Cinta Untuk Dokter Nisa

Cinta Untuk Dokter Nisa
Lamaran


__ADS_3

Abi dan Umi telah pulang ke rumah, para santri dan pengajar menunggu kedatangan Abi dan Umi. Mereka pulang bersama Kenzo, Nisa tidak bisa ikut mengantarkan karena harus melakukan operasi.


Kebahagiaan para santri semakin bertambah ketika mereka melihat Kenzo, kakak santri yang sudah berhasil dan sering mengirimkan mereka hadiah.


Setelah melepas rindu, para santri kembali ke kelas dengan perasaan sangat bahagia karena mendapatkan hadiah dari kak Kenzo.


Rumah kembali sepi, Abi dan Umi duduk di ruang tengah mereka terlihat lelah, Usia yang tidak muda lagi membuat kondisi tubuh mudah lelah.


Kenzo menuju dapur, membuatkan susu panas untuk mereka bertiga, ia berjalan menuju ruang tengah dengan membawa tiga gelas dan meletakkan di atas meja.


"Kapan kamu akan menikah, Abi akan menjadi wali mu?" tanya Abi ketika Kenzo duduk di sofa depan Abi yang duduk bersampingan dengan umi.


Kenzo terdiam dan menarik nafas dalam-dalam.


"Kenzo pulang untuk melamar dan menikahi Nisa." Kenzo menatap Abi.


Abi dan Umi saling pandang sekilas merasa ragu.


Mereka tahu Nisa menganggap Kenzo seperti kakak sendiri walaupun mereka tidak punya hubungan darah, tapi kebersamaan dan perhatian Kenzo dari kecil hingga sekarang adalah sebatas saudara di mata Nisa.


"Kenapa Abi, apa Abi tidak setuju?" tanya Kenzo khawatir.


"Abi sangat bahagia jika Nisa menikah dengan kamu, Abi sangat mengenal dirimu tapi bagaimana dengan Nisa, ia menganggap kamu seperti kakaknya sendiri," jelas Abi.


"Umi juga senang, jika Nisa bisa menikah dengan Kenzo." Umi tersenyum.


"Bisakah Umi dan Abi mengatakan kepada Nisa?" tanya Kenzo berharap.


"Tentu saja Nak, tanpa paksaan tapi dengan pandangan, Nisa pasti bisa mengerti " Lanjut Umi.


"Umi benar, Nisa juga tidak pernah berpacaran karena ia tahu di larang Agama, jadi Nisa hanya menunggu pria yang datang melamar kepada Abi dan Umi, kamu adalah orang pertama." Abi dan Umi tersenyum bahagia begitu juga dengan Kenzo.


***


Nisa selesai melakukan operasi, yang hanya sebentar saja.


Ia kembali ke ruangannya membersihkan diri, dan mengganti pakaian.


Nisa mengambil ponselnya, ada beberapa panggilan dan pesan, Nisa langsung menghubungi nomor Abi untuk menanyakan keadaan mereka, Ia juga meminta kak Kenzo untuk membuat makan siang untuk mereka.


Nisa bisa tenang karena ada Kenzo di rumah bisa membantu Abi dan Umi. Nisa melihat panggilan tak terjawab dari Viona dan beberapa pesan.


Nisa membaca pesan dari Viona yang meminta Nisa kerumahnya karena kakaknya terluka dan tidak mau kerumah sakit.


Setelah membaca pesan Nisa segera menghubungi nomor Viona, terdengar suara tangisan Viona di seberang telepon membuat Nisa khawatir.


Viona memohon agar Nisa segera ke rumahnya, tangan kakaknya berdarah.


Nisa segera menuju parkir dan mengendarai mobil menuju alamat rumah yang telah di kirimkan Viona.


Mobil Nisa berhenti tepat di depan pintu gerbang yang sangat besar, ia mengirimkan pesan kepada Viona, gerbang terbuka, seorang petugas keamanan menyuruh Nisa masuk dengan mobilnya, karena jarak gerbang dan rumah masih jauh, perkarangan yang luas bagai lapangan di hiasi tanaman yang sangat terawat, Rumah mewah lebih mirip Istana.


Nisa menghentikan mobilnya tepat di depan pintu rumah besar dan tinggi dengan ukiran Naga Emas.


Viona telah menunggu Nisa dengan mata sembab, Nisa memberikan pelukan yang menenangkan.


