Cinta Untuk Dokter Nisa

Cinta Untuk Dokter Nisa
Wanita


__ADS_3

Pangeran Fauzan, pria yang belum pernah menyatakan cinta dan jatuh cinta berbaring di Sofa kamarnya, ia terlihat lelah setelah merapikan beberapa berkas perusahaan yang bermasalah bersama Asraf.


“Tuan, anda butuh istirahat.” Asraf melihat Fauzan yang memejamkan matanya.


“Hanya ketika aku bersujud dan tidur itulah waktu istirahatku.” Fauzan tersenyum.


“Bagaimana kabar Afifah? Kamu terlihat sedih.” Fauzan menegakkan kembali tubuhnya.


“Aku tidak tahu, ia bersama Nathan.” Asraf menundukan kepalanya.


“Asraf, sebenarnya Nathan adalah pria yang berbahaya tetapi ketika jatuh cinta ia akan menjaga wanitanya dan tidak akan melepaskanya.” Fauzan menatap Asraf.


“Aku rasa ia telah jatuh cinta pada Afifah.” Asraf mematikan computer.


“Tentu saja, Afifah memiliki daya tarik tersendiri, aku sangat kangen dengan masakannya.” Fauzan tersenyum.


“Saya juga Tuan.” Asraf tersenyum.


“Kembalilah ke kamar kamu dan istirahat.” Fauzan beranjak dari sofa, ia membuka kemejanya, tubuh kekar begitu sempuna hanya tertutup kaos tanpa lengan.


“Baik Tuan, assalammualaikum.” Asraf meninggalkan kamar Fauzan.


“Waalaikumsalam.” Pria tampan itu langsung mengunci pintu kamar.


Fauzan mengambil berkas yang sama yang telah diberikan pada Stevent, Asraf telah menemukan solusi untuk menyelesaikan masalah perusahaan di kantor cabang, Fauzan dan Asraf telah meninjau langsung ke lokasi dengan penyamaran.


“Asraf luar biasa, ia dengan mudah menyelesaikan semua masalah yang terjadi di perusahaan, ia bisa bersikap tenang, padahal usianya masih sangat muda tetapi terlihat dewasa.” Fauzan tesenyum.


“Kantor ini akan jadi percobaan seorang gadis kecil, kasihan.” Fauzan tersenyum.


Pria itu berjalan menuju kamar mandi untuk membersikan diri dan beristirahat, ia melihat layar ponselnya memandang foto Ayesha yang tersenyum kepada dirinya dan foto mereka berdua ketika melakukan perjalanan keliling dunia.


“Aku merindukan dirimu.” Fauzan merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur, ia berselancar di dunia maya dan menghubungi seseorang yang ia kirim untuk menyelidiki Nathan.


“Aku tidak akan membiarkan dirimu menyakiti wanita yang tidak bersalah.” Fauzan menatap tajam pada dirinya dari pantulan cermin.


Fauzan telah mendapatkan laporan semua kejadian hari dimana mereka melakukan penerbangan dengan helicopter dan hari itulah Nathan menculik Afifah. Pria cerdas yang selalu melakukan segala cara untuk mendapatkan semua yang ia inginkan.


“Kamu memanfaatkan penyakit Afifah untuk mendapatkan dirinya dan itu adalah cara yang licik.” Fauzan mematikan ponselnya setelah selesai berbicara dengan mata-matanya.


“Kamu pria yang kejam tidak pantas bersama dengan wanita baik seperti Afifah.” Fauzan memejamkan matanya.


***


Viona duduk bersama dengan Jhonny di ruangan kerja, ia memperhatikan wajah datar tanpa ekpresi pria di depannya, walaupun sudah menikah wajah Jhonny tetap sama dan pastinya gila kerja.


“Jhonny, kemana kakak ku?” Viona mulai gelisah.


“Apa kamu sudah mengantuk?” tanya Jhonny tanpa melihat Viona.


“Belum.” Viona melihat berkas di atas meja.


