Cinta Untuk Dokter Nisa

Cinta Untuk Dokter Nisa
Kamar Baru


__ADS_3

Rumah Sakit Nathan.


Sebuah mobil berhenti tepat di depan pintu rumah sakit, seorang petugas keamanan segera mengambil kunci mobil dari Nayla.


Nayla berjalan penuh semangat di ikuti Lola.


"Nayla, kenapa kita ke rumah sakit?" Lola menarik tangan Nayla sehingga mengentikan langkahnya.


"Aku mau melihat Stevent yang sangat tampan dan dingin." Nayla tersenyum.


"Tidak, aku tidak mau bertemu dengan Stevent." ucap Lola gugup.


"Kenapa?" Tanya Nayla.


"Apa kamu lupa, dia yang telah menghancurkan wajahku." Lola menyentuh wajahnya dan bergidik ngeri mengingat Stevent.


"Dia tidak akan mengenali wajah Loly lagi." ucap Nayla tersenyum dan menyentuh dagu Lola.


Mereka Kembali melanjutkan langkah menuju kamar Nisa.


Lola tertinggal di belakang Nayla ada rasa takut untuk bertemu Stevent, tatapan tajam Stevent penuh kebencian seakan membunuh Lola.


Nayla menghentikan langkah kaki tepat di depan pintu kamar Nisa.


Ia melihat Nisa dan Stevent bermesraan di atas sofa.


"Sayang, Aku mau pulang." Nisa berbaring di pangkuan Stevent.


Stevent terdiam, tidak mungkin ia meninggalkan Nisa sendirian di rumah rahasia dan tidak aman tinggal bersama Papa Alexander di rumah utama.


"Sayang." Nisa menarik tangan Stevent dari atas kepalanya.


"Aku tidak tahu kita harus pulang kemana?" ucap Stevent polos membuat Nisa tertawa.


Seorang Stevent yang memiliki pulau pribadi, hotel, Villa dan banyak rumah bingung harus pulang kemana.


"Sayang, kenapa kamu tertawa?" Stevent menutup mulut Nisa dengan tangannya.


"Mmm." Nisa menggigit telapak tangan Stevent.


"Aw." Stevent menarik tangannya, mencubit hidung Nisa dan melihat telapak tangannya merah bekas gigitan Nisa.


Nisa tersenyum menggemaskan, ia senang bisa menggangu Stevent untuk melupakan kesedihan.


"Sayang, apakah kamu lapar? Aku akan menggigit bibir kamu" Stevent mendekatkan wajahnya.


"Aku mau pulang." jawab Nisa manja dan menutup mulut Stevent dengan tangannya.


"Sayang kamu mau pulang kemana?" tanya Stevent mencium tangan Nisa.


"Rumah Abi." Nisa tersenyum dan Stevent pun tersenyum puas, tempat yang paling aman untuk Nisa adalah rumah Abi Ramadhan.


Umi dan Abi mencintai Nisa melebihi orang tua kandung Nisa.


"Baiklah, kita akan pulang ke rumah Abi." ucap Stevent mencium dahi Nisa.


"Apa kamu mau tinggal di kamar sempit ku?" tanya Nisa memainkan dagu Stevent.


"Asalkan bersama dirimu, di jalanan pun aku mau." Stevent mencubit pipi Nisa.


"Terimakasih Cintaku." Nisa mencium bibir sekilas dan beranjak perlahan dari pengakuan Stevent, ia mencabut jarum infus dari lengannya.


"Sayang, belum waktunya kamu pulang." Stevent khawatir.


"Aku akan meminta Dini untuk memasang infus kembali di rumah Abi." Nisa tersenyum.


"Rumah Abi sangat dekat dengan kantor kamu dan rumah sakit." ucap Nisa merapikan hijabnya.


Stevent menghubungi Jhonny untuk menyelesaikan administrasi Nisa dan meminta surat pulang.


Nisa tidak perlu membayar apapun karena semua digratiskan oleh pihak rumah sakit.


