Cinta Untuk Dokter Nisa

Cinta Untuk Dokter Nisa
Semua Karena Cinta


__ADS_3

Rumah Jhonny.


Aisyah menghabiskan waktunya di rumah dengan mengurus kebun obat di samping laboratorium miliknya.


"Akhirnya tanaman berduri ini tumbuh." Aisyah menyentuh tumbuhan yang digunakan untuk mengobati Nisa.


"Aku belum menghubungi Valentino, dimana dia sekarang?" Aisyah mengambil ponsel dari saku gamisnya.


"Halo Dokter Aisyah." Valentino menjawab panggilan Aisyah.


"Valen, apa kabar dan sekarang kamu di mana?" tanya Dokter Aisyah.


"Aku baik, sekarang aku dirumah papi dan dilarang kembali ke desa." ucap Valentino.


"Oh baiklah, aku sudah menikah dengan Jhonny," ucap Aisyah.


"Ah, Selamat dokter Aisyah." ucap Valentino.


"Terimakasih." ucap Aisyah.


"Dokter Aisyah, bagaimana kabar Viona?" tanya Valentino ragu.


"Aku sudah lama tidak berjumpa dengan dirinya, apa kamu mau nomor ponsel Viona?" tanya Aisyah lembut.


"Jika boleh?" ucap Valentino.


"Baiklah, kalian bisa menjadi teman, aku akan mengirimkan nomor Viona untuk kamu." ucap Aisyah.


"Terimakasih." Valentino bersemangat.


"Sama-sama." panggilan berakhir.


Valentino tersenyum, ia merindukan tingkah polos dan lucu Viona.


"Dia cantik dan lucu." Valentino merebahkan tubuh seksi tanpa pakaian di atas tempat tidur empuknya.


"Aku rindu mendaki." Valentino memejamkan matanya.


***


"Apa Valen menyukai Viona?" Aisyah tersenyum dan segera mengirimkan nomor ponsel Viona kepada Valentino.


Aisyah merebahkan tubuhnya di atas sofa ruang tengah, ia tertidur dengan pulasnya.


Jhonny membuka pintu perlahan, melepaskan sepatu dan meletakkan di tempatnya.


Menunggu seseorang menyambutnya di depan pintu, tetapi istri tercinta tidak muncul.


Melihat Jhonny berdiri di depan pintu, Seorang pelayan mendekati Jhonny.


"Maaf Tuan, Nyonya tertidur di sofa ruang tengah." ucap pelayan wanita dengan lembut dan sopan.


Jhonny segera berjalan menuju ruang tengah, ia melihat Aisyah tertidur di atas sofa.


Jhonny meletakkan tas di atas meja, mencium dahi dan mengusap kepala Aisyah.


Ia menggendong Aisyah menaiki tangga menuju kamarnya.


"Ah." Aisyah terbangun dan terkejut.


"Hai, kamu sudah pulang." Aisyah tersenyum dan melingkarkan tangannya di leher Jhonny.


Jhonny menatap lekat wajah cantik Aisyah.


"Aku tidak suka kamu tidur di sini." Jhonny melangkah kakinya masuk ke dalam kamar.


"Maafkan aku." Aisyah tersenyum memperhatikan wajah Jhonny yang baru ia sadari Jhonny sangat tampan.


Jhonny melepaskan tubuh Aisyah dengan perlahan di atas tempat tidurnya.


Aisyah masih melingkarkan tangannya di leher Jhonny dan tidak melepaskannya, sehingga wajah mereka sangat dekat.


Jhonny terdiam, ia memperhatikan wajah Aisyah dan melihat bibir merah merona yang menggoda.


Aiysah tersenyum melihat Jhonny yang mendekatkan bibirnya.


"Kamu berpuasa." Aisyah meletakkan jari telunjuknya di bibir Jhonny.


"Kamu menggodaku." Jhonny beranjak dari tempat tidur, ia membuka pakaiannya di depan Aisyah.


