Cinta Untuk Dokter Nisa

Cinta Untuk Dokter Nisa
Dua Pria


__ADS_3

Nisa duduk di ayunan bawah pohon, ia mengusap perutnya yang semakin membesar, Usia kandungan memasuki 5 bulan.


"Sayang, Mama merasa semakin lemah." Nisa berbicara dengan calon bayi yang tidur pulas di dalam janinnya.


"Mama tahu kalian berdua semakin kuat dan sehat, semoga Mama bisa mengantarkan kalian ke dunia ini." Nisa tersenyum dan terus mengusap perutnya.


"Ya Allah izinkan aku melahirkan mereka." Air mata Nisa mengalir membasahi wajahnya.


Nisa mengusap air matanya, ia tidak mau terlihat lemah di depan Stevent.


Pria tampan dan gagah tersenyum kepada istri cantiknya yang juga tersenyum kepada dirinya.


"Sayang." Stevent mengecup keningl dan perut Nisa.


"Halo anak Papa, apa yang kalian lakukan di dalam sama?" Stevent berbicara dengan perut Nisa.


"Kami sedang tidur Papa." jawab Nisa dan mengusap rambut Stevent.


Stevent beranjak dan mencium bibir Nisa dengan lembut.


"Sayang, aku sangat merindukan dirimu." Ucap Stevent memandang Nisa.


Hari ini Nisa tidak ikut ke kantor Stevent karena Nisa merasa sangat lelah dan lemah.


"Aku juga merindukan suamiku." Nisa meletakan tangannya di samping pipi kiri dan kanan Stevent.


Nisa mendekatkan wajahnya kepada wajah Stevent dan menggesekkan hidung mereka berdua.


"Hari sudah petang, kamu harus masuk ke rumah." Stevent menggendong Nisa.


"Apa suamiku sudah solat ashar" tanya Nisa.


"Sudah Sayang." Stevent mencium pipi Nisa.


Stevent menggendong Nisa, pintu terbuka secara otomatis.


"Selamat Sore Tuan Putri." salam salsa.


"Selamat Sore salsa." Jawab Nisa.


"Salsa, ambilkan Anggur di lemari pendingin!" perintah Stevent.


Robot Salsa hanya diam dan tersenyum, ia tidak melakukan perintah Stevent.


"Ah, kenapa kamu harus berada di rumah ini jika tidak mematuhi perintah ku." kesal Stevent dan Nisa tertawa.


"Salsa, ambilkan buah Anggur hitam di lemari pendingin!" perintah Nisa.


"Baik Tuan Putri." Salsa segera bergerak menuju dapur dan mengambilkan buang Anggur.


Stevent dan Nisa duduk di ruang tengah, Nisa duduk di pangkuan Stevent.


"Sayang, apa kamu tidak mandi?" tanya Nisa mencubit pipi Stevent.


"Setelah makan Anggur aku akan mandi." Stevent mencium bibir Nisa.


"Tuan Putri, Anggur Anda." Salsa meletakkan Anggur di atas meja.


"Salsa pergilah tidur, kamu mengganggu saja." Ucap Stevent.


Salsa hanya memberikan senyuman kepada Stevent.


"Jangan tersenyum kepadaku, menjengkelkan" Stevent menatap tajam kepada Salsa.


"Sayang, Salsa hanya robot." Ucap Nisa beranjak dari pangkuan Stevent dan mengambilkan Anggur.


"Salsa kembali ke kamar, 10 menit dari sekarang tidur." ucap Nisa.


"Baik Tuan Putri." ucap Salsa memberi hormat dan bergerak ke kamarnya.


Salsa masuk ke dalam kotak pengisian baterai, dan akan tidur dalam 10 menit secara otomatis.


"Makanlah Anggur dan segeralah mandi." Nisa menyuapkan Anggur ke mulut Stevent.


"Berikan Anggur dari mulut mu." ucap Stevent manja.


"Baiklah setelah itu kamu mandi?" ucap Nisa memasukkan Anggur ke mulutnya dan mendekatkan ke mulut Stevent.


"Kenapa kamu terus menyuruh diriku mandi?" Stevent merajuk seperti anak kecil.


"Sayang waktu mandi itu batasnya jam 5 sore dan 5 pagi, jadi kamu harus mandi sebelum itu." Nisa mencubit hidung Stevent.

__ADS_1


"Baiklah, berikan aku ciuman yang mesra." Stevent mendekatkan wajahnya.


