
Penjara bawah tanah Stevent.
Fanny tergeletak lemas di atas kasur dan selimut tipis, ia terus menangis menyesali perbuatannya yang telah berani mendekati Stevent pria dingin dan kejam dalam bertindak tanpa belas kasih, tidak perduli pria atau wanita, tua dan muda jika berani melawan dirinya maka akan ia hancurkan.
Seorang pria tampan dan assitennya berjalan mendekati Fanny, tidak ada cidera di wajah hanya bibir pecah karena telah berani mencium Stevent, tidak ada yang menyentuh dirinya, kesucian wanita itu tetap terjaga.
Perlahan Fanny membuka matanya melihat Jhonny membawa kotak kaca berisi jarum suntik dengan cairan berwarna putih susu, formula penghapus ingatan.
“Tuan, ampuni saya.” Bibir kering dan pecah kesulitan untuk berbicara.
“Tentu saja, aku akan membuat anda terbebas dari penderitaan ini.” Jhonny menyuntikkan cairan putih pada lengan Fanny yang perlahan memejamkan matanya dan tertidur lelap.
“Enam jam kemudian berikan suntikan kedua dan enam jam berikutnya untk suntikan ketika.” Jhonny memberikan kotak kaca pada pria yang berdiri di sampingnya.
“Baik Tuan.” Pria itu berjalan mengikuti Jhonny keluar dari penjara.
“Jangan sampai terjadi kesalahan, besok malam buatlah sebuah kecelakan sehingga terjadi benturan di kepala dalam keadaan mabuk.” Jhonny terus melangkah menaiki tangga.
“Pilih lokasi jauh dari pusat kota dan dekat dari tempat hiburan malam.” Jhonny telah berada di mobilnya.
“Baik tuan.” Pria itu menunduk.
“Bermainlah dengan halus dan lembut.” Jhonny memberikan senyuman yang mengerikan.
Mobil Jhonny melaju meninggalkan penjara rahasia menuju perusahaan Stevent yang juga telah berada di kantornya, ia tidak mau ikut pergi ke penjara karena tidak mau melihat Fanny karena menurutnya kematian lebih baik.
Pria tampan duduk di balik kursi kerjanya, ia terlihat focus berhadapan dengan layar computer dan berkas yang tersusun rapi di atas meja. Jhonny mengetuk pintu dan berjalan masuk mendekati bosnya.
“Bagaimana?” Tanya Stevent tanpa melihat Jhonny.
“Tunggu kabar kecelakaan Tuan.” Jhonny duduk di kursinya.
“Bagaimana dengan pabrik?” Tanya Stevent lagi.
“Tuan Zayn telah mengembalikan semuanya.” Jhonny melihat kearah Stevent yang menatap dirinya.
“Zayn?” Stevent terlihat kebingungan.
“Kebakaran pabrik dilakukan oleh Tuan Zayn.” Jhonny melihat kearah Stevent.
“Oh, dia benar-benar menantang diriku.” Stevent tersenyum sinis.
“Tuan Fauzan telah membalas untuk kita.” Jhonny membuka layar komputernya.
“Itu tidak cukup, aku akan menghancurkan perusahaan Zayn.” Stevent tersenyum.
“Tuan, sepertinya Tuan Fauzan tidak mau melakukan itu, ia hanya minta ganti rugi dari Tuan Zayn.” Jhonny berdiri dan berjalan mendekati Stevent.
“Tuan Fauzan tidak mau melakukannya tetapi aku mau, menghancurkanmusuh yangberani melawan diriku hingga habis.” Stevent menatap tajam pada Jhonny.
“Saya akan melakukan semua perintah anda.” Jhonny mengambil berkas yang tersimpan di lemari denga kunci sidik jari.
“Tarik semua perusahaan yang masih belum tersentuh oleh papa Alexander akan kita lelang di kelombok pembisnis rahasia.” Stevent melihat Jhonny yang meletakkan berkas di atas meja. Surat penting saham yang masih dipegang Stevent atas nama Viona.
“Apakah Anda akan langsung melibatkan nona Viona dalam bisnis sebelum dia menyelesaikan kuliahnya?” Jhonny membuka semua berkas dengan nama Viona.
“Tentu saja, usia dia telah lewat dari tujuh belas tahun berarti dia telah berhak mengambil alih perusahaan miliknya.” Stevent berjalan mendekati Jhonny denganbanyak berkas berharga di depannya.