"Sayang, tunggulah sebentar, aku harus membayar biaya perawatan dan pengobatan dirimu." Nisa hanya mengangguk dan tersenyum.


Stevent tidak mau menerima terlalu banyak bantuan Nathan, Stevent berjalan menuju kasir dan meminta perhitungan biaya perawatan atas nama Annisa Salsabila."


Nayla melihat Nathan meninggalkan Nisa sendirian di dalam kamar.


"Nisa, Dewi Fortuna sedang berpihak kepada ku." ucap Nayla dan masuk ke dalam kamar Nisa.


Nisa tersenyum melihat kedatangan Nayla, ia telah siap dengan resiko yang akan ia dapatkan dari Nayla.


"Halo Nisa wanita penyakitan, kamu sangat tidak pantas untuk Stevent." Nayla mendekati Nisa.


"Sehat dan sakit ku adalah kehendak Allah, untuk menggugurkan dosa - dosa diriku." ucap Nisa tersenyum.


"Persetan dengan dosa, apakah kamu merasa menjadi wanita paling sempurna sehingga bisa memiliki Stevent?" Nayla menarik hijab Nisa.


"Jodoh ku telah ditentukan oleh Allah, Stevent atau bukan, ikatan pernikahan akan menyempurnakan agamaku." ucap Nisa menarik hijabnya hingga terlepas dari tangan Nayla.


"Aku akan membunuh dirimu dan anak yang ada dalam kandungan." ucap Nayla.


Nisa baru menyadari ia sedang hamil, berarti ia tidak bisa berkelahi, ia takut akan menggangu kesehatan dan keselamatan bayinya, apalagi dalam kondisi dirinya yang tidak sehat.


Nisa menyentuh dan mengusap perutnya dengan lembut membacakan doa, mohon perlindungan dari Allah.


Lola melihat Nayla yang mulai nekat dengan mencekik leher Nisa.


"Aku menginginkan kematian dirimu." Nayla mencekik leher Nisa dengan kedua tangannya.


Dengan tubuh yang masih lemah, Nisa kesulitan bernapas dan berusaha melonggarkan jari - jari Nayla dari lehernya.


"Bug." seorang memukuli leher Nayla hingga dia pingsan dan tergeletak di lantai.


Nisa batuk-batuk dan terduduk di lantai, ia kesulitan bernapas akibat cekikan Nayla. Lola dipegang oleh Roy.


"Nisa, apa kamu baik-baik saja." Nathan berjongkok di depan Nisa.


"Ya, Terima kasih." Nisa masih kesulitan untuk berbicara dan bernafas karena asupan oksigen yang sempat terhenti.


Jika leher Nisa tidak tertutup hijab, pasti Nathan bisa melihat warna merah bekas cekikan Nayla.


"Apa kamu bisa berdiri?" suara Nathan lembut.


Tubuh Nisa terasa lemas karena ia kesulitan bernapas selama dicekik Nayla. Nisa hanya terdiam.


Stevent berjalan cepat menuju kamar Nisa, ia melihat Roy memegang seorang wanita yang tidak ia kenal di depan pintu kamar Nisa.

__ADS_1


"Apa yang terjadi?" tanya Stevent khawatir, melihat sekilas ke Lola yang telah pucat karena ketakutan kepada Stevent.


Stevent masuk ke dalam kamar, melihat Nathan duduk berjongkok di depan Nisa yang dimata Stevent terlalu dekat.


Stevent mendorong tubuh Nathan hingga tersungkur di lantai.


"Sayang, Ada apa?" Stevent mengangkat tubuh Nisa ke tempat tidur.


"Apa yang kamu lakukan pada Nisa dan kenapa ada Nayla?" tanya Stevent menatap tajam kepada Nathan dan Nayla yang terbaring tidak sadarkan diri.


"Jangan katakan Nayla melukai Nisa!" Stevent berjalan mendekati dan menarik kerah jas Nathan.


"Apa kamu tahu Nayla hampir membunuh Nisa dengan sabotase kecelakaan itu." bentak Stevent.


"Maafkan aku." ucap Nathan lembut.


