Cinta Untuk Dokter Nisa

Cinta Untuk Dokter Nisa
Kenyataan


__ADS_3

Kampus


Mobil Viona memasuki tempat parkir khusus Mahasiswa, Ayumi menggunakan maskernya dan keluar dari mobil. Wanita Jepang itu terliaht santai dengan kepercayaan diri penuh.


“Ayumi, dilarang menutupi wajah di kampus.” Viona memegang tangan Ayumi.


“Baiklah.” Ayumi membuka maskernya.


“Aku yakin wajah cantik kamu akan membuat kekacauan di kampus.” Viona tersenyum.


“Apa yang harus aku lakukan?” Ayumi menatap Viona.


“Tidak udah perdulikan mereka.” Viona menggandeng tangan Ayumi berjalan masuk ke dalam kampus.


“Kenapa dua wanita cantik harus disandingan sehingga sulit untuk membandingkan.” Zayn melihat Ayumi dan Viona berjalan bersama.


“Kecantikan yang mematikan.” Seorang pria berbisik di telinga Zayn.


“Kamu masih menyelidiki Viona.” Zayn menatap pada pria di sampingnya.


“Ayumi lebih menarik dan akan menjadi musuh dirimu.” Pria itu menepuk pundak Zayn.


“Daripada menjadi musuh lebih baik jadi kekasih.” Zayn tersenyum.


“Kamu tidak akan berani.” Pria itu berjalan menjauh dari Zayn dan duduk di kursinya.


“Kenapa tidak berani? Apakah dia memiliki kekuatan yang besar seperti Viona? Aku bosan dengan wanita kalangan atas.” Zayn duduk di depan rekannya.


“Bagaimana perasaan kamu dengan Viona?” tanya pria itu.


“Entahlah, aku hanya menyukai dirinya dan obsesi memiliki dengan cara yang salah sehingga membuat diriku rugi sendiri.” Zayn melirik Viona dan Ayumi.


“Fokuskan saja dirimu pada pekerjaan dan wanita akan datang dengan sendirinya.” Pria itu tersenyum.


“Ada banyak wanita yang datang pada diriku tetapi aku ingin jatuh cinta dengan cara yang liar.” Zayn mengaktifkan komputernya.


***


“Halo Viona dan Ayumi.” Jade tersenyum tampan melelehkan hati semua wanita.


“Halo Jade.” Viona tersenyum.


“Ayumi, apa kamu akan masuk bersama Viona?” Jade memandang Ayumi.


“Tidak, aku hanya akan menunggu di luar.” Ayumi melihat sekeliling, ia tahu Viona memiliki banyak pengawal tersembunyi.


“Kemarilah, ini tempat duduk dengan sudut yang pas.” Jade tersenyum tampan.


“Terimakasih, aku akan duduk di sini.” Ayumi tersenyum, ia tidak perlu khawatir karena dirinya telah memasang pelacak dan perekam pada tubuh Viona.


“Ayumi, kami harus masuk ke kelas.” Viona menyentuh tangan Ayumi yang tersenyum dan mengangguk


Viona dan Jade berjalan bersama masuk ke dalam kelas mereka, Ayumi mengeluarkan computer jinjing dari tasnya, meletakkan di atas meja, mengaktifkan dan siap bekerja. Wanita itu fokus dengan layar computer dan ponselnya. Seorang pria berdiri di depan Ayumi.


“Kenapa kamu tidak masuk kelas?” tanya Zayn pada Ayumi.


“Aku bukan Mahasiswi kampus ini.” Ayumi menatap pada wajah tampan Zayn.


“Berapa usia kamu?” tanya Zayn memandang wajah cantik Ayumi.


“Dua puluh dua tahun.” Ayumi kembali menatap layar computernya.


“Kamu sudah menyelesaikan kuliah di usia dua puluh dua tahun?” Zayn menatap Ayumi heran.


“Ya, karena dari kecil kami telah berada di sekolah khusus.” Ayumi melirik Zayn.


“Kamu lulusan apa?” tanya Zayn lagi, Ayumi bingung harus menjawab apa karena ia memiliki banyak gelar.


“Komunikasi, saya menguasai banyak bahasa.” Ayumi tersenyum.


