Cinta Untuk Dokter Nisa

Cinta Untuk Dokter Nisa
Kecelakaan


__ADS_3

Afifah terus berlari di jalanan tanpa tujuan, rasa takut kepada Nathan yang sangat suka memukul orang dengan beringas membuat kakinya terus berlari di jalanan, ia kebingungan dan berusaha menemukan pos satpam atau kepolisian agar mendapatkan pertolongan.


“Afifah.” Nathan berteriak khawatir melihat wanita yang ia cintai ketakutan pada dirinya dan terus berlari menjauh.


Sebuah mobil melaju dengan kecepatan sedang menabrak tubuh wanita yang berlari tanpa tujuan dan berguling di aspal tidak sadarkan diri, cairan berwarna merah membasahi hijab dan gamis, wajah cantik dan putih telah tertutup darah.


“Afifah.” Nathan berteriak histeris dan berlari memeluk tubuh lemah yang tidak sadarkan diri, darah terus mengalir membasahi jas dan kemeja putihnya.


“Afifah.” Asraf dan Fauzan keluar bersamaan dari mobil mereka yang telah menabrak Afifah.


“Kak Afifah.” Asraf merebut tubuh Afifah dari tangan Nathan.


“Siapa kamu?” Asraf menatap tajam pada Nathan yang terdiam dan khawatir.


“Sebaiknya cepat bawa Afifah kerumah sakit," ucap Nathan.


“Asraf segera bawa Afifah .” Fauzan menepuk bahu Asraf dan melihat wajah Afifah yang berlumuran darah.


“Baik Tuan.” Asraf berlari membawa tubuh Afifah ke rumah sakit dan menuju ruang IGD. Ia membaringkan tubuh kecil wanita itu di atas tempat tidur pasien. Dengan sigap para perawat dan dokter membersihkan darah dan memeriksa seluruh tubuh pasien.


“Apa yang terjadi?” Viona keluar dari dalam mobil dan melihat Nathan dan Fauzan saling bertatapan.


“Viona susul Asraf ke rumah sakit itu!” perintah Fauzan.


“Baik.” Viona berlari mengejar Asraf.


“Aku akan melihat Afifah.” Nathan melewati Fauzan tetapi bahunya ditahan tangan kekar pria yang di sampingnya.


“Bagaimana kamu bisa bersama Afifah?” Fauzan menatap Nathan penuh penyelidikan.


“Aku hanya kebetulan bertemu dengan dirinya di sini.” Nathan menepis tangan Fauzan dan berlalu meninggalkan Fauzan.


“Aku sangat curiga pada pria itu, Asraf berkata ia tidak bisa menghubungi Afifah.” Fauzan berjalan mengikuti langkah kaki Nathan.


“Helikopter hari itu mungkinkan miliknya?” Fauzan terus berpikir.


Luka Afifah telah dibersihkan dan dipindahkan ke ruangan intensif, ia mengalami cedera sedang hampir berat pada kepala karena benturan yang cukup kuat. Darah keluar dari luka pada kepala dan hidung. Dokter harus melakukan CT scan pada kepala dan tubuh Afifah.


Asraf telihat khawatir, ia duduk di ruang tunggu bersama Fauzan dan Viona yang kebingungan dan penasaran dengan gadis yang mereka tabrak karena tiga orang pria itu mengenal perempuan bernama Afifah, ia sangat ingin bertanya.


“Viona, aku akan mengnatarkan dirimu pulang.” Fauzan menalihat kearah Viona.


“Bagaimana dengan Asraf?” Viona meliha pria tampan yang tertunduk lemas di kursi.


“Setelah mengantarkan dirimu, aku kan kembali kemari.” Fauzan beranjak dari kursi dan mendekati Asraf.


“Bersabarlah, Afifah pasti baik-baik saja, aku akan kembali.” Fauzan menepuk pundak Asisitennya yang terdiam.


“Aku bisa pulang dengan taksi.” Viona menatap kasihan pada Asraf.


