
Pagi sekali, setelah sholat Subuh Nisa mengendarai mobil BMW putih miliknya, membelah jalanan kota yang masih tampak sepi, Nisa membawa pakaian kotor miliki dirinya, Umi dan Abi, pulang ke rumah untuk di cuci dan mengambil beberapa pakaian bersih untuk mereka.
Nisa telah menghubungi rekan dokter yang akan melakukan operasi pada Abinya, dokter spesialis tulang dan dokter bedah lainnya. karena Nisa tidak punya jadwal operasi untuk hari ini, ia tidak mau mengganggu jadwal yang telah di buat oleh pihak rumah sakit, kecuali mereka butuh bantuan atau sesuatu yang terdesak dan harus segera di tangani.
Nisa memasukkan semua pakaian kotor ke dalam mesin cuci, kecuali jaket putih yang harus ia rendam dan di pisahkan. Ia segera menuju dapur membuat sarapan untuk dirinya sendiri.
Nisa menikmati sarapannya sendirian, merapikan meja dan membersihkan peralatan makan, Ia juga harus menyelesaikan cuciannya. Terdengar suara dering panggilan dari ponsel Nisa, nomor baru.
"Assalamualaikum" suara lembut Nisa menjawab panggilan.
"Waalaikumsalam, apa kabar Nisa, Abi dan Umi? tanya seorang berada di seberang telepon, suara pria begitu lembut dan sangat familiar, Nisa berpikir dan berusaha mengingat.
" Kak Kenzo" ucap Nisa tersenyum, seorang pria yang dianggap Nisa sebagai kakaknya yang dulu tinggal di pesantren, kini ia sudah sukses tinggal di Kairo Mesir.
" kamu masih mengenali suaraku" Kenzo sangat bahagia, pria dewasa yang selalu bersama Nisa ketika masih kecil.
"Tentu saja, kakak apa kabar? Umi dan Abi di rawat di rumah Sakit, mereka kecelakaan" Jelas Nisa panjang lebar.
"Kakak baik, kirimkan alamatnya, kakak akan segera kesana." ucap Kenzo.
"Kakak di mana?" tanya Nisa.
"Di Bandara, sampai ketemu di rumah Sakit, Assalamualaikum" Kenzo mematikan ponselnya, Ia tak sabar untuk segera menuju rumah sakit untuk bertemu Abi dan Umi, dan tentu saja bertemu dengan perempuan manis cantik yang sangat dirindukan, Annisa Salsabila.
Setelah menyelesaikan semua pekerjaan di rumah, Nisa segera mengganti pakaiannya, sholat Dhuha 2 rakaat dan bersiap berangkat ke rumah sakit.
Nisa mengendarai mobil keluar dari perkarangan rumah, dan melaju dengan kecepatan sedang, Nisa menghentikan mobilnya di tempat parkir sebuah minimarket, untuk membeli beberapa keperluan.
Sebuah mobil sport hitam berada tepat di belakang mobil Nisa, seorang pria dengan tatapan tajam melihat seorang wanita berjilbab keluar dari mobil BMW putih di depannya dengan senyuman mengerikan.
Nisa keluar dari minimarket membawa barang belanjaan, ia terkejut, ke empat ban mobilnya kempes.
"Astagfirullah ya Allah" Nisa meletakkan belanjaan di dalam mobil, ia berjongkok melihat ban mobilnya. Nisa melihat sekeliling.
"Luar biasa, seseorang sedang bermain dengannya" pikir Nisa berjalan ke pinggir jalan mencari taxi, ia menelpon bengkel mobil langganan untuk segera memompa ban mobilnya, karena ban itu buka bocor melainkan di kempes kan, Nisa heran kenapa jalanan mendadak sepi.
"Mungkin terjadi kemacetan atau kecelakaan" pikir Nisa ia berjalan menelusuri trotoar berharap ada kendaraan umum. Ia menahan kendaraan yang lewat tapi tidak ada yang berhenti.
