
Nisa berjalan bersama 2 orang perawat menuju ruang VIP, pasien rawat pasca operasi, Stevent Lu Alexander.
Perawat wanita mengetuk dan membuka pintu ruangan Stevent, 2 orang pasien berjalan mendekati Stevent, memeriksa cairan impuls, melihat balutan bekas operasi, Stevent melihat 2 orang perawat, yang sibuk memeriksa diri, merasa di perhatikan bos besar 2 orang perawat merasa gugup. Seorang Dokter muda berjilbab berjalan mendekati Stevent.
"Selamat Pagi Tuan Stevent, bagaimana keadaan anda hari ini?" sapa Nisa tersenyum ramah, Stevent menatap tajam ke arah Nisa, Ia menarik tangan Nisa hingga membuat dua orang perawat dan Nisa terkejut.
Wajah Nisa dan Stevent sangat dekat, Nisa menarik tangannya dan mundur dengan cepat hingga tubuh Stevent hampir terhempas dan mengerang sakit.
"Anda luar biasa, pulih dengan cepat" Nisa tersenyum dan meninggalkan ruangan.
"Catat perkembangan pasien, antar laporan ke ruangan saya" perintah Nisa kepada dua orang perawat sebelum keluar ruangan.
"Baik, Dok" jawab perawat bersama.
Stevent menatap kepergian Nisa dan tinggal dua orang perawat yang melakukan pemeriksaan dan menanyakan keadaan Stevent.
"Siapa wanita itu?" tanya Stevent kepada salah satu seorang perawat laki-laki yang sedang membuka kain kasa pada dada Stevent.
"Dokter Nisa Tuan, Dokter yang telah menyelamatkan Anda Tuan" jawab Roni pelan.
Stevent mengingat wanita berkerudung yang berusaha menarik tubuhnya dari dalam mobil yang hampir meledak, dan yang dia lihat saat itu adalah Malaikat bersayap putih sangat cantik.
"Dia seorang dokter?" tanya Stevent lagi
"Ia Tuan, ia adalah Dokter paling muda dan terbaik di rumah Sakit ini" jawab perawat yang terus menatap Stevent.
"Siapa yang mengeluarkan peluru dari dada ku?" Stevent terus bertanya.
"Dokter Nisa Tuan" Roni telah selesai mengganti kain kasa pada dada Stevent.
Mereka berdua pamit keluar setelah selesai melakukan perawatan dan pemeriksaan.
"Kenapa bukan dia yang merawat ku?" tanya Stevent lagi ketika dua perawat akan keluar.
"Maaf Tuan, mungkin karena Anda bersikap kasar kepadanya" kedua perawat menutup pintu ruangan Stevent.
"Aku sangat takut merawat Tuan Stevent, padahal dia sangat tampan" ucap perawat wanita.
"Coba kamu pikirkan kenapa ia menarik tangan dokter Nisa dengan paksa?" tanya Roni.
"Mungkin ia juga terpesona dengan kecantikan Dokter Nisa" jawab perawat wanita tersenyum dan mengingat kembali bagaimana Stevent menarik tangan Nisa dan mendekatkan wajahnya pada Dokter Nisa.
"Oooh, romantis sekali" Perawat wanita bernama Dini itu memegang pipinya.
Roni gelang-geleng kepala melihat kelakuan Dini.
Mereka berjalan menuju ruangan Nisa, dan memberikan laporan kepada Nisa.
***
Stevent menghubungi Jhonny, untuk segera memberikan laporan penyelidikan kecelakaan dirinya, dan menanyakan keadaan Viona, ia melarang Viona ke rumah sakit, memerintahkan Jhonny untuk meningkatkan keamanan Viona, sebelum berangkat ke rumah sakit.
Jhonny mengetuk pintu dan berjalan masuk ke dalam ruangan. Ia menjelaskan bahwa kecelakaan yang terjadi adalah rencana Pembunuhan terhadap Stevent yang dilakukan oleh orang Nayla, tapi perintah Nayla bukan membunuh hanya ingin mencelakakan Stevent dan membuat cacat.
