
Perpustakaan Kampus
Seorang wanita cantik duduk di sudut ruangan dan fokus pada layar computer dan berkas di atas mejanya, jari-jari cantik terlihat menari di atas keybord dan kadang membolak balik lembaran kertas yang ada di tangannya. Udara sejuk dari pengatur suhu ruangan sangat nyaman dengan suasana hening dan bersih.
Setiap waktu setelah menerima kelas, Viona akan menghabiskan waktunya di dalam perpustakaan seorang diri untuk menyeesaikan misinya dari Stevent dan pangeran pujaan hati. Gadis itu sangat bersemangat dan serius.
“Ah, aku harus langsung ke lokasi, kenapa besar sekali kerusgian kantor cabang ini?” Viona meneynderkan tubuhnya di kursi, mata dan tubuhnya cukup lelah berkutat dengan berkas dan computer.
“Ternyata kamu bersembunyi di sini.” Pria tampan dengan kacamanya tersenyum dan duduk di depan Viona.
“Jade.” Viona terkejut.
“Apa kamu menghindari diriku?” Jade menatap Viona, tatapan yang dapat membuat wajah seorang gadis merona.
“Tidak, aku sedang ada tugas dari kakak ku yang harus segera diselesaikan.” Viona tersenyum cantik.
“Tugas, aku bisa membantu dirimu.” Jade tersenyum.
“Aku tidak mau merepotkan kamu.” Viona menutup berkasnya.
“Apa aku boleh melihatnya?” Jade menahan tangan Viona.
“Tentu saja.” Viona memindahkan tangannya.
Pria tampan dan manis itu terlihat fokus membaca dan mempelajari berkas yang ada di tangannya, Jade akan mewarisi perusahaan orang tua mereka bersama Kim yang lebih memilih menjadi Dokter bedah mengikuti jejak mamanya.
Tanpa sadar Viona memperhatikan pria di depannya yang jadi idola kampus, Jade semakin menawan ketika sedang fokus membaca, mata indah di balik kacamata bening semakin mempesona dengan kharisma seorang pria tampan dan cerdas.
“Kerugian akibat tidak mendapatkan pemasokan bahan dari pabrik.” Jade tersenyum melihat Viona yang memperhatikan dirinya.
“Ya, karena pabrik mengalami kebakaran.” Viona tersenyum.
“Apa kamu sudah menemukan solusinya?” Jade menutupi berkas.
“Menurutku kerugian ini bukan hanya karena itu tetapi ada oknum yang bermain curang.” Iona terlihat serius.
“Kamu benar,seseorang telah mengambil kesempatan dalam musibah ini.” Jade tersenyum kagum pada Viona.
“Aku harus menyelidiki secara langsung ke lokasi kantor cabang.” Viona mematikan komputernya.
“Aku akan menemani dirimu.” Jade menatap Viona, ia berharap bisa bersama dengan gadis pujaan hatinya.
“Aku tidak mau merepotkan dirimu.” Viona memasukkan berkas ke dalam tasnya.
“Aku juga sedang belajar menjadi pengusaha yang sukses seperti dirimu.” Jade terlihat serius.
“Aku akan meminta izin kepada kakak ku.” Viona tersenyum, mereka berjalan bersama keluar dari perpustakaan.
“Viona, aku mau berbicara dengan dirimu.” Seorang pria tampan berdiri di depan Jade dan Viona.
“Ada perlu apa prof?” Viona terlihat khawatir.
“Kita berbicara di ruanganku.” Zayn melirik Jade.
“Viona, apa kamu baik-baik saja?” Jade melihat Viona yang seperti takut kepada Prof Zayn.
“Aku tak apa.” Viona tersenyum.
“Apa kamu mau aku temani?” Jade menatap Viona dengan lembut.
“Saya mau berbicara berdua dengan Viona.” Zayn menatap tajam pada Jade.
“Aku akan ikut Prof Zayn.” Viona berjalan mendekati Zayn.
“Aku akan menunggu kamu di kelas.” Jade melambaikan tangannya.
“Ya.” Viona tersenyum dan berjalan mengikuti langkah kaki Zayn menuju ruangan Dosen.