“Luar biasa, apa kamu sudah memiliki pekerjaan?” Zayn tersenyum tampan.


“Sekarang saya adalah pengawal Nona Viona.” Ayumi mematikan komputernya.


“Bagaimana jika kamu menjadi sekretaris di perusahaan saya?” Zayn menarik kursi dan duduk di depan Ayumi.


“Ada banyak wanita yang bisa menjadi sekretaris tetapi hanya saya yang berhasil lulus seleksi menjadi Pengawal wanita.” Ayumi memasukan komputernya ke dalam tas.


“Kamu wanita yang luar biasa.” Zayn tersenyum dan memandang wajah cantik Ayumi.


“Terimakasih.” Ayumi menyenderkan tubuhnya pada dinding kursi, ia memperhatikan wajah tampan pria di depannya.


“Apakah anda seorang dosen?” tanya Ayumi.


“Ya, Dosen dan Pengusaha.” Zayn tersenyum dan Ayumi menunduk menghindari tatapan Zayn.


“Ayumi.” Viona berteriak memanggil Ayumi.


“Saya permisi Tuan.” Ayumi beranjak dari kursi dan berjalan menuju Viona.


“Kita akan makan di kantin.” Viona menggandeng tangan Ayumi dan berjalan bersama diikuti Jade. Ia melihat Zayn sekilas.


***


Bandara


Asraf dan Fauzan telah sampai Bandara, mereka berdua akan melakukan penerbangan keluar pulau untuk bertemu dengan Afifah. Dua pria tampan itu menggunakan masker agar tidak ada orang yang mengenali wajah pangeran Arab yang sangat terkenal dan Asistennya.


“Mengapa Afifah meminta kamu datang ke kota itu?” tanya Fauzan menutupi wajahnya dengan membaca Koran.


“Aku tidak tahu Tuan.” Asraf melihat sekeliling.


“Tuan Jhonny.” Asraf berdiri dan menghampiri sepasang suami istri yang bergandengan mesra.


“Selamat pagi Tuan Jhonny dan Nyonya Aisyah.” Asraf mengulurkan tangannya.


“Pagi, apa yang kamu lakukan di Bandara?” Aisyah melirik pria yang menggunakan masker di belakang Asraf.


“Kami akan pergi ke kota Musium Menara.” Asraf tersenyum.


“Kami juga akan pergi ke sana.” Aisyah tersenyum.


“Selamat pagi Tuan Fauzan.” Jhonny mengulurkan tangnnya.


“Selamat pagi.” Fauzan berjabat tangan dengan Jhonny.


“Apa kalian mau melakukan penerbangan bersama kami?” Aisyah melirik Jhonny.


“Kami berdua akan menggunakan Jet Pribadi.” Aisyah tersenyum.


“Kebetulan sekali, aku sudah lelah menunggu jadwal penerbangan yang terlambat.” Fauzan tersenyum dari balik maskernya.


“Mari.” Aisyah berjalan bersama Jhonny diikuti Asraf dan Fauzan. Mereka akan menuju kota yang sama tetapi tidak tahu akan bertemu dengan orang yang sama yaitu Afifah.


Berada di dalam Jet Pribadi membuat Fauzan merasa lebih nyaman, karena ia hampir tidak pernah menggunakan pesawat biasa. Pesawat Jet mendarat dengan mulus di bandara internasional. Sebuah mobil mewah telah mengunggu Aisyah dan Jhonny begitu juga dengan Fauzan, semua telah Asraf persiapkan dengan sangat baik. Mereka berpisah di depan pintu keluar Bandara. Mobil yang membawa Fauzan dan Asraf berjalan di belakang mobil Jhonny.


“Kenapa kita mengikuti mobil Jhonny?” Fauzan membuka maskernya.


“Sepertinya tujuan kita sama Tuan.” Asraf memperhatikan mobil di depan mereka yang terus melaju dengan jarak yang tidak terlalu jauh.


“Tuan, mobil di belakang sepertinya mengikuti kita.” Sopir mobil melihat pantulan Jhonny di cermin.


“Tak apa, kami saling kenal mungkin tujuan mereka sama dengan kita.” Jhonny menoleh kebelakang.


