Cinta Untuk Dokter Nisa

Cinta Untuk Dokter Nisa
Honeymoon di Pulau Moyo


__ADS_3

Honey Moon


Mobil telah sampai di Bandara Internasional, Nathan keluar dari mobil dan membukakan pintu untuk Afifah, ia mengulurkan tangan pada istrinya yang masih duduk manis memandang dirinya. Perlahan wanita itu menyentuh tangan Nathan.


“Kenapa kamu ragu?” Nathan menatap Afifah.


“Aku tidak ragu.” Afifah berdiri di samping Nathan.


“Benarkah?” Nathan segera menggendong tubuh istrinya dan berjalan menuju Jet Pribadi yang telah di siapkan.


“Nathan, aku bisa jalan sendiri.” Afifah menyembunyikan wajahnya di dada bidang Nathan karena malu. Semua orang tersenyum melihat sepasang kekasih yang masing menggunakan gaun pengantin.


“Aku tidak mau lagi mendengarkan kamu memanggil namaku.” Pria itu berbisik di telinga istrinya.


“Aku harus memanggil kamu apa Tuan?” Suara lembut Afifah terdengar menggoda.


“Sayangku.” Nathan tersenyum sangat tampan dan manis, senyuman yang hanya diberikan kepada istrinya.


“Hmm.” Afifah baru saja akan menyebutkan kata sayangku tetapi mulutnya di tutup Nathan dengan ciuman.


“Jangan lakukan itu di tepat umum.” Afifah menutupi wajahnya yang memerah dengan kedua tangan. Nathan tersenyum, ia tidak tahu jika Afifah sangat pemalu.


Mereka telah berada di dalam pesawat jet pribada yang sangat mewah, yang hanya ada pilot, co pilot dan dua orang pramugari menyambut pasangan pengantin baru. Sebenarnya Nathan tidak suka ada wanita lain ikut di dalam pesawat. Ia tidak suka dengan tatapan menggoda dan pakaian yang seksi para parmugari.


“Kita akan pergi kemana?” tanya Afifah tanpa melihat Nathan, ia takut pria itu akan langsung mencium dirinya.


“Kamu mau kemana?” tanya Nathan.


“Menjelajahi Indonesia.” Afifah tersenyum.


“Baiklah, aku memang belum menentukan pilihan.” Nathan tersenyum.


“Lalu kenapa kamu tergesa-gesa membawa diriku pergi dari tempat pernikahan, bahkan aku belum mendapatkan hadiah dan ucapan selamat dari keluargaku.” Afifah menatap Nathan.


“Aku tidak mau kamu bertemu dengan semua orang dengan wajah yang terlalu cantik ini.” Nathan mencium bibir Afifah dengan lembut.


“Ya Tuhan, pria ini benar-benar mau menghabiskan bibirku, setiap kali aku melihat kearah dirinya.” Afifah berbicara di dalam hatinya.


“Kamu suka tempat seperti apa sayang?” Nathan menyentuh bibir Afifah.


“Pemandangan alam seperti hutan dan pantai.” Afifah mengusap bibirnya membersihkan bekas ciuman Nathan.


“Kenapa kamu selalu mengusap bibir setelah aku cium, apa kamu tidak suka?” Nathan menatap tajam pada Afifah.


“Aku merasa tidak nyaman karena bibirku terasa lengket dan aneh.” Afifah menutupi mulutnya, ia takut pria itu akan menyerang dirinya lebih ganas lagi.


“Lengket dan aneh.” Nathan tersenyum.


“Aku bahkan akan membuat bibir itu menjadi bengkak dan berdarah.” Pria itu berbisik di telinga Afifah.


“Apa kamu mau membunuh diriku?” Afifah menatap Nathan.


“Kita akan mati bersama dalam kenikmatan.” Nathan tersenyum nakal, ia melihat tangan dengan jari-jari cantik itu masih menutupi bibir seksi dan menggoda.


“Aneh.” Afifah menghadap keluar jendela. Nathan tersenyum, ia membuka ponselnya dan melihat tempat wisata terkenal yang ada di Indonesia karena Afifah mau menjelajah Negaranya sebelum pergi keluar Negeri.


