
Sebuah Mobil Sport hitam melaju dengan kecepatan tinggi menuju rumah sakit, berhenti di tempat parkiran.
Stevent berjalan cepat menuju ruangan Jhonny yang masih dalam perawatan pasca operasi.
Berjalan dengan angkuh tanpa menyapa orang yang ia jumpai, tatapan tajam lurus ke depan.
Pakaian rapi dengan jas hitam pas di badan dan sangat serasi dengan postur tubuh Stevent.
Stevent mengetuk pintu ruangan Jhonny dan membukanya, melihat setiap sudut ruangan.
Jhonny yang terbaring tidak berdaya di atas tempat tidur pasien dan Dokter Aisyah membaca majalah yang masih memberitakan tentang hilangnya pengusaha muda dalam kecelakaan.
Stevent tidak melihat istrinya di ruangan Jhonny, hanya ada tas ransel putih kesayangan Nisa.
"Dimana Istriku?" suara Stevent mengagetkan Dokter Aisyah.
"Ya Allah Stevent, bisakah kamu mengucapkan salam sebelum masuk?" Dokter Aisyah memarahi Stevent yang tidak perduli.
"Dimana Nisa?" Stevent berjalan mendekat dan mengambil tas Nisa.
Dokter Aisyah menggelengkan kepalanya melihat tingkah Stevent.
"Nisa mengikuti Dokter Nada ke ruangannya" ucap Dokter Aisyah.
"Kenapa, apa Nisa sakit?" Stevent mulai khawatir.
"Tidak, Dokter Nada sengaja memanggil Nisa ke ruangannya" jelas Dokter Aisyah.
Stevent terlihat tergesa-gesa ingin meninggalkan kamar Jhonny.
"Tunggu Stevent" Dokter Aisyah berjalan mendekati Stevent.
"Ada apa?" tanya Stevent heran.
"Apa Nisa baik - baik saja?" tanya Dokter Aisyah.
"Maksud Dokter Aisyah?" tanya Stevent menatap tajam.
"Bagaimana penjelasan Dokter Nada tentang kandungan Nisa?" tanya Dokter Aisyah penasaran.
"Janin sehat dan kuat" jawab Stevent singkat.
"Bagaimana keadaan Nisa? Apakah Nisa juga sehat dan kuat?" tanya Dokter Aisyah.
"Apa maksud Anda?" Stevent mulai kebingungan.
"Aku rasa Nisa tidak sehat, tubuhnya terlihat lemah, selama berada di ruangan ini ia selalu tertidur tanpa sadar, seperti kelelahan" Jelas Dokter Aisyah.
Stevent terdiam, semua yang dikatakan Dokter Aisyah benar, sejak hamil Nisa sering ketiduran pada waktu yang tidak tentu.
Stevent meninggalkan kamar Jhonny dan berjalan perlahan menuju ruangan Dokter Nada, ia berdiri di depan pintu tanpa mengetuk dan membuka pintu.
Dokter Nada menggenggam tangan Nisa yang masih tidur.
"Nisa, kenapa ini terjadi pada dirimu?" Dokter Nada menahan tangisnya
Dokter Nada sangat sedih, wanita penolong dan sangat baik di depannya kini terbaring lemah.
Nisa membuka matanya perlahan dan tersenyum kepada Dokter Nada.
"Ini adalah takdirku" suara lembut penuh keikhlasan menggentarkan hati Dokter Nada hingga butiran bening melewati sudut matanya.
"Kenapa Anda menangis Dokter Nada?"Nisa menyentuh pipi Dokter Nada untuk menghapus air mata yang mengalir membasahi wajah.
"Nisa, apa kamu tahu kamu sedang Sakit dan kandungan mu membahayakan nyawamu?" Dokter Nada menggenggam tangan Nisa.
"Aku tahu, Nathan telah mengatakan kepadaku" Nisa tersenyum.
"Kenapa kamu tidak memberitahukan Stevent?" Dokter Nada menyentuh pipi lembut Nisa.
"Aku mencintai suamiku, aku tidak ingin melukai dirinya, aku akan menghabiskan waktu bersama Stevent selama aku bisa dan aku berharap Allah mengizinkan diriku melahirkan anak kami ke dunia ini" Air mata Nisa mengalir dalam senyuman.
"Dokter Nada, Aku mohon rahasiakan pemyakiku dari Stevent, rahasiakan tentang pengobatan yang Nathan lakukan pada diriku, aku tidak mau Stevent terluka" Nisa menggenggam erat tangan Dokter Nada.
Dokter Nada telah sesegukan menahan tangisnya, melihat ketegangan Nisa.
"Aku akan menjaga kandungan ku hingga waktunya, dan berharap pengobatan Nathan bisa mengantarkan diriku hingga melahirkan" Nisa tersenyum Cantik penuh ketabahan.