“Ada apa sayang?” Aisyah membuka matanya, ia sangat mengantuk.


“Mobil Tuan Fauzan berada tepat di belakang mobil kita.” Jhonny menatap wajah cantik Aisyah.


“Oh.” Aisyah kembali merebahkan kepalanya di pangkuan Jhonny.


Mobil Fauzan berbelok kearah Supermarket karena Asraf mau membelikan hadiah untuk Afifah, hadiah istimewa sebelum kakaknya menjadi milik orang lain. Asraf menggunakan maskernya dan keluar dari mobil diikuti Fauzan.


“Tuan, apa anda akan ikut bersama saya memilih hadiah?” Asraf menatap Fauzan.


“Ya, apa aku boleh membelikan hadiah untuk Afifah?” tanya Fauzan.

__ADS_1


“Tentu saja Tuan.” Asraf tersenyum.


“Aku berharap bisa menikmati makan siang masakan Afifah.” Fauzan berbicara dengan pelan dan hampir tidak terdengar oleh Asraf.


“Aku telah mengirim pesan kepada Afifah agar memasak masakan kesukaan anda Tuan.” Asraf tersenyum.


“Bagaimana kamu tahu aku sangat ingin memakan masakan Afifah?” Fauzan menatap Asraf.


“Karena aku sangat merindukan masakan kakak ku.” Asraf tersenyum bahagia, ia sangat ingin bertemu dengan Afifah.


Dua pria tampan yang menutupi wajah dengan masker berjalan menuju toko perhiasan, Asraf memandangi Liontin cantik berwarna putih yang di pajang pada lemari kaca.


“Apa yang akan kamu belikan untuk Afifah?” Fauzan memperhatikan perhiasan yang ada di dalam lemari kaca.


“Aku sangat ingin memberikan kakakku Liontin agar lehernya terlihat cantik.” Asraf tersenyum.


“Bukankah kamu tidak bisa melihat leher Afifah.” Fauzan memicingkan matanya.


“Anda benar Tuan, ia tidak pernah membuka hijabnya di depan diriku sejak aku pulang dari Arab walaupun dulu ia tidak berhijab.” Asraf menunjukkan sebuah Liontin yang ia inginkan kepada pelayan toko.


“Kamu membeli Liontin aku akan membelian gelang.” Fauzan meminta sebuah gelang cantik kepada pelayan.


“Tuan, hadiah anda terlalu mewah untuk wanita yang bukan siapa-siapa bagi anda.” Asraf melihat harga fantastis dari gelang yang Fauzan pilih.


“Andai aku boleh jujur pertama bertemu dengan Afifah aku sudah mengagumi dirinya.” Fauzan berbicara tanpa sadar, ia meneliti gelang emas berwarna putih. Asraf terdiam, ia tidak percaya jika Afifah gadis desa dapat membuat seoran pangeran mengaguminya.


“Tuan, apakah anda menyukai kakak saya?” Asraf menunggu jawaban Fauzan.


“Ya, mmm, aku menyukai masakannya.” Fauzan tersenyum.


“Tolong bungkus dengan cantik.” Fauzan menyerahkan gelang yang akan jadi hadiah untuk Afifah.


“Punya saya juga nona.” Asraf memberikan Liontin kepada pelayan toko.


“Baik Tuan-tuan, tolong tunggu sebentar.” Wanita itu tersenyum dan segera membungkus perhiasan yang telah dibeli dua orang pria.


“Ketika kakakku menikah dengan Nathan, kita tidak akan bisa lagi menikmati masakannya.” Asraf melirik Fauzan.


“Nathan tidak akan melepaskan Afifah.” Fauzan tersenyum.


“Apa anda sangat mengenal Nathan?” tanya Asraf .


“Aku tidak begitu mengenal dirinya, tetapi aku hanya sekedar tahu tentang pria itu, wanita yang dicintainya adalah wanita yang hebat dan luar biasa.” Fauzan mengingat kisah cinta Stevent dan Nisa dengan Nathan yang terluka.


“Asraf, andaikan aku jatuh cinta pada satu wanita yang juga dicintai Nathan, maka aku akan mengalah.” Fauzan menatap Asraf.


