
Fauzan keluar dari rumah setelah solat subuh untuk jogging keliling desa bersama Asraf, ia melihat Afifah telah berganti pakaian sedang menyirami bunga dan tanaman lainnya di perkarangan rumah.
“Assalamualaikum.” Fauzan berjalan mendekati Afifah.
“Waalaikumsalam, anda mau kemana sepagi ini?” Afifah hanya melihat Fauzan sekilas, pria tampan dengan tubuh atletis menggunakan pakaian olahraga tanpa lengan memperlihatkan otot-otot seksi yang tidak pernah diperlihatkannya selama ini.
“Aku akan jogging bersama Asraf, pagi sekali kamu menyirami tanaman bahkan matahari belum terbit.” Fauzan memperhatikan Afifah dari belakang.
“Ada banyak tugas yang harus aku selesaikan tepat pada waktunya.” Afifah tersenyum, ia mencium wangi bunga dengan hidungnya.
“Udara pagi di desa sangat menyegarkan sangat berbeda dengan di kota.” Afifah tersenyum sekilas kepada Fauzan.
“Kamu benar.” Fauzan terus memperhatikan Afifah yang sangat cuek membelakanginya.
“Kakak.” Asraf berlari dan memeluk Afifah dari belakang.
“Asraf kamu mengejutkan diriku.” Afifah melihat Asraf.
“Pagi Tuan.” Asraf melihat kearah Fauzan dan terkejut.
“Ya Allah.” Afifah menutup mulutnya, ia tidak tahu telah membuat Fauzan basah kuyup oleh air dari selang yang Afifah pegang.
“Tuan maafkan aku.” Asraf merasa bersalah.
“Tak apa aku akan segera berganti pakaian.” Fauzan mengusap wajahnya.
“Maafkan saya Tuan.” Afifah tersenyum dan membuat Fauzan heran.
“Kenapa ia tersenyum?” Fauzan berpikiri bingung.
“Sebaiknya anda segera mengganti pakaian.” Afifah memberikan selang kepada Asraf dan masuk kedalam rumah.
“Ada apa?” Fauzan menatap tajam kepada Asraf.
“Anda terlihat seksi Tuan.” Asraf menuduk dan menyirami bunga.
Fauzan melihat pakaian yang basah yang telah melekat pada dirinya sehingga bentuk tubuh seksi berotot Fauzan terlihat jelas dari atas sampai kebawah.
“Ya Allah.” Fauzan menepuk dahinya dan berlari ke rumah, ia segera berjalan menuju kamar dan berganti pakaian dengan cepat.
“Letakkan pakaian basah di keranjang kotor.” Afifah berbicara tanpa melihat Fauzan berjalan mendekatinya yang sedang sibuk memasak untuk menu sarapan.
"Dimana keranjang kotor?” Fauzan berdiri di belakang Afifah.
“Di ruang pencucian itu.” Afifah menunjukkan jari cantiknya ke sebuah ruangan dekat pintu keluar dari dapur. Dan tersenyum sekilas kepada Fauzan.
__ADS_1
“Apa yang kamu masak?” Fauzan mendekati Afifah, ia sangat penasaran dengan masakan enak yang Afifah buat.
“Sebaiknya kamu segera jogging.” Afifah mengambil pakaian basah dari tangan Fauzan dan menaruhnya ke ruangan pencucian.
“Dia sangat suka memerintah dan bertindak langsung.” Fauzan tersenyum dan berjalan keluar dari rumah menemui Asraf.
“Apa kamu sudah selesai menyiram tanaman?” Fauzan memakai sepatunya di tangga teras.
“Kakakku telah selesai menyiram semua tanaman ini.” Asraf berjalan mendekati Fauzan.
“Baiklah, lakukan sedikit pemanasan agar kaki kita tidak kram.” Fauzan mulai melakukan gerakan perenggangan bersama Asraf.
Jika yang di dalam rumah itu bukan Afifah tetapi wanita lain pasti ia telah mengintip dua pria tampan yang sedang melakukan pemanasan dengan gerakan seksi yang memperlihatkan tubuh indah seoerang pria sempurna, tetapi tidak dengan Afifah yang tidak perduli dengan hal itu, ia sibuk dengan dirinya sendiri.
Asraf dan Fauzan telah meninggalkan perkarangan rumah yang indah dan berkeliling desa dengan lari-lari kecil. Udara yang masih segar dan jauh dari polusi dengan banyak pohon dan bunga sepanjang jalan.
Fauzan tersenyum bisa melihat warga yang memulai hari dengan ramah saling menyapa, mereka berjalan kaki dan bersepeda menuju sawah, kebun dan pasar.
“Inilah kehidupan yang kakak kamu inginkan.” Fauzan menghentikan langkanya dan menoleh kearah Asraf.
“Iya, kehidupan yang damai jauh dari hiruk pikuk kota dan polusi udara.” Asraf tersenyum.
“Mari Tuan kita ketempat yang indah.” Asraf berlari di depan Fauzan menuju sebuah bukit jauh dari pedesaan.
Sebatang pohon besar berada di atas bukit dan terukir nama Afifah dan Asraf , jika melihat kebawah akan melihat sungai biru berdampingan dengan hamparan sawah dan pertanian warga. Terihat beberapa petani telah sibuk dengan tanaman.