"Nanti kamu tidak mau melepaskan diriku." ucap Nisa tersenyum.


"Aku tidak akan menggangu Sayangku beristirahat." Stevent menggigit dagu Nisa.


Nisa mencium bibir Stevent dengan mesra, mereka memejamkan untuk menikmati ciuman yang lembut dan hangat.


"Sayang, mandilah." Nisa menghentikan ciumannya.


"Sayang, sekali lagi." ucap Stevent manja.


"Lihatlah jam di tanganmu, Sayang." Nisa beranjak dari Stevent.


"Baiklah, aku akan mandi." Stevent mengecup dahi Nisa yang tersenyum kepada Stevent.


Nisa melihat Stevent dengan tatapan sedih, Nisa kembali mengusap perutnya, ia merasakan sakit.


Selera makan Nisa telah berkurang, seharusnya semakin bertambah usia kandungan Nisa harus lebih banyak mengkonsumsi makanan yang bergizi.


Nisa berjalan perlahan menuju wastafel di dapur, ia merasa mual dan akhirnya muntah semua makanan yang telah ia makan.


Tubuh Nisa semakin lemah, ia merasakan dorongan dari perutnya memaksakan Nisa mual dan muntah.


Nisa terus beristighfar dan membaca ayat suci Al-Quran di dalam hatinya.


Perlahan Nisa melepaskan pegangan tangan hingga ia melorot duduk di lantai.


"Ya Allah, apa yang harus aku lakukan?" Nisa berbicara di dalam hatinya.


Nisa menyenderkan tubuhnya di dinding, memejamkan matanya, berusaha mengembalikan kekuatan pada dirinya.


Namun usaha Nisa sia - sia, ia sudah tidak sadarkan diri di atas lantai.


"Sayang, kamu dimana?" Stevent mencari Nisa di kamar bawah dan kamar Salsa.


"Sayang." Stevent mencari Nisa sekeliling rumah, ia tidak bisa melihat di balik meja makan.


"Sayang, kamu dimana?" Stevent mulai berteriak, ia melihat kran wastafel terus terbuka.


Stevent mulai khawatir, ia berjalan perlahan menuju dapur dan melihat Nisa tidak sadarkan diri di atas lantai.


"Sayang, Nisa, bangun." Stevent kebingungan dan gugup, ia tidak tahu harus melakukan apa. Jhonny, hanya nama Jhonny yang terlintas di otaknya.


Stevent segera menghubungi Jhonny dan memberitahukan keadaan Nisa.


Jhonny yang masih berada di rumah Aisyah segera memberitahu kepada Aisyah.


"Katakan kepada Stevent untuk segera membawa Nisa ke rumah sakit Nathan." ucap Aisyah panik.


Jhonny, kembali menghubungi Stevent untuk membawa Nisa ke rumah sakit Nathan.


Stevent menggendong Nisa menuju mobil lain yang lebih besar agar Nisa bisa berbaring.


Mobil melaju dengan kencang menuju rumah sakit Nathan.


Stevent kebingungan dan sangat ketakutan, ia benar-benar cemas.


Aisyah telah menghubungi Nathan dan Valentino, agar mereka segera menuju rumah sakit, karena Stevent membawa Nisa yang tidak sadarkan diri.


Nathan sangat khawatir, ia bergegas menuju rumah sakit dan meninggalkan Valentino bersama Roy.


Valentino membereskan formula yang sedang mereka buat.


"Aku akan menunggu dirimu." ucap Roy.


"Tentu saja, kita harus menyelesaikan formula ini, sepertinya Nathan sudah tidak fokus lagi." Valentino kembali duduk di depan meja laboratorium.


Roy tersenyum, ada banyak orang yang peduli kepada Nisa dan ada banyak orang yang takut kehilangan Nisa.


Nathan berlari menuju mobilnya yang berada di parkiran Laboratorium, ia segera masuk kedalam mobil dan memacunya dengan kecepatan tinggi menuju rumah sakit miliknya.


Stevent dan Nathan sampai di rumah Sakit bersamaan. Mobil mereka saling berhadapan.


Stevent segera membuka pintu mobil dan menggendong Nisa, sebuah brankar dorong telah disiapkan di depan pintu.


Nisa berbaring lemah dengan mata terus terpejam dan nafasnya teratur bagaikan sedang tidur.


