
Kerajaan Arab Saudi
Kenzo berada di istana pangeran Fauzan, mereka sedang duduk berdua dan membahas bisnis, Kenzo sangat ingin membahas tentang rencana pernikahan dengan Ayesha, ia harus segera menghalalkan Ayesha sebagai istrinya agar selalu bisa berada di sisi Ayesha untuk menjaga dan melindunginya.
Keseriusan Fauzan dalam berdiskusi tentang pekerjaan tidak berani Kenzo ganggu, ia butuh waktu yang tepat, Kenzo berpikir Fauzan adalah pria gila dengan pekerjaan sehingga tidak memiliki waktu untuk memikirkan seorang wanita dalam hidupnya.
Seorang pengawal memasuki ruangan kerja Fauzan, memberi salam dan menyampaikan pesan bahwa ada pengawal istana raja yang meminta Kenzo untuk segera menghadap raja.
Fauzan dan Kenzo saling bertatapan, mereka tidak tahu kenapa Raja memanggil Kenzo untuk datang ke istana.
“Apa kamu berani?” Fauzan tersenyum dan melihat ke arah Kenzo.
“Tentu saja, untuk mendapatkan seorang putri aku harus berani berperang di medan perperangan.” Kenzo tersenyum dan beranjak dari kursi.
“Assalamualaikum.” Kenzo pamit kepada Fauzan dan mengikuti pengawal menuju Istana Raja.
“Waalaikumsalam.” Fauzan tersenyum.
“Jika Ayesha telah memilih kamu tidak akan ada yang berani menentang keputusannya, Raja dan Ratu sekalipun tidak akan mampu merubah keputusan Ayesha.” Fauzan tersenyum dan kembali fokus pada pekerjaanya.
Dengan doa Kenzo melangkahkan kakinya menuju istana raja dan ratu, ia tidak berani menebak apa yang akan terjadi, jika Ayesha adalah jodohnya halangan dan rintangan apapun akan tetap ia hadapi dan menjadikan Ayesha pasangan hidupnya.
Kenzo telah berada di Istana, Raja dan Ratu telah menunggu Kenzo di ruang keluarga, Kenzo mengucapkan salam dan memberi hormat.
‘Silahkan duduk!” perintah Raja.
“Terimakasih.” Kenzo terlihat tenang dalam sidang cinta dari seorang Raja yang sangat mencintai dan menyayangi Putrinya.
“Apakah kamu mencintai putriku?” Raja berdiri di depan Kenzo sedangkan Ratu duduk dikursinya memperhatikan Kenzo yang sedang di introgasi.
“Iya.” Kenzo tersenyum.
Ratu menatap Kenzo dengan penuh penyelidikan, pemuda di depannya telah berhasil merebut hati putri semata wayang mereka, ia sangat ingin tahu kelebihan dari Kenzo sehingga Ayesha menolak seorang Pangeran Brunei.
“Apa kamu tahu Ayesha adalah seorang putri?” Raja berjalan kembali ke kursinya.
“Awalnya saya tidak tahu.” Kenzo menjawab dengan sopan dan tenang.
“Dimana kalian bertemu?” Raja terus memberikan banyak pertanyan untu Kenzo.
Kenzo menjawab semua pertanyaan Raja dengan tenang dan jujur tanpa ada yang terlewatkan, dari pertama bertemu Ayesha hingga detik ini semua terekam jelas dan melekat dalam ingatan Kenzo, hanya satu yang tidak Kenzo katakan yaitu bahwa ia pernah melihat wajah Ayesha karena , hanya dirinya dan Allah yang tahu.
“Jelaskan semua tentang dirimu!” perintah Raja dan ini adalah pertanyaan terakhir untuk Kenzo.
Kenzo menarik napas dengan tenang dan tersenyum, menceritakan tentang dirinya yang hanya anak yatim piatu dan dibesarkan di pesantren berusaha terus sekolah untuk mencapai cita – cita dengan mendapatkan beasiswa, hingga ia menjadi pengusaha muda yang sukses dan menjadi donator untuk pesantren Abi Ramadhan.
Perusahaan Kenzo yang selalu menyisihkan keuntungan untuk disumbangkan dijalan Allah agar Perusahaan yang mereka jalani selalu berkah, dan keuntungan semakin berlipatganda.
Raja dan Ratu menarik napas lega, mereka sangat mengenal Ayesha, yang lebih memilih pria biasa daripada seorang pangeran, pria yang berusaha sendiri dari bawah dan bekerja keras sehingga menjadi sukses.
Kemenangan telah berada di tangan Kenzo, Raja dan Ratu sendiri yang akan menentukan pernikahan Ayesha dan Kenzo, bahkan Kenzo tidak perlu mengeluarkan biaya sepersenpun. Kenzo hanya perlu duduk manis menjadi pendamping Tuan Putri.