“Bagaimana jika kita pergi ke Pulau Moyo?” Nathan meletakkan ponselnya tepat di depan wajah Afifah.


“Cantik.” Afifah mengambil ponsel Nathan dan melihat sembilan tempat wisata unik yang ada di pulau Moyo.


“Apa kamu mau pergi kesini?” Nathan memperhatikan wajah senang Afifah.


“Ya.” Afifah tersenyum melihat kearah Nathan, ia segera menutupi bibirnya dan pria itu mencium pipi istrinya.


“Apa kamu akan menutupi seluruh wajah kamu?” Nathan tersenyum.


“Selamat siang Tuan dan Nyonya, apakah anda telah menentukan pilihan tempat bulan madu?” Tanya seorang pramugari pada Nathan.


“Ya, pulau Moyo, Nusa Tenggara Barat.” Nathan tersenyum pada Afifah tanpa melihat pramugari.


“Baik Tuan.” Pramugari keluar dari pesawat.


“Ikut aku!” Nathan menarik tangan Afifah.


“Kita mau kemana?” tanya Afifah bingung.


“Ganti pakaian kamu.” Nathan tersenyum dan masuk ke dalam sebuah ruangan.


“Apa ada pakaian ganti di sini?” Afifah melihat sekeliling ruangan dna melihat dua buah paper bag.


“Ayo ganti pakaian bersama.” Nathan telah membuka jasnya dan duduk di kursi.


“Bisakah kamu keluar?” Afifah memeluk paper bag.


“Kamu adalah istriku, tidak ada yang perlu di sembunyikan.” Nathan tersenyum.


Afifah membawa paperbag masuk ke dalam kamar mandi, ia yakin pria itu tidak akan keluar dari ruangan dan akan bertahan untuk mengganggu dirinya. Wanita itu membersihkan semua riasan yang ada di wajahnya, ia sangat tidak suka.


“Ah, dia bersembunyi, aku sangat ingin memakan tubuh kecil menggoda itu.” Nathan menggantikan celana putih dengan celana hitam dan kemeja warna biru muda, ia berdiri di depan pintu kamar mandi menunggu Afifah.


“Arrg.” Afifah berteriak karena terkejut dengan Nathan yang tersenyum tampan di depan pintu .


“Sayang, jangan berteriak.” Nathan meletakkan jari telunjuknya di depan bibir Afifah.


“Kamu mengejutkan diriku dengan berdiri di depan pintu.” Afifah mendorong tubuh Nathan dan melewatinya.


“Hey, aku adalah suami yang setia menunggu istrinya.” Nathan memeluk Afifah dari belakang.


“Nathan lepaskan, apa yang kamu lakukan?” Afifah membuka tangan Nathan yang melingkar di perutnya dan berlari keluar ruangan.


“Oh God, apa dia lupa kami sudah menikah?” Nathan memijit batang hidungnya dan mneyusul Afifah kembali duduk di kursi dengan tenang karena mereka akan melakukan penerbangan menuju Pulau Moyo.


“Afifah.” Suara Nathan lembut berbisik di telinga wanita itu.


“Hm.” Afifah telah memejamkan matanya.


“Sayang, apa kamu mau tidur?” Nathan meletakkan kepalanya di pundak Afifah.


“Mm.” Afifah telah tertidur, ia sangat lelah dengan acara pernikahan dan penerbangan yang cukup panjang. Dengan tidur wanita itu menghindari kenakalan Nathan.


“Sayang, apa kamu minum obat?” Nathan berbisik di telinga Afifah tetapi tidak ada jawaban yang ia dengar hanya hembusan lembut napas dan teratur.


“Ya Tuhan, aku ingin terus mencium bibir ini.” Nathan mengecup bibir Afifah yang tertidur nyenyak.


“Kamu adalah milikku.” Nathan menggengam tangan Afifah.


Pesawat Jet Mendarat di Bandara Udara Internasional Lombok yang telah berganti nama menjadi Zainuddin Madjid (ZAMIA) dan akan dilanjutkan ke Bandara Muhammad Kaharuddin III di Pulau Sumbawa Besar.