"Jika wanita dengan BMW itu tidak datang tepat waktu pasti anda sudah didorong ke jurang bersama mobil anda" jelas Jhonny
"siapa wanita itu?" tanya Stevent pura-pura tidak tahu.
__ADS_1
"Seorang Dokter yang melakukan operasi Anda" jelas Stevent.
"Aku berhutang banyak nyawa kepadanya" Stevent tersenyum dan merebahkan tubuhnya perlahan.
Jhonny melihat tuannya.
"Bacakan daya tentang Malaikat penyelamatan ku" ucap Stevent memejamkan matanya.
"Annisa Salsabila, seorang Muslimah, memiliki kecerdasan di atas rata-rata, kuliah di universitas terbaik jurusan Dokter bedah, menjadi mahasiswa dan Dokter termuda.
Tinggal bersama orangtuanya, ia selalu diidolakan dimana pun berada. " Jelas Jhonny panjang lebar, tidak ada yang tersisa.
Stevent tersenyum puas atas kerja Jhonny yang selalu memuaskan.
"Bagaimana dengan Nayla" tanya Stevent membuka matanya.
"Belum ada pergerakan, sekarang ia sedang bersama kakaknya" jawab Jhonny.
"Jhonny, awasi Dokter itu, Dia adalah milikku, penyelamat ku, keberuntungan ku, jangan biarkan ada orang yang mendekatinya!" perintah Stevent yang dijawab dengan anggukan kepala oleh Jhonny
***
Nathan mengantarkan Nayla pulang, lelah setelah berbelanja banyak barang.
Setelah menurunkan Nayla, Nathan kembali memacu mobilnya menuju rumah sakit tempat Nisa bekerja.
Nathan menghentikan mobilnya di parkiran rumah sakit. Ia berjalan menuju resepsionis dan menanyakan ruangan dokter yang bernama Annisa Salsabila.
Dua orang wanita yang bertugas sebagai resepsionis menatap kagum kepada Nathan, pria itu sangat tampan dengan postur tubuh sempurna.
Nathan tersenyum kepada dua wanita itu dengan melambaikan tangannya, karena tidak mendapatkan jawaban.
"Tentu saja Tuan" jawab mereka bersama, salah satu dari mereka menjelaskan ruangan Dokter Nisa, ia bahkan memberikan peta rumah sakit.
"Terimakasih" Nathan tersenyum manis dan berlalu hingga membuat dua orang wanita resepsionis meleleh.
"Hei, apakah dia pacar Dokter Nisa?" tanya salah satu resepsionis.
"Entahlah, akan banyak pria yang patah hati" mereka berdua tertawa.
Nathan berjalan memasuki lift dan menuju ruangan Nisa.
Ia dapat melihat sebuah ruangan dengan papan bertuliskan, " Dr. dr Annisa Salsabila, Sp, B. Nathan terdiam di depan ruangan Nisa, tak berani mengetuk pintu.
Seorang perawat wanita keluar dari ruangan Nisa dan hampir bertabrakan dengan Nathan.
"Maaf Tuan, anda mencari siapa?" tanya dini ketika melihat Nathan.
"Saya ingin bertemu dengan dokter Nisa" jawab Nathan.
"Dokter Nisa sedang berkeliling" jawab Dini.
"Apakah masih lama?" tanya Nathan lagi.
"Biasanya Dokter Nisa akan berkeliling sampai waktu pulang, kecuali ada jadwal operasi" jelas Dini, kepada Nathan yang terdiam.
"Sudah dekat saja masih tidak bisa bertemu dengan mu" bisik Nathan dalam hati dengan rasa kecewa.
__ADS_1
"Baiklah saya akan kembali lain waktu, terimakasih." Nathan pamit dan pergi.
"Ah aku lupa menanyakan namanya" Gumam Dini dan berjalan menuju bangsal perawatan menyusul Nisa.
Nisa sengaja datang paling terakhir ke ruangan Stevent, ia sendirian karena Dini masih mengambil berkas ke ruangannya, dan Roni masih melaporkan hasil pemeriksaan kepada Dokter lain.
