Cinta Untuk Dokter Nisa

Cinta Untuk Dokter Nisa
Bidadari Desa


__ADS_3

Dua orang pria tampan sedang duduk di balkon gudang. Roy sibuk dengan komputer mencari data tentang foto wanita yang ia ambil dari ponsel Candra.


"Roy, aku melihat seorang wanita cantik ketika melakukan perjalanan kemari." Nathan memandang jauh ke ujung pegunungan yang terlihat dari balkon.


"Apa Anda menyukainya?' Roy melirik Nathan.


"Aku tidak mau berharap lagi pada wanita berhijab." Nathan meneguk kopi yang tergeletak di atas meja.


"Kenapa anda menyukai wanita berhijab?" tanya Roy.


"Entahlah, mereka terlihat istimewa dengan hijab dan gamis menyapu tanah." Nathan tersenyum tampan.


"Aku akan membantu anda untuk mendapatkan wanita yang anda inginkan dengan syarat dia masih sendiri." Roy tersenyum.


"Hmm." Nathan memandang hutan yang tidak berujung.


Terdengar ponsel Nathan yang berada di atas meja berdering. Roy beranjak dari kursi dan melihat nama pada layar.


"Nona Nayla." Roy menyerahkan ponsel pada Nathan.


"Apa?" tanya Nathan menerima panggilan.


"Kak, Fauzan ada di hotel, berikan formula kepada diriku." Suara Nayla terdengar manja.


"Aku berada di Gudang jauh," ucap Nathan.


"Katakan padaku dimana tempat penyimpanan formula!" Nayla berharap.


"Kamu tidak akan bisa masuk ke ruangan penyimpanan karena pintu hanya bisa dibuka dengan sidik jari Roy dan diriku." Nathan melirik Roy.


"Aku mohon pulanglah, besok Fauzan akan pergi ke suatu tempat." Nayla merengek.


"Nayla hari sudah gelap, aku akan terlambat sampai ke rumah."Nathan melirik jam di tangannya.


"Berapa jam waktu yang kamu butuhkan untuk pulang?" tanya Nayla.


"Sekitar lima jam dengan kecepatan tinggi." Nathan berjalan mendekati Roy.


"Bisakah kamu pulang sekarang? malam ini adalah kesempatan yang paling baik untuk diriku." Nayla mulai terisak


"Baiklah aku akan pulang." Nathan mematikan ponsel dan berkemas.


"Ada apa Tuan?" tanya Roy.


"Gadis manja menginginkan formula cinta." Nathan mengambil jas yang tergantung di tempatnya.


"Apa aku harus ikut?" Roy mematikan komputer.


"Tentu saja, untuk apa kamu di hutan ini?" Nathan tersenyum.


"Aku akan menemui kepala gudang." Roy memasukkan komentar ke dalam tas dan membawanya.


Mereka berjalan bersama menuruni tangga menuju sebuah ruangan yang terdapat beberapa orang penjaga, pekerja dan seorang ketua tim.


Nathan menunggu di depan pintu melihat Roy berbicara dengan seorang pria untuk memberitahukan tugas yang harus ia selesaikan.


Roy pamit kepada semua orang, Nathan tersenyum dan melambaikan tangannya. Senyuman yang manis dan tampan bagaikan seorang malaikat.


"Aku saja yang mengendarai mobil." Nathan duduk di kursi sopir.


"Baiklah Tuan." Roy duduk di samping Nathan.


Nathan melirik jam berwarna hitam di tangan kekarnya, pukul setengah tujuh malam.


"Apa Anda terburu-buru Tuan?" Roy melihat kearah Nathan.

__ADS_1


"Entahlah, aku merasa bodoh dengan tingkah manja Nayla, kenapa aku selalu membantu dia memenuhi keinginannya." Nathan memijit batang hidungnya.


"Karena terlalu manja membuat Nona Nayla besar kepala." Roy melirik Nathan.


