Cinta Untuk Dokter Nisa

Cinta Untuk Dokter Nisa
Zayn dan Viona


__ADS_3

Setiap hari Viona menemani Nisa di rumah sakit dan sebelum pulang ia akan mampir ke pesantren agar tidak berbohong ketika ditanya mama dari mana.


Sepulang tarawih Viona akan berada di perpustakaan milik Stevent yang sangat luas dengan koleksi buku yang lengkap.


Viona harus banyak belajar tentang Islam kerena ia baru mengenalnya diusia dewasa, ada banyak yang tidak Viona pahami, selain melalu buku bacaan Viona juga belajar melalui internet.


Sudah berapa hari Viona tidak mengaktifkan ponsel, bahkan ia tidak tahu lagi dimana ia meletakkan ponselnya demi menghindari Zayn.


Viona berbaring di atas Sofa panjang dan membaca buku dengan fokus, ditemani jus buah dengan pintu yang tertutup rapat tetapi tidak dikunci.


Sebuah mobil sport berhenti di halaman rumah utama Stevent, seorang pria tampan turun dengan berpakaian rapi dan penuh percaya diri berjalan masuk ke rumah.


Zayn menahan emosi karena tidak bisa menghubungi Viona.


Papa Alexander menyambut Zayn dengan ramah karena telah mendapatkan suntikan dana cukup besar dari perusahaan Azhar.


“Halo nak Zayn, apa kabar?” Papa Alexander merangkul Zayn dengan ramah.


“Aku baik Tuan.” Zayn tersenyum, ia melihat rumah mewah yang sepi.


“Silahkan masuk, apa yang membawa kamu kemari?” Papa Alexander mengajak Zayn masuk ke rumah.


“Aku sangat merindukan Viona, apa aku bisa bertemu dengannya?” Zayn berbicara langsung kepada Papa Alexander, ia ingin menghukum Viona.


“Tentu saja.” Papa segera memanggil Mama yang sedang berada di ruang tengah.


“Ada apa Pa?” Mama berjalan mendekati papa dan melihat kepada Zayn yang tersenyum tampan.


“Dimana Viona?” Papa menatap Mama.


“Dia berada di perpustakaan.” Mama tersenyum.


“Panggilkan Viona!” Perintah Papa.


“Tuan, bolehkan saya menemuinya di perpustakaan?” Zayn tersenyum.


“Tentu saja Nak, itu adalah ruang perpustakan.” Papa menunjukan sebuah ruangan.


“Terimakasih.” Zayn bersemangat, ia segera berjalan menemui Viona.


Zayn melihat sebuah tulisan perpustakaan Stevent Lu di atas pintu, ia tersenyum dan membuka pintu dengan perlahan.


Ruangan yang sangat luas dipenuhi dengan rak – rak buku dengan ukuran raksasa dan terisi penuh buku yang tersusun rapi.


Zayn melangkahkan kakinya perlahan masuk ke dalam perpustakaan, ia memperhatikan setiap sudut ruangan untuk mencari Viona.


Seorang wanita dengan pakaian tidur celana dan baju lengan panjang, ia juga masih menggunakan hijabnya berbaring di atas sofa dengan wajah tertutup buku.


“Dia benar – benar berada di rumah sepanjang hari hingga malam.” Zayn tersenyum, ia berjalan mendekati Viona.


“Halo sayang.” Zayn menarik buku yang ada di tangan Viona yang terkejut hingga hampir jatuh dari sofa.


“Apa, apa yang kamu lakukan di sini?” Viona segera duduk, merapikan pakaian dan hijabnya.


"Aku datang karena merindukan dirimu.” Zayn duduk di ujung sofa dekat kaki Viona.


Viona menarik kakinya dan menjauhkan diri dari Zayn, ia ketakukan tidak akan ada yang menolong dirinya. Rumah sendiri terasa tidak aman lagi.


“Kenapa kamu mematikan ponsel kamu, apa kamu menghindari diriku?” Zayn menatap tajam kepada Viona.


“Aku tidak tahu dimana ponselku, mungkin sudah kehabisan baterai.” Viona berkata yang sebenarnya.


"Benarkah?” Zayn tersenyum menatap Viona.


"Sebaiknya kita berbicara di ruang tengah bersama Mama dan Papa." Viona menurunkan kakinya dari sofa.


"Aku mau berbicara berdua dengan kekasihku." Zayn tersenyum.

__ADS_1


“Prof, kenapa anda memaksa saya menjadi kekasih anda?” Viona menatap Zayn.


