
Nathan mengikuti Afifah yang kembali ke kamar untuk mencari ponsel, kunci otomatis dinonaktifkan, Afifah membuka semua laci, ia benar-benar lelah dan tidak menemukan apapun hingga terduduk di tepi tempat tidur.
“Kamu mencari apa sayang?” Nathan duduk di dapan Afifah.
“Ponselku, dimana ponselku?” Afifah melihat Nathan.
“Apa kamu meninggalkan di desa?” Nathan tersenyum.
“Dengar, aku tidak tahu bagaimana aku bisa di rumah ini tetapi kamu pasti tahu semuanya, katakan kepadaku apa yang terjadi dan kenapa aku tidak ingat apapun?” Afifah memegang kepalanya.
“Apa yang harus aku katakan, ketika kau datang kamu pingsan di lapangan bola.” Nathan menatap Afifah dengan serius.
“Bisakah kita kembali ke desaku?” Afifah menatap Nathan penuh harap.
“Maaf sayang, aku tidak punya waktu untuk kembali ke desa kamu yang sangat jauh itu.” Nathan beranjak dari kursi yang ada di depan Afifah.
“Aku akan pulang sendiri, katakan sekarang kita dimana.” Afifah berjalan mendekati Nathan yang berdiri di depan jendela.
“Dengar Sayang, kamu sedang sakit jadi kamu tidka akan pergi kemanapun.” Nathan tersenyum.
“Aku tahu, aku telah sakit dari kecil dan itu tidak masalah untuk diriku, aku sangat asing dengan tempat ini dan dirimu.” Afifah berjalan keluar dari kamar dan berlari menuruni tangga.
“Afifah.” Nathan berteriak dan mengikuti Afifah yang terus berlari hingga halaman depan.
“Apa ini?” Afifah hanya melihat pagar tinggi dan halaman yang sangat luas, untuk sampai ke gerbang depan ia butuh kendaraan.
“Kamu mau kemana?” Nathan menarik tangan Afifah.
“Aku mau kembali ke desaku, aku adalah seorang guru dan perawat dan ingatanku tertinggal di sana.” Afifah menarik tangannya.
“Tapi kamu bisa mengingat diriku karena aku adalh kekasih kamu.” Nathan menatap tajam pada Afifah.
“Aku tidak punya kekasih, aku hanya punya seorang adik bernama Asraf.” Afifah membalas tatapan tajam Nathan.
“Apa kamu yakin dia adikmu?” Nathan tersenyum.
“Hanya dia yang ada di dalam ingatanku dan mengisi hariku sejak kecil.” Afifah menatap tajam pada Nathan.
“Mulai hari ini aku yang akan mengisi hari-hari kamu dan menghapus Asraf dari ingatan dirimu.” Nathan memegang tangan Afifah.
“Lepaskan!” Afifah menarik kasar tangannya dan berlari kearah gerbang.
“Afifah, kamu tidak akan pergi kamanapun karena aku tidak mau kehilangan wanita yang aku cintai.” Nathan mengejar Afifah dan menggengam erat tangannya.
“Lepaskan, ini bukan tempatku, aku tidak mau kehilangan ingatanku di desa dan aku tidak tertarik tinggal di kota.” Afifah berusaha melepaskan tangannya dari genggaman.
“Kamu membuat aku bingung, aku punya pekerjaan di desaku.” Afifah terduduk lemas di halaman dan memegang kepalanya.
“Maafkan aku, aku mohon kembalilah kerumah, jika ada waktu aku akan menemani dirimu ke desa dengan helicopter, bisakan kamu bersabar?” Suara Nathan terdengar lembut, ia menyesal telah menyakiti tangan Afifah.
“Kenapa kamu sangat suka mengotori pakaian kamu dengan duduk di sembarangan tempat?” Nathan tersenyum.
“Tinggalkan aku sendirian!” Afifah menunduk, ia sangat ingin mengingat hari terahkir sebelum terbangun dari pingsan dan berada di rumah pria yang sangat asing.
“Aku tidak akan pernah meninggalkan dirimu sendirian.” Nathan berjongkok di hadapan Afifah.
“Aku harus mengingat kejadian terakhir.” Afifah menatap Nathan dengan tatapan sedih.
“Bagaiman jika kita kerumah sakit?” Nathan tersenyum dan Afifah mengangguk.