"Kamu benar, tetapi aku tidak bisa menolak Nayla." Nathan menghidupkan mesin mobil.


Mobil keluar dari gudang rahasia dan melaju dengan kecepatan tinggi. Jalanan yang tidak terlalu bagus membuat Nathan kesulitan, sehingga kecepatan mobil tidak stabil.


"Harusnya kita menggunakan mobil dirimu." Nathan terus fokus pada jalanan yang semakin gelap.


"Ini bukan lintasan balapan." Roy tersenyum, ia berpegangan dengan kuat, mobil terlalu bergoyang.


"Semoga saja jalanan di desa sepi jadi aku bisa menambah kecepatan." Nathan menarik napas, ia emosi dengan banyaknya lubang pada jalanan.


"Ada satu desa yang selalu ramai di siang dan malam hari, penduduknya juga sangat ramah." Roy tersenyum, ia mengingat ketika melintas di depan sekolahan dan melihat seorang guru yang sangat cantik.


Guru dengan hijab rapi membantu siswa-siswi menyebrangi jalan, wanita itu tersenyum dan menyapa Roy dan memberikan setangkai bunga mawar putih.


Ponsel Nathan yang berada di saku celananya berdering. Ia kesulitan mengambil ponsel dan tidak menemukan headphone.


"Hentikan saja mobilnya Tuan!" Roy mulai khawatir karena mereka telah memasuki kawasan Desa Sinjay.


Roy melihat sebuah motor matic berwarna merah melaju dengan kecepatan sedang dari arah berlawanan, ia tersenyum karena pengendara motor adalah guru cantik yang pernah ia lihat di sekolah.


Nathan yang berusaha mengambil ponsel tidak fokus pada jalanan, sehingga mobil yang ia kendarai berada pada jalur yang berbeda.


Afifah yang melihat mobil terlalu tengah pada jalanan segera membunyikan klakson motor membuat Nathan dan Roy terkejut.


Melihat sebuah motor yang tidak jauh dari mereka dengan sigap Nathan membanting stir mobil kearah kiri sehingga menambah pohon di pinggir jalan.


Sebuah benturan keras terdengar dan membuat Afifah terkejut, ia segera mengehentikan motor matic di pinggir jalan.


Afifah berlari mendekati mobil sport berwarna merah yang telah mengeluarkan asap. Kepala Nathan dan Roy berdarah.


Roy segera membuka pintu dan keluar dari mobil, ia melihat wanita dengan pakaian serba putih seorang perawat berdiri di depannya.


Roy terpaku melihat Afifah, ia merasa wanita itu bagaikan bidadari cantik alami dengan senyuman yang sangat manis.


"Tuan, ada klinik di dekat sini, apa kalian masih kuat untuk berjalan? aku akan memanggil warga." Afifah bersiap meninggalkan Nathan dan Roy yang terus memandangi Afifah.


"Apakah kamu seorang Dokter?" Nathan menarik tangan Afifah.


"Aku hanya seorang perawat, tetapi ada seorang Dokter di depan sana tidak jauh lagi." Afifah menatap lembut pada Nathan dengan senyuman dan melepaskan pegangan Nathan.


"Tuan, apakah mobil ini masih bisa berjalan sampai ke klinik?" tanya Afifah kepada Roy.


"Kita bisa mencobanya." Roy mengusap wajahnya dengan kasar untuk menyadarkan dirinya.


"Ikuti diriku." Afifah kembali ke motornya.


Roy memindahkan tubuh Nathan ke sampingnya dan menyetir mobil mengikuti Afifah yang berjalan pelan.


Roy terus memperhatikan Afifah hingga wanita itu berhenti tepat di depan sebuah klinik milik dokter Riyan.


Nathan merasakan sakit pada lengan kirinya, tidak ada luka, ia berpikir tangannya patah atau terkilir.