"Bagaimana aku bisa percaya kamu akan menyelamatkan Nisa sedangkan di samping dirimu ada seorang pembunuh." Stevent mendorong tubuh Nathan hingga terbentur ke dinding.


"Ayo Sayang, jangan pernah bertemu lagi dengan para pembunuh ini." Stevent menggendong Nisa yang memejamkan matanya dan menyembunyikan wajahnya di dada bidang Stevent.


Nathan terduduk lemas, Stevent benar, bagaimana Nathan menolong Nisa sedangkan Nayla saudara kandungnya menginginkan kematian Nisa.


Ia melihat sendiri Nayla yang sedang mencekik Nisa tanpa belas kasihan.


Roy, menatap Nathan dan Nayla, saudara kembar yang mencintai pasangan suami istri.


Nathan beranjak dari lantai dan mengangkat tubuh Nayla ke atas tempat tidur Nisa.


Nisa terdiam dalam gendongan Stevent yang juga tidak berbicara sepatah katapun.


Stevent menggendong Nisa hingga ke dalam mobilnya. Memasang sabuk pengaman dan mencium dahi Nisa.


Mobil telah melaju meninggalkan rumah sakit menuju pesantren Abi Ramadhan.


Nisa tersenyum memandang wajah keras dan emosi Stevent.


Mobil Stevent memasuki gerbang pesantren dan berhenti di perkarangan rumah Abi.


Umi tersenyum bahagia menyambut kedatangan Nisa, ia sangat merindukan Nisa.


"Assalamualaikum, Umi." Nisa mencium tangan dan memeluk Umi.


"Waalaikumsalam Sayang, Umi sangat merindukan dirimu, sudah lama kamu tidak pulang." air mata mengalir di pipi Umi.


"Nisa juga sangat merindukan Umi dan Abi, maafkan Nisa." Nisa mengeratkan pelukannya.


Stevent bersalaman dan berpelukan dengan Abi, pelukan kehangatan yang tidak pernah Stevent rasakan sebelumnya.


"Assalamualaikum, cucu Umi apa kabar?" Umi berjongkok dan mengusap perut Nisa.


"Alhamdulilah kami sehat Nenek." Jawab Nisa mengusap perutnya.


"Tangan kamu kenapa Nisa?" Umi melihat bekas jarum infus di pergelangan Nisa.


"Ah, Nisa hanya kecapean Umi, karena cucu Umi yang semakin besar." ucap Nisa tersenyum.


Mereka masuk ke rumah bersama, dan duduk di ruang tengah.


Umi membuat minuman dan cemilan, Nisa Duduk di samping Stevent, Umi melarang Nisa membantu di dapur.


Nisa sholat di mushola rumah, ia tidak mau menaiki tangga karena telah dilarang Stevent.


Selesai sholat Umi mempersiapkan menu makan siang sederhana.


"Umi, apa Nisa boleh tinggal di sini?" tanya Nisa yang duduk di kursi makan dan memperhatikan Umi memasak.


"Tentu saja Sayang, ini adalah rumah kamu , tetapi apakah Stevent mengizinkan kamu?" Umi mengusap kepala Nisa.


"Stevent akan tinggal bersama dengan diriku di rumah ini." Nisa tersenyum.


"Apa Stevent bisa tinggal di rumah sempit ini?" Umi kembali melanjutkan memasak.


"Kita lihat saja malam ini." Nisa tersenyum.


"Sayang, apa kamu mau ikan?" tanya Umi berjalan mendekati lemari pendingin.


"Aku mau tapi tidak dengan Stevent, Siang ini menu kita vegetarian saja, aku tidak mau melihat Stevent memuntahkan semua makanannya." ucap Nisa tersenyum kepada Umi.


"Sejak aku hamil, Stevent jijik dengan semua makanan laut." lanjut Nisa.


"Oooh, bagaimana dengan dirimu?" tanya Umi tersenyum dan menahan tawa.


"Alhamdulilah, Nisa bisa makan apa saja." ucap Nisa.