“Kembali ke kamar dan anti pakaian kamu.” Nathan berdiri dan ingin membantu Afifah.
“Aku bisa sendiri.” Afifah beranjak dari halaman yang tertutup rumput.
Nathan memperhatikan Afifah dari belakang yang berjalan kembali ke Villa meninggalkan dirinya, ia segera mengeluarkan ponsel dan menghubungi rekan dokter sekaligus seorang psikiater menjelaskan tentang kondisi dan mengirimkan file catatan medis Afifah.
Roy memperhatikan Nathan dan Afifah dari atas kamarnya, ia berusaha menghindari wanita yang telah membuat jatuh cinta pada pandangan pertama, pria hanya butuh tiga detik untuk jatuh cinta tetapi tidak cukup tiga tahun untuk melupakannya. Apalagi wanita itu bahkan tidak pernah menyakiti perasaan seorang pria, kelembutan dan senyuman wanita meluruhkan kerasnya hati seorang lelaki.
Nathan mematikan ponselnya dan berjalan menuju kamar Roy, ia mau mendapatkan semua informasi masa kecil Afifah untuk meyakinkan dirinya bahwa Asraf benar-benar saudara Afifah karena Nathan merasa sangat cemburu.
“Roy, pergilah ke desa, selidiki tentang Afifah dari masa kecilnya!” Nathan menyenderkan tubuhnya di pintu kamar Roy.
“Baik Tuan.” Roy mengambil tasnya.
“Kamu bisa menggunakan helicopter.” Nathan menatap tajam kepada Roy.
“Aku akan menggunakan mobil balab saja.” Roy brjalan mendekati Nathan.
“Berhati-hatilah!” Nathan menepuk pundak Roy yang keluar melewati dirinya.
“Terimakasih.” Roy melihat sekilah kearah Nathan dan menuruni tangga berjalan menuju garasi mobil.
“Anda mau kemana?” Suara lembut Afifah mengejutkan Roy.
“Aw.” Roy yang sedang membuka pintu mobil membuat tanganya terjepit, ia melihat wanita cantik dengan wajah mungil sedang duduk di bagian depan mobil Sport merah tersenyum kepada dirinya.
“Apakah kamu terluka?” Afifah turun dari mobil dan mendekati Roy, ia melihat jari pria itu berdarah. Roy hanya diam membeku dana mnetaap wajah cantik yang begitu dekat dari dirinya.
“Pasti ada kotak obat di dalam mobil.” Affah membuka pintu mobil dan ia menemukan apa yang ia cari.
“Kemarilah.” Afifah menarik tangan Roy, membersihkan dan mengobati luka hingga jari telah terbungkus rapi dengan kain kasa.
“Ini akan baik-baik saja.” Afifah tersenyum kepada Roy yang terus menatap wajah cantik wanita yang ada di depannya.
“Apakah dia ingat namaku, ingin sekali aku bertanya.” Roy berbicara di dalam hatinya.
Nathan melihat kejadian yang sangat menyakitkan, membangkitkan jiwa cemburu seorang pria pada wanita yang ia cintai. Tatapan Roy dan pegangan tangan Afifah membakar hatinya. Ia berjalan cepat, menarik jas Roy memberikan pukulan yang sangat kuat pada perut dan wajah asistennya.
__ADS_1
Roy tidak melawan, ia terkungkur di taman merusak tanaman yang tertata rapi dengan bunga berwarna merah yang sedang bermekaran, batang dan daun patah berserakan.
“Apa yang kamu lakukan?” Afifah menatap tajam kepada Nathan yang tidak memperdulika Afifah, ia kembali menarik kerah baju Roy dan kembali memukul perut Roy.
“Hentikan!” Afifah berteriak mengejutkan Roy dan Nathan.
“Kamu pria jahat, menyakiti orang dan tumbuhan ini tanpa belas kasih.” Afifah menatap tajam kepada Nathan.
“Aku cemburu karena dia telah berani menatap dan memegang tangan kamu.” Nathan masih memegang kerah baju Roy yang terdiam pasrah, ia tidak ingin melawan Tuannya.
“Apa, aku mengobati lukanya, kamu kenapa kamu menyakiti dia dengan mudahnya dan lihat kamu telah merusak bunga yang indah ini.” Afifah menyentuh tanaman yang telah hancur karena Nathan.
