
Fauzan duduk di balik meja kerjanya, ia sibuk dengan banyak berkas yang harus ditanndatangani hingga selesai.
“Aku merasa lelah.” Fauzan meletakkan pena di tempatnya.
“Tuan, Putri Ayesha, Tuan Kenzo dan Tuan Davit sudah berada di Pesantren.” Asraf merapikan berkas dan menyimpannya pada lemari.
“Ayo, kita kembali ke Pesantren, aku sangat merindukan adik kesayanganku.” Fauzan mengambil dan memakai Jasnya. Mereka berjalan bersama keluar dari perusahaan.
“Baik Tuan, besok kita akan mengadakan rapat bersama.” Asraf mengikuti langkah kaki Fauzan.
Mobil hitam melaju dengan kecepatang sedang kembali menuju Pesantren dan langsung memasuki perkarangan Rumah Abi. Fauzan segera keluar dari mobil, ia meliha Ayesha duduk bersama Ayumi dan Viona.
“Kakak.” Ayesha beranjak dari kursi dan berlari memeluk Fauzan.
“Apa kabar Adikku.” Fauzan mencium kepala Ayesha.
“Alhamdulilah, Kakak apa kabar?” Ayesha mendongak wajahnya dan tersenyum.
“Alhamdulilah.” Fauzan melepaskan pelukannya dan menyentuh hidung mancung Ayesha yang tertutup cadar.
“Apa kabar Asraf?” Ayesha terseyum pada Asraf.
“Alhamdulilah Tuan Putri.” Asraf menunduk memberi hormat.
“Dimana Kenzo? Apa dia meninggalkan adikku sendirian?” Fauzan melirik Viona.
“Dia hanya mengantarkan Davit ke kamar Hotel.” Ayesha tersenyum memeluk lengan kekar Fazuan, ia sangat merindukan kakaknya.
“Assalamualaikum, Tuan Fauzan.” Kenzo berjabat tangan dengan Fauzan.
“Waalaikumsalam.” Fauzan memeluk Kenzo.
“Jangan pernah tinggalkan Adikku.” Fauzan berbisik di telinga Kenzo.
“Aku akan mengingat itu.” Kenzo melepaskan pelukannya dan tersenyum.
“Halo Tuan Fauzan, saya Davit sahabat Kenzo dari Kairo.” Davit berjabat tangan dengan Fauzan. Pria itu telah menggunakan stelan jas dan terlihat tampan, ia mengganti pakaian casual dengan kemeja. Ayumi dan Viona hanya jadi penonton.
“Bagaimana jika kita masuk kedalam rumah?” Kenzo menggandeng tangan Ayesha.
“Kita akan melakukan meeting besok pagi di pabrik.” Fauzan melihat kearah Kenzo.
“Apa anda tidak ingin masuk?” tanya Kenzo.
“Aku sudah masuk pagi tadi, aku hanya mau bertemu dengan adikku yang cantik ini.” Fauzan mengusap kepala Ayesha.
“Baiklah, aku akan memberikan waktu untuk kalian berdua melepaskan rindu.” Kenzo emngambil tangan Ayesha dan meletakkan di atas tangan Fauzan.
“Bagaimana jika kita pergi balapan memanah dan berkuda?” Fauzan merangkul pundaknya.
“Sayang, apa kamu lelah?” Kenzo memeluk Ayesha dari belakang.”
“Tidak.” Ayesha menunduk karena malu.
“Baiklah, ayo kita pergi.” Davit berteriak.
“Kami tidak mengajak dirimu.” Kenzo tersenyum.
“Viona, apa kamu mau ikut?” tanya Kenzo melihat kearah Viona.
“Apa aku boleh ikut?” Viona melihat kearah Ayumi.
“Tentu saja Nona, olahraga berkuda dan memanah sangat menyenangkan.” Ayumi tersenyum cantik.
“Kami akan ikut.” Viona tersenyum.
“Baguslah, apa hanya ada satu mobil?” Davit melihat mobil Fauzan.
“Tenanglah Davit, aku punya mobil, kamu ikut Tuan Fauzan, Viona dan temannya ikut mobilku.” Kenzo menepuk pundak Davit.
“Mobil ku ada.” Viona memperlihatkan kunci mobilnya.
“Bolehkan, aku ikut para gadis?” Davit berbisik di telinga Kenzo.
“Apa kamu mau dihajar Stevent?” Kenzo balas berbisik.
“Tak apa Viona kita gunakan mobilku lebih besar.” Kenzo tersenyum.
“Silahkan Tuan Davit.” Asraf membuka pintu.
“Terimakasih.” Davit melirik Ayumi dan Viona.
“Kami berangkat dulu.” Fauzan mencium kepala Ayesha.
__ADS_1
“Ya, hati-hati.” Ayesha melambaikan tangannya.
“Sayang, tunggulah di sini, aku mengambil mobil di garasi Abi.” Kenzo tersenyum.
“Ya.” Ayesha tersenyum.
