
Stevent menggandeng tangan Nisa dengan mesra, tidak ingin ia lepaskan, mereka berjalan menuju pelaminan yang telah di siapkan dan di tata sangat indah. Stevent tidak ingin melepaskan pandangannya dari wajah Nisa.
Nisa tersenyum manis kepada Stevent, ia melihat sesuatu di telinga Stevent.
" Apa itu?" tanya Nisa penasaran.
" Untuk selalu waspada agar tidak kecolongan lagi" Stevent tersenyum menggoda, memeluk Nisa dari belakang dan berbisik.
" Aku terlalu mencintaimu" Nisa tersenyum
" Lepaskan, kita harus menyambut tamu" Nisa membuka tangan Stevent yang telah mengunci pinggangnya.
"Bisakah kita pergi dari ruangan ini, aku tidak suka keramaian" Stevent Kembali berbisik.
Seorang pria datang menghampiri Nisa.
" Selamat menempuh hidup baru, Dokter Nisa, ini hadiah spesial dariku" Pria itu menyerahkan sebuah kotak kecil, Stevent memperhatikan pria di depannya.
" Terimakasih Robby " Nisa menerima kotak kecil dari Robby, seorang pengusaha sukses pemilik beberapa cabang showroom mobil.
" Bukalah!" Ucap Robby
" Sekarang?" tanya Nisa dan mendapatkan anggukan dari Robby, Nisa membuka perlahan kotak kecil, sebuah kunci mobil milik Nisa yang ia jual kembali kepada Robby untuk melunasi hutang Fathur.
" Ya Allah, Robby, ini terlalu mewah " Nisa terkejut
" Itu milikku dan pantas kembali kepadamu, kamu selalu menolak pemberianku sekarang adalah wanita yang tepat sebagai hadiah pernikahan " Robby tersenyum.
" Terimakasih Robby, semoga Allah membalas semua kebaikan dirimu " Nisa tersenyum, Stevent terus menatap Nisa dan Robby bergantian.
Robby pamit meninggalkan pasangan pengantin. Stevent memperhatikan senyuman Nisa.
"Aku akan membayar mobil itu " ucap Stevent dengan wajah Emosi, Nisa tersenyum.
" Senyumlah, senyum itu ibadah " Nisa menyentuh lembut pipi Stevent dengan satu tangan, ia meletakan kotak kecil di kursi pengantin.
Stevent tersenyum merasakan sentuhan lembut tangan Nisa di pipinya.
" Apa aku boleh mencium kamu?" Stevent menatap bibir seksi Nisa.
" Bersabarlah kita punya banyak waktu untuk bersama" Nisa duduk di kursi.
"Tuan Nathan datang, ia hanya berdua dengan Roy" terdengar suara Jhonny dari earphone nirkabel.
Stevent sangat khawatir dengan kemampuan Nathan dalam menciptakan sesuatu dengan kecerdasannya, bukan senjata melainkan obat-obatan yang lebih berbahaya.
" Sayang, Nathan datang bisakah kamu tidak menyentuh dia ?" Stevent menatap Nisa yang duduk di sampingnya.
" Kepada, apa kamu cemburu?" Nisa menggoda suaminya.
" Salah satunya karena cemburu dan salah duanya, Aku khawatir sentuhan Nathan membahayakan dirimu atau diriku.
" Baiklah, aku akan menghindari Nathan" Nisa menatap wajah suaminya.
Nathan berjalan mendekati Nisa, ia tidak memperdulikan Stevent.
" Nisa, maafkan aku " Nathan memperhatikan wajah cantik Nisa.
" Sangat Cantik" Suara hati Nathan.
"Lupakan saja, Aku telah memaafkan dirimu" Nisa tersenyum.
Nathan menyerahkan sebuah hadiah kepada Nisa.
__ADS_1
" Untuk kamu sebagai permintaan Maaf dan hadiah pernikahan " Nathan menyerahkan sebuah kotak kecil terbungkus rapi.
" Terimakasih " Stevent segera mengambil hadiah dari tangan Nathan. dan meletakkan di meja di samping kursinya.
" Aku memberikan hadiah itu untuk Nisa bukan untuk dirimu" Nathan menatap benci kepada Stevent.
" Dan Aku melarang istriku menerima apapun dari penjahat seperti dirimu " tegas Stevent membalas tatapan benci Nathan.
" Baiklah Tuan Stevent yang bukan seorang penjahat, kamu hanya beruntung saja " Nathan menepuk bahu Stevent.
Nisa memperhatikan dua pria yang sedang berdebat.
" Nathan, terimakasih telah hadir" Nisa tersenyum, Nathan tersenyum melihat wanita cantik di depannya.
" Kamu juga di larang melihat istriku" Stevent memeluk Nisa dari belakang dan mencium pipi Nisa. Mata Nathan memerah ia berlalu meninggalkan pasangan mesra.
" Aku tidak suka mencium wajah dengan makeup" Stevent melepaskan pelukannya.
" Apa aku meminta kamu melakukannya?" wajah Nisa memerah karena malu dan terkejut.
" Tidak, aku hanya ingin Nathan segera pergi, dan juga aku tidak perlu menunggu kamu memintanya Karena aku akan memberikan semuanya kepada kamu " Stevent tersenyum menggoda Nisa.
Nisa tersenyum melihat tingkah Stevent. Min Jook berjalan mendekati Nisa.