“Apa dia bahkan mengkhawatirkan bunga itu?” Nathan dan Roy saling pandang dan melihat Afifah.
“Afifah itu hanya bunga.” Nathan melepaskan tangannya dari Roy dan berjalan mendekati Afifah.
“Bunga juga makhluk ciptaan Tuhan dan berhak untuk hidup.” Afifah menatap tajam pada Nathan.
“Aku akan meminta tukang kebun untuk memperbaiki taman ini, sekarang kita pergi menemui dokter.” Nathan tersenyum.
“Bagaimana dengan dirinya, kamu menyakiti seorang manusia dengan sangat kejam.” Afifah berjalan mendekati Roy, ia mau melihat luka pada wajah pria itu.
“Jangan mendekati pria lain!” Nathan menarik tangan Afifah.
“Kamu harus mengobati lukanya dan meminta maaf.” Afifah menarik tangannya.
“Aku akan minta maaf dan dia bisa pergi berobat.” Nathan berjalan mendekat pada Roy.
“Maafkan aku, pergilah berobat sebelum melaksanakan tugas yang aku berikan.” Nathan berjabat tangan dengan dan memeluknya.
“Baik Tuan.” Roy menunduk.
“Berusahalah untuk menghindari Afifah!” Nathan berbisik di telinga Roy.
“Apa kamu baik-baik saja?” Afifah melihat khawatir kepada Roy.
“Dia baik-baik saja sayang, masuklah kedalam mobil.” Nathan membuka pintu mobil untuk Afifah.
“Bisakah kamu tidak memanggilku sayang?” Afifih masuk kedalam mobil.
“Tidak bisa, karena kamu adalah kekasihku.” Nathan tersenyum, ia menutup pintu mobil.
Nathan mengitari mobil Sport miliknya dan melirik Roy sekilas, ia membuka pintu dan duduk di kursi pengemudi, menjalankan mobil meninggalkan garasi menuju rumah sakit miliknya.
Afifah melihat ke jendela memperhatikan jalanan yang mereka lewati, begitu asing dan sama sekali tidak ia kenali. Nathan melirik Afifah, ia teringat akan ucapan wanita itu yang mengatakan dirinya jahat, ia berpikir bagaimana jika Afifah tahu bahwa dirinya bahkan mampu membunuh manusia tanpa belas kasih.
Ketika Nathan merusak tanaman saja bisa membuat Afifah marah dan terlihat sedih, apalagi jika dia mengetahui pekerjaan Nathan yang bisa dengan mudahnya membongkar isi dari tubuh manusia.
“Afifah tidak boleh tahu bisnis yang aku jalani selain ahli kimia dan pengobatan.” Nathan berbicar di dalam hatinya.
Nathan keluar dari mobil dan membukakan pintu untuk Afifah, ia tersenyum tampan melihat wanita yang benar-benar ia cintai dengan rasa bahagia karena bisa bersama. Wanita yang dari tadi menunggu berjalan mendekati Nathan.
“Nathan.” Dokter Nada memperhatikan Afifah, ia tersenyum dan berpikir itu adalah gadis kecil yang sangat imut.
“Hai, Dokter Nada, ada perlu apa?” Nathan menutup pintu mobil.
“Assalamualaikum.” Afifah tersenyum cantik dan ramah.
“Waalaikumsalam.” Dokter Nada tersenyum.
“Gadis ini sangat cantik, dengan mata coklat dan bibir yang mungil.” Dokter Nada berbicara di dalam hatinya.
“Dokter Nada, apa anda menungu saya?” Nathan melirik Afifah.
“Iya, ada yang ingin saya bicarakan, apa kamu punya waktu?” Dokter Nada tersenyum cantik.
“Tentu saja, silahkan keruangan saya.” Nathan menarik tas Afifah agar mengikuti dirinya.
Mereka berjalan bersama menuju ruangan Nathan, Dokter Nada penasaran dengan gadis yang di bawa Nathan, ini pertama kalinya ia melihat pria itu membawa seorang wanita bersama dirinya.
“Sayang, tunggulah sebentar di ruangan ini.” Nathan mengantarkan Afifah di ruang kerjanya dan menemui Dokter Nada di ruang tamu.
