
Pagi telah datang, tidak ada cahaya matahari yang masuk.
Nisa membuka perlahan matanya, ia merasa gerah, keringat yang telah membasahi wajah dan tubuhnya.
Ruangan yang begitu hangat, dipenuhi peralatan medis, dua buah jarum impuls menancap di lengan kira dan kanan Nisa.
Nisa melihat jam yang menempel pada dinding tepat di depannya, ia segera bertayamum dan melaksanakan shalat subuh di atas tempat tidur.
Seperti biasa, Nisa selalu membaca Alquran setelah sholat Subuh menunggu Sang Surya memberikan kehangatan kepada Dunia.
Dokter Nada segera masuk ke ruangan Nisa, ia terus memantau Nisa melalui layar monitor di ruangnya.
Hanya Dokter Nada dan seorang perawat yang boleh masuk ke dalam ruangan perawatan. Perawat membuka gorden kamar Nisa.
"Assalamualaikum" sapa Dokter Nada dan tersenyum kepada Nisa.
"Waalaikumsalam" Nisa balas tersenyum.
"Bagaimana perasaan kamu?" tanya Dokter Nada dan mengusap keringat yang membasahi wajah Nisa.
"Alhamdulilah, aku kepanasan dan lapar" Nisa tersenyum dan memelas, wajah yang sempat pucat kini telah terlihat merah merona dan cantik walaupun tanpa makeup.
"Alhamdulilah, itu adalah perkataan yang ingin aku dengan" Dokter Nada mencium dahi Nisa, ia segera mematikan pemanas ruangan.
"Apa yang ingin kamu makan?" Tanya Dokter Nada.
"Apa aku boleh makan di ruangan ini?" tanya Nisa.
"Tentu saja, kita akan makan bersama" Dokter Nada berbisik di telinga Nisa dan membuat Nisa tertawa.
Seorang pria berdiri dari Bali dinding kaca tersenyum melihat istrinya baik - baik saja.
Dokter Nada menuliskan pesanan Nisa dan dirinya, menyerahkan kertas pesanan kepada perawat.
"Suster, Tolong belikan makan ini untuk bumil yang kelaparan" ucap Dokter Nada tersenyum kepada Nisa.
Pelayan keluar dari ruangan Nisa dan di tahan oleh Stevent.
"Suster, bagaimana keadaan Istri saya?" Tanya Stevent.
"Sepertinya Dokter Nisa telah pulih, dan dia kelaparan" perawat menunjukkan selembar kertas berisi menu makanan yang Nisa dan Dokter Nada pesan.
Stevent menarik kertas dan segera berjalan menuju restoran depan Rumah Sakit.
Perawat kembali ke dalam ruangan.
"cepat sekali" ucap Dokter Nada.
"Tuan Stevent yang membelikan pesanan" jawab perawat.
Dokter Nada tersenyum melihat Nisa,
"Dia sangat mencintai dirimu" ucap Dokter Nada dan Nisa hanya tersenyum.
"Bisakah Dokter menutup semua gorden?" tanya Nisa.
"Kenapa?" tanya Dokter Nada dan menutup gorden di bantu perawat.
"Aku sedang tidak ingin melihat dunia luar" ucap Nisa.
"Nisa, ceritakan kepadaku, ingat kamu harus merasa bahagia demi janin dalam kandungan dirimu" tegas Dokter Nada.
"Aku akan berusaha membuat diriku bahagia, tetapi ada dua rasa yang berbeda di hatiku, kerinduan dan kekecewaan" Nisa menatap kosong ke sudut ruangan.
"Berikan ia kesempatan untuk menjelaskan" ucap Dokter Nada.
"Aku akan mendengarkan penjelasan dirinya ketika aku telah merasa lebih baik" Nisa memejamkan matanya.
"Baiklah, apa yang kamu inginkan?" tanya Dokter Nada dan menekan tombol menaikkan tempat tidur Nisa.
"Makan" jawab Nisa tersenyum dan membuka matanya.
"Apakah kamu mau berada di ruangan ini atau pindah ke ruangan yang lebih nyaman?" tanya Dokter Nada lagi.