“Viona adalah wanita yang cerdas, dia akan menjadi pembisnis wanita termuda.” Stevent membuka berkas dan melihat persahaan yang masih atas nama papa Alexander.
“Kapan kita akan mengadakan meeting dengan Nona Viona?” tanya Jhonny.
“Secepatnya, lihat jadwal kuliah dan pastikan pengawal untuk adikku.” Stevent tersenyum, ia sangat yakin dengan kemampuan Viona.
“Baik Tuan, beberapa pengawal ada di pesantren, saya juga telah memilih seorang pengawal wanita untuk menemani dan menjaga Viona.” Jhonny memperlihatkan sebuah foto di layar ponselnya.
“Wanita berhijab.” Stevent memperhatikan foto di layar ponsel Jhonny.
“Tentu saja Tuan, wanita ini telah mengalahakan ratusan peserta.” Jhonny tersenyum.
“Apakah dia bercadar?” Stevent terus meperhatikan foto di ponsel Jhonny.
“Tidak, tetapi dia selalu menggunakan masker, saya akan mengirimkan data wanita ini untuk anda lewat email.” Jhonny mengambil ponselnya dari tangan Stevent.
“Aku percaya kemampuan kamu.” Stevent tersenyum dan beranjak menuju meja kerjanya karena ponselnya berdering, panggilan dari istri tercinta.
“Halo Sayang.” Stevent tersenyum melihat istrinya di layar ponsel.
“Sayang, apakah kamu sudah makan siang?” Nisa tersenum cantik.
“Aku sedang menunggu Jhonny menyelesaikan pekerjaanya.” Stevent melihat Jhonny yang sedang memasukan semua berkas ke dalam tas dan akan di bawa pulang kerumah.
“Pergilah makan siang bersama Jhonny!” Nisa terseyum lebar melihat suaminya yang tampan.
“Tentu saja Sayang, apakah kamu sudah makan dan dimana si kembarku?” Stevent memperhatikan layar ponselnya.
“Mereka sedang tidur, aku dan Aisyah akan makan bersama Viona juga.” Nisa berjalan ke dapur.
“Viona, ia datang bersama siapa?” tanya Stevent.
“Dokter Aisyah menjemputnya.” Nisa membalik kamera ponsel sehingga Stevent bisa melihat Viona dan Aisyah sedang menata makanan di atas meja.
“Makanlah sayang, aku dan Jhonny akan makan di kantin perusahaan.” Stevent tersenyum.
“Assalamualaikum, suamiku.” Nisa melambaikan tangannya dan memberikan ciuman di layar ponsel.
“Waalaikumsalam Sayang.” Stevent membalas ciuman Nisa dan panggilan terputus.
“Jhonny sudah kamu bereskan semua berkas?” Stevent mematikan komputerya.
__ADS_1
“Sudah Tuan.” Jhonny beranjak dari sofa dan mematikan komputernya.
“Kita makan siang sekarang, kunci ruangan ini!” Stevent mengambil jasnya yang tergantung.
“Baik Tuan.” Jhonny menunggu Stevent keluar dari ruangan dan mengunci pintu. Mereka berjalan bersama menuju kantin untuk makan siang.
***
Penjara bawah tanah Nathan.
Loly terkapar di atas tumpukan jerami tidak terawat berbeda dengan Fanny yang masih berada di atas kasur tipis. Keadaan Loly jauh lebih menderita, tidak ada belas kasih dari Nathan. Tubuh wanita itu bahkan tidak tertutup pakaian, hanya bra dan celana dalam yang sangat tipis.
Kematian begitu dekat tetapi masih belum menjemput dirinya yang tersiksa karena telah berani menyentuh pria dingin dan kejam tanpa belas kasih. Loly sangat kesakitan, tubuhnya gigil, ia sangat berharap kematian segera datang dan mencabut nyawanya. Air mata dan permohonan ampun tidak berarti bagi Nathan.
Dua orang pria berjalan mendekati Loly yang meringkuk kedinginan dan kesakitan di seluruh tubuhnya, siksaan dari formula racun yang telah disuntikkan lebih menyakitkan pukulan fisik. Nathan tidak memberikan kematian yang mudah untuk wanita yang berani meracuni dirinya.