Stevent dan Nathan mendorong brankar bersama menuju ruang perawatan langsung.


Tidak ada yang bertanya, tidak ada yang berbicara, mereka berdua diam melihat wanita yang dicintai terbaring tidak berdaya.

__ADS_1


Seorang dokter kandungan telah menunggu di ruangan.


Ia segera memeriksa Nisa dan dibantu oleh beberapa perawat.


Stevent menunggu di luar,ia sangat khawatir dan kacau.


Nathan akan masuk ke dalam ruangan, tangannya di tarik Stevent.


"Katakan, apa yang terjadi pada Nisa?" tanya Stevent penuh harap.


"Kondisi Nisa sangat lemah, sepertinya ia memuntahkan semua makanannya." Ucap Nathan.


"Kamu benar, aku menemukan Nisa pingsan dekat wastafel." Stevent mengacak rambutnya.


"Kami harus mengembalikan kondisi Nisa dengan bantuan cairan impuls." ucap Nathan meninggalkan Stevent yang terduduk di kursi tunggu.


Jhonny dan Aisyah berlari bersama memenuhi Stevent.


Wajah sedih dan frustasi terlihat jelas di mata Stevent, ini pertama kalinya ia melihat Nisa sakit dan pingsan tidak sadarkan diri.


"Stevent, bersabarlah." Aisyah berjalan masuk keruangan.


Ia melihat Nathan duduk di samping Nisa dan memperhatikan wajah pucat Nisa.


"Kenapa ia tidak bisa menunggu sebentar lagi." ucap Nathan dengan wajah yang sama frustasi dengan Stevent.


Aisyah menyentuh pipi Nisa yang dingin dan lembut.


"Ia akan baik - baik saja." ucap Aisyah menahan air matanya.


Tubuh lemah dengan mata yang masih terpejam, tidak sadarkan diri, cairan impuls mengalir perlahan masuk ke dalam tubuh Nisa.


"Bagaimana formula kamu?" tanya Aisyah.


"Kami hampir menyelesaikannya." ucap Nathan yang terus memperhatikan wajah Nisa.


Wajah yang selalu ia rindukan, kini dapat ia lihat tetapi dalam keadaan tidak sadarkan diri. Tidak ada senyuman manis dan tulus di wajah Nisa.


Tidur tenang bagaikan bayi polos tidak berdosa, tanpa rasa sakit dan khawatir.


"Tuan Nathan, kita akan melakukan USG." ucap Dokter kandungan.


"Dokter Aisyah tetaplah di sini temani Nisa." Nathan keluar dari ruangan Nisa.


"Apakah kamu seorang Dokter?" tanya Dokter kandungan.


"Iya." ucap Aisyah.


"Baguslah, Anda bisa membantu saya." ucap Dokter tersenyum.


"Lihatlah, bayi dalam kandungan sangat sehat dan kuat, tetapi kenapa Ibunya begitu lemah?" Ucap Dokter kandungan.


Asiyah memperhatikan layar komputer yang menampilkan dua bayi kembar yang terlihat bergerak aktif.


"Apa jenis kelamin mereka?" Tanya Aisyah.


"Entahlah, tidak bisa dilihat mereka terus berpelukan." ucap Dokter kandungan.


"Mereka pasti saling menyayangi dan mencintai Nisa." air mata Aisyah mengalir.


"Apakah Tuan Nathan sedang melakukan penelitian untuk Nyonya Nisa?" tanya Dokter kandungan.


"Iya." Jawab Aisyah.


Nathan dan Stevent duduk berdampingan, dua pria yang jadi musuh bebuyutan dari sejak bertemu. Roy duduk berdampingan dengan Jhonny.


Mereka berdua memperhatikan Nathan dan Stevent.


Dua pria yang memancarkan ketampanan luar biasa hanya diam tanpa bicara.


Stevent memejamkan matanya dan menyederkan tubuhnya pada kursi tunggu begitu juga dengan Nathan meletakkan kedua tangannya di lehernya.


***************************


Mohon dukungannya dengan Like komentar Vote dan Bintang 5 😘 Terimakasih.


Semoga kita semua selalu dalam keadaan sehat dan mendapatkan rezeki yang berlimpah Aamiin 😇


Thanks for Reading 😊 Love You All 💓


baca juga "Arsitek Cantik" dan "Cinta Bersemi di ujung musim" Terimakasih.

__ADS_1


__ADS_2