“Kenapa Tuan?” tanya Asraf penasaran.


“Karena aku kasihan kepada Nathan yang melakukan segala cara untuk mendapatkan wanitanya.” Fauzan memberikan kartu kredit kepada pelayan toko untuk melakukan pembayaran.


“Bagaimana dengan anda?” tanya Asraf lagi.


“Aku belum membuka hati untuk mencintai.” Fauzan tersenyum dan mengambil kotak hadiah berwarna merah muda.


“Terimakasih.” Asraf mengambil kotak hadiah miliknya yang berwarna biru muda dan berjalan di belakang Fauzan kembali ke mobil mereka. Melanjutkan perjalanan menuju rumah keluarga Afifah.


***


Mobil Aisyah dan Jhonny memasuki perkarangan rumah mewah yang sangat wanita itu rindukan, tidak ada yang berubah dari rumah yang telah lama ia tinggalkan. Tangan Aisyah menggengam tangan suaminya, ia sedikit khawatir kepada Jhonny yang tidak disukai keluarganya.


“Sayang, apa kamu baik-baik saja?” Aisyah menatap wajah Jhonny yang tanpa ekspresi.


“Apa yang akan terjadi?” tanya Jhonny.


“Ya, aku yakin kamu akan baik-baik saja.” Aisyah mencium bibir suaminya dan keluar bersama dari mobil. Wanita itu memandang pintu utama rumah mereka dan melihat kerumah Jordan, ia melihat pria itu berdiri di balkon kamarnya pada lantai atas.


“Maafkan aku.” Aisyah menggandeng tangan Jhonny dan berjalan bersama menuju pintu utama yang telah terbuka lebar menunggu kedatangan putri sulung mereka.


“Asalammualaikum.” Suara lembut Aisyah mengucapkan salam.


“Waalaikumsalam, masuklah sayang.” Mama tersenyum dan segera memeluk Aisyah yang tetap menggenggam tangan Jhonny.


“Silahkan duduk.” Papa melihat tangan putrinya yang terus memegang tangan suaminya seakan tidak ingin melepaskan.


“Terimakasih.” Jhonny menunduk memberi hormat dan masih berdiri di samping Aisyah.


“Baik sayang.” Mama melirik Jhonny dengan tatapan tidak suka.


“Apa kabar Pa?” Asiyah memeluk papanya dengan satu tangan.


“Papa sehat, bagaimana kabar dirimu?” tanya papa tersenyum.


“Alhamduliah kami baik.” Aisyah tersenyum dan melirik Jhonny.


“Duduk di sini sayang.” Mama berusaha menjauhkan Aisyah dari Jhonny.


“Tak apa Ma, Aku akan duduk bersama suamiku.” Aisyah tersenyum dan menarik tangan Jhonny untuk duduk.


“Baiklah, terserah kamu.” Mama duduk di samping papa.


“Aisyah, apa kamu masih ingat dengan foto ini?” Mama menyerahkan foto Afifah.


“Ya, adik kecilku yang belum sempat aku peluk tetapi hilang entah kemana?” Aisyah mengambil foto dari tangan mama.


“Jhonny, lihatlah adikku, dia sangat cantik.” Aisyah memberikan foto bayi pada Jhonny.


“Dia telah kembali kerumah ini.” Mama tersenyum dan memeluk papa.


“Apa, dimana dia Ma?” Aisyah berdiri dan melepaskan genggaman tangannya.


“Tenanglah sayang, dia ada di dapur sedang memasak untuk makan siang.” Mama memeluk Aisyah.


“Aku mau bertemu dengan adik kecilku.” Mata Aisyah telah berkaca-kaca.


“Jhonny kemarilah.” Aisyah menarik tangan Jhonny dan berjalan bersama menuju dapur.


"Aku pikir dia akan meninggalkan pria itu disini." Mama melirik Papa.


"Biarlah Aisyah bahagia bersama suaminya." Papa menepuk pundak Mama dengan lembut.


***


“Nathan, jangan mengganggu.” Afifah menepis tangan Nathan yang dengan nakalnya terus mengacau Afifah. Para pelayan yang sedang membantu hanya bisa membutakan mata dan menulikan telinga melihat pasangan yang sedang mabuk cinta.