"Aku tidak pernah seperti ini, biasa semua datang membantu ku" Nisa tersenyum memikirkan hari yang luar biasa. Nisa menghubungi Umi dan memberitahukan ia akan terlambat.
Nisa duduk di halte bus menggoyang-goyang kakinya yang tergantung di kursi. Ia menyeruput jus buah dalam kemasan kotak. Sebuah mobil sport hitam berhenti tepat di depan Nisa.
Seorang pria mengerikan di mata Nisa namun mempesona dan menggoda Dimata wanita lain, keluar dari mobilnya nya.
"Oh tidak, bahaya mendekat " Nisa turun perlahan dari bangku Halte dan akan melarikan diri.
Upss terlambat, Pria gagah dan sangat tampan berkacamata hitam telah berdiri tersenyum aneh kepada Nisa.
"Kamu mau kemana Dokter Nisa?" Stevent melepaskan kacamatanya menatap tajam Nisa.
__ADS_1
"Tuan Stevent, apakah luka anda sudah sembuh?" Nisa berpikir jika sudah sembuh ia tidak segan lagi untuk memukul pria itu jika dia mendekat.
"Tentu saja, ini berkat kamu" Stevent mendekat.
"Saya ingin berterimakasih kepada kamu" lanjut Stevent lagi.
"Ah tidak perlu Tuan, saya biasa melakukan itu" Nisa mundur.
"Benarkah, ada berapa banyak pria yang telah kamu selamatkan dan ada berapa banyak pria menyatakan cinta kepada mu?" Stevent mendekatkan wajahnya kepada Nisa memberi tekanan.
"Aku tidak menghitungnya, bisakah anda duduk di samping saya?" Nisa telah duduk kembali di kursi Halte.
"Tentu saja" Stevent duduk.
"Baiklah, jika anda mau berterima kasih kepada saya, bolehkah saya meminta satu permintaan?" tanya Nisa.
"Katakanlah" Stevent tersenyum.
"Anda harus berjanji akan menepati" Stevent mengangguk.
"Saya mohon anda tidak menemui saya lagi" Nisa berucap tegas, namun kalimatnya membuat berang seorang di depannya.
Stevent beranjak dari duduk mencengkram kedua tangan Nisa, dan mengunci kaki Nisa. Stevent tahu Nisa bisa beladiri, sebelum Nisa melakukan perlawanan, Stevent telah mengunci tubuh Nisa.
"Kamu pikir bisa menolakku?" tegas Stevent dekat dengan wajah Nisa yang tak sadar telah memelototi Stevent, namun itu membuat mata Nisa terlihat Indah.
"Dengar Tuan, saya telah menolak semua pasien saya, dan mereka bisa menerima itu" suara Nisa lembut agar tidak memancing emosi orang yang berada di depannya.
Sebuah mobil sport mewah berwarna merah menabrak mobil Stevent, hingga membuat Stevent melepaskan tangannya, ia menoleh, seorang pria Tampan keluar dari mobil, mendekat dan mendaratkan pukulan di wajah Stevent.
Stevent yang tanpa persiapan tidak sempat menghindar. Nisa mau menjauh dari Stevent dan Nathan, ia baru saja akan beranjak dari Halte tapi tangannya kembali di cekram Stevent.
"Lepaskan tanganku" Nisa berusaha melepaskan pegangan Stevent.
"Lepaskan tangan kekasihmu" bentak Nathan dengan mata yang sudah memerah, dia saja belum pernah menyentuh tangan Nisa.
"hahaha" Stevent tertawa.
"Dia milikku," tegas Stevent.
Nisa melihat Stevent sedikit lengah ia memutar tangannya dan menendang perut Stevent, Nisa berlari menuju mobil Nathan, Sebelum menyusul Nisa, Nathan memberikan pukulan tambahan di perut Stevent.