"Pindahkan aku segera sebelum Stevent kembali, bisakah?" tanya Nisa.
"Tentu saja" ucap Dokter Nada tersenyum dan memanggil beberapa perawat untuk memindahkan Nisa ke kamar perawatan terbaik.
Nisa memilih kamar VIP, berdekatan dengan taman belakang dan berhadapan langsung dengan kantor Samuel.
Jenderal kaca mengarah ke taman dibuka, Nisa dapat menghirup udara segar di pagi hari, ia duduk di depan jendela menunggu sarapannya di temani Dokter Nada.
Seseorang mengetuk pintu dan Dokter Nada beranjak dari kursi dan membuka pintu.
"Dokter biarkan aku bertemu dengan istriku" ucap Stevent.
"Jika kamu masuk sekarang, ia tidak akan memakan sarapannya, tunggulah" tegas Dokter Nada dan Stevent menurut, ia menyerahkan sarapan Nisa dan kembali duduk di kursi luar yang berada di koridor.
Nisa dan Dokter Nada menikmati sarapan bersama tanpa ada yang berbicara.
"Selera makannya sangat bagus, tidak mungkin tubuhnya menjadi lemah kecuali pengaruh dari pikiran dan perasaan" Dokter Nada berbicara dalam hati dan memperhatikan Nisa makan dengan lahap.
__ADS_1
Tentu saja Nisa harus banyak makan, itu dilakukan untuk menjaga kesehatan janin dalam kandungannya dan pengaruh obat yang Nathan berikan untuk menguatkan kandungan Nisa.
Mereka telah selesai sarapan, Nisa sangat bahagia setelah makan banyak, ia benar-benar kelaparan.
"Bagaimana perasaan kamu sekarang?" Dokter Nada menyerahkan Anggur hitam dan sekotak salad sayuran dan buah kepada Nisa.
Nisa tidak sadar , ia memesan makanan kesukaan suaminya yang di mulai sejak Nisa Hamil.
"Tolong berikan kepada suamiku, katakan kepadanya, aku mau ia menghabiskan makanannya" Nisa tersenyum dan mengambil beberapa biji Anggur.
"Baiklah" Dokter Nada tersenyum dan berjalan keluar dari kamar, ia melihat Stevent yang berantakan duduk di kursi tunggu.
Seorang Bos besar terlihat hancur, tidak terawat, Perban luka pada tangannya harus segera di ganti.
"Tuan" sapa Dokter Nada.
"Apakah dia mau bertemu dengan diriku?" Tanya Stevent penuh harap.
"Ia mau kamu makan dan menghabiskan makanan ini" ucap Dokter Nada tersenyum, menyerahkan salad dan buah Anggur kepada Stevent.
Jhonny menghampiri Stevent membawa perlengkapan mandi dan baju ganti. Stevent telah menghabiskan salad dan buah Anggur.
Stevent berjalan menuju sebuah kamar lengkap dengan kamar mandi terbaik yang ada di Rumah Sakit dan harus membayar mahal seharga hotel satu malam.
Jhonny duduk di depan ruangan Nisa, menggantikan Stevent.
Ruang tunggu yang didesain seperti ruang tamu, begitu nyaman dengan sofa dan kursi panjang empuk.
Dokter Nada kembali ke kamar dan menemani Nisa, mereka bercerita bersama.
Seorang pria dari sebrang gedung dapat melihat dengan jelas senyuman manis Nisa penuh dengan ketulusan.
"Bisakah, aku mendapatkan seorang wanita cantik berhati malaikat seperti dirimu?" Samuel menatap Nisa dari kejauhan.
***
Jhonny rebahan di atas sofa panjang, ia mengantuk karena kurang tidur memikirkan Aisyah dan tunangannya.Tanpa sadar Jhonny tertidur di sofa.
Dua orang pria tampan dan gagah berjalan menuju ruangan perawatan Nisa.
Nathan mengetuk pintu kamar Nisa, dan Dokter Nada membuka pintu.
"Nathan" Dokter Nada terkejut, tidak ada Dokter yang tidak mengenal sang ahli kimia.
"Maaf, Apakah Nisa di rawat di sini?" tanya Nathan khawatir.