Ayumi memperhatikan Kenzo, ia ingat Viona pernah menyebutkan nama pria itu ketika sedang emosi.
“Viona mencintai pria dengan tipe yang sama.” Ayumi tersenyum.
Mobil Kenzo telah keluar di halaman dan siap berangkat menuju arena pacuan kuda, Pria itu keluar dari mobil dan membukakan pintu untuk istrinya didepan. Ayumi dan Viona duduk di kursi bagian belakang. Mobil melaju meninggalkan perkarangan rumah Abi.
Tiga pria tampan menunggu kedatangan Kenzo dan tiga bidadari cantik di depan pintu masuk area berkuda dan memanah.
“Apa kalian sudah lama?” tanya Kenzo menggandeng tangan Ayesha.
“Apakah kamu mengendarai siput?” Davit melirik Viona dan Ayumi yang telah menggunakan masker.
“Aku membawa bidadariku.” Kenzo memandang Ayesha.
“Ayo kita masuk.” Fauzan berjalan bersama Asraf.
Asraf mealkuakn pembayaran untuk satu hari sehingga tidak ada pengunjung laian yang bisa masuk, kecuali penonton.
“Sayang, apa kamu mau berkuda bersama diriku? Kita belum pernah berkuda berdua.” Kenzo tersenyum.
“Nona, bagaimana dengan anda?” tanya Ayumi pada Viona.
“Aku hanya bisa berkuda tetapi tidak pernah memanah.” Viona menatap Ayumi.
“Kamu mau melihat terlebih dahulu atau mau langsung mencoba?” Ayesha menyentuh tangan Viona.
“Aku akan duduk sebagai penonton.” Viona tersenyum.
“Aku akan menemani dirimu Nona.” Davit tersenyum pada Viona.
“Kamu akan bertanding dengan diriku.” Fauzan menatap Davit.
“Maaf Tuan, aku tidak berani melawan seorang pangeran.” Davit megedipkan matanya pada Viona.
“Atau kamu mau bertanding dengan Ayesha?” tanya Fauzan.
“Tidak, istriku tidak akan bertanding.” Kenzo memeluk Ayesha dari belakang.
“Mari bertanding dengan diriku Tuan Fauzan.” Ayumi tersenyum dari balik maskenya.
“Ayumi, kalahkan pangeran itu.” Viona berbisik di telinga Ayumi.
“Tentu saja Nona.” Ayumi berjalan mengikuti Fauzan.
“Viona, siapa dia?” tanya Kenzo pada Viona.
“Pengawalku.” Viona tersenyum.
Mereka berlima menjadi penonton pertandingan memanah dan berkuda. Ayumi memilih kuda berwarna hitam begitu juga dengan Fauzan, selera mereka sama.
“Biasanya wanita menyukai kuda berwarna putih bersih kenapa kamu memilih warna hitam?” tanya Fauzan mempersiapkan busur emreka berdua dan memberikan kepada Ayumi.
“Karena kuda hitam terlihat garang.” Ayumi tersenyum, ia segera menaiki kudanya.
Mereka berdua telah berada di kuda masing-masing dan bersiap untuk bertanding, Fauzan telah lama tidak melakukan olahraga berkuda karena terlalu sibuk dengan pekerjaanya. Berbeda dengan Ayumi yang memang melakukannya sebagai latihan.
Sebuah tembakan terdengan yang menajdi tanda pertandingan dimulai, Ayumi benar-benar serius ketika bertanding. Wanita itu sangat terlatih, dengan kecepatan tinggi pada kuda dan kemampuan memanah luar biasa, ia bisa menyeimbangi bahkan melebihi Fauzan yang melakukan olah raga berkuda dan memanah hanya sebagai hobby dan pengisi waktu luang saja.
Pertandingan selesai, Ayumi sebagai pemenang dengan jarak skor yang tidak begitu jauh. Fauzan tersenyum mengagumi kemampuan berkuda dan memanah Ayumi, ia penasaran dengan yang tidak bisa dilakukan wanita itu.
“Kamu luar biasa.” Fauzan tersenyum.
“Terimakasih Tuan.” Ayumi menunduk.
Fauzan dan Ayumi melihat Davit yang sedang Asyik berbicara dengan Viona. Ia melihat Asraf berdikusi dengan Kenzo dan Ayesha.
“Apa kamu tidak melihat permainan Ayumi?” Fauzan menatap tajam pada Viona.
“Siapa yang menajdi pemenang?” tanya Viona.
“Jika kamu tidak melihat sebuah pertandingan, maka kamu tidak akan menguasai teknik yang dilakaukan orang lain.” Fauzan melewati Davit dan Viona.
“Aku yang menang Nona.” Ayumi menunduk.
“Sayang, giliran kita berdua.” Kenzo menarik tangan Ayesha.
“Aku yang memacu kuda dan kamu yang memanah.” Kenzo tersenyum.
__ADS_1
“Baiklah.” Ayesha menggengam tangan Kenzo.
