
Nisa duduk di depan cermin memberikan vitamin pada wajah cantik dan lembutnya.
"Istriku sangat cantik." Stevent memeluk Nisa dari belakang dan mencium kepala Nisa.
"Terimakasih Sayang." Nisa menyentuh wajah Stevent dan menyemprotkan cairan yang menyegarkan wajah.
"Apa ini?" tanya Stevent.
"Supaya suamiku tambah tampan." Nisa tersenyum.
Tidak ada makeup di atas meja rias, tidak ada parfum, hanya ada vitamin perawatan kesehatan kulit dari wajah hingga kaki.
"Aku pria paling tampan di kota ini," ucap Stevent.
"Aku baru tahu setelah menjadi istrimu." Nisa tersenyum.
"Kamu tidak pernah melihat ku." Stevent menggunakan jasnya.
"Karena kita tidak pernah bertemu." Nisa tersenyum dan membantu Stevent memasangkan dasinya.
Mereka berjalan bersama menuju mobil, Stevent akan mengantarkan Nisa untuk kembali di rawat di rumah sakit.
Mobil melaju menuju rumah sakit milik Samuel.
Nisa telah menghubungi Dini untuk melakukan pendaftaran dan janji dengan dokter Nada.
Samuel melihat Nisa berjalan bersama dengan Stevent menuju ruangan Dokter Nada.
Hari ini Nisa kembali menjalani rawat inap di rumah Sakit agar ia tidak terlalu tersiksa sakitnya ditusuk jarum suntik setiap malamnya.
Nisa dilarang berpuasa, ia harus banyak makan agar memiliki banyak kekuatan karena telah mendekati waktu kelahiran sang kembar.
Setelah melakukan check up dengan dokter Nada, Nisa duduk di kursi roda dan di bawa ke ruangan VIP.
Nisa berbaring di atas tempat tidur pasien, selang infus telah terpasang di pergelangan tangannya.
Ruangan perawatan khusus dengan harga yang fantastis, lebih mirip sebuah rumah pribadi dengan banyak perlengkapan.
Stevent menggenggam tangan Nisa tidak ingin ia lepaskan, ia berharap bisa menemani Nisa di rumah Sakit.
"Sayang, pergilah." Nisa tersenyum.
"Apa kamu mengusir diriku?" Stevent melotot dan membuat Nisa tertawa.
"Aku tidak berani mengusir bos besar," ucap Nisa.
"Kamulah Bos diriku." Stevent merebahkan kepalanya di pangkuan Nisa yang duduk di tempat tidur.
"Karena aku adalah Bos, sekarang bawahan harus segera bekerja." Nisa mencubit pipi Stevent.
"Ya Tuhan, dia benar-benar Nyonya besar." Stevent beranjak dari kursi dan mencium Nisa.
"Aku pergi sekarang, jangan jauhkan ponsel dari dirimu!" Stevent memberikan ponsel kepada Nisa.
"Iya Sayang." Nisa memeluk Stevent.
Stevent berjalan keluar dari ruangan Nisa yang melambaikan tangannya kepada Stevent.
Senyuman tulus penuh dengan kesabaran selalu menghiasi wajah cantik Nisa.
Sejak menikah, cobaan selalu menghampiri Nisa dan Stevent untuk menguji keimanan mereka berdua khususnya Stevent yang baru mengenal Tuhannya yang memberikan Cinta kasih melalui Nisa.
Mobil Stevent meninggalkan rumah sakit, Nisa turun dari tempat tidur, ia berjalan keluar dari ruangannya dengan membawa tiang penyangga infus.
"Aku rindu tempat ini." Nisa tersenyum ketika tiba di ruangnya.
Ia membuka lemari pakaian ganti miliknya, ada jas dokter dan pakaian operasi.
"Aku sangat rindu berada di dalam ruang operasi, menyelamatkan seseorang dalam doa dan ketegangan." Nisa menyentuh pakai operasi yang tergantung dalam lemari.