"aagghhhh" sakit dan marah bercampur jadi satu.
Stevent masuk ke mobil, Ia melaju mobil dengan kecepatan tinggi, menuju rumahnya
Mobil Nathan telah melaju dengan kencang menuju rumah sakit. Ia melihat ke arah Nisa yang sedang mengusap tangannya terlihat merah. Sesampai di parkiran, Nathan menghentikan mobilnya.
"Terimakasih." Nisa tersenyum.
__ADS_1
"Nisa tunggu" Nathan menarik tangan Nisa dan melepaskannya.
"Kita bicara di kantin, tidak baik berdua di dalam mobil" Nisa tersenyum, membuka pintu dan berjalan menuju kursi paling dekat dengan pintu diikuti Nathan, Setelah duduk, Nisa mengirim pesan singkat kepada Umi, mengatakan ia di Kantin rumah sakit.
"Bagaimana kamu bisa berurusan dengan Stevent?" tanya Nathan pura-pura tidak tahu bahwa Nisa yang telah menyelamatkan Stevent.
"Dia pernah menjadi Pasien ku" jelas Nisa, pasti semua orang mengenal Stevent hanya Nisa saja yang tidak perduli dan menganggap semua orang sama.
"Kenapa dia menemui mu dan mengatakan kamu miliknya" tanya Nathan.
"Aku tidak tahu, ini pertama kalinya aku bertemu dengan seorang pemaksa" Nisa bergidik.
"Kamu harus menghindari dia" Nathan khawatir.
"Aku sudah melakukannya" Nisa menjelaskan semua yang dilakukan Stevent terhadapnya
Nathan dapat menyimpulkan Stevent telah Jatuh cinta kepada Nisa.
"Siapa yang tidak akan jatuh cinta kepada Nisa?" pikir Nathan dalam hati.
Seorang Stevent saja akan dibuat bertekuk lutut di hadapan Nisa.
Seorang pria datang, menghampiri meja Nisa dan Nathan, Ia tidak kesulitan mencari Nisa karena Nisa duduk di kursi dekat pintu masuk.
"Assalamualaikum Nisa" salamnya.
"Waalaikumsalam, kak Kenzo" Nisa beranjak dari kursi tersenyum bahagia kepada pria di hadapannya. Nathan meneliti pria yang ada di sampingnya uang membuat Nisa tersenyum bahagia.
"Siapa pria ini, apakah dia kekasih Nisa?" pikir Nathan dalam diamnya.
"Nathan, kenalkan kak Kenzo, kakak ku di pesantren" Nathan dan Kenzo bersalaman.
" Silakan duduk" ucap Nathan.
" Semoga pria ini benar-benar hanya kakak nya dan tidak lebih" bisik Nathan dalam hati
Mereka bertiga mengobrol sebentar, Nisa harus segera menemani Umi dan Abi bersama dengan Kenzo, ia pamit dan mengucapkan terimakasih kepada Nathan.
Nisa dan Kenzo berjalan bersama, tertawa dan bercanda, mereka tampak sangat bahagia.
Seorang pria menatap penuh kemarahan dari dalam mobil. Cemburu membakar hatinya, ia harus membuka kancing kemeja dan melepaskan dasi, Pendingin dalam mobil , terasa tak bekerja , Gerah.
Ia mengepalkan tangannya melihat Nisa berjalan dengan seorang pria lain yang tidak ia kenal.
"Apa aku harus menculik dirimu, dan mengurungmu dalam kastil ku di tengah hutan" senyum licik muncul di sudut bibir Stevent, bekas luka pukulan Nathan terasa sedikit perih.
Stevent menyentuh bibirnya, bibir yang kembali tertarik miring, membuat senyuman mengerikan.
"Kamu harus mengobati lukaku" Stevent membasahi bibirnya dengan lidah, menjilati sudut bibir yang terluka.
__ADS_1
🤗 Thanks for reading 🤗
♥️ love you readers 💓