" My Angel selamat " Min Jook tersenyum manis, ia memperhatikan wajah Nisa.
" Terimakasih telah bersedia hadir " Nisa membalas senyuman Min Jook.
" You are very beautiful, my angel " Min Jook menatap lekat wajah cantik Nisa.
Stevent menarik tubuh Min Jook ke hadapannya, Nisa terkejut.
" Selamat datang, silahkan nikmati pestanya " Stevent tersenyum sinis. Min Jook melirik Nisa dan berlalu.
" Sepertinya Dia akan melahap dirimu " Stevent menatap tajam Nisa dan membuat Nisa tertawa.
" Aku bukan makanan" Nisa tersenyum
" Tapi aku akan memakan habis dirimu " Stevent mendekatkan tubuh Nisa pada dirinya dan melingkari tangannya di pinggang ramping namun montok.
" Ehem " Papa berdehem, Stevent segera melepaskan istrinya.
" Apa kamu tidak bisa bersabar menunggu tamu undangan pulang?" Papa menatap Stevent dengan senyuman
" Aku tidak melihat ada Tamu di sini" Jawaban Stevent membuat keluarga tertawa.
Fathur dan Istrinya mendekat.
" Selamat Nisa " ucap Fathur
" Terimakasih, Om " Nisa tersenyum
Lara memperhatikan Stevent.
" Pria kaya yang sangat tampan dan menggoda " Lara berbicara di dalam hatinya dan memberikan ucapan selamat.
" Steve, apa kamu tidak berkeliling menemui tamu undangan dan rekan bisnis ?" Papa memegang bahu Stevent.
" Aku harus menjaga Istriku dari pria - pria berbahaya di ruangan ini" Stevent merangkul pinggang Nisa dengan satu tangannya.
" Baiklah, Papa akan menggantikan dirimu berkeliling" ucap Papa.
" Steve aku tidak melihat Mama " Nisa melihat sekeliling.
__ADS_1
" Bisakah kamu memanggilku Sayang?" Stevent berbisik di telinga Nisa dan kembali menyentuh pinggang Nisa.
Sentuhan yang membuat bulu kuduk Nisa merinding disko.
" Bisakah kamu tidak selalu menyentuhku" Nisa melepaskan tangan Stevent merasa geli.
" Kenapa, apa kamu tidak suka ?" Stevent menatap tajam Nisa.
" Ya Tuhan " Nisa menepuk dahinya dan kembali duduk, ia telah berdiri dan berdebat dengan pria keras kepala di depannya.
Menguji kesabaran seorang Nisa.
Nama berkeliling, ia mencari tamu undangan teman-teman mantan modelnya.
Mama melihat Laurent, sahabat satu profesi dengannya.
Mereka saling melepas rindu dengan berpelukan.
" Vero, menantu kamu sangat cantik tidak puas untuk dipandang mengingat aku pada seseorang" Laurent mengetuk - ngetuk dahinya.
Wajah seorang model dan perancang busana terkenal yang selalu tampil di layar kaca akan selalu terbayang di mata penggemarnya.
Mama menunggu Laurent berpikir, ia menarik tangan Laurent untuk duduk.
"Kemarilah " ucap Mama dan diikuti oleh Laurent.
" Lihatlah" Mama Veronika memberikan sebuah foto Nisa tanpa riasan yang sedang tersenyum dan memperlihatkan gigi putih tersusun rapi dan menggunakan pakaian kedokteran Kepada Laurent dari layar ponselnya.
" Maria" ucap Laurent refleks. Veronika tidak bisa mengingat wajah Maria dan ia tidak bisa menemukan foto-foto Maria walaupun menggunakan mesin pencarian, seakan sengaja menghilangkan jejak.
"Vero bagaimana kamu masih memiliki foto Maria ketika ia masih menjadi Dokter?" tanya Laurent bingung.
Mama terdiam ia menatap Nisa dari kejauhan.
" Nisa pasti Putri Maria dan Mark " Mama Veronika berbicara di dalam hatinya.
" Vero, kenapa kamu hanya diam?" Laurent menggoyang tangan Veronika.
" Apa kita bisa menemukan Maria dan Mark?" tanya Veronika.
" Apa kamu telah mengingat Mark?" tanya Laurent, sepertinya setelah kecelakaan Veronika sengaja menghapus ingatan tentang Mark. Veronika mengangguk. dan Laurent memeluk Veronika.
" Kamu tidak akan bisa melupakan Mark, kau sangat mencintainya" bisik Laurent di telinga Mama
" Maria hilang tanpa jejak Sepertinya ia telah menggantikan identitas dirinya, sedangkan Mark aku dengar ia berada di Jepang " jelas Laurent.
" Aku akan membantu kamu, tapi kenapa kamu mencari Maria?" tanya Laurent bingung.
Tidak ada yang mengetahui pernikahan Mark dan Maria hanya keluarga dan Veronika.
Itu adalah permintaan Maria yang di paksa menikah dengan Mark.
Veronika mengetahui semuanya dari Mark sendiri yang selalu bercerita kepada Veronika.
Bahkan Mark memaksa Maria di malam pertama, melarang Maria menjadi seorang Model. Maria menjalani kehidupan bersama Mark dengan terpaksa.
*
*
*
😘 Thanks for Reading 🤗
__ADS_1
♥️Love you Readers 💓