"Jas putih ini, sudah lama aku tidak menggunakannya berkeliling untuk mengunjungi pasien." Nisa mengambil jas kebanggan berwarna putih bersih dan meletakkan kembali pada tempatnya.
"Dokter," sapa Dini.
__ADS_1
"Halo Dini." Nisa tersenyum.
"Apa dokter merindukan ruangan ini?" tanya Dini berjalan mendekati Nisa.
"Aku sangat merindukan semuanya." Nisa tersenyum.
"Tunggulah aku akan menemani dokter berkeliling dengan kursi roda." Dini berlari keluar ruangan untuk mengambil kursi roda.
Nisa tersenyum melihat Dini kembali dengan membawa kursi roda canggih yang bisa berjalan sendiri tanpa perlu di dorong , lengkap dengan tempat gantungan impus dan remote control.
"Dimana kamu mendapatkannya?" tanya Nisa heran.
"Tuan Stevent memesannya untuk Anda." Dini tersembunyi.
"Kapan ia melakukannya?" Nisa tersenyum tidak percaya Stevent telah mempersiapkan semuanya.
"Suami anda sangat mengenali istrinya, dia tahu Nyonya Stevent akan pergi jalan-jalan dan berkeliling." Dini tersenyum dan membantu Nisa duduk di kursi roda.
"Masya Allah, Stevent." Nisa sangat bahagia.
"Aku akan menemani Anda." Dini berjalan di belakang Nisa.
"Bagaimana dengan pekerjaan kamu?" tanya Nisa.
"Aku jadi asisten dokter Nada untuk sementara, jadi aku bisa merawat Anda." Dini tersenyum.
"Terimakasih Dini." Nisa menyentuh tangan Dini.
"Kita akan kemana dokterku?" tanya Dini bersemangat.
"Kita ke taman saja, tidak mungkin aku berkeliling ke kamar pasien." Nisa tersenyum.
"Baiklah." Dini memegang pinggir kursi roda yang tidak perlu di dorong.
Mereka telah sampai di taman yang berhadapan langsung dengan ruangan Samuel yang berada di lantai atas.
"Tidak ku sangka, ia bisa sakit ketika sedang hamil." Samuel melihat Nisa dari balik kaca jendela.
Ponsel Stevent berdering, panggilan dari putrinya Angel.
"Papa, Angel mau ke pesantren dan bertemu Mama Nisa," ucap Angel.
"Mama Nisa ada di rumah sakit Papa," ucap Samuel tanpa berbohong.
Panggilan terputus, Angel telah bersiap ke rumah sakit bersama sopirnya.
"Anak ini bahkan ia tidak mengucapkan salam penutup." Samuel tersenyum, ia yakin putrinya akan datang ke rumah sakit.
"Dokter Nisa, tuan Nathan pria yang sangat cerdas dan hebat," ucap Dini.
"Darimana kamu tahu?" Dini tersenyum.
"Dokter Nada menceritakan kepada diriku, dia terus memuji Tuan Nathan yang berhasil membuat formula untuk dokter Nisa." ucap Dini.
"Ada tiga orang yang bekerjasama melakukan penelitian dan menghasilkan formula luar biasa dengan izin Allah." Nisa tersenyum.
"Benarkah, siapa saja?" tanya Dini penasaran.
"Selain Nathan, ada Dokter Aisyah dan Valentino, mereka berdua bahkan harus pergi menjelajahi bukit untuk mencari tanaman obat sebagai bahan dasar formula," jelas Nisa.
"Mereka semua pasti sangat menyayangi Dokter Nisa." Dini duduk di depan Nisa.
"Alhamdulillah, semua kerena Allah." Nisa tersenyum.
Seorang gadis kecil berlari mendekati Nisa dengan penuh semangat.
"Mama Nisa." ia berteriak dan memeluk kaki Nisa.
"Angel, sedang apa kamu di rumah sakit?" Nisa mengusap kepala Angel.
"Dia mau bertemu dengan dirimu," ucap Nyonya Davina.