“Tunggulah, mungkin Tuan Stevent sedang menidurkan anak dan istrinya.” Jhonny membuka layar computer.


“Apa kamu tidak menemani Dokter Aisyah?” Viona tersenyum.


“Dia sudah tidur.” Jhonny melirik Viona.


“Ooo.” Viona beranjak dari kursi berjalan ke dapur mencari buah-buahan untuk ia makan.


Stevent dan Nisa keluar dari kamar Azzam dan Azzura, Pria itu menarik tangan istrinya masuk ke kamar mereka dan mencium lembut bibir Nisa.


“Sayang, kamu mau berbicara dengan Viona di ruang kerja.” Nisa tersenyum.


“Sebentar saja.” Stevent menggendong tubuh Nisa dan membaringkan di atas tempat tidur, ia mencium bibir dan menyentuh bagian sensitive istrinya.


“Aku selalu merasa rindu dengan dirimu.” Stevent menghirup aroma rambut dan tubuh Nisa.


“Sayang, pergilah, aku akan menunggu dirimu.” Nisa tersenyum dan mencubit hidung Stevent.


“Ah, baiklah.” Stevent mencium bibir Nisa dan keluar dari kamar.


"Tunggu diriku." Stevent tersenyum.


Pria itu masih menggunakan kemeja dengan lengan digulung hingga siku dan beberapa kancing terbuka, ia berjalan menuju ruang kerja melihat Viona sedang mempelajari berkas dan Jhonny fokus dengan layar computer.


“Apa kamu sudah menjelaskan kepada Viona?” tanya Stevent duduk di depan Viona.


“Belum Tuan, saya menunggu Anda.” Jhonny melihat kearah Stevent.


“Apa yang kamu temukan di berkas itu?” Stevent menatap Viona.


“Perusahaan cabang yang sedang mengalami masalah keuangan dan hampir berhenti beroperasi karena tidak ada pemasukan dari kantor pusat.” Viona melihat Stevent sekilas.


“Bagus, aku mau kamu menyelesaikan maslah itu.” Stevent menyenderkan tubuhnya di dinding sofa dan menyilangkan kaki.


“Apa? Ini terlalu berat.” Viona meletakkan berkas.


“Benarkah?” Stevent tersenyum.


“Ya, kantor ini sudah memecat beberapa karyawannya dan masih belum membayar pesangon.” Viona menatap Stevent.


“Ini adalah tantangan dari Fauzan.” Stevent mengambil berkas dan membukanya.


“Maksud kakak?” Viona bingung.


“Kamu harus menyelesaikan masalah kantor cabang dan harus memperkerjakan kembali karyawan yang telah dipecat.” Stevent tersenyum.


“Apakah itu pemintaan Pangeran Fauzan?” Viona mengmabil berkas dari tangan Stevent.

__ADS_1


“Ya.” Stevent tersenyum melihat Viona yang tertantang untuk menyelesaikan tugasnya.


“Berapa waktu yang Tuan Fauzan berikan untuk diriku?” Viona menatap Stevent serius.


“Dia hanya berkata, secepatnya.” Stevent beranjak dari sofa dan akan kembali ke kamar.


“Pelajari berkas itu dan kamu harus berhasil, jika gagal, nama kamu bukan Viona Alexander.” Stevent menatap tajam kepada Viona.


“Jhonny, istirahatlah!” Pria itu keluar dari ruangan kerja.


“Baik Tuan.” Jhonny melirik Viona yang terlihat serius membaca berkas.


“Nona, pergilah tidur dan mulai bekerja besok pagi.” Jhonny meninggalkan Viona.


“Benar, aku harus tidur nyenyak dan memulainya besok.” Viona bersemangat.


***


Stevent membuka pintu kamarnya dan melihat Nisa telah menggunakan pakaian tidur yang cantik, rambut yang tergerai panjang hingga sampai pinggang tersenyum kepada dirinya.