Dua orang pelayan laki - laki mendekat, satu orang membantu membawa perlengkapan medis Nisa dan yang satu lagi membawa mobil ke parkiran.


"Kenapa kamu menangis apa luka kakakmu sangat parah?" Nisa mengusap air mata Viona.


"Kakak ku tidak pernah terluka, Nisa tolong obati kakak ku dia satu - satunya keluarga ku." Viona masih terisak.

__ADS_1


"Baiklah dimana kakakmu?" Viona menarik tangan Nisa menaiki tangga menuju kamar paling ujung.


Nisa merasakan kekhawatiran di dalam hatinya, Rumah yang sangat besar dan luas tapi terlihat sepi tanpa penghuni dan lagi kakak Viona terluka tetapi kenapa ia berada di kamar paling ujung ruangan.


Nisa terus bertanya di dalam hatinya dan berdoa agar ia selalu dalam perlindungan Tuhan.


"Viona, kenapa kakakmu memilih kamar paling ujung, sepertinya ada banyak kamar di rumah ini." Nisa berjalan mengikuti langkah kaki Viona.


"Kakakku memang seperti itu, tidak ada yang bisa mengerti dia, yang ku tahu dia sangat menyayangi ku," jelas Viona


Mereka sampai di kamar paling ujung, ketika Viona membuka pintu kamar, Nisa sangat terkejut.


"Astagfirullah ya Allah." Nisa terdiam melihat seorang pria yang bertelanjang dada dan berlumuran darah sedang duduk di atas tempat tidur yang sangat besar.


Bukan darah dan luka, apalagi tubuh seksi itu tetapi wajah dan senyum Stevent yang penuh kemenangan membuat Nisa beristigfar dan terdengar oleh Viona yang kebingungan, apalagi Nisa masih mematung di depan pintu.


Viona segera menarik tangan Nisa mendekati Stevent.


"Cepatlah Nisa, kakak ku bisa kehabisan darah." Viona mendudukkan Nisa di tempat tidur tepat di samping Stevent, dan seorang pelayan yang membawa perlengkapan medis segera melekatkannya di dekat Nisa.


Mata Nisa melihat pada dada yang berdarah, Nisa membuka koper, dan mengeluarkan cairan pembersih luka.


"Viona, saya membutuhkan banyak kain kasa dan air hangat." Nisa menoleh ke Viona.


"Baiklah, aku akan mengambilnya." Viona segera berlari.


"Tunggu Viona!" Nisa memanggil Viona yang telah hilang dari balik pintu.


Nisa terdiam, pikirannya melayang, ia telah masuk dalam jebakan Stevent lu, ia datang sendiri ke rumah pria ini bahkan ia naik masuk ke kamar dan menaiki ranjangnya.


"Kenapa kau diam ?" Stevent menatap Nisa yang duduk diam menunduk.


"Aku menunggu air hangat dan kasa steril untuk membersihkan luka Anda." Nisa mengambil suntikan.


"Suntikan antibiotik agar luka anda tidak infeksi." Nisa memberi suntikan pada Stevent yang tersenyum ketika Nisa menyentuh tangannya.


Viona bersama seorang pelayan masuk ke kamar membawa air hangat dan banyak kasa.


"Tolong bersihkan lukanya!" perintah Nisa kepada pelayan wanita, beranjak dari tempat tidur.


Pelayan tak berani mendekat, ia hanya berjalan dan meletakkan air hangat di atas meja dan keluar kamar.


Stevent menatap Nisa,


"Aku tidak mau di sentuh pelayan, aku hanya mau kamu yang melakukannya." Stevent tersenyum.


"Saya juga seorang pelayan Tuan, pelayan masyarakat," tegas Nisa.


"Benar sekali, layani saya sekarang!" perintah Stevent lagi.


Viona kebingungan dengan sikap kakaknya.


"Kakak, biar Viona saja yang membersihkan luka kakak." Viona mendekat dan membersihkan luka Stevent dengan perlahan dan terlihat goresan luka seperti kena sabetan pedang.


"Kak, lukanya panjang sekali." Viona merasa ngeri.


Nisa segera mendekat, memberikan cairan pada luka, ia juga kembali memberikan suntikan penghilang sakit pada luka, tapi luka itu tidak dalam sehingga tidak memerlukan jahitan, dengan obat yang bagus bekas luka juga akan hilang.


Perlahan Nisa mengobati dan membalut luka dengan kain kasa, yang tak luput dari tatapan Stevent.