Roy memperhatikan Jhonny yang tertidur dan melihat sekilas wajah Dokter Nada yang begitu terkejut dengan kehadiran Nathan.
"Aku hanya sebentar ingin melihat Nisa" suara lembut Nathan menggelitik telinga Dokter Nada.
Belum sempat Dokter Nada menjawab, Nathan mendorong pintu dan melihat Nisa duduk menghadap jendela.
"Nisa" sapa Nathan.
"Nathan, kenapa kamu kemari?" Nisa melirik Dokter Nada meminta jawaban kenapa membiarkan Nathan masuk.
Kehadiran Nathan akan membuat Stevent gila.
"Nathan , pergilah, aku tidak mau Stevent marah" Nisa memohon.
"Aku akan pergi, tapi jawab pertanyaan ku! Aku telah memberi vitamin terbaik untuk dirimu Kenapa kamu bisa sakit?" Nathan khawatir karena kandungan Nisa terlalu lemah.
"Oh, pantas saja Nisa bisa sekuat ini, ternyata mendapatkan bantuan dari sang ahli" Dokter Nada berbicara dalam hatinya.
Dokter Nada tahu dengan kandungan Nisa yang bermasalah, tetapi ada perkembangan bagus dengan nafsu makan Nisa yang meningkat dan vitamin yang diberikan Nathan sebagai penguat kandungan.
"Karena aku terlalu lelah dan Allah ingin aku beristirahat" jawab Nisa khawatir Stevent akan datang.
Nisa berpikir pasti Stevent sedang membersihkan diri, pria pembersih itu selalu menjaga kesehatan dan kebersihan.
"Nisa, katakan padaku jika kamu membutuhkan sesuatu" tegas Nathan dan Nisa hanya mengangguk.
Walaupun Nisa tidak akan pernah meminta bantuan Nathan, setidaknya dengan anggukan dapat membuat Nathan segera meninggalkan ruangannya.
"Terimakasih" ucap Nisa menunduk.
"Nathan, maafkan aku, aku mohon pergilah, aku tidak mau kalian terluka" Nisa begitu khawatir, ia tidak ingin melihat perkelahian apalagi kemarahan Stevent.
Jhonny terbangun dari tidurnya, ia melihat Roy berdiri di depan pintu kamar Nisa.
"Roy, apa yang kamu lakukan?" Jhonny beranjak dari kursi dan menarik kerah baju Roy.
"Menunggu Tuan Nathan menjenguk Nona Nisa" Ucap Roy santai dan tersenyum.
"Apa?" Jhonny segera melepaskan tangannya dari leher baju Roy.
Jhonny melihat arah kamar yang digunakan Stevent untuk mandi dan berganti pakaian. Jhonny benar-benar khawatir, ia merasa jika pintu itu terbuka dan Nathan masih di ruangan Nisa, akan ada pertumpahan darah di Rumah Sakit.
"Roy, segeralah pergi dengan Nathan, Stevent belum bertemu Nisa dari kemarin, bayangkan jika Nathan yang lebih dulu bertemu Nisa dari dirinya" suara lembut Jhonny penuh tekanan.
"Baiklah" Roy mengetuk pintu kamar Nisa dan Nathan keluar bersama dengan keluarganya Stevent dari ruangannya.
__ADS_1
Mata Nathan bertemu dengan mata Stevent, terlihat kilatan tajam di antara keduanya.
Stevent berjalan cepat Menuju Nathan yang segera menghindar dari kamar Nisa karena ia tidak ingin membuat Nisa khawatir.
Roy dan Jhonny mengikuti langkah kaki Stevent dan Nathan menuju koridor menaruh dari kamar Nisa.
Stevent telah menarik kerah baju Nathan terlebih dahulu.
"Kenapa kamu datang menemui istriku?" tanya Stevent emosi.
"Aku hanya memastikan kamu adalah penyebab Nisa sakit" tegas Nathan.
"Apa maksud kamu?" Stevent mulai berang, semua menyalakan dirinya.
"Apa kamu tidak tahu kandungan Nisa bermasalah dan terlalu lemah?" Nathan membalas tatapan Stevent dan melepaskan tangan Stevent.