"Dokter Nada, Stevent adalah cinta pertama ku, sejak ia menjadi suamiku, di hari pernikahan kami, aku mulai mencintai dirinya" Nisa tersenyum bahagia ketika mengingat tingkah manja Stevent Kepada dirinya.
Seorang pria dingin terdiam memegang gagang pintu di luar ruangan.
Pria dengan cinta luar biasa pada Nisa merasa tubuhnya di hantam badai, menghancurkan dan meremukkan jiwa dan raganya.
Tanpa ia sadari air mata untuk pertama kalinya mengalir membasahi wajah keras Stevent.
Stevent memejamkan mata menyenderkan tubuhnya pada dinding ruangan, ia berusaha untuk tetap bisa berdiri.
__ADS_1
Dunia seakan bergoncang dan berputar menghancurkan tempat Stevent berdiri.
Stevent meninggalkan tas Nisa di depan pintu dan berlari menuju mobil sport hitam miliknya, mengendarai mobil dengan kecepatan tinggi.
Melaju tanpa tujuan, hingga mobil berhenti di sebuah restoran di pinggir pantai.
Stevent membuka pintu dan berlari ke arah pantai.
"Aaaarrghh" Stevent berteriak sekeras-kerasnya, mengeluarkan semua kesedihan dan kekecewaan di dalam hatinya.
"Kau, kenapa Kau pertemuan aku dengan dirinya, dan Kenapa Kau mau merebutnya dariku" Stevent terus berteriak, marah pada sang Pencipta.
"Jika Kau merebutnya dariku, akan aku hancurkan dunia ini, semuanyaaaaa" Teriakan Stevent semakin kuat.
Stevent tertuduk di pasir, air matanya mengalir membasahi wajah dan jatuh.
"Tidak, kamu tidak boleh meninggalkan diriku, tidak boleh, tidak aku izinkan, Aaaarrghh" Stevent menjambak rambutnya memberikan perih pada kulit kepalanya.
Tangan dengan jari - jari yang kokoh mencengkram pasir penuh emosi.
Stevent benar-benar kembali merasakan kehancuran dalam hidupnya.
Seorang pria memperhatikan Stevent dari restoran.
"Tuan Nathan sepertinya itu Tuan Stevent" Roy melihat ke arah pantai diikuti oleh pandangan Nathan.
"Apa yang dilakukan pria itu disini?" Nathan memperhatikan Stevent.
"Sepertinya ia sedang frustasi" ucap Roy memperhatikan Stevent.
"Pria tidak berguna, bukan itu yang harus ia lakukan" Nathan meninggalkan makanannya dan berjalan menuju Stevent.
"Hey, apa yang kamu lakukan?" tanya Nathan.
Stevent beranjak dari pasir dan menarik kerah baju Nathan.
"Katakan, katakan, apa yang harus aku lakukan untuk Nisa?" wajah Stevent berantakan basah oleh air matanya.
Nathan memperhatikan Stevent, mereka saling bertatapan.
"Apa Nisa telah memberitahukan kondisi tubuhnya?" tanya Nathan pelan.
"Tidak, dia tidak mengatakannya tapi aku mengetahuinya" betak Stevent yang masih memegang kerah Nathan.
"Lepaskan tanganmu, ini tidak akan membantu Nisa" Nathan menarik tangan Stevent dan mendorong tubuh Stevent hingga jatuh ke pasir.
"Dokter Nisa benar-benar bisa menghancurkan dua orang pria yang paling berkuasa" Gumam Roy berdiri tidak jauh dari Stevent dan Nathan.
Nathan balas menarik kerah jas Stevent untuk berdiri.
"Dengarkan, Aku tidak akan membiarkan Nisa mati hanya karena melahirkan anak kembar kamu" Nathan menatap mata Stevent tetapi tidak ada balasan dari Stevent.
"Katakan saja kepadaku, bagaimana menolong Nisa" ucap Stevent pelan.
Nathan melepaskan tangannya dari Stevent, ia tidak mau bersaing dengan pria yang sedang terpuruk dan tidak berdaya.
"Aku sedang berusaha" Ucap Nathan pelan.
"Ini semua salah dirimu, seharusnya sebelum merencanakan kehamilan kamu harus memeriksakan diri Nisa" kesal Nathan.
Stevent hanya terdiam, ia tidak tahu harus bagaimana yang ad di otaknya, kehancuran dirinya akan ditemani dengan kehancuran Dunia.
***
Nisa beranjak dari tempat tidur, turun dengan perlahan.
"Terimakasih untuk semuanya, sampaikan juga Terimakasih ku Kepada Nathan, aku tahu dia tidak akan mau dibayar" Nisa tersenyum dan merapikan jilbabnya.