“Ah, kamu semakin cantik dan seksi sayang, rasanya sudah lama tidak melihat dirimu yang begitu mengggoga.” Stevent memeluk tubuh Nisa dan mencium leher yang terbuka.


“Apakah sudah selesai meeting bersama Jhonny dan Viona?” Tangan lembut Nisa menyentuh bibir Stevent.


“Yah, dia terlihat lebih bersemangat untuk menjadi pembisnis hebat.” Stevent memakan bibir seksi dan Nisa.


“Tentu saja sayang , darah bisnis telah mengalir didirinya.” Nisa merasa geli dengan tangan Stevent yang mulai bergeriliya menyentuh setiap sudut tubuhnya yang sensitive.


“Bagaimana dengan Azzam dan Azzura, siapa yang akan jadi pembisnis dan jadi Dokter?” Stevent tersenyum membayangkan Azzam akan menjadi pria paling tampan dan dingin.


“Mereka bisa menentukan pilihan sendiri, kita hanya akan mengarahkan pada jalan yang benar dalam aturan Agama yang terpenting putra dan putri kita menjadi anak yang sholeh dan sholeha, itu adalah jaminan keberhasilan kita sebagai orang tua.” Nisa tersenyum.


“Ya.” Stevent menggendong Nisa ke tempat tidur.


“Sayang, sebelum bercinta ada yang harus kita lakukan, apa kamu lupa?” Nisa melingkatkan tangannnya di leher Stevent.


“Aku ingat, membersihkan diri dan sholat.” Stevent tersenyum.


“Hmm.” Nisa mengangguk.


Sepasang suami yang telah lama berpuasa untuk tidak bercinta berjalan bersama menuju kamar mandi untuk mensucikan diri dan melaksanakan sholat sunnah dua rakaan sebelum menikmati indahnya dunia pernikahan di atas tempat tidur yang empuk dalam ibadah bersama.


Lampu remang-remang dengan romantis di dalam kamar yang sunyi, udara dingin dari pengatur ruangan menemani desahan kenikmatan bagaikan malam pertama pengantin baru, gerakan lembut perjalanan bibir dan lidah yang menari di atas tubuh cantik dan seksi seorang istri.


Pria itu sungguh perkasa, tubuh seksi dengan kotak-kotak menggoda di bagian perutnya, tangan kekar bermain dengan sentuhan memperlakukan istrinya dengan lembut. Stevent tidak melepaskan Nisa begitu saja, ia tidak bermain dengan cepat menikmati setiap desahan dan erangan istrinya.


Sekian lama ia menahan gejolak dan hasrat setiap melihat istrinya, malam ini ia tumpakan dalam kepuasan dan kenikmatan yang tidak akan pernah terlupakan dan akan terus ia ulangi setiap ada kesempatan bersama wanita yang paling ia cintai.


Senyuman tampan dari wajah pria yang kini berada di atas tubuh wanita cantik setelah merasakan gejolak dan getaran bercinta.


“Terimakasih sayang.” Stevent pindah ke samping dan memeluk istrinya dari balik selimut lembut.


“Hm.” Nisa memejamkan mata sebentar sebelum mereka membersihkan diri bersama.


***


“Apa aku terlambat.” Viona duduk di samping Nisa.


“Tidak sayang, makanlah yang banyak agar kamu fokus belajar dan bekerja.” Nisa tersenyum dan menyendokkan Nasi di piring Viona. Stevent melirik Nisa.


“Aku bisa sendiri kak.” Viona menahan tangan Nisa.


"Tidak apa.” Nisa tersenyum.


Mereka sarapan bersama hingga selesai tanpa ada yang berbicara, sebelum berangkat bekerja Stevent memanggil Viona di ruang tengah untuk berbicara sebentar.


“Viona, apa kamu akan pergi ke kampus?” tanya Stevent mendekati Azzam dan Azzura yang berbaring di keranjang mereka.


“Ya.” Viona tersenyum, ia juga mau mencium keponakannya.


“PIlih mobil yang mau kamu pakai kecuali mobil Nisa.” Stevent mencium putra dan putrinya secara bergantian.