“Jika Ayesha terluka aku akan menghukum dirimu.” Fauzan tersenyum.
“Aku aka menjaga istriku dengan nyawaku.” Kenzo mengedipkan matanya.
“Pamer kemesraan.” Davit beranjak dari tempat duduknya.
“Viona, apa kamu mau berlatih memanah bersama diriku?” Davit mengulurkan tangannya pada Viona.
“Dia bukan mahram kamu.” Fauzan menepis tangan Davit.
“Asraf, kalahkan Davit.” Fauzan duduk di kursi.
“Baik Tuan, setelah Tuan Kenzo dan Putri Ayeah meyelesaikan satu putaran.” Asraf beranjak dari tempat duduk dan mempersiapkan kuda.
“Aku akan mengalahkan anda.” Davit berjalan menuju Asraf meninggalkan Fauzan dengan dua orang wanita cantik.
“Ayumi, apakah kamu keluar dari pelatihan khusus?” Fauzan memainkan botol minuman.
“Iya Tuan.” Ayumi melirik Viona yang memainkan jari jemarinya.
“Pangeran, pangeran.” Terdengar teriakan dari atas kursi penonton.
“Ah, aku tidak menggunakan masker.” Fauzan melambaikan tangannya membuat para wanita berteriak histeris.
“Nona tutup wajah anda.” Ayumi memberikan masker kepada Viona yang segera menggunakannya.
“Ah, lihat dua wanita di samping pangeran, siapa mereka?” para wanita semakin ramai dari atas yang dipagari kawat.
“Pangeranku, aku mencintai kamu.” Teriakan pernyataan cinta semakin riuh.
“Jika sudah menikah, anda tidak akan bisa membawa istri anda jalan-jalan.” Ayumi tersenyum.
“Ketika menikah, istriku hanya akan menjadi seorang ratu yang berada di singgasana kerajaan Arab, ia tidak akan pernah pergi kemanapun.” Fauzan tersenyum.
“Itu adalah konsekuensi seorang wanita yang akan menikah dengan diriku.” Fauzan meneguk air mineral.
“Sepertinya, usia anda sudah cukup untuk menikah.” Ayumi melirik Viona yang menunduk.
“Tentu saja, tetapi aku belum bertemu dengan wanita yang pas, mengkin hanya menunggu lamaran dari putri kerajaan lain yang rela terkurung di dalam istana.” Fauzan tersenyum.
“Pernikahan bisnis.” Ayumi tersenyum.
“Tidak, aku tidak akan melakukan pernikahan bisnis.” Fauzan beranjak dari tempat duduknya untuk melihat permainan romantic Ayesha dan Kenzo di atas kuda dan dilanjutkan pertandingan Asraf dan Davit.
Pertandingan dimenangkan oleh Asraf dengan poin yang cukup jauh, Davit hanya serius di balapan mobil dan motor, ia tidak suka dengan berkuda dan memanah.
“Tuan Putri Viona, maafkan kekalahanku.” Davit membungkuk di depan Viona membuat gadis itu tersenyum.
“Aku adalah pembalab mobil, apakah anda mau merasakan sensasi di dalam mobil balap?” Davit menatap Viona dengan serius.
“Benarkah?” Vioan terlihat bersemangat.
“Apa kamu tidak mengenal Davit?” tanya Kenzo pada Viona yang terdiam dan memperhatikan wajah Davit.
“Kamu adalah pembalab Dunia.” Viona histeris.
“Ya Tuhan, apakah kamu baru menyadarinya?” Davit memperlihatkan wajah kesal.
“Maafkan aku.” Viona tersenyum.
“Davit.” Teriakan kembali terdengar dari atas.
“Apakah kamu memberitahu semua orang kedatangan kamu kemari?” Kezo menatap tajam pada Davit.
“Aku hanya memperbaharui status di IG.” Davit tersenyum dan memperlihatkan foto berkuda dirinya.
“Kamu sudah pensiun.” Kenzo menepuk pundak Davit.
“Nona Viona, apa anda tidak mencoba berkuda dan memanah?” tanya Asraf.
“Tidak, aku akan mencobanya lain kali bersama Ayumi.” Viona tersenyum.
Mereka semua meninggalkan area berpacu dan kembali ke pesantren. Mobil Fauzan langsung menuju Hotel.
***Selamat Hari Raya Idul Adha***
"Mohon Maaf Lahir dan Bathin"
Untuk yang Suka berikan like, Komentar, bintang 5, Tips, Vote serta bantu promosikan. Terimakasih.
Baca juga Novel Author berjudul “Arsitek Cantik” dan "Mengejar Cinta Ariel" dan "Tabib Cantik Bulan Purnama"
__ADS_1
Novel Kakakku “Nyanyian Takdir Aisyah dan Cinta Bersemi di Ujung Musim.” (Fitri Rahayu). Terimakasih.
Semoga kita semua dalam keadaan sehat dan selalu mendapatkan perlindunganNya, Aamiin.