“Sayang, biarkan aku membantu dirimu, aku tidak mau tangan kamu terluka.” Nathan merebut pisau dari tangan Afifah.


“Nathan, sebaiknya kamu pergi dari dapur ini atau kamu yang akan aku masak.” Afifah sangat kesal.


Jhonny dan Aisyah mematung di depan pintu dapur melihat sikap berbeda dari Nathan, sesekali pasangan suami istri itu saling lirik dan tersenyum, hampir melupakan tujuan awal mereka kedapur.


“Tunggu dulu, Nathan dan Afifah, apakah mereka orang yang sama? Ya Tuhan dunia ini sangat sempit.” Aisyah memijit batang hidungnya.


“Afifah.” Suara Aisyah lembut.


“Ya.” Afifah menoleh kearah pintu bersama Nathan, ia tidak mengenali Aisyah.


“Nona Aisyah.” Para pelayan memberi hormat.


“Dokter Aisyah.” Nathan tersenyum, ia menyenderkan tubuhnya di samping Afifah sangat dekat.


“Nathan, menyingkirlah.” Afifah mendorong tubuh Nathan.


“Afifah, apa kamu adikku?” Aisyah berjalan mendekati Afifah.


“Adik, apakah kamu Aisyah kakak ku?” Afifah menatap Aisyah, ia lupa pernah bertemu dengan Aisyah.


“Ya, aku sangat merindukan dirimu.” Aisyah memeluk Afifah dengan erat.


Nathan berjalan mendekati Jhonny yang masih mematung di depan pintu, ada Papa dan Mama yang melihat menjadi penonton pertemuan dua saudari yang terpisah.


“Kakak.” Afifah menangis di pudak Aisyah.


“Kita pernah bertemu satu kali, maafkan diriku yang tidak mengenali kamu karena kita terpiah ketika masih bayi.” Aisyah terisak.


“Maafkan aku yang tidak bisa mengingat pertemuan yang hanya sekilas.” Air mata mereka berdua telah membasahi hijab.

__ADS_1


“Tunggu dulu, kenapa kamu masih bersama pria ini, apa kamu kekasihnya?” Aisyah melepaskan pelukannya dan melihat kearah Nathan yangtersenyum tampan.


“Affiah adalah calon istriku.” Nathan tersenyum dan menepak pudak Jhonny yang melihat dirinya tidak suka, masih ada dendam di hati pria itu karena perbuatan Nathan yang pernah mencelakai dan hampir memisahkan Stevent dan Nisa.


“Aku sangat ingin menghancurkan Nathan tetapi wanita yang akan bersamanya adalah adik Aisyah.” Jhonny bericara di dalam hati dan menatap tajam pada Nathan.


“Tidak-tidak, kamu tidak pantas untuk adikku.” Aisyah melotot pada Nathan.


“Sayangnya, Afifah dan orang tua kalian sudah setuju.” Nathan tersenyum, ia melihat kearah papa dan mama.


"Aku akan mengurusi dirinya nanti." Aisyah berbicara di dalam hatinya.


“Afifah, apa kamu baik-baik saja, dimana kamu selama ini?” Aisyah menyentuh pipi Afifah.


“Aku baik kak.” Afifah tersenyum, ia sangat bahagia memiliki kakak perempuan yang sangat cantik dan baik.


“Kemarilah.” Aisyah kembali memeluk Afifah.


“Apa kamu mencintai Nathan?” Aisyah berbisik di telinga Afifah.


“Aku tidak tahu dengan perasaan diriku, tetapi karena beberapa waktu ini aku menghabiskan waktu bersama dengan dirinya sehingga membuat aku merasa nyaman dan terlindungi.” Afifah berbisik di telinga Aisyah.


“Dia pria gila.” Aisyah kembali berbisik di telinga Afifah.


“Aku tahu.” Afifah tertawa, ia tidak menyangka pertemuan pertama dengan saudarinya langsung berbicara tentang pria.


“Adikku sayang, kenalkan Jhonny kakak ipar kamu.” Aisyah menarik tangan Afifah mendekati Jhonny.


