Cinta Untuk Dokter Nisa

Cinta Untuk Dokter Nisa
Semua Tentang Cinta


__ADS_3

Mobil Fauzan telah sampai di perusahaan manufaktur yang bergerak di bidang Industri yang mengaplikasikan mesin – mesin untuk penghasilkan barang kebutuhan peusahaan besar.


Mereka keluar dari mobil dan menuju ruangan kantor untuk yang telah Kenzo siapkan untuk Ayesha.


“Aku mau melihat tempat tinggal para warga yang kamu ungsikan dari belakang pabrik.” Ucap Ayesha menghentikam langkah kaki Fauzan dan Kenzo.


“Bagaimana jika kamu melihat ruangan kerja drimu terlebih dahulu?” Tanya Kenzo lembut.


“Aku tidak perlu ruangan kerja, karena aku tidak akan bekerja di sini.” Ucap Ayesha melihat kearah Fauzan.


“Ayesha tidak pernah bekerja langsung dala perusahaan, ia akan memnatau kamu dari laporan yang kamu berukan setiap bulannya.” Jelas Fauzan.


“Baiklah, apa kita akan pergi sekarang ke perumahan sederhana?” Tanya KEnzo kepada Fauzan.


“Kalian bisa pergi berdua, aku akan menggantikan dirimu interview karyawan baru yang menduduki posisi penting perusahaan.” Ucap Fauzan.


“Terimakasih Tuan Fauzan.” Ucap Kenzo, Ayesha melihat kearah Fauzan, ia heran kakaknya mengizinkan Kenzo berdua dengan dirinya, walaupun ia tahu mereka akan pergi ke tempat yang ramai.


Fauzan sengaja melakukan itu karena ia tahu Kenzo butuh waktu untuk mengetahui sesuatu tentang Zayn langsung dari Ayesha.


‘Apakah tempatnya jauh?” Tanya Ayesah .


“Tidak, kita berdua hanya butuh berjalan kaki ke depan perusahaan.” Kenzo tersenyum dan bejalan berdampingan dengan Ayesha dengan jarak setengah meter.


Mereka berjalan berdua menuju perumahan sederhana bekas rumah kontrakan yang tidak terpakai lagi dan dijual murah karena tidak ada orang mengontrak.


“Ayesha.” Sapa Kenzo.


“Mm.” jawab Ayesha menoleh kearah Kenzo.


“Bolehkah aku bertanya?” Tanya Kenzo.


“Ya, Ayesha kembali melihat ke depan.


“Siapa pria tadi?” Tanya Kenzo mengentikan langkah kaki Ayesha dan Kenzo ikut behenti ia melihat kepada Ayesha.


“Apakah Zayn mengganggu pikiran kamu?” Tanya Ayesha.


“Ya, bahkan aku merasa cemburu, seakan dia lebih mengenal dirimu.”tegas Kenzo.


Ayesha tersenyum dibalik cadarnya mendengar kejujuran dan perkataan langsung dari Kenzo kepada dirinya tentang rasa cemburunya.


“Kami pernah satu kampus dan satu kelas bahkan dia pernah menyatakan cintanya kepada diriku.” Jelas Ayesha santai.


“Apa kamu menerimanya?’ Tanya Kenzo.


“Menurut kamu?” Ayesha balik bertanya kepada Kenzo yang menggelengkan kepalanya.


“Aku tidak pernah dekat dengan siapapun, aku hanya kan menikah dengan pria yang Allah takdirkan kepada diriku dengan cara yang telah Allah tentukan.” Ayesha tersenyum dan kenzo ikut tersenyum tampan.


Pasangan yang sangat serasi, yang telah Tuhan pertemukan dengan cara yang tidak terduka, jika jodoh tidak akan lari kemana, jodoh terbaik akan didekatkan pada orang – orang baik.


Mereka berdua telah sampai di depan perumahan yang sederhana berdempet – dempet yang hanya memiliki satu kamar dapur, kamar mandi dan ruang tamu deng ukuran 3 x 4 meter.