Afifah merasa bosan tidak ada yang bisa dilakukan, ia bahkan tidak memiliki ponsel untuk mencari informasi tentang rumah sakit dan seberapa jauh dengan desa Sinjay. Beranjak dari kursi kerja Nathan dan keluar dari ruangan. Afifah berkeliling rumah sakit.
“Ini adalah rumah sakit swasta yang sangat mewah dengan peralatan yang sangat lengkap dan canggih.” Afifah terus berkeliling dan sampai pada sebuah taman dimana banyak pasien yang sedang duduk santai untuk menghirup udara segar.
“Luar biasa, bahkan disini ada taman yang sangat asri.” Afifah duduk di bawah pohon bugenvile, ia tersenyum melihat warna-warni indah bunga dan tertarik pada pasien yang terlihat sedih seorang diri.
Afifah berjalan mendekati wanita yang sedang duduk sendirian di kursi roda tepat di depan pintu kamar VIP dan telihat sedih memperhatikan ponselnya.
‘Selamat pagi nyonya.” Afifah tersenyum.
“Pagi.” Wanita yang dari tadi melamun tersenyum melihat gadis cantik di depannya.
“Apa anda mau jalan-jalam?” Afifah tersenyum ramah.
“Apa kamu seorang perawat atau dokter?” tanya wanita itu.
“Aku seorang perawat tapi sekarang aku tidak sedang bekerja.” Afifah mendorong kursi roda keluar dari koridor rumah sakit menuju taman bunga.
“Apakah kamu sudah menikah?” tanya wanita itu dan melihat wajah cantik Afifah.
“Belum, hanya saja ada seorang pria yang mengatakan bahwa dia adalah kekasihku hanya saja aku merasa asing dan tidak mengenak pria itu.” Afifah tersenyum.
“Bagaiamana mungkin kamu tidak mengenali kekasih kamu?” Wanita itu tersenyum.
“Entahlah, mungkin penyakitku samakin parah.” Afifah duduk di kursi kayu.
__ADS_1
“Kamu masih sangat muda dan cantik, siapa nama kamu?” Wanita paruh baya manyentuh pipi Afifah.
“Afifah.” Suara Afifah lembut dan tersenyum merasakan kehangatan tangan dari wanita itu.
Dua pria tampan dengan wajah yang sangat mirip tetapi gaya berpakaian yang berbeda berjalan santai melewati jalur khusus pasien VIP, memasuki kamar Bibi mereka yang sedang dalam masa perawatan pasca operasi. Kamar tampak sepi tidak ada siapapun.
“Dimana Bibi?” tanya pria tampan yang mengunakan kaca mata hitam dan kaos tanpa lengan dipadankan dengan celana jeans sobek.
“Mungkin ia jalan-jalan di taman.” Pria dengan kaca mata bening bepakaian rapi stelan jas seorang eksekutif muda keluar dari kamar dan memperhatikan sekeliling.
Ia melihat seorang wanita cantik dengan pakaian muslimah sedang tertawa bersama Bibi mereka yang terlihat akrab dan bahagia.
“Siapa wanita cantik itu?” Leon tersenyum.
“Wow, gadis kecil yang imut dan menggemaskan.” Leo menepuk pundak Leon.
“Aku lebih dulu melihatnya.” Leon tersenyum.
“Kamu memiliki Maria.” Leo tertawa.
“Aku mendekatinya hanya untuk mencari Dokter Nisa.” Leon tersenyum mengejek.
“Jangan sebut lagi namanya, itu sangat menyakitkan.” Leo berjalan mendekati Afifah dan Mamanya.
“Halo Bibi.” Leo memeluk Bibinya dari belakang dan melirik Afifah yang tersenyum cantik
“Halo sayang, kapan kamu pulang dan dimana Leon?” Bibi meyentuh pipi Leo.
“Aku disini Bibi dan siapa gadis kecil ini?” Leon tersenyum.
“Jika kamu tahu usiaku tidak akan berkata seperti itu.” Afifah tersenyum.
“Dia Afifah.” Bibi menyentuh tangan Afifah.
“Halo Afifah, aku Leon dan dia adikku Leo.” Leon mengulurkan tangannya.
“Kalian adalah saudara kembar yang sangat mirip.” Afifah berjabat tangan dengan Leon dan Leo terus memperhatikan Afifah dari balik kacamata hitamnya.