"Darimana kamu tahu Mama Nisa di rawat di rumah sakit?" Nisa menyentuh pipi Angel.
__ADS_1
"Dari Papa," jawab Angel tersenyum.
"Terimakasih Angel, terima kasih Nyonya Davina." Nisa berjabat tangan dengan Nyonya Davina.
"Berapa usia kandungan kamu?" tanya Nyonya Davina.
"Hampir memasuki sembilan bulan." Nisa mengusap perutnya.
"Angel akan punya adik." Angel mengusap perut Nisa.
"Iya Angel sayang." Nisa mencubit gemas pipi Angel.
"Aku mau adik perempuan." Angel meletakkan kepalanya di atas perut Nisa.
Nisa tersenyum melihat tingkah Angel, ia berpikir kenapa Samuel tidak menikah lagi, usianya masih sangat muda.
"Angel minta Mama baru di papa," ucap Dini.
"Angel mau Mama seperti Mama Nisa." Angel menyentuh pipi Nisa.
Nyonya Davina tersenyum, tentu saja seorang anak menginginkan ibu yang baik dan lemah lembut seperti Nisa.
"Ah, Angel pernah bertemu dengan kakak yang mirip dengan Mama Nisa, tetapi Angel tidak bisa melihat wajahnya, matanya sangat indah warna biru bertemu coklat." Angel berusaha mengingat Ayesha.
"Dimana?" tanya mereka bertiga serempak hingga tertawa bersama.
"Di pesantren," jawab Angel.
"Pasti Ayesha," ucap Nisa.
"Siapa Ayesha Dok?" tanya Dini.
"Tuan putri dari Arab, adik pangeran Fauzan," jelas Nisa.
"Aaaah." Dini berteriak mengejutkan semua orang.
"Ada apa Dini?" Nisa menutup mulut Dini.
"Ya, Tuhan, pria paling tampan dan dingin mengalahkan Tuan Stevent." Dini berdiri dan hampir meloncat.
"Apa anda tahu dokter, IG dia memiliki milyaran pengikut, suami idaman wanita di seluruh dunia." Dini sangat antusias.
"Tante Dini berarti adiknya pasti cantik." Angel menarik jas Dini.
"Berdasarkan gosip yang beredar, adiknya menutupi wajahnya karena terlalu cantik." Dini tersenyum.
"Apa Dia bisa menjadi mamaku?" tanya Angel dengan polos membuat semua tersenyum.
"Sepertinya Ayesha sudah memiliki calon pendamping hidup." Nisa menyentuh pipi Angel.
Nyonya Davina hanya tersenyum mendengarkan percakapan mereka.
"Dokter Nisa, apakah kamu pernah bertemu langsung dengan pangeran Fauzan ku?" Dini memelas.
"Ya, dia menginap di hotel depan pesantren," ucap Nisa.
"Oh my prince, aku kan pergi melihatnya, tidak ada yang boleh tahu my prince berada di Indonesia." Dini bersemangat.
"Kamu benar tidak ada yang tahu, ia keluar menggunakan masker dan tidak membawa pengawal," jelas Nisa.
"Aku harus mendapatkan foto my prince Fauzan." Dini kembali duduk.
Ia melihat hotel yang tidak jauh dari rumah sakit dan berada tepat di depan pesantren bersebelahan dengan restoran Abi.
****
(Cari : AnnaLee di Joy lada)->Novel baru Author
Mohon dukungnnya berikan like, Komentar, bintang 5 dan Vote. Terimakasih
Baca juga Novelku “Arsitek Cantik” dan Novel Kakakku “Nyanyian Takdir Aisyah dan Cinta Bersemi di Ujung Musim.” (Fitri Rahayu), Putih Abu - Abu (Sohibul Iksan) Terimakasih.
Semoga kita semua dalam keadaan sehat dan selalu mendapatkan perlindunganNya, Aamiin.
__ADS_1
Love You All and Thanks For Reading.