"Masya Allah, sangat indah.” Fauzan menghirup udara dan memejamkan matanya merasakan kedamaian dan kenikamatan yang Allah berikan dengan gratis. Sudah lama ia tidak merasakan segarnya udara pagi yang masih alami tanpa polusi.
“Aku dan kakak ku sering kemari dan ternyata tidak ada yang berubah dengan tempat ini.” Asraf menyentuh nama mereka yang terukir di pohon.
“Apakah kamu mau bersama kakak kamu?” Fauzan menatap Asraf.
“Kakakku tidak akan mengizinkan diriku, ia mau aku memiliki kehidupan sendiri dan selalu besama anda untuk membalas budi dan aku setuju dengan kakak ku.” Asraf tersenyum.
“Cobalah untuk mengajak kakak kamu bersama kita, ia memiliki kemampuan pasti bisa melakukan pekerjaan yang lain hingga ia bertemu dengan jodohnya.” Fauzan memandang jauh ke sungai.
“Aku telah mengajaknya, ia hanya berkata akan menunggu jodohnya di desa ini dan tidak akan pergi kemanapun.” Asraf mengepalkan tangannya menyembunyikan kekesalan pada dirinya sendiri.
“Jika kamu mau di desa ini aku izinkan hanya saja ilmu dan kemampuan yang kamu miliki tidak akan berguna di sini, kuliah kamu sia-sia, aku yakin Afifah tidak akan setuju.” Fauzan tersenyum.
“Anda benar Tuan, pasti ia akan mengusir diriku untuk ikut Anda.” Asraf tersenyum.
“Kakak kamu adalah wanita mandiri yang sangat tegas.” Fauzan memetik bunga anggrek yang menempel di batang pohon.
"Kakak ku akan marah l, jika ia tahu anda memetik bunga ini.” Asraf tersenyum.
__ADS_1
“Benarkah?” Fauzan mengangkat salah satu alisnya.
“Dia sangat menyayangi tanaman, dengan memetik bunga itu berarti anda telah membuatnya layu sebelum waktunya, itu yang akan kakakku katakan.” Asraf mencium bunga anggrek ungu.
“Luar biasa, ia bahkan memikirkan kehidupan tumbuhan.” Fauzan menyelipkan kembali bunga anggrek pada pohon.
"Padahal aku berpikir untuk memberikan bunga ini padanya.” Fauzan tersenyum.
“Jangan lakukan itu, aku tidak mau melihat anda dimarahi kakak ku dengan omelan dan senyuman.” Asraf tertawa.
“Kakak kamu sangat unik dan lucu.” Fauzan duduk di bawah pohon memandang bunga yang bermekaran dipagi hari.
“Sebaiknya kita kembali Tuan.” Asraf mengulurkan tangannya kepada Fauzan.
“Baiklah.” Fauzan memegang tangan Asraf dan beranjak dari akar pohon yang ia duduki. Mereka berjalan santai kembali ke rumah yang telah tertutup dan sepi.
“Kemana kakak kamu pergi?” Fauzan duduk di kursi dan membuka sepatunya.
“Bekerja, ia menjadi guru di sekolah dasar.” Asraf membuka pintu dan mereka berdua masuk ke dalam rumah menuju kamar untuk mebersihkan diri.
Sarapan telah tersedia di atas meja dengan menu yang berbeda, sederhana tetapi menyehatkan banyak serat bagus untuk tubuh. Fauzan berjalan ke belakang rumah ia melihat semua pakaiannya telah di gantung pada tempat penjemuran di samping rumah.
“Apa dia mencuci semua pakaianku dan bahkan pakaian dalamku, memalukan.” Fauzan mengusap wajahnya dengan kasar dan berjalan menuju meja makan.
“Apakah anda mau sarapan?” Asraf duduk di depan Fauzan.
“Asraf, apakah kakak kamu yang mencuci semua pakaian kita?” tanya Fauzan.
“Tentu saja Tuan, kakak ku membersihkan rumah, merapikan tempat tidur, mengambil pakaian kotor yang ada di kamar dan mencucinya.
“Baiklah, aku sangat lapar.” Fauzan merasa malu, belum ada wanita yang menyentuh dan mencuci pakaiannya, karena semua pelayan di istana adalah pria. Ketika di hotel Fauzan juga hanya mau dilayani oleh pria untuk urusan pakaian dirinya.
“Maafkan kakak ku.” Asraf menunduk.
“Lupakan saja, kita akan segera kembali ke kota malam nanti, Jhonny telah menghubungi diriku.” Fauzan mengambil makanan, ia sangat menyukai masakan Afifah yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.
***
(Stevent-Nisa dan Jhonny-Aisyah, tunggu pindah rumah baru )
Mohon dukungnnya berikan like, Komentar, bintang 5, Tips dan Vote. Terimakasih.
Baca juga Novel Author berjudul “Arsitek Cantik” dan "Mengejar Cinta Ariel"
Novel Kakakku “Nyanyian Takdir Aisyah dan Cinta Bersemi di Ujung Musim.” (Fitri Rahayu). Terimakasih.
__ADS_1
Semoga kita semua dalam keadaan sehat dan selalu mendapatkan perlindunganNya, Aamiin.