Setelah keluar dari Istana Raja Kenzo berlari kecang menuju Masjid, ia ingin berterimakasih kepada Allah yang telah memudahkan jalannya mendapatkan wanita luar biasa, Kenzo ingin menumpahkan kebahgiaannya dalam sujud syukur yang khusyuk.
Ayesha berdiri di balkon kamarnya, ia tersenyum melihat Kenzo yang berlari kencang menuju Masjid, Ayesha bahagia karena hanya ada satu pria yang telah menyentuhnya yaitu Kenzo yang akan menjadi suaminya.
Pria yang mencintai dirinya dari sejak pertama berjumpa dan Ayesha akan belajar mencintai Kenzo ketika telah menjadi suaminya.
Azim memperhatikan Ayesha yang melihat kearah Kenzo, tatapan mata yang penuh kebencian dan ketidakrelaan bahwa wanita yang sangat ia puja dan cintai akan menjadi milik orang lain.
“Azim, kita temui Raja sekarang.” Sultan Brunei melihat Azim yang melamun di balkon kamarnya.
__ADS_1
“Ayah, adakah cara untuk mendapatka Ayesha?” Azim masih memandang Ayesha.
“Kamu telah di tolak di depan keluarga kerajaan, apa lagi yang kamu inginkan?” Sultan duduk di kursi menghadap Azim.
“Ayesha mempermalukan diriku di depan pria miskin itu.” Azim mengepalkan tangannya.
“Apa kamu mengenal pria itu?” Sultan memperhatikan putra tertuanya.
“Kenzo Almenzo, pria yatim piatu yang dibesarkan di pesantren dan tidak tahu asal usulnya.” Azim tersenyum.
“Jika Tuan putri telah menentukan pilihan tidak ada yang bisa merubahnya.” Sultan beranjak dari kursi dan berjalan mendekati Azim.
“Lupakan saja Ayesha, walaupun dia adalah cinta pertama dirimu.” Sultan menepuk pundak Azim.
“Bagaimana aku bisa melupakan pesona Ayesha kecantikan sikap dan tingkah lakunya telah menghipnotis diriku, membuat akal sehatku tidak berfungsi.” Azim memijit batang hidungnya.
“Bagaimana pria itu bisa membuat Ayesha memilih dia?” Sultan melihat Kenzo keluar dari Masjid dan Ayesha masih berada di balkon kamarnya.
“Dia telah menyentuh Ayesha.” Azim menatap Kenzo penuh kebencian.
“Menyentuh?” Sultan bingung.
“Menggendong Ayesha ketika tidak sadarkan diri karena kecelakaan, itu adalah pertemuan mereka yang pertama, harusnya aku melamar Ayesha sejak dulu sebelum mereka bertemu.” Azim berjalan menuju kursi.
“Mereka dipertemukan dengan cara yang berbeda, kamu harus merelakannya.” Sultan menatap putranya.
“Aku mencintai Ayesha, aku yang pertama bertemu denganya.” Azim kesal.
“Putraku, kamu adalah seorang pangeran, buanglah ego yang ada pada dirimu, berusahalah menjadi iklas agar kamu menjadi pemimpin yang berhasil.” Sultan menepuk pundak Azim yang tertunduk diam.
“Jika kamu adalah hamba Allah yang taat dan baik, Insya Allah, akan Allah kirimkan wanita yang baik pula untuk dirimu, iklaskan dan serahkan semuanya kepada Allah.” Sultan memegang pundak Azim dan memeluknya, memberi kekuatan kepada putranya tang sedang patah hati diusia dewasa.
Manusia hanya bisa berdoa dan berusaha tetapi Allah yang akan menjadi penentu akhir baik dan buruknya, pantas dan tidaknya untuk hambaNya.
“Bagaimana hasil persidangan hari ini?” Fauzan tersenyum.
“Alhamdulilah, Allah berikan kemudahan untuk diriku.” Kenzo duduk di depan Fauzan.
“Keberuntungan kamu luar biasa, apa yang kamu lakukan dikehidupan sebelum ini?” Fauzan menutup bukunya.
“Aku tidak tahu.” Kenzo berusaha berpikir.
“Mendapatkan Ayesha saja kamu sudah beruntung ditambah lagi restu dari raja dan ratu sehingga kamu tidak perlu mengeluarkan apapun utnuk pernikahan ini.” Fauzan tersenyum.
“Alhamdulilah.” Kenzo tersenyum.
“Allah sedang membalas kebaikan yang telah kamu tanam selama ini dengan mendapatkan hadiah yang luar biasa.” Fauzan beranjak dari kursi dan menepuk pundak Kenzo.
“Bagaimana dengan anda?” Kenzo memberanikan diri untuk bertannya.
“Bagaimana apa?” Fauzan kembali duduk di kursinya.
“Calon pendamping.” Kenzo tersenyum.
“Ah, belum pernah terlintas dipikiranku.” Fauzan tersenyum, ia benar – benar tidak memikirkan tentang wanita pendampingnya.
