Cinta Untuk Dokter Nisa

Cinta Untuk Dokter Nisa
Merasa Tidak Pantas


__ADS_3

Afifah berjalan bersama keluarganya menuruni tangga, ia hanya minta agar kedua orang tuanya tidak membenci anak dari penculik itu dan bisa menjadikan Asraf sebagai keluarga. Aisyah menggandeng tangan adiknya, ia sangat bahagia memiliki saudari. Papa dan Mama mereka meninggalkan para anak muda dan pergi ke rumah keluarga Jordan.


“Asraf, mulai sekarang Papa dan Mamaku adalah orang tua kamu juga.” Afifah tersenyum cantik melihat kearah Asraf yang hanya diam.


“Apa kamu membenciku?” Asraf berjalan mendekati Afifah.


“Tidak, aku selalu mencintai dan menyayangi dirimu sebagai adikku.” Afifah tersenyum.


“Bisakah kita berbicara sebentar sebelum aku pulang.” Asraf menatap sedih pada Afifah.


“Apa kamu tidak menginap?” Afifah menatap Asraf khawatir, pria itu menarik tangan Afifah keluar dari rumah tanpa memperdulikan tatapan membunuh Nathan.


“Tenanglah, berikan Asraf kesempatan.” Fauzan menahan tangan Nathan.


“Karena kesempatan yang kecil Stevent bisa mendapatkan Nisa, begitu juga dengan Asraf, aku tidak mau dia membuat Afifah bingung.” Nathan menatap tajam pada Fauzan.


“Nathan, jika kalian berjodoh, Afifah akan menjadi milik kamu tetapi jika tidak walaupun kamu kurung wanita itu dalam istana yang megah kamu tidak akan pernah bisa bersama dengan dirinya.” Fauzan melirik Afifah yang sedang berbicara dengan Asraf.


“Nathan, jangan kamu banding-bandingkan adikku dengan Nisa!” Mata Aisyah melotot Nathan.


“Tidak ada yang perlu di bandingkan, aku mencintai Afifah dan Nisa adalah pelajaran berharga yang tidak boleh terulang lagi.” Nathan melirik Fauzan, seakan ia tahu jika pangeran itu juga menyimpan rasa yang berbeda pada Afifah.


“Dengar Dokter Aisyah, kamu sangat mengenal diriku, semuanya akan kulakukan untuk mendapatkan wanita yang aku inginkan.” Nathan tersenyum.


“Nathan, aku berharap kamu benar-benar mencintai serta menjaga Afifah dan tidak akan memberikan sesuatu yang membahayakan adikku.” Aisyah menatap Nathan.


“Tentu saja, aku tidak mau ada pria lain yang akan merebut cintaku.” Nathan melirik Fauzan dan melihat kearah Asraf dan Afifah.


“Kamu tidak perlu khawatir dengan itu.” Fauzan menarik napas dengan berat. Bukan Nathan yang khawartir tetapi dirinya karena tidak bisa membayangkan jika Afifah mengetahui pekerjaan Nathan.


”Bisakah kita berbicara sebentar.” Fauzan menatap Nathan.


“Kami akan meninggalkan kalian berdua.” Aisyah menarik tangan Jhonny yang hanya diam memperhatikan sikap para pria tampan dan jomblo dalam membicarakan seorang wanita cantik yang tidak lain adik iparnya.


“Sepertinya, adik kamu direbutkan banyak pria.” Jhonny melirik Aisyah.


“Apa kamu tidak lihat, sikap lembut, senyuman, kecantikan dan wajah imutnya yang menggemaskan, ia terlihat sepuluh tahun lebih muda dari usianya.” Aisyah tersenyum.


“Apa yang ingin kamu bicarakan?” Mata Nathan fokus melihat kearah Afifah dan Asraf, ia tidak mau pria itu bertindak melebihi batasan.


“Jika kamu menikahi Afifah, apa kamu akan menafkahi dia dengan uang haram kamu?” tanya Fauzan.


“Tuan Fauzan, apa kamu pikir aku hanya menjalankan bisnis itu saja, apa kamu tidak tahu aku memiliki banyak rumah sakit swasta, dan pabrik obat yang sangat terkenal.” Nathan tersenyum sinis.


“Baguslah, aku yakin Afifah tidak akan suka dengan bisnis terlarang kamu.” Fauzan melirik Afifah.


“Apa kamu mengancam diriku lagi?” Nathan memicingkan matanya.


“Aku hanya berharap kamu bisa meninggalkan bisnis itu karena kamu tetap mejadi orang terkaya.” Fauzan meneguk kopi pahit miliknya buatan Afifah.


“Aku hanya membantu orang yang membutuh.” Nathan tersenyum, ia melihat Asraf memberikan sebuah kotak kecil berwarna biru pada Afifah.


“Apa yang Asraf berikan pada Afifah?” Nathan berdiri.


“Ia hanya memberikan kado perpisahan.” Fauzan meletakkan cangkir kopinya.


“Baguslah, aku tidak akan pernah mengizinkan Asraf bertemu lagi dengan Afifah.” Nathan tersenyum sinis.