Mata Aisyah melotot melihat tubuh seksi dan berotot di depannya.


Jhonny melemparkan pakaian kotornya di keranjang baju kotor.


"Tetaplah di tempat tidur." ucap Jhonny menatap tajam kepada Aisyah dan ia masuk ke dalam kamar mandi.


"Apa, dia memintaku menunggu dirinya?" Aisyah tersenyum lucu.


"Jhonny lucu dan menggemaskan, bagaimana membuat Jhonny semakin lucu?" Aisyah memikirkan sebuah rencana.


"Kenapa aku mengantuk sekali, nyamannya." Aisyah memeluk guling dan kembali memejamkan matanya.


Aroma maskulin dari tubuh Jhonny menusuk hidung Aisyah, air dari rambut yang masih basah menetes di wajah Aisyah.


Jhonny memperhatikan wajah cantik Aisyah yang tertidur pulas.


"Hmm, harumnya." Aisyah mengusap air yang membasahi wajahnya dan membuka mata perlahan.


"Aaaaa." Aisyah berteriak terkejut dan mendorong tubuh Jhonny yang hanya menggunakan handuk terjatuh ke lantai.


"Aw." Jhonny merasakan bokong terbentur lantai.


Aisyah beranjak dari tempat tidur, menyadari Jhonny yang terduduk di lantai.


"Ah maafkan aku." Aisyah membantu Jhonny untuk berdiri dan ia kembali berteriak.


"Aaaaaak." Aisyah menutup matanya dan melepaskan tangan Jhonny hingga Jhonny kembali terduduk di lantai.


Aisyah duduk di tempat tidur menutup mata dengan tangannya dan membelakangi Jhonny.


Jhonny terdiam di lantai, ia kebingungan dan tidak menyadari handuk yang melingkar di pinggangnya telah terbuka sehingga memperlihatkan sesuatu yang berbeda yang biasa bersembunyi.


"Ada apa dengan dirimu?" Jhonny berdiri dan berjalan mendekati Aisyah, ia tidak tahu handuk tergeletak di lantai.


Tubuh Jhonny tidak tertutup sehelai benang pun.


"Jhonny, perbaiki handuk kamu." Aisyah masih menutup matanya.


"Handuk?" Jhonny melihat ke bawah dan menyadari juniornya tersenyum ke arah Aisyah.


"Oh shit." Jhonny menoleh ke belakang dan melihat handuk yang tergeletak di lantai.


Jhonny segera mengambil handuk dan berjalan cepat menuju ruang ganti tanpa berbicara sepatah katapun.


"Jhonny." Aisyah membuka matanya dan melihat tidak ada siapapun di dekatnya.

__ADS_1


"Kemana dia?" Aisyah melihat sekeliling dan tersenyum, ia berlari keluar ruang dengan menutup mulutnya.


"Memalukan." ucap Aisyah meninggalkan kamar Jhonny.


Jhonny telah selesai berpakaian, ia mengintip dari ruang ganti, melihat tempat tidur yang telah kosong.


"Bodoh." gerutu Jhonny pada dirinya dan keluar dari kamar ganti.


"Dia telah melihat diriku tanpa sehelai benangpun, memalukan." Jhonny mengusap wajahnya dan berjalan menuruni tangga menuju ruang makan menunggu waktu berbuka.


Jhonny dan Aisyah duduk berhadapan di ruang makan, tidak ada pembicaraan hingga selesai makan.


Jhonny beranjak dari kursi, ia berjalan ke luar rumah duduk di taman menunggu waktu Isya.


Aisyah melihat Jhonny yang duduk termenung seorang diri di kursi taman.


"Apa dia malu?" Aisyah menahan tawa, ia sangat ingin menggoda Jhonny.


"Aku akan menggangunya setelah ia sholat tarawih." Aisyah cekikikan di balik pintu kaca dan terus memperhatikan Jhonny.


Jhonny berjalan menuju mobilnya, ia berangkat ke masjid terdekat.