“Kak Ayesha.” Seorang anak kecil berlari memeluk Ayesha.


“Ya, Apa kabar kamu?” Tanya Ayesha.


“Baik Kak, terimakasih telah memberikan tempat tinggal yang bagus untuk kami.” Ucap gadis kecil melihat wajah Ayesha dan masih memeluk pinggang ramping Ayesha.

__ADS_1


“Kakak?’ Tanya Ayesha bingung dan melihat kearah Kenzo.


“Iya, kata Kak Kenzo rumah kami diberikan oleh Kak Ayesha dan Kak Kenzo hanya membantu memindahkan kami.” Jawab anak kecil dengan polosnya.


“Semua ini diberikan oleh Kak Kenzo dan Kakak.’ Ayesha berjongkok dan tersenyum, Kenzo menatap Ayesha.


“Apa Kak Kenzo dan Kak Ayesha pasangan suami istri?” Tanya gadis kecil dengan polosnya.


“Doakan saja, kakak dan kak Ayesha segera menikah.” Kenzo mencubit pipi gadis kecil.


Ayesha dan Kenzo berkeliling perumahan dan kembali lagi ke perusahaan setelah mereka menyapa semua penghuni rumah.


“Ayesha.” Sapa Kenzo ketika mereka berdua telah berada di halaman perkantoran.


“Ya.” Jawab Ayesha.


“Bagaimana jika kita segera menikah, Kakakmu bisa menjadi wali dirimu.” Ucap Kenzo berdiri dihadapan Ayesh yang melihat Kenzo yang tampak serius dengan perkataannya.


“Kamu bisa tanyakan kepada Kak Fauzan, jika dia setuju aku juga akan setuju.” Tegas Ayesha yang berjalan melewati Kenzo dan masuk kedalam lift. Kenzo tersenyum, Ayesha benar – benar tidak pernah membantah.


Memiliki istri soleha cantik dan cerdas sungguh keberuntungan yang luar biasa bagi Kenzo, tetapi semua itu Allah berikan karena Kenzo pantas mendapatkannya.


Menjaga hati dan pandangan dari sesuatu yang buruk sehingga Allah izinkan dia melihat sesuatu yang indah bahkan akan memilikinya.


***


Nisa berbaring di kamar ruangan kantor Stevent, ia terlihat sangat lelah tetapi memaksakan diri untuk ikut Stevent bekerja.


Stevent telah melarang Nisa, agar tetap tinggal di rumah bersama Salsa dan juga Stevent akan meminta Viona menemani Nisa di rumah, tetapi Nisa berkata ia tidak mau berpisah dengan Stevent walaupun hanya sebentar saja, Nisa juga bosen berada di rumah.


Jhonny terlihat sibuk dengan pekerjaanya begitu juga dengan Stevent, memulai perusahaan baru bukanlah hal yang mudah.


“Jhonny, ponsel kamu berdering.” Stevent melempar Jhonny dengan penanya, suara dering ponsel mengganggu Stevent.


Jhonny segera beranjak dari kursi kerjanya dan mengambil ponselnya melihat nama pada layar ponsel.


“Aisyah.” Jhonny menerima panggilan dan berjalan kembali ke kursi kerjanya.


“Jhonny, hari ini kamu mau makan apa? Aku akan pergi berbelanja ke pasar.” Ucap Aisyah bersemangat.


“Tidak usah keluar dari rumah, biarkan pak ketua dapur yang berbelanja.” Tegas Jhonny.


“Aku mau jalan – jalan.” Ucap Aisyah.


“Kita akan jalan – jalan malam selesai tarawih, bagaimana?” Tanya Jhonny.


“Janji.” Tegas Aisyah.


“Ya, Kita juga bisa makan malam di restoran kesukaan dirimu.” Ucap Jhonny dan mengakhiri panggilan.


Stevent berjalan mendekati Jhonny yang sedang tersenyum sendirian di kursinya, ia merasa lelah duduk seharian di kursi dan tidak mau mengganggu Nisa yang tertidur di kamar mereka, yang ada dalam pikiran Stevent adalah menjahili Jhonny.