‘Tolong berikan aku minum.” Suara Loly bergetar dan seorang pria membuka borgol tangan Loly, seorang lagi memberikan minum.
“Terimakasih.” Seteguk air cukup memberikan kepuasan untuk Loly.
“Apa Nathan akan membebaskan diriku?” Loly manatap dua orang pria bergantian.
“Ya, membebaskan anda dari rasa sakit tanpa sisa.” Pria itu tersenyum sinis.
“Apa yang akan kalian lakukan?” Loly melihat jarum berisi cairan berwarna putih tulang.
“Anda pasti mengenal racun ini.” Pria yang memegang jarum suntik menatap tajam pada Loly.
Racun tulang, membunuh perlahan menghancurkan tulang tanpa sisa, kematian yang sangat menyakitkan penuh dengan siksaan. Mata Loly melotoy ketakutan formula yang ia buat bersama Nathan akan membunuh dirinya sendiri. Satu suntikan akan menghancurkan tulang dalam waktu tiga hari.
“Bisakah kalian memberikan kematian yang lebih mudah dan cepat untuk diriku?” Air mata Loly membasahi wajahnya.
“Maaf Nona kami tidak mau mengambil resiko kematian yang meninggalkan jejak.” Pria itu segera menyuntikkan jarum di lengan Loly yang terbuka. Rasa dingin menusuk tulang menyerap dalam tubuhnya, pasrah pada takdir yang telah ia pilih sendiri demi mendapatkan Nathan.
***
Rumah Sakit Nathan
Nayla terus menanyakan Nathan yang belum menemui dirinya setelah di pidahkan dari rumah sakit Samuel. Operasi akan dilaksanakan pada pukul delapan malam hari, wanita itu hanya sendirian , tidak ada siapapun yang menemaninya. Kedua orang tuanya dalam perjalanan pulang dari pertemuan bisnis, Harry yang selalu setia bersamanya kini telah pergi bersama Sonia.
Kesedihan dan kesepian membuat Nayla marah dan emosi yang tidak stabil, ia menahan tangis dengan sesak di dadanya. Kekayaan tidak ada artinya bila akhirnya kita dalam kesendirian tanpa saudara dan teman. Kesombongan hilang begitu saja ketika menyadari bahwa kita butuh orang lain dan Tuhan sebagai sandaran.
Tatapan kosong Nayla memandang langit-langit kamar berwarna putih, tanpa sadar butiran bening melewati sudut mata membasahi bantalnya, ia terisak sendirian di dalam kamar. Tidak seorangpun yang menemani dirinya.
“Kakak kamu dimana? Apa yang kamu lakukan? Kenapa kamu meninggalkan diriku?” Nayla mengusap air matanya.
“Tunggu dulu, apakah wanita itu telah merebut kakakku dariku, sejak hari itu aku tidak pernah melihat kakak lagi.” Nayla emosi ia melempar guling ke lantai.
“Tidak ada yang boleh mengambil cinta kakaku dariku.” Nayla mengepalkan tangannya.
***
Nathan terus berada di ruangan Afifah, ia tidak pulang ke Villa, makan dan mandi dilakukan di rumah sakit. Menenani wanita itu sepanjang hari, ketika Afifah tidur ia akan bekerja dengan ponsel dan komputernya.
Afifah membuka matanya, ia melihat Nathan yang sibuk bekerja di sofa dan menunggu seorang perawat wanita yang akan membantu dia membelikan pembalut.
“Aku kehabisan pembalut.” Afifah melihat tasnya yang tergeletak di atas meja, ia tidak mau mengganggu Nathan yang sedang fokus bekerja.
“Apa kamu sudah bangun?” Nathan tersenyum dan berjalan mendekati Afifah.
“Ya, apakah tidak ada perawat wanita yang bisa membantuku?” tanya Afifah tersenyum malu.
“Aku adalah dokter dan perawat pribadi kamu, katakan apa yang kamu butuhkan akan aku lakukan.” Nathan menatap Afifah serius.
“Aku tidak mau merepotkan kamu dan aku juga malu.” Afifah tersenyum.
“Ayolah Afifah katakana!” Nathan mendekatkan wajahnya menggoda Afifah.
“Menjauh dariku!” Afifah memukul wajah Nathan dengan guling.
“Katakan!” Nathan mengambil guling dari tangan Afifah.
