Cinta Untuk Dokter Nisa

Cinta Untuk Dokter Nisa
Perjalanan Pulang


__ADS_3

Viona memandang tubuh kekar dan berkeringat yang membelakangi dirinya. Ada luka gores terkena batu di punggung Valentino karena menolong Viona.


Valentino membuka pakaian dan celana panjangnya, ia menggunakan celana pendek selutut dan bertelanjang dada.


Berjalan menaiki batu dan pohon, Valentino terjun ke air dari dahan pohon yang tinggi hingga memberikan percikan boom air.


"Aah." Viona menutup wajahnya dengan telapak tangannya.


Valentino tersenyum, tubuh berotot yang basah keluar dari dalam air.


"Ya Tuhan, dia sangat tampan." Viona melepaskan tangannya dari wajah.


Valentino berenang kesana-kemari dan duduk di bawah air terjun.


Viona tidak sadar, ia terus memperhatikan Valentino dari kejauhan.


Aisyah telah kembali dari mengambil tumbuhan obat, raselnya berisi banyak tanaman obat.


Viona meletakkan dagunya di atas lututnya dengan tangan memeluk kaki dan memandang pria tampan yang sedang bermain air.


Aisyah berjalan mendekati Viona, ia tersenyum melihat Viona dan Valentino bergantian.


"Jaga pandangan." Aisyah mengusap wajah Viona dengan tangannya.


"Ah, Dokter Aisyah." Viona terkejut dan tersenyum malu.


"Ada apa dengan kakimu?" tanya Aisyah dan menyentuh kaki Viona.


"Aku sangat ceroboh hingga terjatuh." ucap Viona sedih.


"Apa kamu bisa berjalan, ini cedera di bagian dalam." ucap Aisyah.


"Bagaimana anda tahu?" Tanya Viona.


"Rumput yang Valentino gunakan untuk cedera otot." ucap Aisyah dan duduk di bawah yang rindang.


"Dokter Aisyah, bagaimana dengan obat untuk Kak Nisa?" tanya Viona memandang Aisyah.


"Aku telah mengambil semua tanaman obat yang berfungsi untuk menguatkan kandungan dan rahim, semoga ini bisa menyembuhkan Nisa." Aisyah tersenyum.


"Aku mau melihat Kak Nisa yang bersemangat dan kuat." ucap Viona.


Valentino beranjak dari air dengan rambu dan tubuh yang basah berjalan mendekati Viona.


"Kenapa ia berjalan kemari?" Viona berbicara di dalam hatinya, ini kedua kalinya Viona melihat pria bertelanjang dada setelah di pesantren.


Valentino tersenyum melihat Viona yang menutupi wajahnya dengan kedua tangannya.


Ia mengambil tas ransel dan berjalan ke balik pepohonan untuk berganti pakaian.


Valentino Kembali dengan pakaian kering, berjalan mendekati Dokter Aisyah.


"Bagaimana?" tanya Valentino mengambil ransel Aisyah untuk melihat tumbuhan yang Aisyah ambil.


"Aku telah mengambil semua jenis tumbuhan yang bermanfaat untuk rahim wanita." ucap Aisyah.


Viona melihat Aisyah dan Valentino yang serius berbicara dan membahas tentang tumbuhan yang Aisyah bawa.


"Apakah anda masih lelah?" tanya Valentino kepada Aisyah.


"Kita akan kembali setelah sholat Zuhur." ucap Aisyah.


"Baiklah, aku akan mencari buah-buahan hutan, kalian di sini saja." Valentino beranjak meninggalkan Viona dan Aisyah.


"Kamu mau kemana?" tanya Viona.


Valentino tersenyum, ia bisa melihat Viona kepanasan di atas batu.


"Apa kamu kepanasan?" Valentino berjalan mendekati Viona yang mengangguk malu.


Viona mau pindah ke tempat duduk Aisyah tetapi kakinya sakit.


"Aaa" Viona terkejut, Valentino telah mengendong dirinya dan membawanya ke dekat Aisyah.


Valentino kembali melanjutkan perjalanannya untuk mencari buah-buahan hutan.


Wajah Viona memerah Semerah tomat, ia sangat malu mendapatkan banyak perhatian dari Valentino.


Valentino adalah pria pertama yang menyentuh dirinya dengan cara digendong.


Selama ini tidak ada yang berani mendekati, apalagi menyentuh Viona.


Valentino memiliki kesempatan itu tanpa disengaja karena Viona melukai dirinya sendiri.


"Apa kamu menyukai Valentino." tanya Aisyah mengejutkan Viona.


"Apa, Ah tidak." Viona tersenyum membuat wajahnya semakin merah.