Dengan hati-hati dan menjaga jarak Viona berjalan di belakang Zayn hingga mereka sampai di depan pintu ruangan Dosen.
“Masuklah!” Zayn membuka pintu untuk Viona.
“Terimakasih prof.” Viona masuk ke dalam ruangan.
“Silahkan duduk.” Zayn manatap Viona dengan tajam, sebenarnya ia benar-benar mencintai Viona, hanya saja ambisi mengalahkan kewarasan.
“Terimakasih.” Viona duduk di depan meja Zayn.
“Viona, saya minta maaf atas kelancangan saya di rumah kamu.” Zayn menatap tajam pada Viona.
“Lupakan saja Prof.” Viona menunduk.
“Katakan apa yang harus saya lakukan agar kamu mau memaafkan saya.” Zayn terlihat sedih.
‘Tidak apa Prof, saya sudah memaafkan anda dan melupakan kejadian itu.” Viona terus menunduk.
“Bisakah kamu mengangkat kepalamu?” Zayn menatap Viona yang tersenyum mengangkat wajahnya.
“Kamu sangat cantik.” Zayn menyesali perbuatannya.
“Apakah anda telah selesai Prof?” Viona tesenyum dan berdiri.
“Apa kita bisa menjadi teman?” Zayn mengulurkan tangannya.
“Tentu.” Viona berjabat tangan dengan Zayn.
“Kamu semakin dewasa.” Zayn tersenyum.
“Terimakasih Prof, saya permisi.” Viona keluar dari ruangan Zayn.
“Untuk menjadi pengusaha yang hebat aku harus lebih kuat.” Viona tersenyum dan berjalan menuju kelasnya.
***
Seorang pria tampan dengan tubuh seksi sempurna sedang berada di ruangan latihan milik hotel, dengan pakaian olah raga Fauzan mengakat barbell, dan Asraf melatih otot kaki dan lengan seklaigus.
Fauzan dan Asraf telah menyelesaikan semua berkas dan masalah perusahaan bersama Stevent dan Jhonny, mereka masih menunggu hasil kerja Viona yang gagal atau berhasil.
“Asraf, sudah adakah laporan dari kantor cabang terakhir?” tanya Fauzan mengeringkan keringat di wajahnya dengan handuk kecil.
“Belum Tuan, sepertinya Viona akan pergi ke kantor cabang.” Asraf duduk di depan Fauzan.
“Pergi ke kantor, siapa yang akan menemani dirinya?” tanya Fauzan.
“Saya tidak tahu Tuan.” Asraf meneguk air dari botol minuman.
“Kapan Viona akan pergi ke kantor cabang?” tanya Fauzan.
“Sepertinya besok, ia minta surat jalan dan masuk kantor dari Tuan Stevent.” Asraf menyerahkan botol minuman kepada Fauzan.
“Itu sangat berbahaya, apalagi wanita muda seperti Viona, ada banyak penjahat dan penipu di dalam kantor itu yang harus dibersihkan.” Fauzan meneguk air mineral.
“Itu adalah langkah terbaik untuk Viona menjadi seorang pengusaha hebat.” Asraf tersenyum.
“Kamu benar tetapi aku mengkhawatirkan dirinya karena sangat ceroboh dan manja.” Fauzan beranjak dari kursi dan bersiap untuk berganti pakaian dan kembali ke kamar hotel.
“Cari tahu siapa yang akan menemani Viona, bila perlu kirim orang untuk menjaganya secara diam-diam.” Fauzan menatap Asraf.
“Baik Tuan.” Asraf beranjak dari kursi dan berjalan mengikuti Fauzan kembali ke kamar mereka.
“Hari ini kita akan menyelesaikan semua pekerjaan dan segera kembali ke Arab setelah Viona berhasil atau gagal dengan tugasnya.” Fauzan tersenyum.
“Baik Tuan.” Asraf tidak tersenyum karena pikirannya melayang entah kemana.
“Asraf, apa kamu mau berlibur?” Fauzan menghentikan langkah kakinya dan melihat kearah Asraf.
“Kemanapun anda pergi saya akan ikut Tuan.” Asraf menunduk.