“Ah, aku pamit dulu, sepertinya aku telah lama berada di sini, sampai jumpa Bibi.” Afifiah berjalan menuju koridor, berdiri dan memperhatikan setiap ruangan rumah sakit, ia tidak tahu kemana ia harus kembali.
“Dari mana aku datang?” Afifah melangkah pelan dan memilih sembarangan jalan.
***
Dokter Nada duduk di sofa dengan elegan dan tersenyum melihat kedatangan Nathan tanpa wanita yang tadi bersama dengan dirinya. Seorang wanita mengantarkan teh dan kopi untuk mereka berdua.
“Ada apa Dokter Nada repot datang ke rumah sakit?” Nathan duduk di depan Dokter Nada.
“Aku membawa laporan tentang kesehtan Nisa.” Dokter Nada mengeliarkan berkas dari tasnya.
“Anda tidak perlu repot mengatarkan kemari, hanya perlu megirimkan file melalui ponsel itu lebih efektif dan efisien.” Nathan mengambil berkas dari tangan Dokter Nada.
‘Ah, anda benar kenapa aku tidak berpikir sampai kesana.” Dokter Nada tersenyum canggung, sebenarnya itu hanya alasan agar bisa bertemu dengan Nathan.
“Bagaimana anda tahu saya datang kerumah sakit hari ini?” Nathan meletakkan kembali berkas di atas meja.
“Aku menghubungi Roy, karena tidak memiliki nomor ponsel anda.” Dokter Nada tersenyum.
“Apakah ada hal yang lain?” Nathan melihat jam berwarna hitam di tangan kirinya, ia mulai gelisah memikirkan Afifah, cukup lama ia bersama Dokter Nada.
“Tidak ada, anda terlihat sibuk.” Dokter Nada tersenyum.
“Ya, jika tidak ada yang lain lagi saya permisi.” Nathan tersenyum dan berdiri.
“Baiklah, maaf merepotkan anda.” Dokter nada ikut berdiri dan melihat kepergian Nathan dengan rasa kecewa.
“Sepertinya Nathan tidak begitu memikirkan Nisa lagi.” Dokter Nada melihat berkas yang tergeletak di atas meja.
Nathan tergesa-gesa kembali ke ruang kerja, ia tidak melihat Afifah di sana, kekhawatiran mulai mengganggu pikirnnya.
“Dimana dia?” Nathan kebingungan dan mengambil ponselnya.
“Ah, ia bahkan tidak memiliki ponsel.” Nathan berlari ke ruangan pusat informasi khusus berisi computer yang merekam langsung semua kamera yang terpasang di setiap sudut rumah sakit, ia bisa melihat perjalan Afifah dan yang ia lakukan sepanjang hari.
“Siapa dua pria itu?” Nathan memperhatikan Afifah yang kebingungan mencari jalan meninggalkan taman.
"Afifah tidak boleh bertemu dengan banyak orang apalagi pria, kecantikannya akan menghipnotis semua orang." Nathan mengepalkan tangannya, ia bahkan cemburu melihat pria lain yang hanya berbicara dengan Afifah.
“Kemana dia pergi? Ia benar-benar tidak bisa mengingat jalanan yang ia lewati.” Nathan memperhatikan layar komputer.
"Kenapa dia berjalan ke arah yang salah, gudang belakang, tunggu dulu, ada banyak rahasia di sana." Nathan semakin khawatir.
Gudang adalah tempat penyimpanan organ tubuh yang telah diawetkan untuk dibuat bahan obat-obatan dan formula lainnya sesuai permintaan pelanggan.
"Afifah tidak boleh ke sana." Nathan segera memerintahkan beberapa orang kepercayaan yang ada di rumah sakit untuk mengunci dan menghentikan semua aktivitas di sekitar gudang.
Ia berlari keluar dari ruang informasi untuk menyusul Afifah agar tidak berjalan semakin jauh.
***
Mohon dukungnnya berikan like, Komentar, bintang 5, Tips dan Vote. Terimakasih.
Baca juga Novel Author berjudul “Arsitek Cantik” dan "Mengejar Cinta Ariel"
Novel Kakakku “Nyanyian Takdir Aisyah dan Cinta Bersemi di Ujung Musim.” (Fitri Rahayu). Terimakasih.
Semoga kita semua dalam keadaan sehat dan selalu mendapatkan perlindunganNya, Aamiin.
__ADS_1