Nisa membaca bismillah ketika akan mengetuk pintu dan melangkah kakinya masuk ke ruangan Stevent, ia memaklumi perbuatan Stevent pagi tadi karena Stevent bukan seorang muslim, sehingga di berani menarik tangan Nisa, dan mendekatkan wajahnya dengan wajah Nisa.
Ketika pintu terbuka dua orang pria menatap ke arah pintu, Jhonny terkejut, ketika ia membaca nama yang menempel di jas putih Dokter " Annisa Salsabila" ia kembali melihat ke wajah Nisa, ia terkagum ketika melihat senyum manis dari bibir merah merona dan menampilkan gigi putih tersusun rapi.
"Selamat Sore" Nisa masuk ke dalam ruangan ia menjaga jarak aman dari Stevent, ia berdiri di ujung bawah tempat tidur, ia tidak mau kejadian pagi tadi terulang lagi.
"Bagaimana keadaan anda sore ini, Tuan?" tanya Nisa, ia tidak mendapatkan jawaban dari Stevent, hanya tatapan seorang pemangsa Yang sedang kelaparan.
Nisa berjalan mendekati Jhonny yang sedang duduk di sofa.
"Apakah Anda assisten tuan Stevent?" tanya Nisa.
"Iya dokter" Jhonny beranjak dari kursinya dan berdiri menghadap Nisa dengan jarak yang cukup jauh.
"Anda boleh membawa perawat pribadi untuk merawat Tuan anda, karena perban harus diganti setiap hari" Ucap Nisa tersenyum.
"Baik dokter" Jhonny menunduk memberi hormat.
"Tidak perlu seperti itu, kita sama saja" Nisa memutar badan dan akan berjalan menuju pintu.
"Aku mau kamu yang merawat ku" Stevent menatap tajam ke arah Nisa.
"Maaf Tuan, saya bukan seorang perawat, tapi saya seorang Dokter bedah, yang harus saya lakukan adalah melakukan operasi dan mengawasi pasien saya pasca operasi." jelas Nisa.
Ketika Nisa akan melangkahkan kakinya keluar, Jhonny telah berada di pintu dan tidak mengizinkan Nisa keluar.
"Maafkan saya Dokter, tuan saya masih mau berbicara dengan Anda." Jhonny menahan pintu.
Nisa melihat ke arah Stevent.
"Apa yang ingin Anda bicarakan?" tanya Nisa.
"Aku menginginkan Anda" jawab Stevent menatap wajah cantik Nisa.
"Maaf Tuan, saya bukan barang yang bisa Anda miliki" Nisa melangkah mendekati pintu.
"Bisakah anda menyingkir dari pintu?" tanya Nisa menatap tajam Jhonny.
Jhonny melihat ke arah Stevent yang menggelengkan kepalanya.
Melihat Jhonny tidak bergerak dengan cepat Nisa menarik tangan Jhonny dan membantingnya ke sofa, Jhonny yang tanpa persiapan dengan muda di robohkan Nisa. Stevent terkejut.
Dokter cantik lemah lembut dan selalu tersenyum ramah itu dapat merobohkan Jhonny dengan sekali pukulan. Ketika Nisa telah meninggalkan ruangan dan menutup pintu, Stevent tertawa terbahak - bahak, hingga membuat dadanya terasa sakit. Sedangkan Jhonny duduk di sofa merasakan sakit di punggungnya.
Stevent tertawa puas dan bahagia
"Dia harus menjadi milikku, Dia adalah wanita ku, tidak ada yang boleh mengambilnya dari ku" ucap Stevent.
Jhonny terdiam, ia tidak tahu apa yang dirasakan tuannya kepada dokter Nisa, Cinta? Obsesi? kagum? atau merasa berhutang nyawa? tapi yang Jhonny yakin adalah tuannya belum mengucapkan terima kasih kepada penyelamatannya.
thanks for reading 😊
__ADS_1
dukung terus Author yaa
Love you readers 💓