“Benarkah, apa boleh?” tanya Viona menyakinkan dirinya.


“Kamu harus menjadi wanita mandiri dan tidak manja lagi, ingat Papa dan Mama tidak bersama dengan dirimu untuk setiap waktu begitu juga dengan diriku.” Stevent menatap tajam pada Viona.


“Terimakasih kak.” Viona memeluk Stevent.


“Hm.” Stevent melirik Nisa yang tersenyum.


“Tidak bisakah dia marah ketika orang lain memelukku.” Stevent berguman.


“Dia adikmu.” Nisa mengusap kepala Viona.


“Terimaksih kak Nisa.” Viona memeluk Nisa.


“Pergilah, kamu akan tetap diikuti beberapa pengawal tidak terlihat.” Stevent membuka tangan Viona dari tubuh Nisa.


“Aku belum mencium keponakan ku yang tampan dan cantik.” Viona mendekati Azzam dan Azzura.


"Aku berangkat.” Viona berlari penuh semangat karena ia akan mengendarai mobil sendiri.


“Jangan lupa berdoa.” Nisa tersenyum.


“Ya.” Viona terus berlari.


“Sayang, bisakah kita berbicara sebentar.” Nisa menarik tangan Stevent.


“Ada apa, kamu terlihat serius.” Stevent menyentuh dagu lancip Nisa.

__ADS_1


“Kemarilah.” Mereka duduk bersama di sofa.


“Aku telah mendapatkan panggilan kembali bekerja.” Nisa menatap Stevent sedikit khawatir.


“Apa kamu mau meninggalkan Azzam dan Azzura bersama pengasuh?” Stevent menatap tajam pada Nisa.


“Aku mau meminta dirimu membuat keputusan untuk ku.” Nisa tersenyum dan menyentuh lembut pipi Stevent.


“Keputusan?” Stevent menatap Nisa.


“Ya, aku akan memnuruti keputusan kamu, bekerja di rumah sakit atau aku akan menjadi ibu rumah tangga saja.” Nisa tersenyum.


“Apa kamu tidak akan marah?” Stevent menyetuh lembut pipi Nisa.


“Tidak sayang, kamu adalah suamiku dan aku adalah istrimu.” Nisa tersenyum lembut.


“Aku akan memikirkannya.” Stevent tersenyum dan mencium dahi Nisa.


“Terimakasih sayang.” Nisa memeluk Stevent.


“Aku berangkat kerja.” Stevent mengecup bibir Nisa dan berjalan menuju garasi mobil.


***


Kamar Jhonny


“Sayang, berhati-hatilah ketika bertemu dengan klien wanita.” Aisyah memasang dasi Jhonny.


“Apa kamu masih marah?” Jhonny menatap Aisyah.


“Dengar Jhonnyku sayang, jika sampai kamu menyentuh wanita lain, aku tidak akan pernah memaafkan dirimu.” Aisyah mencium bibir Jhonny.


“Aku tidak perduli itu jebakan atau bukan, aku berjanji akan menghilang dari kehidupan dirimu.” Aisyah menatap tajam pada Jhonny.


“Jika kamu meninggalkan diriku, aku akan hancur.” Jhonny menarik Aisyah dan mencium bibi istrinya dengan kuat.


“Ketika wanita dikhianati kehancuran seorang pria adalah balas dendam yang indah.” Aisyah tersenyum.


“Aku akan pulang ke rumah kita.” Aisyah menyerahkan tas Jhonny.


“Apa kamu tidak betah disini?” Jhonny menatap Aisyah.


“Bukan, aku akan membuat formula penetral semua jenis racun.” Aisyah tersenyum.


“Agar kamu dan Stevent bisa memakainya dengan aman.” Aisyah melikarkan tangannya di leher Jhonny. Ponsel Jhonny berdering, panggilan dari Stevent yang telah emosi menunggu lama di garasi mobil.


“Halo Tuan.” Jhonny menjawab panggilan.