"Dia sudah pergi." Aisyah tersenyum dan berlari ke kamarnya untuk mengganti pakaian.


Setiap pukul sepuluh malam, semua pelayan harus kembali ke kamar masing-masing yang berada di luar rumah Jhonny dan kembali ke rumah Jhonny ketika akan memasak untuk sahur.


Kunci pintu rumah utama dipegang oleh kepala pelayan yaitu seorang pria paruh baya.


Aisyah telah menggunakan pakaian tidurnya dan memikirkan sebuah rencana untuk mengganggu Jhonny.


Tepat pukul setengah sembilan malam Jhonny kembali ke rumah, ia menaiki tangga dan mengintip kamar Aisyah yang sengaja terbuka sedikit.


Jhonny melihat Aisyah duduk di atas tempat tidur sedang memberikan lotion pada seluruh tubuhnya.


Rambut panjang disanggul tinggi memperlihatkan leher jenjang yang ditutupi rambut halus.


Dress malam berwarna hitam, memperlihatkan bentuk tubuh Aisyah yang seksi menggoda.


Dengan lembut Aisyah mengusap lotion dari paha hingga ujung jari - jari kakinya.


Kulit putih bersih berkilau karena lotion, Jhonny menelan ludahnya.


Aisyah membuka kimono dan memberikan lotion pada lengan, leher dan punggungnya.


Aisyah tersenyum melihat Jhonny di balik pintu melalui pantulan cermin.


Jhonny berjalan menuju kamarnya, ia tidak sanggup lagi melihat godaan dari istrinya.


Sesuatu telah bergerak dan terbangun dari tidurnya.


Junior Jhonny yang telah menampakkan diri di depan Aisyah.


"Eh, dia mau kemana?" Aisyah melihat Jhonny telah menghilang dari pintu.


"Padahal aku sudah mandi bersih." Aisyah tersenyum.


"Terserah Jhonny." Aisyah beranjak dari tempat tidur dan berjalan menuju pintu.


Aisyah baru saja akan menutup pintu, tetapi ada tangan kekar yang menahannya.


"Ada apa?" tanya Aisyah menatap Jhonny yang tidak menggunakan baju.


Jhonny mendorong pintu dan menggendong tubuh seksi Aisyah hingga membaringkan di tempat tidur.


Aroma wangi bunga mawar yang lembut dari tubuh Aisyah begitu seksi dan menggoda.


"Apa kamu lapar?" tanya Aisyah memecahkan kesunyian malam.


Jhonny melepaskan tangannya yang menahan tubuhnya, ia mengangkat tubuh Aisyah duduk di pangkuannya.


Dan langsung menikmati bibir Aisyah dengan penuh hasrat.


"Aku tidak bisa menahan lagi." gumam Jhonny dalam hati.


Gaun malam seksi yang Aisyah gunakan membuat napas Jhonny menggebu-gebu.


Aiysah membalas ciuman Jhonny dengan permainan yang seimbang.


Tangan Jhonny menyentuh tubuh Aisyah, merebahkan kembali di atas tempat tidur.


Naluri yang memerintah tangan Jhonny meraba bagian tubuh Aisyah yang lembut.


Mata yang terpejam menikmati setiap gerakan dari bibir dan lidah mereka.


"Kenapa kamu menggoda ku?" Jhonny menghentikan ciumannya.


"Tak apa" Aisyah menarik leher Jhonny dan mencium bibir pria yang begitu menggoda.


Ada banyak wanita yang berharap mendapatkan ciuman Jhonny.


Wajah seksi dan tampan Jhonny menjadi dambaan banyak wanita, tetapi Jhonny tidak pernah menyadari ketampanan yang ia miliki.


Aisyah lebih berhasrat mencium Jhonny yang ikut dalam permainan hangat dan basah bibir mereka berdua.


"Aah." Jhonny tidak sanggup lagi melepaskan Aisyah.