“Karena aku menginginkan dirimu dan panggil aku Zayn!” Zayn menyederkan tubuhnya di sofa.


“Tapi aku tidak mau.” Viona memberanikan dirinya untuk menolak Zayn.


“Kamu tidak punya pilihan, Papa kamu telah menjual dirimu kepada diriku.” Zayn tersenyum.


“Apa maksud kamu?” Viona bingung.


“Untuk menjadikan kamu kekasihku, aku harus memberikan modal yang cukup besar untuk Papa kamu yang sedang mengalami kebangkrutan karena berpisah dengan perusahaan Stevent.” Zayn menatap tajam kepada Viona.


Viona terdiam, ia sedang berpikir keras, ia tahu Stevent bisa membantu dirinya dengan mengembalikan uang Zayn.


“Baiklah, aku akan menghubungi kakakku.” Viona beranjak dari sofa ia melihat telepon yang ada di ruang perpustakaan.


Zayn menarik tangan Viona hingga kembali terduduk di Sofa panjang, ia sangat terkejut dan takut.


“Apa yang kamu lakukan? Lepaskan aku!" Viona berusaha beranjak dari kursi tetapi tangannya di tekan oleh Zayn.


“Kenapa kamu menolak diriku? Apa yang kurang dari diriku?” Zayn menatap tajam kepada Viona.


“Aku mohon lepaskan aku.” Viona berusaha mendorong tubuh Zayn.


“Aku tidak akan melepaskan dirimu, jika kamu tidak menjawab pertanyaanku.” Zayn mencengkram tangan Viona.


“Aku telah menyukai pria lain,” tegas Viona.


“Benarkah, apakah itu Kenzo?” Zayn tersenyum.


“Tidak bukan dia, tapi orang lain, aku menyukai orang lain.” Bentak Viona.


“Kamu membentak diriku.” Zayn memegang dagu tajam Viona.


“Lepaskan aku, aku tidak mau menjadi kekasih kamu!” tegas Viona, ia sangat kesal.


“Apa? Tidak aku mohon lepaskan aku.” Viona ketakutan.


“Ah, ternyata benar kamu belum pernah berciuman, kita akan melakukan ciuman pertama malam ini.” Zayn mendekatkan wajahnya pada Viona.


Sebuah tangan kekar menarik kerah kemeja Zayn dan mendaratkan beberapa pukulan di perut Zayn tanpa berbicara sepatah katapun.


Zayn tersungkur di lantai, Viona berlari memeluk Stevent, air matanya telah membasahi wajahnya, ia sangat ketakutan.


“Kembalilah ke kamar kamu!” Stevent menatap tajam kepada Viona, matanya tampak merah. Viona segera berlari menuju kamarnya. Stevent mengunci pintu perpustakaan.


“Ah aku tidak sangka Tuan Stevent akan pulang kerumah.” Zayn berusaha bangun.


“Berani sekali kamu menyentuh adikku.” Stevent memukul wajah Zayn hingga bibir Zayn pecah dan berdarah.


Stevent terus memukul Zayn, ia membayangkan Viona adalah Nisa dan tidak merelakan seorang pun untuk menyentuh adik dan istrinya.


Zayn benar – benar kewalahan menghadapi Stevent yang sedang emosi, yang terus memukul dirinya tanpa memberikan kesempatan untuk Zayn membalas.


Beberapa pegawal berusaha membuka pintu, mencari kunci duplikat karena mereka tidak berani mendobrak pintu.


“Setelah menghancurkan wajah kamu aku akan menghancurkan perusahaan kamu!” Stevent mencengram leher Zayn.


Wajah Zayn telah bengkak dan bibir pecah hingga mengeluarkan darah segar, Stevent melepaskan tubuh Zayn yang tidak berdaya di atas lantai.


Stevent berjalan meninggalkan ruangan perpustakaan menuju kamar Viona untuk ikut dirinya ke rumah sakit.


“Stevent berhenti!” teriak papa ketika bertemu dengan Stevent yang sedang menarik tangan Viona turun dari tangga.


“Ada apa?” Stevent tidak melihat kearah Papa Alexander.


“Kamu tidak usah ikut campur lagi dengan bisnis Papa.” Papa Alexander menatap tajam kepada Stevent.

__ADS_1


“Aku tidak akan ikut campur bisnis Papa, tetapi Viona adalah adikku yang telah kalian serahkan kepada diriku jadi aku bertanggungjawab atas dirinya.” Stevent menarik tangan Viona.


“Stevent berhenti, tinggalkan Viona!” Papa berteriak.