“Bagaimana jika kita menemui Afifah sebelum kembali ke Arab?” Fauzan memperhatikan Asraf.
“Benarkah Tuan?” Asraf terlihat bersemangat.
“Tentu saja setelah Viona menyelesaikan tugasnya.” Fauzan tersenyum.
“Terimakasih Tuan.” Asraf menunduk.
***
Stevent bersama Nisa dan putra putri mereka berada di taman belakang rumah, begitu sejuk, teduh dan terlindungi dari polusi jalanan, bunga yang indah dan pohon yang rindang memberikan kenyamanan penghuni rumah. Dua robot pengasuh yang selalu siap sedia menjaga cucu dari Master Mark.
“Sayang, bagaimana dengan keputusan dirimu?” Nisa merebahkan kepalanya di dada bidang Stevent, mereka berdua duduk di bawah pohon beringin.
“Keputusan apa sayang?” Stevent mengusap kepala Nisa.
“Hmm, apa kamu melupakan pertanyaan diriku?” Nisa mengangkat kepalanya dan menatap Stevent dengan lembut.
“Sayang, maafkan aku.” Stevent menyentuh pipi Nisa.
“Apa kamu belum memiliki jawaban?” Nisa tersenyum, memahami kesibukan suaminya.
“Jika kamu kembali bekerja, apa kamu akan selalu berada di rumah sakit sepanjang waktu?” Stevent menatap Nisa.
“Sayang, aku adalah dokter bedah, aku akan ke rumah sakit ketika ada jadwal operasi saja yang akan dilaporkan oleh assiten Dokter.” Nisa memegang pipi Stevent.
“Benarkah?” Stevent tersenyum.
“Kamu membeli rumah yang sangat dekat dari Rumah sakit dan pesantren, ini sangat memudahkan diriku untuk pulang dan pergi.” Nisa tersenyum cantik.
“Baiklah, kamu boleh kembali bekerja.” Stevent menatap Nisa.
“Benarkan?” Nisa tersenyum.
“Ya.” Stevent mengangguk.
“Terimakasih sayang.” Nisa memeluk Stevent.
“Hmm.” Pria itu ragu mengizinkan istrinya kembali bekerja, ia takut Nisa akan bertemu dengan banyak pria, dimata Stevent setelah melahirkan Nisa semakin cantik dan menggoda.
“Sayang, kamu ikhlas atau tidak?” Nisa mencubit pipi Stevent.
“Ikhlas sayang.” Stevent menarik tubuh Nisa dengan gemas, merebahkan di pangkuannnya dan mencium bibir istrinya dengan lembut.
***
__ADS_1
Seorang wanita sedang fokus memilih tanaman di kebun obat miliknya yang berada di laboratorium, ia akan membuat obat penawar untuk semua jenis racun yang telah dibuat secara modern.
“Aku melakukan ini hanya untuk melindungi suamiku dan suami Nisa dari godaan wanita terkutuk.” Aisyah tersenyum melihat suaminya yang memperhatikan dirinya.
“Jhonny ku apa yang kamu lakukan di situ?” Aisyah berjalan mendekati dan menyentuh pipi Jhonny dengan tangan kotornya membuat wajah pria itu hitam.
Aisyah tertawa terbahak-bahak, ia melihat wajah Jhonny kotor karena tanah dan warna hijau dari tanaman obat.
“Apa yag kamu lakukan?” Jhonny menarik tangan Aisyah dan mencuium bibir yang terbuka sehingga menghentikan tawa Aisyah, menikmati ciuman hangat Jhonny.
“Kapan kamu pulang sayang?” Aisyah melingkarkan tangannya di leher Jhonny.
“Baru saja, apa kamu masih lama?” Jhonny memperhatikan wajah Aisyah yang berkeringat.
“Sayang, bagaimana jika malam ini kita tidur di rumah kita?” Jari-jari Aisyah bermain di telinga Jhonny.
“Aku akan bertanya kepada Stevent.” Jhonny menahan jari Asiyah yang terus menggoda dirinya.
“Hm, Apa kamu lapar?” Aisyah melepaskan pelukannya dan mencuci tangan.
“Tidak.” Jhonny menatap Aisyah.