“Pembalutku habis.” Afifah menutupi wajahnya dengan selimut.
“Pembalut?” Nathan tersenyum dan menarik selimut Afifah.
“Minta perawat membelikan untuk diriku.” Afifah menatap Nathan.
“Aku akan meminta kepala pelayan membelikan untuk kamu.” Nathan mengambil ponselnya.
“Dimana kepala pelayan?” tanya Afifah.
“Di rumah.” Nathan tersenyum.
“Apakah rumah kamu dekat dari rimah sakit ini?” Afifiah menatap Nathan.
“Cukup jauh.” Nathan berpikir dan melihat senyuman di wajah Afifah.
“Ah, aku harus membeli di swalayan terdekat dari rumah sakit.” Nathan meletakakn ponselnya di samping Afifah.
“Tentu saja, aku membutuhkan segera.” Afifah tersenyum cantik.
“Berapa banyak?” Nathan tersenyum.
“Secukupnya saja satu atau dua bungkus.” Afifah tersenyum menggemaskan.
“Bolehkah aku mencium kamu?” Nathan tersenyum nakal.
“Pergilah!” Afifah menutupi wajahnya dengan selimut.
__ADS_1
Nathan berjalan keluar dari ruangan Afifah dan menguncinya, tidak seorangpun boleh masuk kecuali dirinya dan Asraf yang jarang-jarang datang atas permintaan Nathan karena ia cemburu dengan kedekatan dua bersaudara yang mungkin tidak ada hubungan darah.
Pria tampan dan gagah dengan kemeja berwarna putih berjalan menuju Swalayan yang berada di samping rumah sakit, ia masuk dan meminta pelayan toko untuk mengambilkan pembalut yang paling bagus dan mahal.
Nathan menyenderkan tubuhnya di tiang samping kasir, menunggu pelayan membawakan barang yang ia pesan. Beberapa pengunjung dan pelayan terpesona akan ketampanan pria yang diam tanpa memperdulikan orang yang memperhatikan dirinya.
“Tuan, ini adalah pembalut terbaik, anda mau berapa bungkus?” pelayan meletakkan pembalut di atas meja kasir.
“Semuanya.” Nathan mengeluarkan kartu berwarna hitam untuk melakukan pembayaran.
Para pelayan dan kasir saling pandang, pria di depan mereka adalah seorang yang tampan dan sangat kaya dengan gaya santainya dan cuek. Setelah melakukan pembayaran Nathan membawa belanjanya dan keluar dari Swalayan keluar kembali ke ruangan Afifah.
Ponsel Nathan yang teru bordering memaksakan Afifah untuk menerima panggilan dari Nayla yang telah marah, kesal, emosi dan sedih menjadi satu.”
“Assalamualaikum.” Afifah menerima panggilan dengan lembut.
“Siapa kamu? Dan dimana kakakku?” teriak Nayla di ponsel.
“Bisakah kamu menjawab salam terlebih dahulu.” Suara Afifah terdengar lembut.
“Aku tidak perlu menjawab salam kamu, katakan kepadaku dimana Nathan dan siapa kamu?” Nayla semakin kesal.
“Nathan sedang keluar dan aku adalah Afifah.” Afifah tetap tenang.
“Apakah kamu wanita murahan yang telah menggoda kakakku?” Nayla berteriak.
“Astafirullah, aku tidak menggoda kakakmu.” Suara Afifah terdengar tertekan.
“Kamu telah merebut kakakku dariku, apa yang kamu lakukan kepada Nathan?” tanya Nayla emosi.
“Aku tidak merebut kakak kamu dan aku tidak melakukan apapun.” Bentakan dan teriakan Nayla membuat kepala Afifah sakit, mengingatkan ia pada bentakan ayah dan ibunya ketika ia masih kecil.
“Tidak, aku tidak melakukan apapun.” Afifah memegang kepalanya.
Ponsel yang masih aktif tergeletak di pangkuan Afifah yang merasakan kepalanya semakin sakit, Nayla terus berteriak mencaci dan menghina Afifah.
“Afifah.” Nathan berlari kearah Afifah.
“Aku tidak melakukan apapun.” Afifah berteriak dan terus memegang kepalanya. Nathan melihat dan mendengar suara Nayla dari ponsel yang masih terhubung.
“Afifah tenanglah!” Nathan mematikan ponselnya dan memasukan ke saku.