“Halo Kak, aku Afifah.” Afifah tersenyum cantik. Jhonny memperhatikan wajah Afifah dan Aisyah yang terlihat sama cantik bedanya Afifah terlihat lebih imut seperti gadis kecil.


“Milikku lebih cantik dan lembut.” Nathan tersenyum dan berbisik di telinga Jhonny.


“Hey Nathan, apa yang kamu katakan?” Aisyah menatap tajam pada Nathan, ia masih marah karena perlakukan Nathan.


“Nathan, sebaiknya kamu bergabung bersama papa dan mama, aku akan menyelesaikan masakanku.” Afifah tersenyum.


“Tentu saja sayang.” Nathan tersenyum dan berjalan menuju ruang tamu.


“Apa kamu bisa memasak?” tanya Aisyah.


“Ya, ini adalah makanan khas desaku.” Afifah tersenyum dan menyelesaikan masakannya, ia meminta para pelayan segera menyusun di meja makan.


“Apa kamu menunggu seseorang?” Aisyah melihat Afifah yang terus melirik jam di tangannya.


“Ya, aku menunggu Asraf, saudaraku selama hidup bersama orang tua yang telah menculik diriku.” Afifah tersenyum.


“Apa kamu tidak membenci mereka?” Aisyah mengusap kepala Afifah.


“Tidak ada yang perlu dibenci, ini adalah takdirku.” Afifah tersenyum.


“Dimana orang tua angkat kamu?” tanya Aisyah.


“Mereka telah meninggal.” Afifah mencuci dan mengeringkan tangannya.


“Bagaimana kehidupan kamu?” Aisyah terus bertanya tentang Afifah, ia sangat khawatir dengan kehidupan adiknya yang tinggal bersama orang yang pebuh dendam pada keluarga mereka.


“Aku baik kak, tidak usah dipikirkan.” Afifah menyentuh pipi Aisyah.


“Apa kamu bahagia?” tanya Aisyah.


“Ya, karena aku melupakan semua kesedihan dan menjalani kehidupan tanpa beban.” Afifah tersenyum.


“Afifah.” Aisyah kembali memeluk Afifah.


“Nona Afifah, tamu anda telah datang.” Seorang pelayang membungkukkan badannya.


“Asraf.” Affiah menarik tangan Aisyah berlari menuju ruang tamu.


“Kak Afifah.” Asraf tersenyum dan ingin memeluk Afifah tetapi ditahan oleh Nathan.


“Kenapa?” Asraf menatap tajam pada Nathan.


“Karena di bukan saudara kamu.” Nathan membalas tatapan tajam Asraf.


Fauzan yang masih menggunakan masker terdiam menjadi penonton, iamelirik Afifah yang melihat Asraf dengan tatapan sedih.


“Apa maksud kamu?” Asraf melihat kearah Afifah.


“Kemarilah.” Afifah menarik jas Asraf keluar dari ruangan melewati Fauzan tanpa menyapa karena ia tidak mengenali pria tampan itu.


“Afifah.” Nathan mau menyusul Afifah tetapi ditahan oleh Aisyah.


“Biarkan mereka menyelesaikan masalah ini.” Aisyah menatap Nathan.


“Tuan Fauzan, silahkan masuk dan perkenalkan orang tua saya dan Affiah.” Aisyah tersenyum, ia menceritakan semua tentang Afifah.


Asraf mengikuti langkah Afifah hingga mereka berada di bawah pohon pinus dengan kursi dan meja di bawahnya, air mata Afifah telah mengalir membasahi wajahnya, ia menatap wajah bingung Asraf.


“Ada apa, jelaskan pada diriku.” Asraf mengambil sapu tangan dari sakunya dan mengusap wajah Afifah.


“Asraf, aku adalah adik Aisyah dan kita bukan saudara kandung.” Afifah menatap wajah tampan Asraf.


“Benarkah, bagaimana kita bisa bersama dari kecil?” Asraf tersenyum paksa, ia tidak tahu harus merasakan sedih atau senang.


“Asraf, lupakan semua tentang bagaimana kita bisa bersama yang pasti aku akan tetap menjadi kakak kamu.” Afifah tersenyum.