“Kembalilah ke rumah, aku masih lama.” Aisyah kembali sibuk dengan aktivitasnya.
“Apa kamu marah?” Jhonny terus menatap Aisyah.
“Kenapa aku harus marah, ak benar-benar masih lama sayang.” Aisyah tersenyum.
“Apa aku tidak boleh menemani dirimu di sini?” Jhonny masih berdiri di tempat yang sama.
“Tentu saja boleh sayangku.” Aisyah mengambil tisu basah dan membersihkan wajah Jhonny yang kotor karena dirinya.
“Kemarilah, kamu duduk di sini dan aku akan bekerja.” Aisyah menarik tangan Jhonny.
“Satu hari tidak cukup untuk membuat ramuan ini menjadi kapsul ataupun cairan siap pakai.” Aisyah berbicara dengan Jhonny yang hanya diam memperhatikan dirinya.
“Apa Valentino punya waktu untuk membantu, dimana anak itu sudah tidak pernah lagi menghubungiku?” Asiyah berbicara sendiri karena Jhonny hanya diam dan melihat dirinya tanpa komentar.
“Dasar robot.” Aisyah melirik Jhonny.
“Apa kamu butuh bantuan?” tanya Jhonny karena Aisyah melirik dirinya.
“Tidak, kapan kamu akan menghubungi Stevent?” Aisyah tersenyum.
“Aku akan menghunginya segera.” Jhonny mengeluarkan ponselnya.
“Katakan padanya, kita berada di sini untuk membuat penawar racun.” Aisyah kembali fokus bekerja dan Jhonny menghubungi Stevent.
Aisyah mencuci tangannya, ia benar-benar butuh bantuan Valentino ataupun siapa saja yang ahli di bidangnya dan mesin pembuat kapsul.
“Bagaimana?” tanya Aisyah pada Jhonny yang telah selesai berbicara di telepon.
“Boleh.” Jhonny memasukan ponsel ke dalam saku celana.
“Aku akan menghubungi Valen.” Aisyah mengmabil ponsel yang tergeletak di atas meja.
“Kenapa menghubungi Valentino?” Jhonny menahan tangan Aisyah.
“Aku butuh bantuan dirinya, jangan katakana kamu cemburu?” Aisyah menggoda Jhonny dengan mendekatkan wajahnya.
“Tidak.” Jhonny melepaskan tangan Aisyah.
“Sayang, dia tidak tertarik kepada diriku yang tidak lembut ini.” Aisyah menyentuh pipi Jhonny.
“Kami sudah lama bersama dan sudah seperti saudara.” Aisyah memeluk pinggang Jhonny.
“Hmm.” Jhonny menatap bibir istrinya.
“Duduklah.” Aisyah mendorong tubuh Jhonny ke kursi dan menghubungi Valentino.
***
Afifah duduk di sofa berselancar di dunia maya untuk membaca informasi dan ilmu dari dusia kesehatan, ia tidak menggunakan media social apapun seperti facebook, Instagram, dan lainnya. Pria yang duduk di tempat tidur pasien juga sibuk dengan ponselnya sesekali ia melirik Afifah.
“Apa yang kamu lihat?” Nathan merebut ponsel Afifah.
“Ya Tuhan, kamu mengejutkan diriku, bagaimana kamu bisa turun tanpa suara?” Afifah mengdongak kepala melihat Nathan yang berdiri di depannya.
“Kamu suka membaca tentang kesehatan.” Nathan mengembalikan ponsel Afifan dan duduk di sofa.
“Ya, Kenapa kamu turun dari tempat tidur?” Afifah menggeserkan tubuhnya karena Nathan terlalu dekat dengan dirinya.
“AKu telah menemukan alamat rumah orang tua kamu.” Nathan tersenyum.
“Benarkan? Apakah masih jauh?” Afifah bersemangat.
“Di pusat kota dan mereka adalah orang terpandang.” Nathan menatap Afifah.
“Apakah mereka akan menerima diriku?” Afifah menyenderkan tubuhnya di sofa.
“Jika mereka menolak dirimu, aku selalu ada untuk kamu.” Nathan melihat wajah cantik Afifah.