“Aku harus memastikan keselamatan kamu hingga sampai rumah.” Fauzan berjalan menuju mobil mereka yang masih terparkir di tempat kejadian kecelakaan dan Viona berlari menyusul langkah kaki pangerannya.


“Apakah tidak ada polisi?” Fauzan melihat lokasi kejadian telah bersih tidak berbekas.


“Nathan bukan orang sembarangan, aku yakin ia yang membersihkan tempat ini.” Fauzan berbicara dalam hari, ia membukakan pintu mobil bagian belakang untuk Viona.


“Apa aku duduk di belakang?” Viona bertanya di dalam hatinya dan terdiam menatap Fauzan yang berdiri di depannya.


“Apa kamu tidak akan masuk?” Fauzan menaikan salah satu alisnya menatap Viona.


“Anda akan terlihat seperti sopir.” Viona tersenyum kecut.


“Itu lebih baik daripada saya berdekatan dengan wanita muda tanpa mahramnya.” Fauzan tersenyum melihat Viona masuk ke dalam mobil dan menutup pintu.


“Siapa wanita tadi?” tanya Viona ketika Fauzan duduk di balik kemudinya.

__ADS_1


“Afifah saudara perempuan Asraf.” Fauzan segera menjalankan mobil mengantarkan Viona ke rumah Abi dan Umi.


“Apakah anda mengenalnya?” tanya Viona lagi.


“Aku bertemu dengannya satu kali dan tinggal di rumah mereka.” Fauzan tersenyum dan Viona dapat melihat senyuman tampan pangerannya dari cermin depan.


“Dia tersenyum ketika bercerita tentang kakak Asraf, apakah dia menyukainya?” Viona berbicara di dalam hati dan menoleh kearah jendela.


Mobil Fauzan berhenti di depan pintu pagar pesantren, ia turun dari mobil dan membukakan pintu untuk Viona.


“Masuk dan istirahatlah!” Fauzan melihat Viona keluar dari dalam mobil.


“Terimakasih, maaf telah merepotkan.” Viona menunduk.


“Lain kali kamu harus memmbertahu kakak kamu jika sudah masuk kuliah, ia pasti mengkhawatirkan diirmu.” Fauzan menutup pintu mobil.


“Baiklah.” Viona tersenyum.


“Kamu luar biasa hari ini.” Fauzan tersenyum dan masuk kedalam mobilnya kembali kerumah sakit.


“Apa dia memujiku.” Viona meloncat kegirangan dan merasakan wajahnya merah dan panas.


“Kenapa pangeranku selalu bisa membuat diriku malu dan jantungkku seakan mau melompat keluar.” Viona berlari kedalam rumah.


Mobil Fauzan telah melaju menuju rumah sakit untuk menemani Asraf, ia memarkirkan mobilnya tepat di samping mobil sport merah milik Nathan. Pria tampan itu keluar dengan menggunakan masker berjalan menuju ruang intensif Afifah di rawat.


“Bagaimana keadaan Afifah?” Fauzan duduk di samping Asraf.


“Ia mengalami cedera , Tuan bagaiman Afifah bisa berada di kota dan kenapa kau harus menabrak dirinya?” Asraf terlihat frustasi.


“Apa dia menyusul diriku, tetapi aku tidak bisa mneghubungi ponselnya.” Asraf menatap Fauzan dengan tatapan sendu.


“Bersabarlah, jika dia telah sadar kita bisa bertanya pada dirinya, sebaiknya kamu jaga kesehatan, apa yang mau kamu makan aku kan membelikannya.” Fauzan menepuk pundak Asraf.


“Tidak Tuan, aku tidak mau merepotkan anda dan maafkan saya.” Pria tampan itu benar-benar sedih dan terpukul.


“Astafirullah, terimakasih telah mengingatkan saya.” Fauzan dan Asraf berjalan bersama menuju mushollah.


Nathan telah beganti pakaian, bukan hal sulit untuk meminta orang kepercayaan mengantarkan pakaian ganti untuk dirinya, ia berjalan bersama Samuel masuk ke ruangan Afifah dengan menggunakan pakain Dokter dan masker.