Ia ingin memakan seluruh tubuh Aisyah, tangan Jhonny bermain di punggung Aisyah yang lembut.


Ciuman yang tidak bisa dihentikan, lagi dan lagi bahkan mereka seakan tidak butuh bernapas.


Jhonny bahkan lupa menutup pintu kamar Aisyah.


Jam sepuluh tepat, para pelayan berkumpul untuk pamit kembali ke kamar mereka.


Kepala pelayan menekan bel di ujung tangga.


Ciuman hangat dan bersemangat berhenti seketika.


Wajah Jhonny yang merah merona beranjak dari tempat tidur meninggalkan Aisyah dengan pakaian yang telah berantakan.


Jhonny yang tanpa pakaian menuruni tangga membuat para pelayan wanita menunduk dan menelan ludah.


Wajah dan tubuh Jhonny terlihat basah oleh keringat, menambah seksi dan menggoda.


"Selamat malam Tuan, waktunya para pelayan kembali ke kamar." kepala pelayan memberi hormat.


"Baiklah." Jawab Jhonny.


Semua memberi hormat dan berjalan meninggalkan rumah Jhonny.


Mereka memiliki rumah bersebelahan dengan rumah utama.


Jhonny berlari ke kamar Aisyah, ia melihat Aisyah telah tertidur pulas.


"Gagal lagi." Jhonny menutup pintu kamar Aisyah, ia mengacak rambutnya dan berjalan menuju kamarnya.

__ADS_1


"Apa aku harus meminjam pulang kembar Tuan Stevent?" Jhonny merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur.


"Menikmati hari hanya berdua dengan Aisyah tanpa gangguan." Jhonny tersenyum larut dalam Khayalannya hingga tertidur.


***


Stevent baru pulang dari sholat tarawih, dan Nisa tarawih sendirian di kamar.


Stevent menatap Nisa yang duduk di sofa kamar dengan perut yang semakin besar.


"Sayang, apakah kamu kesulitan?" Stevent mendekati Nisa dan mengusap perutnya.


Nisa tersenyum dan menggelengkan kepalanya.


"Assalamualaikum suamiku." Nisa mengulurkan tangannya dan mencium tangan Stevent.


"Waalaikumsalam." Stevent mencium dahi Nisa.


"Sayang." Stevent menatap manja pada Nisa.


"Hmm." Nisa tersenyum dan menyentuh pipi Stevent.


Stevent berjongkok di depan Nisa dan memancungkan bibirnya, ia mau sebuah ciuman.


Nisa tersenyum, meletakkan tangannya di pipi kanan dan kiri Stevent.


"Kemarilah." Nisa menarik tangan Stevent duduk di sampingnya.


Stevent tersenyum dan menuruti Nisa, duduk di Sofa panjang.


Nisa duduk di pangkuan Stevent dengan posisi miring dan melingkari tangannya di leher Stevent.


"Aku mencintaimu." bisik Nisa di telinga Stevent.


"Aku sangat mencintai dirimu." bisik Stevent di telinga Nisa.


Nisa mendekatkan bibirnya dengan bibir Stevent, mencium lembut dan penuh cinta.


Stevent menatap Nisa penuh kasih sayang, ia juga kasihan melihat Nisa yang sedang hamil tua.


Perut Nisa yang semakin membesar terlihat menyulitkan dan menyusahkan Nisa.


"Kamu kenapa?" tanya Nisa lembut.


"Aku tidak tega melihat kamu membawa perut yang semakin besar dan setiap malam kita harus kerumah sakit." Stevent mengusap perut Nisa.


"Aku baik-baik saja Sayang." Nisa turun dari pangkuan Stevent.


"Berangkat." Nisa menarik tangan Stevent dan tersenyum penuh semangat.


Stevent mengikuti langkah kaki Nisa berjalan menuju garasi mobil dan membukakan pintu untuk Nisa.


"Tunggulah." Stevent berlari ke kamar dan mengambilkan sweater untuk Nisa.