Terdengar ketukan pintu, dan Afifah bernajak dari Sofa dan berjalan untuk membuka pintu, ia melihat pria yang tidak asing yaitu Roy asisten pribadi Nathan.
“Tidak apa Nona, saya sudah terbiasa.” Roy tersenyum melihat wajah cantik Afifah.
“Panggil aku Afifah saja karena aku bukan Nona besar.” Afifah tersenyum dan berjalan bersama mendekati Nathan.
“Apa kabar Tuan Nathan?” Roy menunduk.
“Aku baik, duduklah kamu pasti lelah.” Nathan melirik Afifah.
“Terimakasih Tuan.” Roy duduk di depan Nathan dan Afifah berjalan ke dapur membuat kopi.
“Silahkan.” Afifah tersenyum dan meletakkan kopi di atas meja.
“Kamu membuatkan kopi untuk Roy dan tidak untuk diriku.” Nathan menatap pada Afifah.
“Kamu tidak boleh minum kopi karena harus minum obat.” Afifah tersenyum manis.
“Kamu yang akan menyuntikkan formula pada diriku.” Nathan tersenyum nakal/
“Ada perawat.” Affiah duduk di Sofa.
“Kamu adalah seorang perawat, aku akan membayar mahal untuk perawat pribadiku.” Nathan tersenyum.
“Aku telah memegang dua kartu tanpa batas milikmu jadi aku tidak perlu bekerja lagi.” Afifah tersenyum penuk kemenangan.
“Ah, kamu selalu punya jawaban.” Nathan sangat ingin mencubit bibir Afifah.
“Kalian berbicaralah, aku akan pergi ke perpustakaan.” Afifah mengambil tasnya.
“Jangan samapi tersesat!” Nathan menatap Afifah.
“Aku sudah punya peta.” Afifah memegang selembar kertas dan tersenyum lebar.
“Kamu seperti anak kecil.” Nathan menahan tawa, dimatanya Afifah sangat menggemaskan.
“Aku wanita dewasa.” Afifah keluar dari ruangan.
Roy hanya terdiam melihat kehangatan yang diberikan Afifah kepada Nathan, sebenarnya wanita itu berlaku sama kepada semua orang, ia selalu ramah, baik dan hangat.
“Bagaimana hasil penyelidikan orang tua Afifah?” tanya Nathan.
“Orang tua Nona Afifah adalah pengusaha di ibu kota provinsi, memiliki dua orang putrid an salah satunya adalah Nona Afifah yang hilang sejak kecil.
“Ini adalah foto-foto rumah, orang tua dan orang terdekat keluarganya.” Roy menyerahkan berkas dalam amplop coklat kepada Nathan.
“Terimakasih, pergilah beristirahat di hotel!” Nathan mengambil amplop berisi berkas tentang orang tua Afifah.
“Ini adalah semua formula yang anda butuhkan dan ini kapsul untuk Nona Afifah yang anda minta buatkan.” Roy menyerahkan kotak kaca dan satu botol berisi kapsul.
“Terimakasih, aku tidak mau melihat dia kesakitan ketika menyuntikkan formula pada lengannya.” Nathan tersenyum dan mengambil botol.
“Apa ada lagi Tuan?” Roy bersiap untuk pergi ke hotel yang sama dengan Nathan dan Afifah.
“Pergilah beristriahat, jaga diri kamu, aku di tusuk oleh seseorang yang menyimpan dendam.” Nathan menatap Roy.
“Apa anda tahu orangnya?” tanya Roy.
“Tidak tahu, aku berhasil menyuntikkan racun pada tubuhnya tetapi Afifah memintaku membeerikan penawar dan aku menurutinya, aku takut dia akan meninggalkan diriku jika aku tidak menurut.” Nathan tersenyum.
“Baiklah Tuan, saya permisi.” Roy keluar dari ruangan Nathan.
“Anda akan lebih baik bisa bersama Nona Afifah selamanya.” Roy berbicara di dalam hatinya.
Roy melangkahkan kaki melewati koridor dan ia sengaja berjalan menuju perpustakaan rumah sakit, ada rasa rindu di hatinya untuk melihat senyuman dan mendengarkan canda tawa Afifah. Pria itu berdiri di depan pintu dan melihat wanita yang sedang memilih buku di rak.