“Aku tidak…” Afifah pingsan.
“Ya Tuhan, apa yang Nayla katakan.” Nathan mengambil jarum dan menyuntikkan pada Afifah.
“Afifah tidak bisa di bentak dan mendapatkan tekanan, ia memiliki trauma berlebihan.” Nathan mengusap kepala Afifah yang tertidur tidak sadarkan diri.
Nathan keluar dari ruangan Afifah dan menghubungi nomor ponsel Nayla, ia tampak emosi dan marah akan tindakan Nayla yang telah membuat Afifah sakit.
“Halo Nathan, kapan kamu akan mengunjungi diriku?” Suara Nayla terdengar manja.
“Apa yang kamu katakana kepada Afifah?” Nathan menahan emosinya.
“Oh, wanita murahan itu telah menahan dirimu, dimana kalian? Bermalam di hotel?” Nayla berteriak.
“Hentikan Nayla, wanita murahan adalah kamu yang masuk ke kamar seorang pria yang menyerahkan tubuhnya, itu sangat memalukan.” Nathan membentak Nayla.
“Nathan, kamu membentak diriku demi wanita yang baru kamu temukan.” Nayla terus meninggikan suaranya.
“Nayla, kamu sangat berlebihan membenci semua wanita baik tetapi kamu berteman dengan wanita murahan seperti Loly.” Nathan memutuskan panggilan, ia tidak mau lagi mendnegar teriakan Nayla yang menggila.
“Semua ini salahku yang terlalu memanjakan dirinya.” Nathan duduk di kursi tunggu dan menunduk memijit kepalanya, seorang wanita berdiri di depannya.
“Nathan.” Suara lembut dokter Nada mengejutkan Nathan.
“Hai, dokter Nada, apa yang kamu lakukan disini?” tanya Nathan.
“Aku bekerja disini.” Dokter Nada tersenyum dan duduk di samping Nathan.
“Ah ya benar.” Nathan tersenyum, senyuman tampan yang telah meluruhkan hati Dokter Nada.
“Siapa yang kamu tunggu?” tanya Dokter Nada.
“Kekasihku.” Nathan tersenyum.
“Kenapa tidak di pindahkan kerumah sakit dirimu?” Dokter Nada tersenyum tipis.
“Tidak apa, disini sama saja, saya permisi.” Nathan kembali ke ruangan Afifah meninggalkan Nada duduk sendirian di kursi tunggu.
“Ternyata kamu telah menemukan pengganti Nisa dan aku hanya bisa menjadi pengagum kamu saja.” Dokter Nada tersenyum dan beranjak dari kursi kembali keruangannya.
Nathan tidak pernah mau berlama-lama dengan sembarangan wanita, ia hanya mau bersama dengan wanita yang ia cintai. Perasaan rindu selalu hadir di dalam dirinya, senyuman dan keceriaan Afifah adalah kebahgian dirinya.
Melihat Afifah kesakitan membuat Nathan tidak tenang dan merasakan khawatir di dalam hatinya, pengobatan yang ia rencanakan akan gagal dengan adanya gangguan dan tekanan dari Nayla. Penyembuhan Afifah butuh ketenangan dan kenyamanan.
Nathan duduk di samping tempat tidur, ia memandang wajah yang kembali pucat karena menerima tekanan dari Nayla. Wanita yang selalu imut dan cantik itu tidur tenang pengaruh dari obat penenang yang Nathan suntikkan.
“Afifah, aku telah jatuh cinta kepada dirimu, aku tidak akan membiarkan kamu menderita.” Nathan mengusap pipi Afifah dengan lembut.
“Ah, aku harus menahan diri untuk tidak menyentuhnya.” Nathan pindah ke sofa dankembali bekerja.
***
Mohon dukungnnya berikan like, Komentar, bintang 5, Tips dan Vote. Terimakasih.
Baca juga Novel Author berjudul “Arsitek Cantik” dan "Mengejar Cinta Ariel" dan " Tabib Cantik Bulan Purnama"
Novel Kakakku “Nyanyian Takdir Aisyah dan Cinta Bersemi di Ujung Musim.” (Fitri Rahayu). Terimakasih.
__ADS_1
Semoga kita semua dalam keadaan sehat dan selalu mendapatkan perlindunganNya, Aamiin.