“Sayang, bangunlah kita berhenti sebentar di Mataram untuk makan siang.” Nathan berbicara di depan bibir Afifah menghembuskan napas hangat.


“Aw.” Wajah Afifah berbentur dengan wajah Nathan.


“Sayang, apakah sakit?” Nathan terkejut dan menyentuh hidung mancung Afifah.


“Apakah seperti ini cara kamu membangunkan diriku?” Mata Afifah melotot, ia merasakan sakit pada dahi dan hidungnya.

__ADS_1


“Maafkan aku.” Nathan tersenyum dan menempelkan hidungnya pada hidung Afifah.


“Apa kita sudah sampai?” Afifah menunduk.


“Kita sampai Bandara ZAMIA kota Mataram.” Nathan tersenyum.


“Selamat siang Tuan dan Nyonya, pesawat telah mendarat, silahkan turun.” Pramugari tersenyum pada Nathan. Pria itu benar-benar tampan dengan kancing kemeja yang terbuka memperlihatkan dada bidangnya. Afifah memperhatikan pramugari yang melihat tubuh seksi suaminya.


“Rapikan pakaian kamu sebelum turun.” Afifah mengancing kemeja Nathan.


“Terimakasih Sayang, ayo kita turun.” Nathan memegang tangan Afifah.


“Dimana ponselku?” Tanya Afifah.


“Aku telah membawa semua barang berharga kamu, tidak perlu kawatir.” Nathan mengeluarkan ponsel Afifah dari saku celananya.


“Terimakasih.” Afifah mengambil ponsel dari tangan Nathan.


“Cium bibirku.” Nathan menunjukkan bibirnya.


“Nanti saja, kita harus sholat dulu.” Afifah menyentuh bibir Nathan dengan jarinya dan bejalan menuju ruangan yang ia gunakan berganti pakaian.


“Ah, sangat menggemaskan.” Nathan tersenyum dan mengikuti Afifah dari belakang. Mereka melaksanakan solat bersama di dalam pesawat jet. Dan keluar bersama menuruni tangga pesawat.


“Aku sangat lapar.” Afifah melihat sekeliling.


“Kemarilah.” Nathan menarik tangan Afifah berjalan menuju restoran terdekat dari Bandara dan memilih meja di pinggir dinding kaca. Mereka memilih menu dan menikmati makan siang berdua di restoran sebagai pasangan suami istri yang sah.


“Aku akan menyuapi dirimu.” Nathan menyendokkan nasi dan meletakkan di depan mulut Afifah.


“Aku bisa sendiri.” Afifah menutup mulutnya.


“Jika kamu menolak, aku akan mencium bibirmu.” Nathan tersenyum, dengan terpaksa Afifah membuka mulutnya. Ia tidak mau menantang pria nekat itu.


Beberapa pasang mata memperhatikan kemesraan Nathan dan Afifah yang terlihat seperti sepasang kekasih tetapi wajah imut Afifah tanpa riasan lebih seperti adik untuk pria itu. Nathan sangat tampan dan dewasa sedangkan Afifah seperti gadis kecil yang menggemaskan dengan senyuman indah dan sangat menawan.


“Sayang, siapa yang mereka pandang diriku atau kamu?” Nathan menyadari mereka jadi pusat perhatian.


“Pasti dirimu.” Afifah meneguk air putih, ia telah menyelesaikan makannya.


“Wanita melihat diriku dan para pria memandang dirimu.” Nathan tersenyum.


“Tidak akan ada pria yang mau memandang diriku yang hanya gadis desa ini.” Affiah tersenyum.


“Gadis desa jauh lebih menawan dari pada gadis kota, dengan wajah cantik alami tanpa polesan make up seperti dirimu.” Nathan menyentuh dagu Afifah hingga wajah itu terangkat dan mencium bibir itu sekilas.


“Nathan, kamu selalu melakukannya dengan mendadak dan ini tempat umum.” Mata Afifah melotot dan wajahnya memerah.