“Aku berharap kamu akan terus menjaga Nathan.” Roy menatap Afifah dari depan pintu.
“Hey Roy, apa kamu akan pergi?” Afifah tersenyum dan berjalan mendekati Roy yang terdiam di depan pintu.
“Ah ya, aku hanya mau pamit.” Roy tersenyum.
“Apa kamu telah menghabiskan kopi buatanku?” Afifah berdiri tepat di depan Roy.
“Tentu saja.” Roy tersenyum melihat ke dalam bola mata yang bening milik Afifah.
Ponsel Afifah berdering, ia segera membuka tas untuk mengambil ponsel dan menerima panggilan, ia melihat nomor baru pada layar ponselnya.
“Nona Afifah, saya permisi.” Roy menunduk.
“Ya dan jangan memanggilku nona.” Afifah tersenyum, melambaikan tangannya dan menerima panggilan.
“Assalamualaikum.” Afifah duduk di depan pintu.
“Waalaikumsalam, Afifah, aku Pedro.” Terdengar suara lembut seorang pria.
“Hai Pedro, apa kabar?” Afifah tersenyum.
“Aku baik, apa kamu masih di rumah sakit?” tanya Pedro.
“Ya, Apa kamu sedang bekerja?” Afifah balik bertanya.
__ADS_1
“Hm, aku di laboratorium rumah sakit, apa kamu mau kemari?” Pedro tahu Afifah sangat tertarik dengan dunia laboratorium.
“Ya, ah tidak, aku harus menemani Nathan.” Suara Afifah terdengar pelan.
“Mungkin lain kali aku akan membawa kamu kemari.” Pedro kecewa mendengar nama Nathan.
“Terimakasih.” Panggilan terputus, Afifah segera meliha ada panggilan lain yang masuk dari Nathan, ia segera menerima panggilan.
“Afifah kamu berbicara dengan siapa di telepon?” Suara Nathan terdengar marah.”
“Pedro.” Afifah menjawab dengan jujur.
“Kembalilah!” Nathan memutuskan panggilan.
“Kenapa pria ini selalu marah-marah?” Afifah mengembalikan buku ke rak dan berjalan kembali ke ruangan Nathan.
Afifah tersenyum melihat Nathan yang masih duduk di sofa dan cemberut melirik kepada dirinya dengan tatapan yang tajam, menambah ketampanan pria itu.
“Hey, kenapa kamu cemberut?” Afifah tersenyum dan berjongkok di depan Nathan begitu menggemaskan.
“Berikan ponsel kamu!” Nathan menadahkan tangannya.
“Untuk apa?” Affiah mengernyitkan alisnya dan mengedip-ngedipkan matanya seperti boneka india, membuat pria keras kepala itu tersenyum dan tidak bisa menahan diri, ia mencubit pipi Affiah dengan gemasnya.
“Aw, apa yang kamu lakukan?” Afifah menjauh, ia menyentuh pipinya yang sakit dan memerah.
“Itu hukuman karena kamu menggoda diriku.” Nathan tersenyum.
“Aku bukan menggoda tapi hanya menghibur pasien yang sedang cemberut.” Afifah mengusap pipinya.
“Kamu semakin cantik dengan pipi merah itu.” Nathan menahan tawa.
“Aku sudah cantik dari lahir.” Afifah cemberut.
“Kemarilah.” Nathan menatap lembut pada Afifah.
“Tidak mau.” Afifah pindah ke sofa panjang dan bernaring, ia membuka ponselnya.
Nathan beranjak dari sofa dan merebut ponsel yang sedang di pegang Afifah, pria itu membuka riwayat panggilan dan memblokir nomor yang bahkan belum tersimpan.
“Nathan.” Afifah berteriak.
“Tidak boleh ada pria lain yang menghubungi dirimu!” Nathan menatap tajam pada Afifah.
“Dia hanya seorang teman, kamu berlebihan.” Afifah merebut kembali ponselnya.
“Kamu adalah milikku!” Nathan menekankan tangannya di kiri dan kanan sofa panjang.
“Posesif.” Afifah menutup wajahnya dengan majalah.
