
Nisa membuka matanya perlahan, ia melihat ruangan yang asing.
Aisyah duduk di samping Nisa dan tersenyum melihat Nisa yang telah sadar.
"Dokter Aisyah." Suara Nisa lembut.
"Bagaimana keadaan kamu?" Aisyah tersenyum.
"Dimana Stevent?" tanya Nisa.
"Aku akan memanggil dia untuk kamu." ucap Aisyah, berjalan keluar ruangan.
Pintu terbuka, empat orang pria tampan segera berdiri.
"Stevent, Nisa memanggil dirimu." Stevent segera berlari masuk ke dalam ruangan.
Aisyah memperhatikan Nathan yang sangat berharap bisa melihat Nisa yang telah sadarkan diri.
"Kenapa aku merasa sesak setiap kali melihat Nathan, tidak bisakah ia mengisi hatinya dengan wanita lain?" Aisyah berbicara dalam hati.
"Tuan Nathan sebaiknya kita kembali ke ruangan Anda." ucap Roy.
Nathan tidak menjawab tetapi ia langsung berjalan menuju ruangan dan diikuti Roy.
Jhonny dan Aisyah duduk berhadapan di kursi.
Jhonny memperhatikan Aisyah, yang terlihat lelah.
"Apa aku gagal tidur di rumah Aisyah" Jhonny berbicara di dalam hatinya.
"Apa yang kamu pikirkan?" tanya Aisyah.
"Bagaimana kamu bisa hampir kecelakaan?" tanya Jhonny memperhatikan Aisyah.
"Apa, Aku." Aisyah tidak berani menyebutkan nama Jordan, ia khawatir.
"Aku melamun." ucap Aisyah.
"Benarkah?" Jhonny menatap Aisyah untuk menyelidiki.
***
Stevent berjalan mendekati Nisa, ia memandang wajah pucat yang tersenyum kepadanya.
"Sayang." sapa Nisa lembut.
Stevent mencium dahi dan menggenggam tangan Nisa, wajah kusut yang sangat menghawatirkan Nisa.
"Sayang, maafkan aku." ucap Nisa lembut.
"Untuk Apa?" Stevent duduk di samping Nisa mencium punggung tangan Nisa yang ia genggam erat.
"Aku membuat kamu khawatir." ucap Nisa menarik tangan Stevent meletakkan di pipinya.
"Aku mencintaimu tentu saja aku akan selalu khawatir dengan dirimu." Stevent mencium dahi Nisa dengan lama.
"Bagaimana bayi kita?" tanya Nisa mengusap perutnya.
"Mereka Sehat dan tidur nyenyak di dalam perut kamu." Stevent mengusap lembut perut Nisa.
"Alhamdulillah." Nisa tersenyum.
"Sayang, Apa kamu lapar atau haus?" tanya Stevent menatap sayu kepada Nisa.
"Aku rindu kepada suamiku." Nisa tersenyum.
"Sayang, Aku selalu merindukan dirimu setiap waktu." Stevent naik ke tempat tidur dan memeluk Nisa.
Mereka saling berhadapan mendekatkan wajah mereka.
__ADS_1
"Jangan pernah tinggalkan Aku." ucap Stevent lembut menempel hidung mereka berdua.
Nisa hanya tersenyum dan mengusap pipi Stevent. Ia tidak berani berjanji, karena tidak ada yang tahu kehendak Allah.
"Sayang, Aku belum sholat Magrib, bagaimana dengan dirimu?" tanya Nisa dan Stevent menggelengkan kepalanya.
"Aku tahu, kamu menunggu diriku untuk sholat bersama." Nisa tersenyum.
Stevent diam dan memejamkan matanya, Nisa beranjak perlahan.
"Sayang, kamu mau kemana?" tanya Stevent dan turun dari tempat tidur.
"Sholat Magrib sayang." ucap Nisa tersenyum.
"Sayang, kamu sedang sakit." Stevent menghalangi Nisa yang telah berdiri dengan selang infus yang masih menancap di lengannya.
"Sayang, selama nafas masih berhembus, sebagai seorang muslim yang taat kita wajib melaksanakan shalat semampu kita." Nisa tersenyum menyentuh pipi Stevent dengan lembut dan menarik tangan Stevent untuk berwudhu bersama.
Mereka sholat berjamaah, Nisa menjadi makmum dan sholat duduk.
Selesai sholat, Stevent memutar tubuhnya, melihat Nisa yang tersenyum dan mengulurkan tangannya, menyalami dan mencium punggung tangan Stevent.
Stevent mencium dahi Nisa sangat lama, memejamkan mata mereka berdua. Menikmati kebersamaan dalam cinta.
"Sayang, Aku lapar." ucap Nisa lembut.
"Kemarilah." Stevent membantu Nisa berdiri dan kembali ke tempat tidur.
"Katakan, Istriku mau makan apa?" tanya Stevent.
"Seafood." Jawab Nisa manja dan tersenyum.
"Aah, baiklah." Stevent mulai merasa mual.
Stevent menghubungi restoran terkenal dan terdekat dari rumah sakit agar segera mengantarkan semua menu seafood dan vegetarian yang ada di restoran.
Restorant menjadi heboh, mereka harus memberikan yang terbaik untuk Tuan Stevent Lu Alexander.