“Apa yang ingin kamu lakukan Nathan?” Samuel menatap tajam.


“Aku mencintai Afifah dan dia harus menjadi milikku dengan bantuan dirimu.” Nathan mengusap kepala wanita yang masih belum sadarkan diri.


“Bagaimana aku membantu kamu?” Samuel menatap wajah cantik Afifah.


“Aku akan menjadi dokter dan merawat dirinya, dia tidak butuh operasi pada cidera sedang ini, aku kan menyembuhkannya dengan caraku sendiri.” Nathan memeriksa catatan medis yang dibawakan Samuel.


“Aku akan melakukan semuanya untuk dirimu teman.” Samuel menepuk pundak Nathan.


“Terimakasih, kirimkan file catatan medis ini kepadaku agar aku bisa mempelajari penyakit dan cidera Afifah.” Nathan dan Samuel keluar bersama dari ruangan Afifah bejalan menuju tempat parkir.


“Aku akan kembali ke laboratorium dan kembali besok, tolong jaga Afifah dan Nayla.” Nathan menatap Samuel penuh harap.


“Tenanglah, lakukan yang terbaik tetaplah menjadi Nathan yang jenius.” Samuel tersenyum.


“Terimakasih teman.” Nathan masuk ke dalam mobil merah miliknya, melaju dengan kecepatan tinggi menuju laboratorium.


“Kenapa kamu selalu mencintai wanita dengan cara yang bodoh dan berbeda?” Samuel menggelengkan kepalanya dan berjalan kembali keruanganya, ia harus mengatur tip dokter yang akan menangani Afifah sesuai permintaan Nathan.


Fauzan dan Asraf kembali ke ruangan Afifah, mereka berdua diperbolehkan masuk untuk melihat konsisi pasien yang masih belum sadarkan diri. Dua pria tampan hanya terdiam menatap wajah cantik yang tertidur nyenyak dalam senyuman. Tidak ada yang berbicara dan mengeluarkan kata, Asraf menggenggam tangan saudaranya yang lemah.


“Ini bukan wilayah kita sehingga tidak bisa menyelidiki bagaimana Afifah bisa berada di kota.” Fauzan menghapus keheningan.


“Anda benar Tuan, aku mencurigai pria yang memeluk Afifah ketika kecelakaan.” Asraf menatap Fauzan.

__ADS_1


“Kamu sangat cerdas.” Fauzan tersenyum.


“Aku hanya berpikir pria itu menyukai Afifah.” Asraf menatap wajah Afifah dengan tatapan khawatir.


“Aku percaya itu, bukankah kakak kamu telah menolak lamaran dari banyak pria.” Fauzan duduk di Sofa.


“Benar Tuan.” Asraf duduk disamping Fauzan.


“Yang penting sekarang Afifah sudah bertemu dengan dirimu dan kamu bisa menjaga dirinya.” Fauzan tersenyum.


“Terimakasih Tuan.” Asraf menunduk.


Seorang dokter wanita diikuti perawat mengetuk pintu dan masuk ke dalam ruangan, ia memeriksa kondir tubuh pasien yang masih belum sadarkan diri.


“Dokter, bagaimana kondisi kakak saya?” Asraf beranjak dari kursi dan berjalan mendekati dokter yang menggunakan masker menutupi hidung hingga mulutnya.


“Nona Afifah baik-baik saja, ia hanya tertidur akibat dari pengaruh obat untuk menenangkan otaknya dan ini adalah salah satu terapi pemulihan.” Dokter wanita tersenyum dari balik maskernya.


“Terimakasih dokter.” Asraf sedikit lebih tenang.


“Anda tidak boleh berlama-lama di dalam ruangan ini.” Dokter wanita membereskan peralatan medis dan memberikan kepada perawat.


“Maksud Dokter?” Asraf terlihat bingung.


“Pasien butuh ketenangan dan istirahan cukup jadi tinggalkan dia sendiri dan Anda bisa kembali lagi besok.” Dokter menatap tajam kepada Asraf.


‘Tapi Dok, saya belum melihat kakak saya sadarkan diri.” Asraf terlihat sedih.