“Karena aku mencintai dirimu.” Nathan berbisik di telinga Afifah dan mengambil majalah dari wajah Afifah.
“Kemarilah.” Nathan menarik gamis Afifah.
“Ada apa?” Afifah mengikuti Nathan duduk di sofa.
“Ini kapsul obat dirimu.” Nathan tersenyum.
“Aku tidak perlu merasakan sakit di suntik lagi.” Afifah mengambil botol obat dari tangan Nathan dengan semangat.
“Terimakasih Nathan.” Afifah tersenyum.
“Hanya terimakasih.” Nathan tersenyum menggoda.
“Kamu tidak usah minta yang aneh-aneh.” Afifah membuka botol obat.
“Aku bahkan masih memiliki hadiah special untuk dirimu.” Nathan mendekati Afifah.
“Kamu sudah memberikan banyak hadiah untuk diriku.” Afifah bergeser.
“Aku tidak akan memakan dirimu.” Nathan memberikan amplop coklat pada Afifah.
“Apa ini?” Afifah melihat Nathan dan mengambil amplop.
“Rahasia tentang dirimu.” Nathan kembali ke sofa di depan Afifah.
“Terimakasih.” Suara Afifah terdengar lembut, ia membuka amplop dengan pelan.
Wanita itu tidak terkejut sama sekali, ia terlihat santai membuka foto dan berkas yang telah dikeluarkan dari dalam amplop, Nathan memperhatikan Afifah yang tersenyum.
“Apa kamu masih sabar menunggu diriku sembuh?” tanya Nathan.
“Aku akan menemani dirimu menemui mereka.” Nathan terus memperhatikan Afifah.
“Ya, aku akan menunggu dirimu.” Afifah tersenyum.
“Apakah wanita ini adalah saudar perempuanku?” Afifah memberikan foto seroang wanita tanpa hijab.
“Ya dan aku merasa wajahnya sangat familiar.” Nathan mengambil foto wanita dari tangan Afifah.
“Benarkah?” Afifah mengamil kembali foto dari tangan Nathan.
“Apakah kami mirip?” Afifah tersenyum meletakkan foto saudaranya di samping wajahnya.
“Tidak, kamu jauh lebih cantik dan imut dari dirinya.” Nathan tersenyum.
“Ah, mungkin ketika kamu melihat dirinya kamu akan jatuh cinta.” Afifah menyimpan foto ke dalam amplop.
“Aku tidak akan jatuh cinta lagi.” Nathan menatap tajam pada Afifah.
“Kamu tidak boleh berbicara seperti itu.” Afifah mengedipkan matanya.
“Apa kamu tidak lapar?” Afifah bernajak dari sofa, berjalan menuju meja tempat makanan Nathan.
“Aku mau makan masakan dirimu.” Nathan tersenyum dan mengikuti langkah Afifah.
“Duduklah dan makan bubur ini, aku akan memasak untuk dirimu ketika kita berada di rumah.” Afifah tersenyum.
“Apakah kamu akan menyuapi diriku sebagai ucapan terimakasih?” Nathan berdiri sangat dekat di belakang Afifah.
“Kembalilah ke tempat tidur!” Afifah mendorong tubuh Nathan yang hanya tertutup kain kasa di perutnya.
“Jangan menyentuhku, itu akan membangunkan sesuatu.” Nathan tersenyum nakal.
“Ayolah Nathan.” Afifah kesal.
“Baiklah sayang, aku akan menurut.” Nathan naik ke tempat tidur dan Afifah menyuapi Nathan menghabiskan satu mangkuk bubur.
“Apakah kamu akan makan obat?” Afifah memegang obat yang tergeletak di atas meja.
“Tidak, kamu hanya perlu menyuntikkan formula pada selang impus dan pada lukaku.” Nathan tersenyum.
“Apakah Dokter rumah sakit telah mengizinkan dirimu?” Afifah menatap tajam pada Nathan.
“Tentu saja.” Nathan mengedipkan matanya.
“Kamu benar-benar raja di dunia kesehatan.” Affiah berjalan menuju meja, mengambik kotak kaca berisi formula dan kembali kepada Nathan.
“Kamu harus membuka kain kasa sayang.” Nathan tersenyum.