“Maafkan aku, bibir kecil kamu sangat menggoda.” Nathan tersenyum, ia berjalan meninggalkan Afifah untuk membayar makanan mereka.


“Pria ini, seakan tidak tahu aturan bermesraan.” Afifah memegang kepalanya, ia melihat Nathan yang sedang berbicara dengan penjaga kasir.


“Pria itu akan jadi pusat perhatian dimanapun ia berada.” Wanita itu berjalan menuju wasrapel untuk mencuci tangannya, seorang pria yang baru keluar dari kamar menabrak Afifah hingga ia terjatuh dilantai.


“Aw.” Afifah merasakan sakit pada lengan dan lututnya.


“Maafkan saya Nona.” Pria itu membantu Afifah berdiri.


“Tidak apa, aku hanya tergesa-gesa.” Afifah tersenyum cantik.


“Apakah kita pernah bertemu?” Tanya pria itu sopan.


“Maaf, aku tidak bisa mengingat anda.” Afifah tersenyum merasa bersalah.


“Mm.” Pria itu menatap Afifah untuk mengingat nama wanita di depannya.


“Aku hanya mencuci tangan dengan sabun.” Afifah menoleh kebelakang untuk melihat wajah pria yang telah menabrak dirinya.


“Apa yang kamu lihat?” Nathan menatap Afifah.


“Tidak ada.” Afifah tersenyum.


“Tiga puluh lima menit penerbangan kita akan sampai di Sumbawa Besar.” Nathan menggandeng tangan Afifah menuju Pesawat Jet.


Pesawat kembali mengudara selama tiga puluh lima menit dan mendarat di Bandara Muhammad Kaharuddin III di Pulau Sumbawa Besar. Sebuah mobil yang akan mengantarkan mereka ke Pelabuhan Muara Kali telah mengunggu mereka di depan pintu keluar.


“Selamat siang Tuan Nathan, kami akan mengantarkan anda ke Pelabuhan Muara Kali.” Sapa seorang sopir dan membukakan pintu.


“Terimakasih.” Nathan masuk bersama Afifah dan duduk di kursi penumpang, beberapa pelayan memasukan koper ke dalam bagasi mobil.


“Kapan kamu mengemas barang-barang?” Tanya Afifah heran.


“Itu semua pakaian dari hotel yang telah di antar ke Bandara terlebih dahulu.” Nathan tersenyum dan menyentuh hidung Afifah dengan jarinya.


“Luar biasa, kamu benar-benar pria yang cerdas.” Afifah menggelengkan kepalanya.


“Apa kamu menyukainya?” Nathan mendekatkan wajahnya.


“Sangat suka.” Afifah menoleh kesamping.


“Aku telah mencium dirimu sebanyak 4 kali tetapi kenapa kamu masih malu?” Nathan menarik dagu Afifah dan mencium bibirnya.


“Tuan, kita sudah sampai.” Suara sopir mengentikan ciuman Nathan.


“Terimakasih.” Nathan keluar dari mobil dan melihat sebuah perahu motor telah menunggu mereka.


“Apa kamu bisa naik perahu motor?” Nathan melihat Afifah khawatir.


“Tentu saja.” Afifah sangat malu dilihat sopir ketika sedang berciuman.


Nathan membantu Afifah naik ke perahu motor, dan pemilik perahu meletakkan koper mereka di bagian paling belakang. Perjalanan dengan perahu boat hanya memakan waktu 20 menit saja dan telah sampai di Pulau Moyo.


Meski lokasinya cukup jauh dari ibu kota Kabupaten Sumbawa, namun fasilitas wisata yang ada di pulau ini tidak kalah dari tempat lain. Tempat penginapan berupa resort mewah kelas internasional; bernama Amanwana. Amanwana merupakan hotel berbintang 5 di Pulau Moyo yang dijadikan tempat menginap sekaligus beristirahat.


Amanwana Hotel resort merupakan surga bagi pecinta alam dan pecinta diving. Vegetasi yang tersebar di pulau bervariasi dari semi-terbuka hingga selebat hutan. Ada banyak variasi pepohonan, seperti pohon jati asli, pohon asam Jawa, pohon ara dan karang.