Makanan untuk makan siang telah siap, Umi menunggu Abi di depan pintu dan Nisa duduk di kursi meja makan.


"Assalamualaikum." ucap Abi dan Stevent bersama.


"Waalaikumsalam." Umi menyambut Abi dengan mencium tangan Abi.


Abi mencium kening dan memeluk Umi, mereka berdua selalu mesra.


Stevent menemui Nisa yang sedang temenggung di depan meja makan.


"Sayang." Stevent memeluk Nisa dari belakang, mencium kepala dan dahi Nisa.


"Assalamualaikum suamiku." Nisa mendongakkan kepalanya.


"Waalaikumsalam Sayang ku." Cup." Stevent mencium bibir Nisa sekilas.


Abi dan Umi bergandengan dan bercanda bersama menuju ruang makan.


"Abi dan Umi sangat mesra." bisik Stevent di telinga Nisa.


"Aku selalu melihat kemesraan mereka dari kecil." ucap Nisa tersenyum.


"Mereka tidak pernah bertengkar, Abi selalu melembutkan hatinya untuk Umi begitu juga sebaliknya." lanjut Nisa.


Abi dan Umi duduk berdampingan, begitu juga dengan Nisa dan Stevent.


Mereka makan bersama dengan nuansa kemesraan tetapi tidak ada yang berbicara, hingga makan siang selesai.


Umi menemani Abi kembali ke restoran, sedang Nisa dan Stevent berdua di rumah.


Stevent memikirkan cara untuk bisa membuat sebuah kamar yang berada di lantai bawah agar Nisa tidak perlu turun naik tangga.


"Sayang, tidak adakah ruangan yang kosong?" tanya Stevent.

__ADS_1


"Ada." ucap Nisa tersenyum dan menarik tangan Stevent.


Sebuah Ruangan kecil berada di belakang rumah, yang berisikan tempat tidur, lemari pakaian dan lemari mainan.


Semua telah kosong, karena diberikan kepada anak - anak pesantren.


"Tempat apa ini?" tanya Stevent, memperhatikan ruangan berdinding kaca dan sangat bersih terawat.


"Kamar masa kecilku." jawab Nisa tersenyum.


"Apa, kamu tidur sendirian di luar rumah?" Stevent kaget. Padahal pesantren dan rumah di pagar tinggi.


"Ini masih di dalam pagar, Sayang." Nisa duduk di tempat tidur tua.


"Sayang, jangan duduk di situ, nanti tempat tidur itu roboh." Stevent menarik tangan Nisa.


"Kenapa kamu tidur di sini ketika kecil?" tanya Stevent.


"Supaya aku menjadi Wanita yang pemberani." jawab Nisa.


"Baiklah kita akan tidur di sini." ucap Stevent memeluk Nisa.


"Ayo kita kembali ke rumah Abi." Stevent menggendong Nisa.


"Apa yang akan kamu lakukan?" Nisa bingung.


"Beristirahat, jangan keluar dari rumah walaupun cuma selangkah." Stevent yakin Nisa akan menurut.


"Sayang, tapi aku mau melihat dirimu." ucap Nisa manja.


"Aku akan memberikan surprise untuk dirimu, Beristirahatlah." Stevent mencium bibir Nisa dan meninggalkan Nisa di dalam rumah dengan menutup pintu.


Stevent kembali ke belakang rumah dan memperhatikan gedung yang tidak terpakai lagi.


Ia mengambil kertas dan pensil yang berada di dalam laci lemari.


Stevent menggambar desain untuk Ruangan yang akan ia rubah agar terlihat cantik, unik dan modern.


Tidak butuh waktu lama Stevent telah menyelesaikan gambarnya, ia segera mengendarai mobilnya menuju tokoh bangunan dan furniture.


Menggunakan beberapa tenaga kerja untuk membantu dirinya merubah tampilan luar dan dalam ruangan.


Mereka berhenti ketika waktu sholat ashar tiba dan dilanjutkan hingga hampir Magrib.


