
Seperti biasa Nisa bangun lebih awal, membaca Alquran untuk menunggu waktu Subuh.
Terdengar adzan Subuh, Nisa mengentikan bacaannya dan beranjak dari duduknya mendekati suami tercinta.
"Sayang bangun" Suara lembut Nisa menggelitik telinga Stevent.
Pria Tampan dan gagah membuka matanya dan tersenyum Indah melihat malaikat cantik yang berada dekat dengan wajahnya.
Tangan Stevent menyentuh wajah wanita penuh kelembutan dan beranjak dari tempat tidur.
Stevent segera membersihkan diri dan menggantikan pakaiannya. Mereka sholat bersama.
Belajar mengaji di setiap selesai Subuh, untuk pria cerdas seperti Stevent bukanlah hal yang sulit untuk bisa belajar sesuatu yang baru.
Mereka telah menyelesaikan tugas dan kewajiban di Subuh hari. Diakhiri dengan ciuman di atas dahi Nisa dan tangan Stevent.
Senyuman yang begitu Indah penuh kebahagiaan menghiasi pagi menyambut hari.
Nisa di temani Stevent berjalan - jalan pagi di halaman depan rumah.
Viona tersenyum melihat kebahagiaan Kakaknya, ia telah memberitahukan Papa dan Mama tentang kehamilan Nisa.
Stevent lupa melarang Viona menyebarkan kabar kehamilan Nisa terutama kepada Papa Alexander.
"Sayang, hari ini kamu di rumah atau ikut ke kantor?" tanya Stevent lembut dan memeluk Nisa dari belakang.
"Sayang, maunya yang mana?" Nisa balik bertanya dan menyentuh pipi Stevent dengan lembut.
"Aku ingin Dia terus bersamaku tapi ketika ia berada di depanku fokus ku pada pekerjaan hilang" Stevent berbicara di dalam hatinya.
"Dan ketika ia jauh dariku, pekerjaan ku mengalahkan dirinya" Stevent Dilema memilih pekerjaan dengan istrinya, ia tidak berhasil menyatukan keduanya.
"Sayang, Jhonny belum menghubungiku, aku takut akan sangat Sibuk di kantor" Suara Stevent lembut menyembunyikan wajahnya di dalam lekuk leher Nisa.
"Aku di rumah saja, tidak akan pergi kemanapun" ucap Nisa lembut.
"Sayang, Aku ingin kamu selalu berada di depan mataku" Stevent mengeratkan pelukannya.
Matahari telah memberikan kehangatan kepada pasangan halal dalam pelukan.
Stevent memutar tubuh Nisa menghadapnya, memberikan ciuman hangat di bibir Nisa sehangat cahaya Matahari pagi.
Nisa menarik tangan Stevent masuk ke rumah untuk sarapan bersama, menu tanpa seafood semuanya Vegetarian.
Nisa tidak mau membuat Stevent muntah di pagi hari karena Stevent butuh asupan makanan untuk melakukan aktivitas padat di kantor.
Stevent dan Nisa menikmati sarapan bersama, penuh dengan Cinta.
Mereka telah menyelesaikan sarapan dan kembali ke kamar dengan bergandengan.
Nisa membantu Stevent mengunakan pakaiannya, memasang dasi dan jas.
"Sayang, kamu di rumah saja, jangan pergi ke luar!" perintah Stevent memeluk Nisa dan mencium dahi, mata, pipi, hidung dan terhenti di bibir.
"Iya Sayangku" jawab Nisa manja.
Stevent telah siap berangkat ke kantor, Nisa mengantarkan Stevent di depan pintu rumah, ia melambaikan tangannya kepada Stevent yang semakin hilang dari pandangan.
Nisa kembali ke rumah dan berjalan menuju kamar untuk melaksanakan sholat Duha dilanjutkan dengan membaca surah Ar Rahman.
Terdengar nada dering panggilan dari ponsel Nisa yang terletak di atas meja rias.
Nisa beranjak dari duduknya dan melihat layar ponsel, panggilan dari Umi.
"Assalamualaikum Umi" Nisa menjawab panggilan.
"Waalaikumsalam Sayang, bisakah kamu ke pesantren, seorang teman sedang menunggu dirimu" Ucap Umi.