“Apa kamu sedang bercinta di kamar?” Stevent berteriak.


“Tidak Tuan, saya sedang diancam Aisyah, saya segera turun.” Jhonny keluar melewati Aisyah tanpa pamit.


“Sepertinya dia lebih mencintai Stevent daripada diriku.” Aisyah tersenyum dan memijit batang hidungnya.


“Aku berangkat.” Jhonny kembali dan mengecup bibir Aisyah, ia kembali berjalan cepat menuruni tangga.


“Ah, untunglah ia tidak lupa sudah punya istri.” Aisyah tersenyum melihat kepergian Jhonny yang terburu-buru.


Jhonny berjalan mendekati Stevent yang menatap dirinya dengan tatapan pembunuh, aura dingin menyelimuti garasi mobil.


“Apakah kamu tidak bercinta semalam?” tanya Stevent.


“Sudah Tuan, tetapi pagi ini Aisyah marah.” Jhonny menunduk.


Stevent tersenyum, ia selalu senang menggoda Jhonny yang akan menjawab semua pertanyaanya dengan jujur. Jiwa keingintahuan pria itu sangat besar, baginya Jhonny adalah asisten yang luar biasa bekerja hebat dan menjadi penghiburnya.


“Baiklah, kita ke kantor satu mobil.” Stevent masuk ke mobil Jhonny dan duduk di kursi penumpang. Ia tidak sabar mau mendengarkan cerita pria itu.


“Katakan apa yang membuat Dokter Aisyah marah? Apa kamu berbuat salah?” Stevent memulai aksinya.


“Saya hampir melakukan kesalahan Tuan.” Pandangan Jhonny fokus ke depan.


“Hampir, apa itu?” Stevent penasaran.


“Wanita yang mengantarkan formula telah memberikan saya obat perangsang.” Jhonny mulai bercerita tanpa melihat Stevent.


"Apa, ah kamu benar-benar jadi pria penggoda." Stevent tersenyum.


"Tidak Tuan." Jhonny melirik Stevent.


Jhonny benar-benar pria yang jujur, ia mengatakan semuanya kepada Stevent hingga mereka bercinta di kamar hotel dengan gansanya akibat dari obat perangsang.


Stevent tertawa terbahak-bahak hingga air mata mengalir membasahi wajahnya, ia merasa Jhonny begitu lucu dan polos bila berurusan dengan wanita, pria itu terus berusaha tidak menyakiti wanita.


“Jhonny, wanita lebih kejam daripada pria, bibir mereka mengandung madu dan racun sekaligus.” Stevent memijit kepalanya.


“Jadi fokuslah pada satu wanita saja yang boleh mendapatkan kelembutan dirimu selain dari itu hancurkan dan jangan berikan kesempatan mereka untuk mendekat, karena jika telah terjerat kamu akan sulit untuk melepaskan diri.” Stevent turun dari mobil ketika mobil telah berhenti di tempat parkir perusahaan.


“Baik Tuan, saya akan melakukan perintah anda.” Jhonny mengikuti langkah cepat Stevent memasuki perusahaan.


Memiliki bos dan asisten yang tampan adalah kebahgian tersendiri bagi karyawan perusahaan, walaupun mereka tidak bisa menyentuh dua pria yang telah beristri itu, tetapi bisa melihat pria tampanadalah vitamin untuk mata kaum hawa.


***


Mohon dukungnnya berikan like, Komentar, bintang 5, Tips, Vote serta bantuan promosikan, jika suka . Terimakasih.


Love You so much, Muuach.


Baca juga Novel Author berjudul “Arsitek Cantik” dan "Mengejar Cinta Ariel" dan " Tabib Cantik Bulan Purnama"

__ADS_1


Novel Kakakku “Nyanyian Takdir Aisyah dan Cinta Bersemi di Ujung Musim.” (Fitri Rahayu). Terimakasih.


Semoga kita semua dalam keadaan sehat dan selalu mendapatkan perlindunganNya, Aamiin.


__ADS_2