Afifah berlari ke dalam klinik memanggil Dokter Riyan untuk membantu Roy dan Nathan.


Roy membuka pintu mobil untuk Nathan dan membantu berjalan masuk ke dalam klinik. Dokter Riyan dan seorang perawat wanita yang akan bertukar shift dengan Afifah.


Nathan melihat Afifah, ia ingat dengan wanita cantik di pasar pagi desa.


"Bidadari desa." Nathan tersenyum.


"Kemari lah." Afifah menarik kemeja Roy yang terdiam menuju kursi.

__ADS_1


"Aku akan membersihkan luka kamu." Afifah tersenyum kepada Roy yang menunduk dan membaca sebuah nama pada name tag.


"Afifah," ucap Roy pelan.


"Ya namaku Afifah." Afifah membawa cairan pembersih dan kain kasa.


Perawat wanita dan Dokter Riyan membersihkan dan mengobati Nathan yang terus memperhatikan Afifah.


"Kenapa buka dia yang mengobati diriku?" Nathan berbicara di dalam hatinya.


Afifah telah selesai membersihkan dan mengobati luka di dahi Roy yang memandangi Afifah tanpa berkedip.


"Mata kamu akan lelah jika tidak berkedip." Afifah tersenyum dan melambaikan tangannya di depan wajah Roy.


"Maafkan aku." Roy menunduk.


"Apakah ada bagian lain yang terasa sakit atau luka?" tanya Afifah dengan ramah.


"Tidak." Roy kembali melihat wajah cantik Afifah.


"Apakah kamu merasa pusing?" tanya Afifah lagi.


"Tidak." Roy menyentuh dada, ia merasakan jantung yang ingin melompat keluar dari dalam tubuhnya.


"Minum dan berbaringlah di sana." Afifah memberikan segelas air putih kepada Roy.


"Terimakasih." Roy menerima gelas dari Afifah.


Afifah berjalan mendekati dokter Riyan dan rekan kerjanya seorang perawat wanita.


"Bagaimana Dok?" tanya Afifah.


"Sepertinya tangan kiri terkilir." Dokter Riyan menuliskan resep untuk Nathan dan Roy.


"Afifah, kamu bisa mengurutkan tangannya." Tia di telinga Afifah.


"Tentu saja, aku hanya perlu menarik tangannya." Afifah tersenyum.


"Halo Tuan siapa nama anda?" Afifah tersenyum dan bertanya kepada Nathan.


"Nathan." Nathan tersenyum manis melihat Afifah mendekati dirinya.


"Bagaimana jika tangan anda diobati secara alternatif?" tanya Afifah ramah.


"Siapa yang akan melakukannya?" tanya Nathan menatap Afifah.


"Diriku." Afifah tersenyum.


"Apa yang akan kamu lakukan?" Nathan memperhatikan wajah cantik Afifah.


"Hanya menarik tangan anda." Afifah memegang tangan Nathan dan menariknya dengan kuat.


Nathan berteriak dan menatap tajam pada Afifah yang tersenyum cantik, tidak ada rasa takut sedikitpun. Semua terkejut, Roy segera berlari mendekati Nathan.


"Bagaimana rasanya?" Afifah tersenyum dan berjalan menuju wastafel untuk membersihkan tangannya.Tia dan dokter Riyan tersenyum menahan tawa.


"Andai tidak ada orang di sini aku akan mencium paksa bibir kecil itu." Nathan tersenyum.


***


Mohon dukungnnya berikan like, Komentar, bintang 5 dan Vote. Terimakasih.


Baca juga Novel Author berjudul “Arsitek Cantik” dan "Mengejar Cinta Ariel"


Novel Kakakku “Nyanyian Takdir Aisyah dan Cinta Bersemi di Ujung Musim.” (Fitri Rahayu). Terimakasih.

__ADS_1


Semoga kita semua dalam keadaan sehat dan selalu mendapatkan perlindunganNya, Aamiin.


__ADS_2