“Aku tahu Tuan Nathan, karena diriku adalah seorang perawat.” Afifah tersenyum cantik.
“Kenapa kamu sangat menggemaskan?” Nathan sangat ingin mencubit dan menggigit bibir Affiah.
Afifah membuka perlahan kain kasa, ia melihat bekas jahitan yang sangat rapi dan luka yang mulai mengering. Nathan terus memperhatikan setiap gerakan wanita itu tanpa berkedip, ia seakan takut wajah cantik itu akan hilang dari pandangan matanya.
“Luka kamu sangat cepat mengering.” Afifah membuang kain kasa di tempat sampah.
“Dimana aku akan menyuntikkan formula ini?” Afifah membuka kotak kaca.
“Kemarilah, ada berapa macam formula di dalam kotak?” Nathan memperhatikan Afifah.
“Dua warna yang berbeda, bening dan hijau.” Afifah memderikan kotak yang tebuka kepada Nathan.
“Hijau untuk mempercepat pemulihan, bening untuk menghilangkan bekas luka dan jahitan.” Nathan tersenyum.
“Wah keren, apakah kamu yang menciptakan semua formula ini?” Afifah bersiap menyuntikkan formula pada tubuh Nathan. Ini untuk kedua kalinya ia melihat tubuh indah dengan otot-otot perut yang sempurna milik pria itu, sebagai seorang perawat Afifah sudah terbiasa melihat tubuh telanjag pasien.
“Aku pikir kamu akan mengagumi tubuhku.” Nathan tersenyum.
“Sebagai seorang perawat aku sudah biasa melihat tubuh seperti dirimu.” Afifah menyuntikkan formula pada tubuh Nathan.
“Benarkah?” Nathan mendekatkan wajahnya pada kepala Afifah. Ia mencium aroma harum lembut dari hijab wanita itu.
“Jangan bergerak!” Afifah menarik jarum suntik.
“Sekarang berwana hijau pada selang infus.” Afifah membuang jarum suntik ke tempat sampah dan mengambil jarum baru berisi cairan berwarna hijau.
“Selesai, sebaiknya kamu beristirahat.” Afifah tersenyum, ia membereskan kotak formula.
“Apa kamu mau aku pesankan makanan?” tanya Nathan merebahkan tubuhnya.
“Aku bisa makan di kantin.” Afifah tersenyum.
“Tidak, aku tidak mau kamu meninggalkan diriku sendirian di kamar.” Nathan mengambil ponselnya dan menghubungi restoran terdekat yang akan menantarkan makanan untuk Afifah.
“Terserah.” Afifah kembali ke sofa.
Dalam hubungan antar manusia, arti posesif adalah sikap seseorang dengan perasaan memiliki yang tinggi serta menuntut perhatian dan cinta total dari pasangan atau anggota keluarganya. Berbeda dengan perasaan cemburu, posesif umumnya mengarah kepada hal yang negatif.
Seorang psikolog bernama Alexander Sriewijono mengatakan bahwa pengertian posesif adalah suatu keadaan dimana seseorang merasa tidak aman dengan dirinya sendiri dan hubungan yang sedang dijalani. Individu dengan keadaan mental yang posesif cenderung tidak percaya diri dan takut bila keluarga, pasangan, atau miliknya direbut oleh orang lain.
***
Untuk yang tidak suka silahkan hapus dari Favorit tetapi jangan menjatuhkan Novel dengan laporan yang tidak benar dan menurunkan Rate. Bukan sesuatu yang mudah dalam menulis Novel. Terimakasih.
Mohon dukungnnya berikan like, Komentar, bintang 5, Tips, Vote serta bantu promosikan, jika suka dan ikhlas. Terimakasih.
Baca juga Novel Author berjudul “Arsitek Cantik” dan "Mengejar Cinta Ariel" dan " Tabib Cantik Bulan Purnama"
Novel Kakakku “Nyanyian Takdir Aisyah dan Cinta Bersemi di Ujung Musim.” (Fitri Rahayu). Terimakasih.
Semoga kita semua dalam keadaan sehat dan selalu mendapatkan perlindunganNya, Aamiin.
__ADS_1