Hewan-hewan seperti rusa/kijang, banteng, **** hutan, kera dan kelelawar. Bermacam jenis burung seperti elang laut dada putih, barmity kite, elang tiram, megapode, dan spesies burung liar lainnya. Di sekitar laut terdapat banyak batu karang berwarna-warni, lembut maupun keras, termasuk staghorn, gorgonian fans, sponges dan plate coral


Dua puluh tenda mewah tersebar di bawah kanopi hutan tropis di atas pantai terpencil. Dengan jalan menghubungkan masing-masing tenda. Tiap tenda ber-AC dibuat terbuka dengan tiga area yang berbeda. Area duduk berada di pintu masuk dan memiliki dua dipan besar yang dipasang di depan tenda sehingga dapat digunakan sebagai tempat tidur yang nyaman untuk anak-anak atau dewasa.


“Apa kamu lelah?” Nathan menggendong Afifah menuju hotel Amanwana, Nathan memilih Tenda jenis Ocean.


Terlihat King-sized bed diletakkan di tengah ruangan, dengan meja tulis besar di belakangnya. Kamar mandi termasuk shower, toilet dan dua lemari terpisah. Tenda Ocean Front memiliki pemandangan samudra yang luar biasa dengan tenda Jungle Tent yang dipasang tepat di belakangnya dan memiliki pemandangan hutan serta samudra.


“Kamar yang keren dengan pemandangan yang indah.” Nathan tersenyum dan menurunkan tubuh Afifah di atas tempat tidur berukuran King-sized.


“Permisi Tuan, dimana meletakkan koper ini?” seorang pelayang berdiri di depan pintu.


“Letakkan di situ saja.” Nathan berjalan mengambil koper dan meletakkan di depan lemari.


“Sangat indah.” Afifah membuka jendela dan melihat pantai indah dengan hutan lebat.


“Ini liburan pertamaku sayang.” Nathan memeluk Afifah dari belakang.


“Nathan, aku harus memebrsihkan diri dan sholat.” Afifah melepaskan pelukan Nathan dan berjalan menuju lemari, ia membuka koper untuk merapikan pakaian.

__ADS_1


“Sayang, apa kamu lelah?” Nathan kembali memeluk tubuh Afifah.


“Ya, aku sangat lelah, aku tidak pernah melakukan penerbangan selama ini.” Afifah tersenyum.


“Ah, apakah kita tidak bisa melakukannya malam ini?” Nathan berbisik di telinga Afifah.


“Bersihkan dirimu, ganti pakaian dan sholat.” Afifah meletakkan handuk di wajah Nathan.


“Berikan aku ciuman!” Nathan memeluk pinggang Afifah dari depan dan membuang handuk kelantai.


Afifah memberikan kecupan pada bibir Nathan dan melepaskan tangan pria itu, ia kembali merapikan pakaian dari koper ke dalam lemari.


“Itu bukan ciuman sayang.” Nathan mengigit pundak Afifah.


“Aw, sakit Nathan.” Afifah mengusap pundaknya, ia yakin ada bekas gigitan yang tertinggal.


“Panggil aku sayang, atau aku akan mengigit bibir kamu.” Nathan berbisik di telingan Afifah.


“Sayangku pergilah mandi, sebentar lagi waktu Asar tiba.” Afifah mendorong tubuh Nathan.


“Aku mau mandi bersama.” Nathan memegang tangan Afifah dan tersenyum.


“Kita akan melakukan mandi bersama setelah ritual khusus pengantin baru.” Afifah tersenyum melihat Nathan bingung.


“Jika kamu tidak tahu cobalah untuk mencari informasi di internet.” Afifah menutup pintu kamar mandi.


“Istri kecilku yang sangat menggemaskan.” Nathan membuka pakaiannya dan membersihkan diri.