Stevent memakaikan sweater pada tubuh Nisa, memasang sabuk pengaman dan mencium dahi Nisa.


Setelah membaca doa, Stevent menjalankan mobilnya dengan perlahan menuju rumah sakit tempat Nisa bekerja untuk mendapatkan suntikan formula.


Mobil Stevent memasuki area parkiran rumah sakit.


Dini telah menunggu Nisa dengan kursi roda di depan pintu, ia tersenyum melihat Nisa.


Stevent menggandeng tangan Nisa dan berjalan bersama menuju Dini.


"Terimakasih Dini." Nisa tersenyum dan menggenggam tangan Dini.


"Sama-sama Dokter." ucap Dini melirik Stevent.


"Hati - hati Sayang." Stevent membantu Nisa duduk di kursi roda.


Nisa tersenyum dan menyentuh pipi Stevent.


"Terimakasih Sayang." ucap Nisa.


Stevent mendorong kursi roda menuju ruang perawatan dokter Nada.


Dini membuka pintu ruangan Dokter Nada dan mempersilahkan Stevent dan Nisa.


"Assalamualaikum Dokter Nada." Nisa beranjak dari kursi roda dan pindah ke tempat tidur pasien dengan bantuan Stevent.


Dokter Nada dan Dini tersenyum melihat Stevent yang penuh perhatian setiap malam menemani Nisa untuk mendapatkan suntikan formula.


Nisa berbaring di tempat tidur dan Dokter Nada segera menyingsing lengan baju Nisa menyuntikkan formula pada tubuh Nisa.


Stevent terus menatap Nisa, kasihan melihat istrinya setiap malam harus merasakan sakitnya ditusuk jarum suntik.


"Beristirahat sebentar, apa kamu mau melihat bayi kembar kalian?" tanya Dokter Nada pada Nisa.


"Ya." Nisa bersemangat, Stevent hanya diam dan terus menggenggam tangan Nisa.


Dokter Nada melakukan USG 4D pada kandungan Nisa.


"Masya Allah." Nisa tersenyum bahagia melihat dua bayi yang saling berpelukan dan tertidur pulas.


"Sayang, bayi kita sangat sehat, hidungnya sangat mancung." Nisa sangat bahagia.


"Jika dia laki - laki akan setampan diriku dan perempuan akan secantik dirimu." Stevent mencium dahi Nisa.


Setelah pemeriksaan kandungan dan suntikan formula, Nisa beristirahat sebentar sebelum mereka melakukan perjalanan pulang.


Dini dan Dokter Nada meninggalkan Stevent dan Nisa berdua di dalam ruangannya.


Stevent akan ikut berbaring di atas tempat tidur pasien dan memeluk Nisa.


"Sayang, bagaimana jika kamu tetap di rumah Sakit saja?" tanya Stevent lembut di telinga Nisa.


"Kenapa?" tanya Nisa menatap wajah Stevent.


"Aku tidak tega melihat dirimu harus bolak-balik rumah sakit setiap malam." Stevent mengecup bibir Nisa.


"Aku baik-baik saja, kita cuma butuh lima belas menit." Nisa balas mengecup bibir Stevent.


"Apa kamu tidak lelah?" tanya Stevent.


"Demi kamu dan mereka, aku pasti kuat." Nisa mengusap pipi Stevent.


"Aku sangat mencintai dan menyayangi dirimu." Stevent menatap Nisa.


"Aku juga sangat mencintai dirimu." Nisa memeluk Stevent.


***


Semoga Suka, Mohon Dukungan dengan Like, Komentar, Vote, dan Bintang 5 😘 Terimakasih.


Baca juga "Arsitek Cantik" dan "Cinta Bersemi di ujung Musim (Fitri Rahayu)"

__ADS_1


Semoga Kita semua selalu dalam keadaan sehat dan mendapatkan rezeki yang berlimpah Aamiin 😇


Terimakasih yang sudah memberikan Tips, Vote, Like dan Komentar 😘😘


__ADS_2