“Tidak, jika kamu bukan saudara kandungku, maka aku mau kamu menjadi istriku.” Asraf memegang pipi Afifah.


“Apa, apa yang kamu katakan, aku tetap menganggap kamu adikku.” Afifah kebingungan.


“Dari awal aku telah mencintai dirimu melebihi cinta pada seorang saudari perempuan, aku ingin memiliki kamu seutuhnya dan hidup bersama selamanya.” Mata Asraf memerah, ia lepas kendali.


“Asraf, aku.” Afifah kebingungan.


“Afifah, menikahlah denganku.” Tangan Asraf memegang pipi kanan dan kiri Afifah, ajah nereka sangat dekat.


Nathan yang dari tadi menahan diri melihat dari kejauhan hingga kesabarannya habis dan berlari kearah Afifah, mendorong kuat tubuh Asraf hingga jatuh ke tanah, ia sangat ingin memukul pria itu yang telah menyentuh wajah kekasinya dan bahkan melamar untuk menikah.


“Nathan, apa yang kamu lakulan?” Afifah membantu Asraf untuk berdiri.


“Jika, aku tidak datang maka pria itu akan mencium bibir kamu.” Nathan menatap tajam pada Afifah.


“Itu tidak akan terjadi.” Afifah membalas tatapan Nathan.


“Asraf, kamu akan tetap menjadi adikku.” Afifah melihat kearah Asraf.


“Kenapa?” Asraf menatap Afifah dengan mata memerah.


“Karena kamu adalah adikku, ayo kita masuk.” Afifah memegang tangan Asraf.


“Aku bisa berjalan sendiri.” Asraf melepaskan pegangan tangan Afifah dan berjalan di depan.


“Asraf.” Afifah akan mengejar Asraf, tetapi ditahan Nathan.


“Kamu tidak boleh memikirkan pertanyaan Asraf karena kita kan segera menikah, aku telah mengantarkan berkas pernikahan kita.” Nathan tersenyum.


“Bagaimana bisa kamu melakukan itu tanpa izin dariku?” Afifah menatap tajam pada Nathan.


“Apa kamu lupa semua berkas penting milikmu ada pada diriku sebagai jaminan kamu tidak akan pernah meninggalkan aku.” Nathan tersenyum puas.


“Terserah dirimu.” Afifah kembali berjalan ke rumah. Seorang pria tampan melihat Afifah dan Nathan dari kejauhan, memasukan kotak hadiah kedalam saku jas miliknya, ia tidak mau membuat Nathan cemburu dengan hadiah yang akan ia berikan.


Mereka makan siang bersama dengan tenang di meja makan, tetapi Afifah dan Aisyah tidak ikut makan, mereka berdua berada di dalam kamar menghabiskan waktu bersama dengan banyak cerita yang suka, duka, tangis hingga tertawa. Papa dan Mama berkumpul bersama putri mereka.


Tidak ada yang berbicara ataupun sekedar bertanya, empat orang pria tampan duduk diam di ruang tamu. Mereka hanya saling lirik dan sibuk dengan ponsel masing-masing. Jhonny tidak bisa memulai pembicaraan. Asraf yang kacau dengan pikirannya. Nathan dengan rasa cemburu berlebihan dan Fauzan yang berusaha memikirkan cara untuk menenangkan Asraf.


Rasa cinta tidak akan berubah dengan cepatnya karena semua butuh proses panjang. Kebahagiaan dan kekecewaan serta air mata kadang menjadi teman dalam perjalanan Cinta.


***Love You All***


Untuk yang Suka berikan like, Komentar, bintang 5, Tips, Vote serta bantu promosikan. Terimakasih.


Baca juga Novel Author berjudul “Arsitek Cantik” dan "Mengejar Cinta Ariel" dan "Tabib Cantik Bulan Purnama"


Novel Kakakku “Nyanyian Takdir Aisyah dan Cinta Bersemi di Ujung Musim.” (Fitri Rahayu). Terimakasih.

__ADS_1


Semoga kita semua dalam keadaan sehat dan selalu mendapatkan perlindunganNya, Aamiin.


__ADS_2