Berbahan kayu terbaik, Stevent telah berhasil merubah kamar masa kecil Nisa menjadi sebuah ruangan yang sangat indah dan unik.


Ruangan yang menuansa romantis untuk sepasang kekasih halal.


Stevent telah membayar mahal untuk semua pekerjaan yang telah menyelesaikan pekerjaan tepat waktu dan memberikan yang terbaik di bawah pengawasan Stevent.


Dengan bertelanjang dada dan tubuh basah oleh keringat Stevent menghubungi nomor ponsel Nisa dan meminta Nisa untuk menemui dirinya di belakang.


Nisa keluar dari rumah, ia tidak melihat Stevent dari Zuhur hingga hampir Magrib.


Rasanya Nisa sangat merindukan suaminya. Stevent tersenyum melihat bidadarinya datang pada dirinya.


"Sayang lihatlah." Stevent mendekati Nisa.


"Masya Allah." Nisa tercengang melihat perubahan pada kamar yang awalnya terlihat biasa saja kini menjadi luar biasa, bagaikan Villa kecil di tengah hutan.


"Bagaimana, apa kamu suka?" tanya Stevent.


Nisa memeluk tubuh berkeringat, dan mencium bibir Stevent sekilas.


"Terimakasih." ucap Nisa lembut.


"Hanya itu?" Stevent menatap Nisa.


Nisa menarik wajah Stevent hingga menunduk dan menciumnya dengan lembut begitu lama.


Mereka memejamkan mata menikmati kenikmatan yang indah yang selalu membuat candu dan ketagihan.


Terdengar sholawat dari masjid menunggu waktu Magrib menghentikan ciuman Stevent dan Nisa.


Mereka berdua tersenyum dan tertawa karena berciuman yang tidak ingat dengan waktu.


Stevent mengendong Nisa kembali ke rumah Abi.


Malam ini mereka kan menghabiskan malam bersama di Villa baru buatan Stevent.


Stevent mandi dan menggantikan pakaian di kamar Nisa, ia mengambilkan beberapa pakaian ganti untuk dirinya dan Nisa untuk di pindahkan ke kamar baru mereka.


Nisa menggantikan pakaiannya yang telah kotor karena keringat Stevent di kamar mandi tamu.


Stevent melaksanakan sholat berjamaah bersama Abi di masjid hingga waktu isya, baru mereka kembali ke rumah.


Nisa dan Stevent pamit untuk tidur di kamar belakang yang telah Stevent sulap menjadi sebuah Villa yang mewah.


Padu padan kaca dan kayu terbaik menghasilkan karya luar biasa dari seorang Stevent.


Tirai - tirai cantik, lampu-lampu Indah, bunga hidup dan bambu Jepang asli berada di setiap sudut ruangan.


Nuansa yang menyegarkan di pandang mata dan nyaman ketika berada di dalamnya.


Semua perlengkapan telah di ganti dengan yang baru, terbaik dan mahal.


Ruangan yang awalnya tanpa sekat kini telah berubah menjadi sebuah rumah lengkap dengan perabotan Mahal.


"Sayang, kamu diberikan anugrah yang luar biasa dari Allah." puji Nisa.


"Anugrah yang luar biasa dalam hidup ku adalah dirimu." Stevent mencium lembut bibir Nisa.


"Tidurlah aku tidak mau kamu kelelahan, aku hanya akan memeluk dirimu." ucap Stevent.


"Hmmm." Nisa menghirup aroma maskulin dari tubuh Stevent dan memejamkan matanya.


Mereka berdua tidur nyenyak dalam pelukan hangat di kamar baru yang Stevent buatkan dalam waktu yang singkat.


**************************************


Mohon dukungan dengan Like Komentar Vote dan Bintang 5 😘 Terimakasih


Baca juga "Arsitek Cantik" dan "Cinta Bersemi di Ujung Musim". Terimakasih.


Semoga Kita semua selalu dalam keadaan sehat dan mendapatkan rezeki yang berlimpah Aamiin 😇


Love you All 💓 Thanks for Reading 😊

__ADS_1


__ADS_2