"Kamu mau kemana?" tanya Dokter Nada lembut.
"Aku sudah sangat lama beristirahat, pasti Stevent mencari diriku" wajah Nisa begitu tegar dengan senyuman tulusnya.
Nisa memeluk Dokter Nada dan berjalan bersama menuju pintu.
Sebuah tas punggung berwarna putih milik Nisa tergeletak di depan pintu.
Nisa memandang tas miliknya dan melihat sekeliling.
"Stevent" gumam Nisa mengambil tasnya.
"Ada apa?" tanya Dokter Nada.
"Stevent pernah kemari" Nisa menatap Dokter Nada dengan tatapan khawatir.
"Ya Tuhan, pasti ia mendengarkan percakapan kita" ucap Dokter Nada.
"Dimana Dia, aku sangat mengkhawatirkannya" Nisa berjalan cepat menuju kamar Jhonny.
__ADS_1
"Nisa tunggu" Terdengar dering panggilan dari ponsel Dokter Nada.
"Halo, ada apa Roy?" tanya Dokter Nada menjawab panggilan.
"Apakah Dokter Nisa bersama Anda?" tanya Roy.
"Ah Iya" jawab Dokter Nada pelan.
"Aku akan mengirimkan sebuah lokasi, Tuan Stevent ada di sini, ia terlihat hancur" Roy memutuskan panggilan.
Dokter Nada memperhatikan Nisa yang menatap dirinya dengan penuh pertanyaan.
"Ikutlah denganku" Dokter Nada menggenggam tangan Nisa.
"Kemana?" tanya Nisa.
"Menemui Stevent" ucap Dokter Nada.
Nisa hanya terdiam, ia mengikuti langkah kaki Dokter Nada menuju parkiran khusus Dokter.
Mobil melaju menuju restoran di pinggir pantai, tempat Nisa dan Stevent pernah makan bersama.
Nisa keluar dari mobil, ia melihat mobil Stevent terparkir sembarangan.
Memperhatikan setiap setiap sudut pantai dan restoran. Berusaha menemukan Stevent dengan mata indahnya.
Seorang pria duduk di atas pasir, menundukkan kepalanya, dan seorang pria berdiri tidak jauh dari Stevent.
Nisa berjalan perlahan mendekati Nathan dan Stevent.
Tidak ada pikiran buruk sama sekali di benak Nisa. Ia melirik Nathan sekilas dan berjalan mendekati Stevent.
Dokter Nada menarik tangan Nathan untuk menjauh dari Stevent dan Nisa.
Nathan menatap Nisa penuh kerinduan, dengan langkah berat, Nathan meninggalkan Nisa dan Stevent di tepi pantai.
Roy hanya menjadi penonton, menyaksikan luka dan ketegaran hati seorang Nathan.
Dokter Nada memegang tangan Nathan hingga berada jauh dari Nisa dan Stevent diikuti Roy.
Nisa berjongkok di depan Stevent yang tidak menyadari kedatangan istrinya.
"Sayang, apa yang kamu lakukan di sini?" Nisa meletakkan tangannya di pipi Stevent, suara lembut membuat Stevent mengangkat kepalanya dan memeluk Nisa.
"Jangan tinggalkan Aku, Aku mohon, kamu adalah kehidupanku" Suara Stevent serak, ia menangis.
Stevent sangat takut kehilangan Nisa, tubuhnya menggigil. Mengunci pelukannya.
Nisa merasakan tubuhnya sakit, pelukan Stevent sangat kuat.
"Sayang, pelukanmu menyakiti ku" Nisa berbisik lembut di telinga Stevent.
Stevent melepaskan pelukannya, menatap wajah Nisa dengan tatapan yang sendu, mata tajam itu terlihat tidak bercahaya.
Nisa menyentuh lembut wajah Stevent dan mencium dahinya.
Mendekatkan hidung mancung mereka dan saling bersentuhan.
"Aku tidak akan pernah meninggalkan dirimu" Nisa mencium lembut bibir Stevent.
"Aku mau pulang" bisik Nisa lembut di telinga dan memeluknya.
Stevent beranjak dari pasir dan menggendong Nisa menuju mobilnya.
Kekuatannya kembali, Nisa adalah nafas kehidupan Stevent.
Stevent merebahkan tubuh Nisa dengan perlahan, memasang sabuk pengaman dan mengendarai mobil menuju istana rahasia mereka.
***
**
*
Terimakasih telah membaca Karya Author
*
**
***
Mohon dukungannya untuk selalu memberikan Like Komentar Vote dan Bintang 5 😘 Terimakasih
Semoga Readers semua selalu dalam keadaan sehat dan mendapatkan rezeki yang berlimpah Aamiin 😇
Love You Readers 💓 Thanks for Reading 😊
__ADS_1