"Kemarilah, aku lihat kaki dirimu." Dokter Aisyah membuka perban kaki Viona.


"Apa aku bisa berjalan?" tanya Viona.


"Tentu saja, beruntung kamu bersama Valentino ketika terjatuh, ini rumput tebaik, sehingga kakimu tidak akan bengkak dan membiru." Dokter Aisyah kembali membungkus kaki Viona.


"Maafkan aku." Viona menunduk.


"Kenapa kamu minta maaf?" Dokter Aisyah tersenyum.


"Aku telah merepotkan kalian." Viona sedih menjadi beban Valentino.


"Tidak usah pikiran." Aisyah mengusap kepala Viona.


Waktu Zuhur telah tiba, Aisyah dan Viona melaksanakan sholat bersama.


Aisyah membantu Viona untuk berwudhu dan sholat duduk yang diajarkan Aisyah terlebih dahulu, karena Viona tidak tahu cara sholat duduk.


Valentino kembali dengan membawa berbagai jenis buah hutan dengan berbagai warna dan rasa.


Ia melihat dua orang wanita yang sedang sholat di bawah pohon samping air terjun.


Valentino merapikan perlengkapan mereka, agar tidak ada yang tertinggal, terutama tanaman obat.


Selesai sholat Viona hanya bisa terdiam dan menahan sakit di pergelangan kakinya, ia tidak bisa berdiri dan berjalan.


"Rasanya Aku mau menangis saja." Viona berbicara dalam hati dan memijit kakinya, benar-benar sakit.


Valentino meletakkan buah di depan wajah Viona, sehingga Viona mendongakkan wajahnya.


"Cobalah, rasanya sangat enak dan mengembalikan tenaga yang telah hilang." Valentino tersenyum.

__ADS_1


Viona mengambil buah berwarna oranye dari tangan Valentino, ia tidak mau melihat wajah Valentino dari dekat, senyuman yang selalu terlihat di wajah ramah Valentino mengalihkan Dunia.


"Terimakasih." Viona memakan buah mirip jeruk, penuh dengan air dengan rasa manis legit.


"Buah ini benar-benar menyegarkan." ucap Viona tersenyum.


Air menetes dari mulutnya, membuat lengket bagaikan madu.


"Bersihkan mulutmu, jika tidak bibir kamu akan digigit semut." Valentino tersenyum dan meninggalkan Viona.


Viona menyentuh mulut dan dagunya yang terasa lengket bekas air dari buah yang ia makan.


"Memalukan, makan buah seperti ini saja tidak bisa, tapi aku tidak pernah melihat buah ini, seperti jeruk tetapi tidak ada seratnya." Viona memerhatikan buah yang terus ia makan.


Buah dengan bulir-bulir besar tanpa serat, ketika digigit akan langsung pecah dan memberikan mengeluarkan air yang sangat manis menyegarkan.


"Viona, waktunya pulang." Aisyah berdiri di dekat Viona.


Valentino memasukkan tas kecil Viona kedalam ranselnya.


Viona berusaha berdiri dengan berpegang di dahan pohon yang ada di dekatnya.


"Viona tidak akan bisa mendaki." ucap Aisyah kepada Valentino.


Valentino meletakkan ranselnya di punggung Viona yang menatap heran kepada Valentino.


"Naiklah!" perintah Valentino kepada Viona.


Viona melihat ke arah Aisyah, ia butuh persetujuan entah untuk apa.


"Naiklah, jika tidak di gendong oleh Valen, kamu tidak akan bisa pulang, dan Stevent akan menghancurkan bukit ini untuk mencari dirimu." Aisyah tersenyum.


Perlahan Viona naik di punggung Valentino, melingkari tangannya di leher Valentino.


Valentino harus membawa dua beban, Viona dan tas ranselnya.


Menaiki dan menuruni dua bukit, olahraga berat untuk Valentino.


"Maafkan aku." suara lembut Viona terdengar di telinga Valentino memberikan getaran aneh.


Valentino hanya diam dan tidak menjawabnya.


"Valen berhati-hati, jangan sampai kalian berdua jatuh bersama." ucap Aisyah.


Valentino tetap diam, ia harus menjaga pernapasan agar tetap stabil hingga sampai ke klinik.


Beberapa kali Valentino harus bertahan pada kayu-kayu yang ada di bukit untuk membantu Valentino menyeimbangkan tubuh dirinya dan Viona.


Viona hanya bisa memejamkan matanya, dan mengeratkan pegangannya pada tubuh Valentino.


Dengan bersusah payah, akhirnya Valentino berhasil membawa Viona sampai ke klinik.


Valentino benar-benar kelelahan, setelah menuruni tubuh Viona dari punggungnya, ia terbaring di atas lantai.


