak Viona." Kenzo tersenyum.
"Maksud Anda Annisa Salsabila?" tanya Zayn penasaran.
"Apakah kamu mengenalinya?" Kenzo balik bertanya.
"Tidak, aku hanya membaca berita tentang wanita luar biasa." Zayn tersenyum, ia sangat penasaran dengan sosok Nisa.
"Dia memang wanita luar biasa."Kenzo tersenyum tampan.
"Bagaimana kita masuk kedalam?" ajak Kenzo.
"Tentu saja." ucap Kenzo ramah.
Zayn dan Kenzo melangkah kaki bersama menuju pintu, Viona dan Umi keluar dari rumah.
"Kak Kenzo." Viona tersenyum manis sedikit malu.
"Kamu sangat cantik dengan menutup aurat." ucap Kenzo melihat Viona sekilas.
Pertama kalinya Viona mendengarkan Kenzo memuji dirinya.
Viona menunduk, ia merasakan wajahnya panas dan memerah. Viona menggenggam tangan Umi.
Rasanya ia ingin terbang melayang, meloncat, berlari di jalanan dan berteriak.
"Umi, mau kemana?" tanya Kenzo.
"Membuka gerbang dan memasukkan mobil Viona ke dalam perkarangan." ucap Umi lembut.
"Biar Kenzo saja, mana kunci mobil kamu?" Kenzo menadahkan tangannya kepada Viona.
Viona mengangkat wajahnya dan menatap Kenzo.
Zayn memperhatikan tingkah Viona ketika berada di depan Kenzo.
"Dia menyukai Kenzo." pikir Zayn.
Kenzo mengambil kunci mobil dari tangan Viona dan segera berjalan menuju gerbang.
Viona tersenyum, ia terus memandang punggung Kenzo.
"Viona, kenapa kamu tidak ke kampus?" Zayn membuyarkan lamunan Viona.
__ADS_1
"Prof, sejak kapan di sini?" tanya Viona yang baru menyadari ada Zayn.
"Viona siapa ini?" tanya Umi lembut.
"Ini, Dosen Viona di kampus." Jawab Viona.
Mobil Viona telah di bawa masuk dan terparkir di samping mobil Kenzo.
Kenzo keluar dari mobil, Viona segera berjalan mendekat.
"Kak, ada perlengkapan sekolah dan makanan di kursi belakang dan bagasi." Viona bersemangat.
Ia rela berada di pesantren, jika terus bisa melihat wajah tampan dan lembut Kenzo.
Kenzo membuka pintu mobil bagian belakang dan bagasi.
"Banyak sekali." ucap Kenzo tanpa melihat Viona.
"Anak-anak masih belajar, sebaiknya kita bawa ke aula saja." ucap Umi.
"Baiklah." Kenzo mulai mengeluarkan barang-barang.
"Aku akan membantu." Zayn berjalan mendekati Kenzo.
Semua barang telah di antar ke aula, Umi mengundang Zayn untuk istirahat dan minum di rumah.
Zayn dan Kenzo ikut masuk ke rumah dan duduk di ruang tamu.
Umi dan Viona membuatkan minuman dan mengambil cemilan.
Kenzo berjalan menuju ruang tengah, ia tidak pernah bosan melihat foto-foto Nisa yang terpajang rapi di dinding.
Foto dari Nisa masih bayi hingga menjadi seorang Dokter.
Zayn mengikuti langkah kaki Kenzo, ia memperhatikan foto-foto gadis kecil cantik yang selalu memakai jilbab.
"Apakah ini Annisa Salsabila?" tanya Zayn menyentuh foto paling ujung.
Foto Nisa Ketika mendapatkan gelar Dokter spesialis bedah termuda dan terbaik.
Wajah cantik dengan senyuman lembut dan tulus.
"Ya." ucap Kenzo berjalan kembali ke ruang tamu.
"Cantik." Gumam Zayn yang masih memperhatikan piagam, tropi, sertifikat dan beasiswa yang di dapat Nisa dari Kecil hingga dewasa.
"Luar biasa, terlalu sempurna." Zayn tersenyum.
"Prof kemarilah." sapa Viona.
Mereka minum kopi dan teh bersama.
***
**
*
Terimakasih telah membaca Karya Author
*
**
***
Mohon dukungannya untuk selalu memberikan Like Komentar Vote dan Bintang 5 😘 Terimakasih
Semoga Readers semua selalu dalam keadaan sehat dan mendapatkan rezeki yang berlimpah Aamiin 😇
__ADS_1
Love You Readers 💓 Thanks for Reading 😊
#Maaf telat, Migrain Author kambuh 😢🙏