Pria tampan itu keluar dari kamar mandi dengan hanya menggunakan handuk berwarna putih melingkar di pinggangnya sebatas paha, tubuh seksi dengan rambut di bagian dada dan otot-otot perut yang sangat menggoda, ia melihat Afifah berbaring di atas tempat tidur dan sedang memainkan ponsel masih dengan pakaian lengkap dan hijab.


“Kapan kamu akan memperlihatkan rambutmu pada diriku?” Nathan naik ketempat tidur dengan posisi di atas tubuh Afifah, air dari rambutnya menetes di wajah wanita itu, aroma maskulin menyusup kedalam hidung.


“Aaaaah.” Afifah berteriak dan menutupi matanya, handuk Nathan terbuka hingga melihat senjata yang mengarah langsung pada wanita itu.


“Hey, kenapa kamu berteriak menutup mata?” Nathan melihat ikatan handuk yang telah terbuka dan tersenyum.


“Sayang, juniorku menginginkan kamu.” Nathan berbisik di telinga Afifah.


“Aku harus mandi.” Afifah mendorong tubuh Nathan, ia segera turun dari tempat tidur, membawa handuk dan pakaian ganti menuju kamar mandi tanpa melihat Nathan dengan tubuh tanpa tertutup sehelai benang pun.


“Ya Tuhan.” Afifah duduk di lantai kamar mandi dan menutupi wajahnya dengan tangan, tubuhnya terasa lemah. Wanita itu tidak pernah berpikiran tentang pernikahan, ketika berselancar di internet, ia hanya mencari tentang ilmu pengetahuan dan memblokir akses di luar itu. Melihat sesuatu yang sangat privasi membuat wanita itu benar-benar terkejut dan malu.


“Sayang, apa kamu belum selesai mandi?” Nathan mengetuk pintu kamar mandi.


“Sebentar lagi.” Afifah menjawab gugup, ia merasa takut melihat tubuh telanjang pria itu.


“Waktu asar sudah ada sayang.” Nathan masih menunggu di depan pintu.


“Kamu solatlah lebih dulu.” Afifah menempelkan kepalanya di pintu.


“Baiklah.” Nathan berjalan menuju tempat solat yang ada di dalam kamar.


Afifah keluar perlahan dari kamar mandi, ia segera memakai mukena dan menjadi makmum suaminya melaksanakan salat ashar hingga selesai. Wanita itu mencium punggung tangan Nathan dan pria itu mencium bibir istrinya.


“Apa? Harusnya ia mencium kepalaku.” Mata Afifah melotot.


“Kita harus banyak belajar.” Afifah tersenyum.


“Apakah belajar bercinta?” Nathan menatap Afifah.


“Belajar ritual sebelum bercinta secara agama islam.” Afifah membuka mukenah dan beranjak dari tempat salat.


“Kamu mau kemana sayang?” Nathan mengikuti Afifah.


“Jalan-jalan di tepi pantai sebelum magrib.” Afifah tersenyum menoleh kearah Nathan.


“Tunggu sebentar aku akan mengganti pakaian.” Nathan menggunakan celana pendek dan baju kaos tanpa lengan.


“Hah, pria ini sangat sempurna.” Afifah melihat Nathan berjalan kearah dirinya dengan senyuman yang sangat tampan.


“Sayang, apakah kamu mengagumi ketampanan diriku?” Nathan melingkarkan tangan kekarnya di pinggang Afifah.


“Aku rasa semua wanita mengagumi dirimu tetapi kenapa kamu memilih menikah dengan gadis desa.” Afifah menatap Nathan.


“Apa kamu tidak menyadari kecantikan, keunikan dan kelebihan yang kamu miliki?” Nathan terlihat kesal.


“Kenapa kamu marah?” Afifah tersenyum.


“Dengar, senyuman ini dan sikap yang tulus tanpa sadar telah membuat banyak pria jatuh hati pada dirimu.” Nathan menggesekkan hidung mancung mereka berdua.


Afifah dan Nathan bergandengan tangan menyusuri pinggiran pantai. Dengan garis pantai yang panjang, Pulau Moyo memiliki banyak pantai yang keindahannya tidak kalah dengan yang ada di Lombok dan Bali. Hampir semuanya memiliki keindahan alam bawah laut yang mempesona. Salah satunya adalah Pantai Tanjung Pasir.