“Aku tidak akan meninggalkan Viona yang akan kamu jual demi perusahaan dirimu.” Stevent terus menarik tangan Viona meninggalkan rumah.


Papa Alexander menggerutu di dalam hatinya, ia segera berjalan menuju Perpustakaan.


“Viona ada apa?” Mama berlari melihat Viona yang terus menangis ketakutan.


“Biarkan Viona tinggal dengan diriku Ma.” Stevent membuka pintu mobil untuk Viona.


“Stev, apa yang terjadi pada Viona?” Mama memegang tangan Stevent.


“Mama bisa bertanya kepada Papa Alexander dan tamu kalian malam ini.” Stevent melepaskan tangan Mamanya dan masuk ke dalam mobil.


Stevent mengendarai mobil sport miliknya meninggalkan perkarangan rumah dengan kecepatan tinggi menuju rumah sakit, ia telah meninggalkan Nisa sendirian di rumah sakit.


“Kak, terima kasih.” Suara Viona serak, Stevent hanya diam tidak menjawab Viona.


Stevent berpikir untunglah para pengawal segera menghubungi dirinya sejak kedatangan Zayn, karena tidak ada yang berani melawan Papa Alexander.


Jika Stevent terlambat sedikit saja ia tidak tahu apa yang akan terjadi kepada Viona.


Mobil terus melaju hingga sampai di rumah sakit, Stevent tidak berbicara sepatah katapun, ia menarik tangan Viona berjalan menuju ruangan Nisa.


Nisa duduk di Sofa sendirian menunggu Stevent kembali, ia tersenyum ketika melihat suaminya yang tampan membuka pintu.


Viona segera berlari dan memeluk Nisa, ia kembali menangis di pundak Nisa, Stevent mencium dahi Nisa dan berjalan menuju kamar mandi, ia harus membersihkan diri dan mengganti pakaian.


“Viona, ada apa?” Nisa mengusap punggung Viona.


Viona menceritakan semua kejadian yang ia alami di perpustakaan, ia merasa telah dilecehkan Zayn dan hampir dinodai.


Nisa sangat terkejut, ia tidak mengira bahkan rumah sendiri tidak aman lagi untuk Viona, Nisa memeluk Viona dengan erat, ia sangat kasihan pada Viona, untung saja Allah masih menjaga kehormatan Viona dengan mengirimkan Stevent datang tepat pada waktunya.


“Viona, tidurlah di ruangan itu, aku akan tidur bersama Nisa.” Stevent telah selesai mandi dan berganti pakaian.


“Sayang, kenapa kamu mandi lagi” Nisa melihat Stevent mengeringkan rambutnya.


“Aku merasa gerah saja Sayang.” Stevent mencium pipi Nisa, ia mandi untuk membersihkan keringat setelah berkelahi dan membuang aroma tubuh Zayn yang mungkin menempel pada dirinya.


“Aku akan pergi tidur.” Viona beranjak dari sofa dan berjalan menuju sebuah kamar yang pernah dipakai Stevent dan Nisa bercinta.


“Sayang, kasihan Viona harus tidur di rumah sakit.” Nisa menyentuh pipi Stevent.


“Aku akan memikirkannya, apa anak kita sudah tidur?” Stevent meletakkan kepalanya di perut Nisa.


“Sepertinya begitu, setiap aku sendirian mereka lebih banyak diam dan aktiv ketika mendengarkan suara kamu.” Nisa tersenyum.


“Mereka benar – benar patuh pada dirimu.” Stevent mencium perut Nisa.


“Tentu saja, aku selalu membaca Alquran untuk menemani mereka sepanjang waktu.” Nisa mengusap rambut Stevent.


“Sebaiknya kita tidur, malam sudah sangat larut.” Stevent membantu Nisa beranjak dari Sofa dan berjalan menuju tempat tidur mereka berdua.


Tidur bersama dalam pelukan cinta kasih dan saling menjaga satu sama lainnya, Stevent menghirup aroma rambut dan tubuh nisa yang sangat harum yang telah menjadi kebiasaanya setiap malam.


***Baca Novel Baru Author***


(Cari : AnnaLee di aplikasi Joy lada)


Mohon dukungnnya berikan like, Komentar, bintang 5 dan Vote. TerimakasihBaca juga “Arsitek Cantik”


Novel Kakakku “Nyanyian Takdir Aisyah dan Cinta Bersemi di Ujung Musim.” (Fitri Rahayu), Putih Abu – abu ( Sohibul Iksan) Terimakasih.


Semoga kita semua dalam keadaan sehat dan selalu mendapatkan perlindunganNya, Aamiin.

__ADS_1


__ADS_2