Tubuh kekar dan berotot Valentino basah oleh keringat, nafasnya naik turun tidak teratur.


Viona memandang Valentino dengan rasa bersalah.


Ia benar-benar menyusahkan Valentino dalam satu hari.


Di bukit Viona kesulitan berjalan karena tanah yang tidak rata dan medan yang tidak tentu.


Ketika di rumah Viona bisa berpegangan pada dinding, kursi dan meja dengan cara salah satu kakinya tidak berpijak.


Valentino tidur di tempat tidur pasien, ia kelelahan, tubuhnya sakit semua bagaikan di injak gajah hamil.


Dokter Aisyah, membersihkan tumbuhan yang ia bawa dari bukit, memasukkan ke dalam tabung pengawet agar tumbuhan bisa bertahan hingga mereka kembali ke kota.


Selesai mempersiapkan tanaman obat, Aisyah membuat makan malam untuk mereka bertiga.


Viona hanya bisa jadi penonton, dan duduk di di kursi makan.


"Aku hanya menjadi beban saja." gumam Viona sedih.


"Viona, apa Valen sudah bangun?" tanya Aisyah.


"Sepertinya belum, ia pasti kelelahan menggendong diriku." Viona meletakkan dagunya di atas meja makan.


"Tidak apa, Valen pria yang baik, dia suka menolong siapa saja." Aisyah tersenyum.


"Jangankan wanita, pria saja akan dia gendong, jika sedang sakit." lanjut Aisyah.


"Benarkah?" tanya Viona dan Aisyah hanya mengangguk.


"Yah, dia baik kepada semua orang." gumam Viona.


Menu makan malam telah tertata rapi di atas meja dan tertutup.


Viona dan Aisyah duduk santai di teras depan klinik.


"Disini sangat sepi, apakah ada warga yang berobat?" tanya Viona.


"Ada, jarang - jarang, dan kamu tidak akan mendapatkan bayaran berupa uang." Aisyah tersenyum.


"Lalu, mereka membayar dengan apa?" tanya Viona heran.


"Bahan makanan yang masih segar." ucap Aisyah.


"Hidup dari hasil alam." ucap Viona.


"Warga yang berobat jarang karena sakit lebih sering terluka karena bekerja." jelas Aisyah.


"Oooh, warga di sini sehat - sehat." Viona mengangguk.


Tentu saja warga desa terpencil Sehat, mereka bekerja di luar ruangan, makanan dan minuman mereka semua berasal dari alam.


Tidak ada bahan makanan dan minuman yang mengandung pengawet.


Tidak ada makanan dan minuman kemasan, mereka hanya meminum air putih.


Hidup dengan damai dan tentram tanpa gangguan hiruk-pikuk keramaian kota.


"Dokter Aisyah, aku pulang dulu." ucap Valentino dari balik pintu.


"Kembalilah untuk makan malam." ucap Aisyah.


"Ya." Valentino meninggalkan klinik Dokter Aisyah dan kembali ke rumahnya.


Viona menunduk ia sangat malu dan merasa tidak nyaman karena telah menyusahkan hingga membuat Valentino kelelahan.

__ADS_1


****


Matahari belum memberikan cahaya dan kehangatannya kepada Bumi.


Valentino, Viona dan Aisyah telah melakukan perjalanan pulang setelah selesai sholat subuh.


Viona merasa khawatir, ia takut akan di marahi Stevent jika ketahuan kakinya cidera.


"Aku harus pulang kemana?" Viona berbicara di dalam hatinya.


Jika pulang ke rumah utama, ia takut dengan papa Alexander.


"Viona, kamu mau diantar kemana?" tanya Aisyah.


Viona hanya terdiam, ia masih dengan pikiran kacau dan khawatir.


"Viona." Aisyah menepuk lembut pundak Viona.


"Ya." Viona terkejut.


"Apa yang kamu lamunkan?" tanya Aisyah.


Valentino melirik Viona dari cermin.


"Aku, mmm." Viona tidak melanjutkan kalimatnya, ia melihat kakinya yang dibungkus perban.


"Apa kamu takut pulang karena kaki kamu?" tanya Aisyah dan Viona hanya mengangguk sedih.


"Aku akan menjelaskan kepada Stevent, kamu tidak usah khawatir, kita ke laboratorium saja." ucap Aisyah.


Mobil terus melaju membelah jalanan Desa terpencil yang dikelilingi, hutan, bukit dan jurang.


Sebelum waktu Zuhur mereka telah sampai di depan rumah yang ditinggali Aisyah selama bekerja di laboratorium.


Valentino segera membuka pintu untuk Viona dan ia siap menggendong.