Pantai Tanjung Pasir ini memiliki hamparan pasir putih yang paling luas di antara pantai yang lain. Air lautnya yang biru dan jernih seolah memanggil-manggil minta didekati. Afifah melepaskan tangan Nathan dan bermain air di pinggiran pantainya.


“Bagaiman kita mencoba berenang di kedalaman untuk bercengkrama dengan hewan laut dan terumbu karang?” Affiah menatap Nathan penuh harap.


“Kita bisa melakukannya besok atau lusa.” Nathan tersenyum, ia tidak mau Afifah lelah karena dirinya berharap bisa bercinta di malam hari.


“Apa kamu lelah?” Tanya Afifah.


“Tidak, aku hanya tidak mau kamu lelah untuk malam nanti.” Nathan berbisik di telinga Afifah.


“Aku akan tidur nyenyak.” Afifah berlari di pinggir pantai, kaos kaki dan gamis bagian bawah telah basah.


“Dia menggodaku.” Nathan berlari mengejar Afifah memeluknya dari belakang dan menarik tubuh itu jatuh ke laut hingga mereka berdua basah kuyup.


“Aah Nathan.” Afifah menarik napas ketika tubuhnya diangkat Nathan ke atas dan menurunkan perlahan.


“Kamu membuat kita basah.” Tangan Afifah memegang di pundak Nathan.


Nathan menarik tubuh Afifah menempel pada dirinya dan mencium bibir basah yang terasa asin karena air laut. Pria itu mengencangkan dan mengunci kedua tangan kekarnya di pinggang Afifah tidak ingin melepaskan ciuman dan pelukan basah di bawah sinar Matahari sore. Afifah berusaha mendorong tubuh Nathanagar menjauh tetapi tenaganya tidak sebanding dengan pria kekar itu.


“Ah, benar-benar nikmat.” Nathan melepaskan ciumannya dan menatap wajah memerah Afifah.


“Hari sudah sore, sebaiknya kita kembali ke kamar.” Afifah mendongakkan wajahnya untuk melihat wajah Nathan.


“Bisakah kamu mencium diriku, seperti yang aku lakukan?” Nathan menatap Afifah dengan lembut dan mendekatkan kembali bibirnya.


“Pelan-pelan disini.” Nathan menyentuh bibirnya dengan jari, Afifah memejamkan matanya dan melakukan apa yang pria itu minta. Mencium lembut bibir suaminya dengan perlahan.


Nathan tidak bisa menahan ciuman Afifah, ia semakin berhasrat menikmati bibir lembut penuh dalam mulutnya bermain dengan lidah, tangan pria itu mulai menjelajahi tubuh basah dengan nakal.


“Hentikan, ini memalukan.” Affiah melepaskan tangan Nathan dan berlari kembali ke kamar meninggalkan suaminya yang tersenyum nakal.


“Aku akan memakan habis dirimu malam ini.” Nathan berjalan santai melihat istrinya yang terus berlari dengan pakaian basah.


Salah satu ciri utama fitrah manusia adalah adanya rasa malu. Bila rasa malu hilang, manusia cenderung berbuat seperti binatang bahkan bisa lebih parah lagi.


Manusia memiliki sifat malu yang dapat menggerakkan nalurinya, menilai mana yang benar dan salah. Dengan rasa malu itu, setiap manusia berjalan di atas ketetapan fitrah dari Rabbnya.


***Love You All***


Untuk yang Suka berikan like, Komentar, bintang 5, Tips, Vote serta bantu promosikan. Terimakasih.


Baca juga Novel Author berjudul “Arsitek Cantik” dan "Mengejar Cinta Ariel" dan "Tabib Cantik Bulan Purnama"

__ADS_1


Novel Kakakku “Nyanyian Takdir Aisyah dan Cinta Bersemi di Ujung Musim.” (Fitri Rahayu). Terimakasih.


Semoga kita semua dalam keadaan sehat dan selalu mendapatkan perlindunganNya, Aamiin.


__ADS_2