“Tolong kerjasamnya untuk kebaikan pasien.” Dokter membuka pintu untuk Fauzan dan Asraf agar keluar dari ruangan.


“Asraf ikuti peraturan rumah sakit.” Fauzan beranjak dari kursi.


“Kak, aku akan kembali segeralah bangun dan melihat diriku.” Asraf mencium dahi Afifah dan keluar dari ruangan bersama Fauzan.


Dokter dan perawat menutup pintu, ia kembali berjalan mendekati Afifah yang masih tertidur dengan mata yang terus terpejam, ia dapat mendengarkan semua yang orang bicarakan tetapi ia tidak bisa melakukan apapun.


“Wanita ini sangat cantik, pantas saja Nathan menginginkan dirinya.” Dokter wanita menyentuh pipi Afifah dengan lembut.


“Maaf Nona, kami akan melakukan apapun untuk Nathan karena dia adalah rajanya dunia kesehatan.” Wanita itu menyuntikan cairan pada selang impus dan keluar dari ruangan bersama dengan perawat.


“Apa yang terjadi pada diriku? Aku hanya bisa mendengarkan tetapi tidak bisa membuka mata dan mulutku, aku juga tidak bisa menggerakkan anggota tubuhku.


“Siapa mereka semua yang berbicara di ruangan ini dan dimana diriku ya Allah.” Afifah hanya bisa berbicara di dalam hatinya.


Matanya terpejam, tetapi ia baru merasakan kantuk setelah mendapatkan suntikan dari dokter dan membuat dirinya benar-benar baru tertidur yang sebenarnya.


Nathan telah berada di laboratorium miliknya, ia mengumpulkan beberapa asisten dan para ahli kimia yang ia percayai di ruangan meeting untuk menjelaskan kondisi Afifah melalui layar proyekor.


Menciptakan formula baru untuk mengobati penyakit Afifah dan menghapus semua ingatan lama yang masih tersimpan di memory Afifah. Nathan akan mengisi dengan ingatan baru tentang mereka berdua. Setelah sembuh, langkah pertama yang harus dilakukan adalah memisahkan wanita itu dari oarng yang ada di masa lalunya.


Cukup lama mereka berdiskusi dan mulai melakukan penelitian secara teori dan akan dipraktikan sesegera mungkin. Bagi mereka para ahli kimia pilihan yang dikumpulkan dalam satu wadah yang tapat tidak akan sulit memnuhi keinginan Nathan. Keberhasilan cukup tinggi pasti akan tercapai dengan efek jangka panjang bahkan permanen.


Orang-orang jenius dan ambisi dengan peralatan yang canggih dan gaji yang sangat besar, penuh semangat untuk menemukan sesuatu yang baru dan bernilai fastastis. Dunia adalah syurga bagi mereka yang memanfaatkan alam dan kecanggihan teknologi.


Tuhan telah menyediakan semuanya di bumi ini tanpa kekurangan, obat untuk penyakit serta penawar untuk racun. Manusia dapat manfaatkan dengan kecerdasan yang telah Allah berikan untuk kebaikan dan saling tolong menolong.


Namun, keserakahan manusia telah melupakan tugas dan tujuan keberadaan di bumi ini sehingga mereka menyebabkan kerusakan dan kerugian untuk mendapatkan keuntungan sebanyak-banyaknya demi kepuasan diri sendiri.


Yang kaya semakin kaya dan yang miskin semakin menderita seakan tidak ada tempat yang layak untuk ditinggali dan mendapakan belas kasih manusia yang berkuasa.


****


Mohon dukungnnya berikan like, Komentar, bintang 5, Tips dan Vote. Terimakasih.


Baca juga Novel Author berjudul “Arsitek Cantik” dan "Mengejar Cinta Ariel"

__ADS_1


Novel Kakakku “Nyanyian Takdir Aisyah dan Cinta Bersemi di Ujung Musim.” (Fitri Rahayu). Terimakasih.


Semoga kita semua dalam keadaan sehat dan selalu mendapatkan perlindunganNya, Aamiin.


__ADS_2