Stevent terdiam dan berpikir, Nisa baik - baik bahkan selera makannya bagus.
"Aku akan mengatakan satu hal kepada kamu, jika bukan karena vitamin penguat kandungan yang aku suntikan, Nisa sudah pasti keguguran karena tertekan dan depresi yang kamu berikan" tegas Nathan emosi.
"Apakah kamu menyelidiki kehidupan diriku?" Mata Stevent memerah.
"Aku tidak mau kamu menyiksa Nisa dengan cara hidupmu yang keras dan merasa hanya sendiri, satu hal lagi, aku siap menerima Nisa bagaimana pun keadaan dia" Nathan melepaskan tangannya dari leher Stevent.
"Bug" pukulan mendarat di wajah Nathan.
"Jangan pernah bermimpi untuk memiliki Nisa, sampai kapanpun dia adalah istriku" mata Stevent memerah.
"Hahaha" Nathan tertawa, ia mengusap bibirnya yang pecah karena pukulan Stevent.
"Tidak ada yang tidak mungkin di dunia ini!" Nathan berjalan meninggalkan Stevent diikuti Roy yang jadi penonton bersama Jhonny.
Stevent Berlari ke kamar Nisa dan mengetuk pintu, Dokter Nada membuka pintu dan tersenyum.
Stevent masuk perlahan dan melihat Nisa masih dengan posisi yang sama berdiri di tepi jendela dan memandang taman belakang.
Stevent memeluk Nisa dari belakang, dan meletakkan dagunya di leher Nisa yang terdiam dan memejamkan matanya.
Nisa sangat merindukan pelukan hangat dan manja suaminya tapi kekecewaan yang Stevent berikan mengalahkan kerinduannya.
"Sayang, tanyakan apa yang mau kamu ketahui?" Stevent berbisik di telinga Nisa.
Dokter Nada segera meninggalkan ruangan dan membiarkan pasang suami istri menyelesaikan masalah mereka.
Nisa hanya terdiam dan terus memejamkan matanya.
"Maafkan aku melupakan janji kepada dirimu dan wanita itu hanya rekan bisnis yang harus aku selesaikan bersama Jhonny, kami tidak berdua" jelas Stevent.
Stevent memutar tubuh Nisa hingga menghadap dirinya, Nisa menundukkan kepalanya, ia tidak sanggup melihat wajah Stevent.
"Sayang, tidak ada wanita lain di hati dan kehidupan ku , hanya kamu seorang yang aku cintai" Stevent memeluk Nisa.
"Maafkan aku, aku akan selalu membawa dirimu kemanapun aku pergi" Stevent mencium dahi Nisa.
"Maukah kamu memaafkan diriku?" Stevent melepaskan pelukannya dan menatap wajah Nisa yang masih terdiam.
"Katakan, apa yang harus aku lakukan agar kamu memaafkan diriku? apa kamu mau aku dipukuli, atau kamu boleh melukai diriku" Stevent menggenggam erat tangan Nisa yang menggelengkan kepalanya.
"Sayang, aku mohon maafkan aku, atau aku akan membunuh wanita itu agar kamu tidak melihatnya lagi!" Stevent frustasi dan Nisa menutup mulut Nisa dengan tangan lembutnya.
"Jangan katakan kalimat itu lagi, bayi kita akan mendengarkannya, berkatalah yang baik - baik" ucap Nisa tersenyum kepada Stevent.
"Sayang Maafkan aku" Stevent memeluk Nisa bahagia karena ia bisa mendengarkan kembali suara wanita yang sangat ia cintai dan rindukan.
Nisa membalas pelukan suaminya, pelukan hangat yang begitu menenangkan.
"Aku akan terus menjaga dirimu dan bayi kita" bisik Stevent.
***
**
*
*Terimakasih
*
**
**
Udah legakan Readers? 💓
Thanks for Reading.
Selalu Dukung Author dengan Like dan Komentar di setiap episode 😘
Berikan Vote juga yaa, yang udah Terima kasih banyak, Readers ku tercinta.
Semoga Readers semua selalu dalam keadaan sehat dan mendapatkan rezeki yang berlimpah Aamiin.
__ADS_1
Love You Readers 💓**