"Teman, siapa Umi?" Tanya Nisa penasaran.
"Aisyah" Jawab Umi.
"Aisyah, bagaimana Dokter Aisyah bisa sampai di rumah Umi?" tanya Nisa heran.
Nisa belum pernah mengajak Dokter Aisyah ke pesantren.
"Umi akan ceritakan Setelah kamu sampai di rumah" Ucap Umi.
__ADS_1
"Baiklah Umi, Nisa akan minta izin kepada Stevent, assalamu'alaikum" Nisa menutup panggilan.
Nisa segera menghubungi nomor ponsel Stevent. Tidak butuh waktu lama Stevent segera mengangkat panggilan dari Nisa.
"Assalamualaikum Cintaku" Jawab Stevent manja dan mesra.
"Waalaikumsalam Sayangku" Jawab Nisa tidak kalah manja dan lembut.
"Apakah kamu sudah merindukan ciumanku" ucap Stevent menggoda.
"Mmmm, Aku sangat merindukan Semua tentang dirimu" Nisa menggoda Stevent.
"Oh no, jangan katakan itu Sayang, kamu bisa membangunkan seseorang yang sedang tidur" ucap Stevent gemas.
"hihi" Nisa tertawa.
"Oh suaramu menggelitik telingaku" Bisik Stevent.
"Sayang, Aku mau izin ke rumah Umi, bolehkah?" tanya Nisa manja.
"Kenapa Sayang, apa Umi sakit?" tanya Stevent.
" Tidak Sayang, Ada Aisyah di rumah Umi " ucap Nisa lembut.
"Aisyah?" Stevent heran Jhonny mengatakan Aisyah di culik dan ia sedang mencari Aisyah.
"Sayang, bagaimana Aisyah bisa di rumah Umi?" Stevent penasaran.
"Aku tidak tahu, Umi akan bercerita jika aku sudah sampai di rumah" jelas Nisa.
"Baiklah, kamu ajak Lia untuk menemani dirimu" ucap Stevent.
"Aku sendirian saja boleh, kasihan Lia tangannya pasti masih sakit" ucap Nisa.
" Aku akan menjemput dirimu" ucap Stevent.
"Tidak usah Sayang, aku tidak mau merepotkan dirimu" Nisa memelas.
"Aku mengkhawatirkan dirimu, Sayangku" Stevent gemas.
"Allah akan selalu menjaga diriku jika kamu telah mengizinkan aku" Ucap Nisa manja.
Mereka saling melemparkan ciuman dari balik ponsel dan mengakhiri panggilan.
Stevent tidak tahu ada Kenzo di pesantren, jika ia tahu ia tidak akan mengizinkan Nisa pergi ke rumah Umi tanpa dirinya.
Nisa telah mendapatkan izin dari suaminya, ia segera bergegas menuju mobil merah miliknya yang berada di garasi mobil.
Nisa melaju kendaraan dengan kecepatan sedang menuju pesantren.
Nisa memarkirkan mobilnya di perkarangan rumah Umi, Ia melihat sebuah mobil Jeep berwarna hitam telah terparkir.
Nisa keluar dari mobil dan Menuju pintu, ia mengucapkan salam dan segera masuk ke dalam rumah.
Nisa terkejut ketika melihat Kenzo, ada kerinduan di hati mereka berdua, Nisa rindu sosok seorang Kakak yang selalu bersamanya.
Nisa tersenyum memeluk Umi, dan Aisyah dan menyalami Abi.
" Kak Kenzo apa kabar?" tanya Nisa tersenyum.
"Kakak baik, Nisa apa kabar?" tanya Kenzo tersenyum memandang Nisa penuh kerinduan.
"Alhamdulilah, Nisa baik Kak" Nisa tersenyum.
Aisyah memerhatikan tatapan Kenzo pada Nisa dan bukan tatapan seorang Kakak pada adiknya.
"Dokter Aisyah bagaimana kamu bisa sampai di sini?" tanya Nisa duduk di samping Umi dan memeluk tangan Umi.
Aisyah menceritakan semua kejadian yang telah ia alami hingga ia bertemu dengan Kenzo.
Nisa sangat terkejut dengan apa yang diceritakan Asiyah.
"Apa kamu sudah menghubungi Jhonny?" tanya Nisa.