"Sayang, ketika aku makan kamu tunggu di luar saja." ucap Nisa.
"Aku memesan seafood dan vegetarian." ucap Stevent memeluk Nisa.
Mereka berdua kembali berbaring di atas tempat tidur yang sama dan saling berpelukan.
Jhonny dan Aisyah berjalan bersama dari musholla rumah sakit.
Mereka hanya diam, tidak ada yang memulai percakapan.
"Bagaimana jika Jhonny sudah menjadi suamiku, apa kami hanya akan berdiam?" Aisyah berbicara di dalam hatinya.
"Satu bulan terasa satu tahun, kapan aku bisa mengandeng tangan dan mencium dahinya?" suara hati Jhonny yang melirik Aisyah.
Jhonny dan Aisyah terkejut, rumah sakit menjadi riuh, mobil catering dari restoran ternama telah terparkir di depan rumah sakit.
Semua orang menjadi heran dan bertanya-tanya, apakah rumah sakit mengadakan pesta.
Jhonny berlari menuju pintu utama rumah Sakit.
"Selamat Sore Tuan Jhonny." sapa seorang manager restoran yang pasti sangat mengenal Jhonny.
"Ada apa?" tanya Jhonny memperhatikan 10 buah mobil box pembawa makanan pesanan Stevent.
"Maaf Tuan Jhonny, Tuan Stevent langsung menghubungi saya dan minta untuk mengantarkan semua menu seafood dan vegetarian yang ada di restoran." jelas menager restoran.
"Apa?" Jhonny kaget.
"Ada apa?" tanya Aisyah heran.
"Stevent membuat kekacauan di rumah Sakit." Ucap Jhonny.
__ADS_1
"Kekacauan bagaiman." tanya Aisyah, Jhonny tidak menjawab Aisyah, ia segera menghubungi Stevent.
"Ada apa?" Stevent menjawab panggilan Jhonny yang menggangu kemesraan dirinya dengan Nisa.
"Pesanan Tuan telah sampai." ucap Jhonny.
"Oh, suruh mereka membawa masuk ke kamar Nisa." ucap Stevent santai.
Jhonny menarik nafasnya, apa yang dipikirkan oleh Stevent.
"Apakah Tuan mau 10 mobil box masuk ke dalam kamar Nyonya Nisa?" tanya Jhonny.
"Ah, aku tanyakan Nisa." ucap Stevent.
"Apa Stevent menjadi bodoh karena frustasi dengan keadaan Nyonya Nisa." suara hati Jhonny.
"Sayang, makanan kita sudah di depan pintu tetapi tidak bisa masuk ke kamar." ucap Stevent tersenyum.
"Kenapa?" tanya Nisa heran.
"Karena mereka membawa semua menu seafood dan vegetarian yang ada di restoran." Stevent tersenyum.
Nisa tersenyum dan menggelengkan kepalanya.
"Kita akan berbagi makanan di rumah Sakit." Nisa mencium bibir Stevent sekilas dan mencabut jarum infus dari lengannya.
"Sayang, apa yang kamu lakukan?" tanya Stevent khawatir.
"Kita akan makan malam bersama semua orang di rumah Sakit." ucap Nisa tersenyum.
Jhonny terus mendengarkan percakapan bahkan ciuman Stevent dan Nisa melalui ponselnya.
"Bawakan semua makanan ke kantin Rumah Sakit." perintah Jhonny.
"Tuan Stevent, Anda dan Nyonya bisa makan di kantin rumah sakit." ucap Jhonny melalui ponselnya.
Stevent mengendong Nisa menuju kantin rumah Sakit.
Kantin rumah Sakit menjadi kosong, para pramusaji menata rapi semua makanan di atas meja.
Memisahkan seafood dan vegetarian, buah-buahan dan jus buah segar.
Pasien dan pengunjung rumah sakit dibuat heran dan heboh oleh Stevent.
Satu Meja dengan menu lengkap aneka seafood dan satu meja khusus Vegetarian.
Stevent membuat Kantin rumah sakit berubah menjadi restoran terkenal dan mahal.
Aisyah Menggelengkan kepalanya, sedangkan Jhonny biasa saja dengan sigap Jhonny bisa mengatur semuanya menjadi lancar dan mudah.
Semua mata tertuju kepada Stevent, bos besar yang sangat terkenal berjalan ke kantin dengan menggendong istrinya.
Mereka telah memilih meja yang berdampingan dengan menu yang berbeda.
Jhonny berdiri di samping Stevent menunggu perintah.
"Sayang, biarkan semua orang makan bersama kita" ucap Nisa lembut.
"Jhonny, makanlah bersama semua orang!" perintah Stevent.
Tanpa menjawab Jhonny segera melaksanakan perintah Stevent, sehingga dengan teratur orang bisa makan malam bersama.
Nisa makan bersama Aisyah dan Stevent bersama Jhonny.
******************************
Mohon tinggalkan Like komentar Vote dan Bintang 5 😘 Terimakasih.
Baca juga Arsitek Cantik, Nyanyian Takdir Aisyah dan Cinta Bersemi di Ujung Musim." terimakasih 😘
__ADS_1
Semoga Kita semua selalu dalam keadaan sehat dan mendapatkan rezeki yang berlimpah Aamiin 😇
😊Love You All 💓 Thanks for Reading 😊