“Kamu sangat kejam.” Fauzan beranjak dari sofa.


“Apa kamu akan mengizinkan istri kamu bertemu dengan pria lain yang mencintainya?” Nathan menatap Fauzan.


“Aku belum punya istri dan belum terpikirkan untuk menikah.” Fauzan tersenyum.


“Ketika aku telah menikah, aku akan menetap di istana dan tidak akan melakukan perjalanan bisnis lagi.” Fauzan menepuk pundak Nathan.


***


“Kak, aku membelikan ini untuk kamu.” Asraf menyerahkan kotak biru kepada Afifah.


“Apa aku boleh membukanya?” Afifah tersenyum lembut pada Asraf.

__ADS_1


“Ya.” Asraf tersenyum dan terus memandangi wajah cantik Afifah.


“Masya Allah, in sangat cantik.” Afifah mengeluarkan sebuah liontin berwarna putih.


“Apa aku boleh memakaikan di leher kakak?” Asraf menatap Afifah penuh harap.


“Tentu saja, kamu bisa memakaikan liontin ini di luar hijab.” Affiah tersenyum, ia menyerahkan liontin kepada Asraf dan memutar tubuhnya membelakangi adiknya.


“Pasti sangat cantik, ketika liontin ini tergantung langsung pada lehernya yang jenjang.” Asraf berbicara di dalam hatinya.


“Terimakasih.” Afifah tersenyum, ingin rasanya ia memeluk Asraf seperti dulu, ketika mereka tidak tahu baha mereka bukan saudara kandung.


“Apa kakak menyukainya?” Asraf berbicara dengan lembut.


“Hm, aku menyukai semua yang kamu berikan.” Affiah tersenyum cantik.


“Asraf, jangan pernah berubah, tetaplah menjadi adikku.” Afifah menatap wajah tampan Asraf.


“Aku akan segera kembali ke Arab bersama Tuan Fauzan.” Asraf terus memandang wajah Afifah.


“Kapan?” tanya Afifah.


“Setelah kedatangan Tuan putri Ayesha dan suaminya.” Asraf menggengam tangan Afifah.


“Apa aku masih boleh menyentuh tangan ini?” Asraf menunduk memperhatikan jari-jari indah Afifah. Wanita itu terdiam, ia bingung karena dirinya terbiasa dengan sentuhan Asraf dari kecil.


“Asraf, jangan memancing cemburu Nathan.” Afifah melepaskan tangan Asraf.


“Apa kamu takut pada Nathan?” tanya Asraf khawatir.


“Tidak, aku tidak mau dia menyakiti dirimu.” Afifah menatap sedih pada Asraf.


“Apa kamu mencintai Nathan?” tanya Asraf lagi.


“Aku belum mencintai siapapun.” Afifah menunduk, ia terlalu nyaman bersama Asraf sehingga menolak untuk jatuh cinta dan penyakit lupa yang membuat dirinya tidak pernah berpikir untuk berumah tangga.


“Jika kamu tidak mencintai Nathan, kenapa kamu mau menikah dengan dirinya?” Asraf memegang tangan Afifah.


“Aku pernah lari dan bersembunyi tetapi dia tetap berhasil menemukan diriku, aku tidak mau Nathan menyakiti banyak orang hanya karena diriku yang tidak berarti ini.” Afifah menatap Asraf.


“Asraf, aku selalu berpikir bahwa diriku tidak pantas untuk dicintai.” Afifah menunduk.


“Ada banyak pria yang menyukai dan mencintai dirimu tetapi semuanya kamu tolak hingga menerima Nathan.” Asraf mencengkram pudak Afifah.


“Apa kalian sudah selesai?” Nathan menarik Afifah.


“Aku masih butuh waktu untuk berbicara dengan Afifah.” Asraf kembali menarik tangan Afifah.


“Kenapa kamu tidak memanggilnya kakak?” Nathan menarik tangan Afifah dan di tahan Asraf.


“Sampai kapan kalian akan melakukan ini?” tangan kiri dan kanan Afifah di pegang Asraf dan Nathan.


“Lepaskan tangan Afifah!” Nathan menatap tajam pada Asraf, kilatan kebencian terlihat jelas pada dua pria tampan beda usia.


“Bisakah kalian melepaskan tanganku?” Afifah melihat Nathan dan Asraf bergantian dengan tatapan tajam, sehingga dua pria segera melepaskan tangan wanita itu.


“Asraf, pasti kamu lelah, aku akan mengantarkan kamu dan Tuan Fauzan beristirahat.” Afifah berjalan menuju rumah.


“Jangan pernah berpikir untuk membuat Afifah bingung dengan pernyataan cinta kamu.” Nathan mencengram tangan Asraf.


“Itu bukan urusan kamu.” Asraf melepaskan tangannya.


“Kamu telah berjanji untuk memnyerahkan Afifah kepada diriku untuk kesembuhanya dan aku juga mampu menghapuskan ingatan Afifah, ia sangat menurut ketika di beri obat.” Nathan tersenyum.