"Sudah selesai Tuan." Nisa merapikan perlengkapan medis dan akan beranjak dari tempat tidur tapi tangannya di tahan Stevent.

__ADS_1


"Bisakah anda tidak selalu memegang tangan saya." Nisa melihat tangan Stevent.


"Jika aku tidak memegang tanganmu, apakah kamu akan lari?" Stevent tersenyum.


"Lepaskan aku tidak akan lari." Nisa melihat Stevent sekilas.


"Viona, buka laci meja itu!" perintah Stevent kepada Viona.


Viona segera mendekati meja yang dimaksud Stevent, ia melihat sebuah kotak perhiasan dari kaca dan dapat melihat satu set perhiasan terdiri atas sebuah kalung liontin, gelang, cincin dan giwang, sangat mewah semua dilengkapi dengan berlian merah langkah dan sangat mahal.


Viona berjalan mendekati kakaknya dan menyerahkan kotak perhiasan.


"Ambilla! " perintah Stevent melihat kepada Nisa, Viona dan Nisa saling tatap dengan wajah bingung, Viona mulai khawatir begitu juga dengan Nisa.


"Jangan membuatku berbicara dua kali!" Stevent menatap tajam, Viona meletakkan kotak perhiasan di atas pangkuan Nisa.


"Apa ini?" tanya Nisa dan melihat kotak di atas pangkuannya.


"Perhiasan, apa kamu tidak bisa melihatnya?" Stevent menatap tajam kepada Nisa.


"Baiklah Tuan, jika ini bayaran perawatan anda, saya tidak bisa terima karena terlalu mahal." Nisa menyerahkan kotak kaca kepada Stevent.


"Ini bayaran kamu." Stevent memberikan sebuah cek dengan nominal fantastis.


"Ini juga terlalu banyak, aku akan menulis resep dan biaya yang harus anda bayar." Nisa mau beranjak.


"Jika kamu bergerak selangkah lagi aku akan menarik dirimu kembali dalam pelukanku!" ancam Stevent membuat Nisa terdiam dan menahan emosi.


Stevent menyerahkan kotak kata dan cek.


"Aku mau kamu menjadi nyonya di rumah ini dan menikah dengan ku." Nisa dan Viona saling tatap, Nisa dapat melihat mata Viona yang tidak tahu akan rencana kakak nya, ia bahkan diam membisu.


"Kenapa diriku, bahkan kita tidak saling kenal." Nisa berusaha menolak.


"Kau harus tahu, aku selalu mendapatkan barang terbaik, termahal, teratas, terbungkus, dan menjadi rebutan semua orang." jelas Stevent bangga.


"Baiklah, dan aku bukan barang." Nisa mulai emosi dan beranjak dari tempat tidur, tapi Stevent menarik tangan Nisa dengan kasar sehingga Nisa terjatuh tepat di dada Stevent membuat kasa putih menjadi merah.


"Sudah aku katakan, aku akan memeluk dirimu jika kamu bergerak." Stevent mengunci tubuh Nisa.


"Kak." Viona berteriak.


"Aku tidak mau penolakan." bisik Stevent di telinga Nisa yang tertutup kerudung.


"Lepaskan aku, kita akan bicara." Nisa memohon lembut dengan mata tetap terpejam, ia bisa merasakan tangannya telah basah karena darah.


Stevent melepaskan Nisa dengan tatapan tajam, Nisa membuka matanya perlahan dan menarik napas.


Ia membuka kembali kain kasa pada dada Stevent dan menggantikan dengan yang baru.


Viona hanya terdiam, ia tidak bisa menolong Nisa, bahkan air mata Viona mengalir tanpa perintah.


Kini Viona tahu siapa wanita yang ingin dimiliki kakaknya, sahabat barunya Nisa, wanita muslimah berbeda keyakinan dengan Stevent, wanita yang tidak tersentuh dan kepopulerannya melebihi Stevent.


Tentu saja tak heran jika kakaknya jatuh cinta dan menginginkan Nisa.


Perbedaan Nisa dengan wanita lainnya adalah daya tarik tersendiri bagi para pria yang melihatnya.


****


♥️ Thanks for reading 😊

__ADS_1


Dukung terus Author yaa, jangan lupa Vote, Like, Komentar dan Bintang 5 😘


🤗 Love you readers 💓 Terimakasih 😍


__ADS_2