"Terimakasih, Aku bisa sendiri." Viona menolak.


"Jangan paksakan kaki kamu berpijak, karena akan memperlambat penyembuhan." ucap Aisyah yang telah turun dari mobil.


Viona memandang wajah Valentino yang sangat dekat, ia melingkarkan tangannya di leher Valentino.


Valentino menggendong Viona masuk ke dalam rumah Aisyah dan menurunkan tubuh Viona di atas sofa.


"Valen, beristirahat lah, kita akan pergi ke laboratorium setelah waktu Zuhur." ucap Aisyah.


"Baiklah." Valentino melihat Viona yang memalingkan wajahnya.


"Apa kamu mau ke kamar?" tanya Valentino berjalan mendekati Viona.


"Aku bisa sendiri, sebaiknya kamu istirahat, pasti kamu sangat lelah." Viona berbicara tanpa melihat wajah Valentino.


Valentino kembali ke rumah dirinya di sebelah rumah Aisyah.


Viona memandang punggung Valentino yang mulai menghilang dari balik pintu.


"Dia sangat menikmati hidupnya." gumam Viona.


"Viona, apa kamu mau beristirahat di kamar?" tanya Aisyah.


"Ya." Viona mengangguk, Aisyah membantu Viona berjalan ke kamar.


Ia beristirahat di tempat tidur Aisyah, hingga waktu Zuhur tiba.


Tubuh Valentino tahan banting, di terlihat segar setelah mandi dan mengantikan pemakainya dengan menggunakan kemeja dan celana jeans hitam.


Valentino duduk di ruang tamu dan menunggu Aisyah untuk berangkat bersama ke laboratorium.


Viona mengintip Valentino dari pintu kamar, ia kan tinggal sendirian di rumah Aisyah.


"Wah, benar-benar pria yang sempurna." gumam Viona.


Setelah berpamitan dengan Viona, Aisyah dan Valentino segera berjalan kaki menuju laboratorium.


Melanjutkan pembuatan formula dengan bahan-bahan yang mereka bawa dari desa terpencil.


Tidak ada yang tidak bisa di lakukan oleh ahli kimia, Alam telah menyediakan semuanya, manusia hanya bisa terus berusaha dan berdoa, berharap ada titik terang dalam menghadapi segala cobaan.


Aisyah dan Valentino berjalan bersama menuju ruang pakaian, mereka menggunakan jas laboratorium.


Nathan duduk termenung di depan meja kerjanya di ruangan laboratorium.


Tidak ada semangat seperti biasanya, tatapan mata yang kosong, sedang memikirkan sesuatu.


Valentino dan Aisyah saling berpandangan melihat kondisi Nathan.


Roy duduk sendirian di sudut ruangan, ia melambaikan tangannya menyapa Valentino dan Aisyah.


Menceritakan kejadian di rumah Sakit, sehingga membuat Stevent murka dan Nisa ketakutan karena mengkhawatirkan kehamilannya.


Nathan merasa bersalah, Nayla telah melakukannya berkali - kali perbuatan yang membahayakan nyawa Nisa.


"Adakah wanita sejahat itu?" tanya Valentino.


Roy hanya terdiam, itu akibat dari keluarga Nathan yang terlalu memanjakan Nayla.


Aisyah berjalan mendekati Nathan dan membawa tas yang berisi tanaman obat.


"Ayo kita lakukan!" Aisyah meletakkan tas di depan Nathan sehingga membuyarkan lamunan Nathan.


"Aku tidak bisa lagi melakukannya." ucap Nathan.


"Baiklah, tapi aku bisa meminta ruangan ini?" tanya Aisyah berjalan menuju meja penelitian.


"Valen, kemarilah!" sapa Aisyah dan Valentino berjalan mendekati Aisyah.


Nathan memperhatikan Aisyah dan Valentino, ia melihat keseriusan diantara dua orang asing yang bukan siapa-siapa Nisa.


Menolong sesama manusia tidak harus memiliki ikatan, tetapi keikhlasan yang kita butuhkan.


Tolonglah orang lain dengan kemampuan, kekuatan dan kelebihan yang ada pada dirimu dalam kebaikan.


Jangan pernah berharap mereka akan membalas kebaikan dirimu, karena balasan Allah jauh lebih Indah.


**********************


Mohon dukungan dengan Like Komentar Vote dan Bintang 5 😘 Terimakasih


Baca juga "Arsitek Cantik" dan "Cinta Bersemi di Ujung Musim"

__ADS_1


Semoga Kita semua selalu dalam keadaan sehat dan mendapatkan rezeki yang berlimpah Aamiin 😇


Love You All 💓 Thanks for Reading 😊


__ADS_2