"Tidak, aku tidak punya ponsel" ucap Aisyah.
"Bagaimana keadaan dirimu?" Nisa mendekatkan diri dengan Aisyah.
__ADS_1
"Aku baik, Terimakasih" Aisyah menggenggam tangan Nisa.
"Aku akan menghubungi Jhonny" ucap Nisa mengambil ponselnya dan pindah ke ruang tengah.
Kenzo memperhatikan Nisa, dan Aiysah menyadari itu.
"Apa kamu tidak mau menghubungi polisi?" tanya Abi.
"Tidak Abi, Jordan adalah orang yang nekat aku sangat khawatir" ucap Aisyah melihat Kenzo yang beranjak dari kursi dan berjalan menemui Nisa.
Nisa berusaha menghubungi Jhonny, tetapi tidak ada jawaban.
"Kenapa Jhonny tidak menjawab panggilan ku?" Pikir Nisa dan melakukan panggilan kepada Stevent.
Stevent segera menerima panggilan dari Nisa, ia selalu meletakkan ponsel khusus Nisa di saku depan jas miliknya, agar ia siap sedia menerima panggilan dari Nisa.
Nisa menanyakan Jhonny kepada Stevent, untuk memberitahukan Aiysah baik - baik saja.
Stevent meminta waktu sebentar kepada Nisa untuk mencari tahu keberadaan Jhonny.
"Oh Shit" umpat Stevent dalam hati, berdasarkan informasi dari anak buah mereka Jhonny sedang frustasi dan berada di bar sebuah milik Stevent.
Stevent Bingung bagaimana memberitahukan kepada Nisa posisi Jhonny.
"Sayang, Jhonny frustasi karena mengira Aisyah sudah menikah dan dia sedang kacau" Ucap Stevent pelan.
"Katakan, aku akan mengatakan Aisyah menemui Jhonny " Ucap Nisa.
"Nono, kamu tidak boleh" Stevent khawatir, tidak mungkin Nyonya Stevent datang ke tempat rendahan.
"Kenapa?" Tanya Nisa Bingung.
"Berikan Ponsel kamu Kepada Aisyah" perintah Stevent, ia tidak mau Nisa tahu keberadaan Jhonny.
"Baiklah Sayang" Nisa berbalik menuju ruang tamu dan hampir menabrak Kenzo.
"Kak Kenzo" ucap Nisa yang dapat di dengarkan oleh Stevent.
"Ada apa Nisa?" tanya Kenzo.
"Stevent mau berbicara dengan Aisyah" ucap Nisa lembut, seseorang di sebrang telepon telah mengepalkan tangannya menahan cemburu.
Nisa memberikan ponsel kepada Aisyah, yang menyingkirkan diri dari ruang tamu, Aisyah tersenyum kepada Kenzo ketika mereka berpapasan di ruang tengah.
Stevent memberitahukan keadaan dan posisi Jhonny kepada Aisyah. Stevent juga menanyakan apakah benar ada Kenzo.
Dari pembicaraan dengan Stevent Aisyah semakin yakin Nisa dan Kenzo bukan saudara.
Aisyah mengembalikan ponsel kepada Nisa, dan akan menggunakan mobil Nisa untuk menemui Jhonny.
Aisyah terlihat kesal dengan sikap Jhonny yang menyelesaikan masalah dengan lari ke bar dan meminum minuman keras.
Aisyah berharap Kenzo mau menemani dirinya, tetapi Kenzo bahkan tidak bertanya Aisyah mau pergi kemana.
Aisyah pamit meninggalkan rumah Abi dan Umi, ia menggunakan mobil Nisa Menuju bar yang tidak jauh dari rumah Jhonny.
Stevent telah mengirimkan beberapa orang untuk mengawal Aisyah dan Stevent bersiap menuju pesantren untuk menjemput Nisa.
Ia tidak rela ada Kenzo di dekat Nisa, Marwan pria itu adalah salah satu saingan Stevent untuk mendapatkan Nisa.
***
**
*
*Terimakasih
*
**
**
Thanks for Reading
Dukung Author selalu ya😘 dengan Like, Komentar dan Vote yang banyak. Terimakasih 😘
__ADS_1
Love You Readers, muuach 😘**