“Siapa?” Tanya Stevent.


“Aisyah.” Jawab Jhonny.


“Apakah kamu sudah merasakan malam pertama?” bisik Stevent di telinga Jhonny.


Jhonny menggeleng wajahnya menjadi merah, ia ingat ketika ia sedang berciuman mesra denganAisyah dan terhenti oleh ketua dapur.

__ADS_1


“Hahaha,” Stevent tertawa terbahak – bahak dan ia menutupi mulitnya ketika sadar Nisa sedang tertidur di kamar.


“Aku rasa Tuan Stevent selalu menjadi diriku lelucon ketika ia mulai merasa bosan.” Jhonny berbicara dalam hatinya.


“Kamu tidak menunggu Dokter Aisyah duluan kan?” Tanya Stevent dan Jhonny hanya terdiam memikirkan pertanyaan Stvent.


“Kamu harus belajar untuk bercinta dengan istrimu.” Stevent tersenyum dan berjalan menuju kamar Nisa.


Jhonny menggaruk kepalanya yang tidak gatal, ia berpikir perkataan Stevent tentang menunggu Aisyah duluan.


Stevent membuka pintu kamar dan melihat nisa duduk di sofa panjang tepi jandela kaca memandang ke luar ruangan dengan kaki selojoran.


“Sayang.” Stevent memeluk Nisa dari belakang dan mencium kepala Nisa yang tertutup hijab berwarna biru dongker.


“Sayang, bagaimana pekerjaan kamu?” Tanya Nisa lembut dan meyentuh pipi Stevent.


“Aku lelah dan mau bermanja dengan dirimu.” Stevent berjongkok di samping Nisa, ia mengusap kaki Nisa.


“Kemarilah.” Nisa menurunkan kakinya dan meminta Stevent berbaring di pahanya.


Stevent berbaring di sofa panjang dan merebahkan kepalanya di pengkuan Nisa yang memainkan rambut Stevent.


“Sayang, Apa kamu tidak lelah?” Stevent menarik tangan Nisa dan menciumnya.


“Aku adalah wanita yang kuat, bahkan aku berhasil menumbangkan seorang Stevent.” Ucap Nisa mencubit hidung Stevent.


“Kamu benar, Aku sampai bertekuk lutut di hadapan dirimu.” Stevent menggigit jari Nisa.


“Sayang, jangan gigit sembarangan kamu sedang puasa.” Nisa menarik tangannya dan menyentuh pipi Stevent.


“Sayang, Jhonny belum malam pertama.” Stevent tertawa.


“Mungkin Aisyah sedang datang bulan.” Nisa mengacak rambut Stevent.


“Ah, sama seperti dirimu dulu.” Stevent tersenyum.


“Cobaan kita lebih banyak dari Jhonny.” Nisa mengingat perjuangan dirinya dan Stevent untuk bisa bersama bahkan mereka berdua hampir kehilangan nyawa.


“Semua itu membuat Aku semakin mencintaimu.” Stevent beranjak dari Sofa.


“Membuat cinta kita semakin kuat dengan pengorbanan yang luar biasa.” Nisa memluk Stevent.


“Aku mencintaimu sayang.” Stevent mencium dahi Nisa.


“Aku mencintaimu suamiku.” Nisa mengeratkan pelukannya.


Jadikan pengorbanan dan perjuangan cinta sebagai kekuatan dalam menpertahankan bahtera rumah tangga yang Tuhan Berkahi.


***


Semoga Suka, Mohon dukungnnya berikan like, Komentar, bintang 5 dan Vote, Terimakasih.


Baca juga Novelku “Arsitek Cantik” dan Novel Kakakku “Nyanyian Takdir Aisyah dan Cinta Bersemi di Ujung Musim.” (Fitri Rahayu), Terimakasih.


Semoga kita semua dalam keadaan sehat dan selalu mendapatkan perlindunganNya, Aamiin.


Selamat menunaikan ibadah puasa bagi teman yang menjalankan.


Love You All and Thanks For Reading.

__ADS_1


__ADS_2