“Apa yang kamu lakukan pada Afifah?” Asraf mencengkram kerah baju Nathan.


“Aku bisa melakukan apa saja hanya saja aku masih bersabar dan menahan diri jadi kamu jangan berulah.” Nathan menepis tangan Asraf.


“Kenapa Afifah harus bertemu dengan pria seperti kamu?” Asraf menatap tajam pada Nathan.


“Karena dia adalah jodohku.” Nathan tesenyum dan berjalan menuju rumah, ia melihat ruang tamu yang kosong, tidak ada Fauzan dan Afifah.

__ADS_1


“Apakah dia mengantarkan Fauzan ke kamar tamu?” Nathan berlari menariki tangga, ia tidak tahu Fauzan dan Afifah berada di dapur. Wanita itu bisa melupakan kejadian dengan mudahnya.


“Aku telah menuliskan resep memasak yang anda minta.” Afifah tersenyum dan menyerahkan sebuah buku kecil cantik.


“Terimakasih, saya sangat menyukai masakan anda.” Fauzan tersenyum dan mengambil buku dari tangan Afifah.


“Ini masakan yang khusus aku masakan untuk anda, maaf aku tidak bisa mengingat pertemuan kita.” Afifah tersenyum, ia mengeluarkan gulai kuning ikan segar untuk Fauzan.


“Terimakasih, lalu bagaimana kamu ingat dengan masakan yang aku sukai?” Fauzan menatap Afifah.


“Asraf memberitahu diriku.” Afifah tersenyum tulus.


“Aku akan meminta Ayesha untuk memasak resep yang telah kamu tuliskan.” Fauzan duduk di kursi dan menikmati gulai, ia sangat berselera.


“Siapa Ayesha, apakah kekasih anda?” Afifah duduk di depan Fauzan.


“Adikku.” Fauzan tersenyum.


“Makanlah, aku tidak akan mengganggu.” Afifah beranjak dari kursi dan membuatkan salad buah pada mangkuk besar.


“Dia benar-benar tanpa beban dalam nejalani hidup.” Fauzan melirik wanita yang sedang sibuk memotong buah.


***


“Hey Nathan, kamu sedang mencari siapa?” Aisyah berbaring di pangkuan Jhonny.


“Benar-benar membuat iri.” Nathan tersenyum melihat wajah datar Jhonny.


“Aku yakin kamu adalah pria yang romantic.” Aisyah beranjak dari kursi.


“Dimana Afifah?” tanya Nathan melihat sekeliling.


“Berapa detik kamu belum melihat adikku yang cantik?” Aisyah tersenyum mengejek.


“Satu detik saja Aku sudah merasa kehilangan dirinya.” Nathan berjalan menuju dapur, selama tinggal bersama di rumah itu ia tahu Afifah sangat suka memasak.


“Apa yang kalian lakukan berdua di dapur?” Nathan menatap tajam pada Fauzan yang sedang memakan salad buah karena kepedasan.


“Nathan, dimana Asraf?” Afifah tersenyum.


“Mengapa kamu balik bertanya?” Nathan mendekati Afifah.


“Karena pertanyaan kamu tidak perlu jawaban, kamu bisa melihat apa yang kami lakukan.” Afifah mengedipkan matanya.


“Ah, wanita ini bisa membuatku gila.” Nathan mengacak rambutnya dan duduk di depan Fauzan. Asraf ikut duduk di kursi paling ujung, jauh dari Nathan dan Fauzan, ia mengambil mangkuk berisi salad buah.


“Asraf, ini jus buah kesukaan kamu.” Afifah meletakkan satu gelas besar jus buah segar.


“Nathan, kamu mau apa?” Afifah melihat Nathan.


“Aku mau dirimu.” Nathan tersenyum dan melirik Asraf.


“Tidak usah bercanda.” Afifah menuangkan jus buah untuk Nathan dan Fauzan.


“Jhonny, apakah ketiga pria itu menyukai Afifah?” Aisyah bersama Jhonny melihat kelakuan para pria tampan di dapur bersama Afifah.


“Jika benar, aku lebih memilih Fauzan untuk menjadi suami Afifah.” Aisyah tersenyum.


“Kenapa?” Jhonny menatap Asiyah.


“Karena dia pria yang lembut.” Aisyah menatap Jhonny.


“Bagaimana dengan diriku?” tanya Jhonny.


“Kamu hanya milikku, jangan bandingkan dengan orang lain.” Aisyah mencubit perut keras Jhonny.


***Maaf Belum Selesai,Author Sakit Perut***


Untuk yang Suka berikan like, Komentar, bintang 5, Tips, Vote serta bantu promosikan. Terimakasih.


Baca juga Novel Author berjudul “Arsitek Cantik” dan "Mengejar Cinta Ariel" dan "Tabib Cantik Bulan Purnama"

__ADS_1


Novel Kakakku “Nyanyian Takdir Aisyah dan Cinta Bersemi di Ujung Musim.” (Fitri Rahayu). Terimakasih.


Semoga kita semua dalam keadaan sehat dan selalu mendapatkan perlindunganNya, Aamiin.


__ADS_2