“Allah akan kirimkan wanita terbaik untuk dirimu.” Kenzo menatap Fauzan yang tidak tertarik dengan pembicaran tentang wanita.
“Aamiin.” Fauzan tersenyum.
“Kapan kalian akan menikah?” Fauzan mengalihkan pembicaraan.
__ADS_1
“Jika diizinkan aku ingin secepatnya dapat menghalalkan Ayesha, walaupun hanya dengan ijab qabul dan tanpa pesta.” Kenzo menatap Fauzan.
“Apa kamu sudah tidak sabar ingin memiliki adikku?” Fauzan menatap tajam kepada Kenzo.
“Aku mau menjaga dan melindungi Ayesha.” Kenzo membalas tatapan Fauzan.
“Kamu benar, sebelum ada pria lain yang nekat untuk memiliki Ayesha secara paksa, sekuat apapun wanita hati mereka tetap lembut dan rapuh.” Fauzan memejamkan matanya, adik kecil yang selalu menempel manja pada dirinya akan pergi bersama kekasih halalnya dan meninggalkan Fauzan.
Kenzo memperhatikan Fauzan yang terlihat tidak merelakan Ayesha untuk dirinya, ia sangat mengerti apa yang Fauzan rasakan.
“Aku akan mencintai, menyayangi dan menjaga Ayesha seperti yang anda lakukan.” Kenzo berusaha menenangkan hati Fauzan.
“Aku percaya kepada dirimu, hanya saja aku akan kehilangan gadis kecil yang manja dan keras kepala yang selalu menempel dan menggandeng tanganku.” Fauzan melihat kearah istana Ayesha.
“Rasanya baru kemarin aku menggendongnya, tidak terasa ia telah menjadi wanita dewasa dan akan segera menikah.” Fauzan merasakan sedih bercampur bahagia di dalam hatinya.
“Kamu akan menjadi pengganti diriku, memanjakan dan menyayangi dirinya, Ayesha adalah gadis pemalu dan pendiam tetapi dengan kecerdasannya sehingga membuat ia menjadi wanita yang berani.” Fauzan menatap mata Kenzo yang dengan setia mendengarkan curahan hati Fauzan.
Kenzo telah merebut adik yang paling Fauzan sayangi, satu – satunya saudara perempuan yang Fauzan miliki.
Ayesha berbaring di atas tempat tidur tanpa menggunakan niqobnya , ia tersenyum memandang cincin berlian yang melingkar di jari manisnya, ia akan menyempurnakan agamanya dengan ikatan pernikahan.
“Ayesha.” Suara lembut dari seorang wanita paruh baya.
“Mama.” Ayesha beranjak dari tempat tidur dan memeluk mamanya.
“Apa kamu sudah siap untuk menikah?” Mama mengeratkan pelukannya.
“Insya Allah Ma, Allah telah mengirimkan jodoh terbaik untuk diriku.” Ayesha melepaskan pelukannya.
“Bagaimana kamu yakin dia adalah jodih terbaik untuk dirimu?” Mama memegang pipi Ayesha.
“Allah yang telah memberikan keyakinan pada hatiku.” Ayesha tersenyum cantik, gigi putih bersih tersusun rapi, dan satu gigi yang terselip membuat senyuman Ayesha semakin manis, dagu lancip dengan bibir merah merona.
“Sayangku, dia sangat beruntung mendapatkan putriku yang cantik ini.” Mama mencium dahi Ayesha.
“Ayesha juga beruntung mendapatkan dia.” Ayesha tersenyum.
“Apakah menurut putri mama pria itu tampan?” Mama menggoda Ayesha.
“Ma, Ayesha belum pernah memperhatikan wajah Kenzo, Ayesha akan melihatnya ketika dia sudah menjadi suami Ayesha.” Wajah Ayesha memerah.
“Ah, putri mama malu.” Mama mencubit pipi Ayesha yang merah merona.
“Ma, malu itu adalah fitrahnya manusia.” Ayesha memeluk mamanya.
“Baiklah, putriku Sayang, mama menyayangi dirimu.” Mama mengeratkan pelukannya.
“Ayesha sayang Mama.” Ayesha membenamkan kepalanya dalam lekukan leher mamanya.
Pelukan, cinta dan kasih sayang dari seorang ibu tidak akan pernah bisa digantikan dengan apapun, kehangatan yang berbeda penuh dengan kenyamanan.
***Baca juga Novel baru Author***
(Cari : AnnaLee di aplikasi Joy lada)
Mohon dukungnnya berikan like, Komentar, bintang 5 dan Vote. Terimakasih
Baca juga Novelku “Arsitek Cantik”
Novel Kakakku “Nyanyian Takdir Aisyah dan Cinta Bersemi di Ujung Musim.” (Fitri Rahayu), Terimakasih.
__ADS_1
Semoga kita semua dalam keadaan sehat dan selalu mendapatkan perlindunganNya, Aamiin.