
Pesawat Jet telah lama mendarat di bandara tetapi Nathan tidak membangunkan Afifah, ia hanya menatap wajah cantik yang masih tertidur lelap. Perlahan mata indah dengan bulu lentik terbuka dan bertatapan langsung dengan pria tampan yang tersenyum.
“Apakah sudah sampai?” Afifah melihat kearah jendela.
“Sudah dari tadi.” Nathan tersenyum.
“Kenapa kamu tidak membangunkan diriku?” Afifah menarik napas.
“Agar aku bisa memandang wajah kamu.” Nathan tidak mengalihkan pandangannya.
“Ayo kita turun.” Afifah beranjak dari kurasi.
“Apa ini?” Wanita itu terkejut melihat tangannya yang terborgol dengan tangan Nathan.
“Agar kita terus bersama dan kamu tidak bisa meninggalkan diriku.” Nathan tersenyum.
“Apa kamu gila?” Afifah melotot.
“Ya, aku tergila-gila kepada dirimu.” Nathan menarik tangananya hingga Afifah jatuh kembali ke kursi.
“Nathan, lepaskan borgol ini!” Afifah menarik tangannya.
“Tidak akan.” Nathan beranjak dari kursi dan menarik Afifah.
“Ya Tuhan.” Afifah mengambil tasnya dan mengikuti langkah kaki Nathan.
“Nathan, aku mohon buka borgol ini.” Afifah meminta Nathan membuka borgol pada tangan mereka berdua tetapi pria itu tidak perduli sama sekali, ia hanya tersenyum.
“Kenapa pria ini menggila?” Afifah kesal, ia tidak bisa berbuat apa-apa.
Nathan membuka jas miliknya dan menutup borgol tangan mereka berdua ketika keluar dari pesawat jet pribadi.
“Aku tidak akan lari, bisakah kamu membuka borgol ini?” Afifah menarik tangannya hingga langkah kaki Nathan terhenti.
“Aku tidak percaya.” Nathan berbisik di telinga Afifah dan kembali melanjutkan langkah kakinya.
Afifah kembali menarik tangannya dan duduk di lantai, ia tidak mau berjalan berharap Nathan akan membuka borgol tangan mereka.
“Apa kamu menantang diriku, aku masih marah.” Nathan menatap tajam pada Afifah dan menggendong tubuh mungil dengan mudahnya.
“Arrg, Nathan turunkan aku!” Afifah memukul dada bidang Nathan dan melihat sekeliling.
“Kamu tidak mau berjalan jadi harus di gendong.” Nathan tersenyum licik.
“Aku akan berjalan sendiri, turunkan aku!” Afifah terus berusah melepaskan diri.
“Diamlah, atau aku akan mencium dirimu di depan umum.” Nathan menatap Afifah yang langsung terdiam.
Sebuah mobil mewah telah menunggu di pintu masuk yang akan mengantar menuju hotel yang telah di pesan. Mereka berdua duduk di kursi penumpang bagian belakang. Afifah terus diam selama perjalanan, ia tidak mau berdebat dengan pria gila di sampingnya. Borgol itu pasti akan dibuka dan ia akan kabur.
“Kenapa kamu diam?” Nathan mendekati Afifah.
“Untuk apa aku berbicara, kamu tidak akan mendengarkan diriku.” Afifah menoleh ke luar jendela.
“Aku akan mendnegarkan dan menuruti semua keinginan kamu.” Nathan tersenyum.
“Bohong.” Afifah masih tidak melihat Nathan yang semakin kesal dengan sikap menggemaskan.
“Aku tidak pernah berbohong.” Nathan menarik tanganAfifah.
“Aw, sakit.” Tangan Afifah jatuh tepat di dada bidang Nathan, wajah mereka begitu dekat dengan mata saling bertatapan.
Nathan menggerakkan kepalanya dan akan mencium bibir mungil yang begitu menggoda, dengan cepat Afifah mendorong tubuh pria yang semakin nakal dan kembali duduk di kursinya. Mobil berhenti tepat di depan pintu utama bintang 5.
“Kapan kamu akan membuka borgol ini?” Afifah menarik tangannya.
“Tidak akan aku buka.” Nathan tersenyum berjalan menuju resepsionis untuk memgambil kunci kamar.
“Apa kamu benar-benar gila.” Afifah semakin kesal dengan sikap Nathan.
Nathan membuka pintu kamar dan menarik tangan Afifah untuk masuk tetapi wanita itu bertahan di depan pintu dan berpegangan pada tiang pintu.
“Ini kamar kamu.” Nathan menatap Afifah.
“Aku tidak mau masuk bersama dirimu.” Afifah terus berpegangan.
“Aku akan membuka borgol ketika kamu sudah berada di dalam kamar.” Nathan menatap Afifah.
“Biarkan pintu terbuka.” Afifah menatap Nathan.
“Ya, masuklah!” Nathan menarik tangan Afifah dan membuka borgol.
“Menyakitkan.” Afifah mengusap tangannya.
“Jangan berpikir untuk kabur.” Nathan tersenyum, keluar dari kamar dan mengunci pintu.
“Apa, pria ini mengunciku di kamar hotel, Nathan buka pintunya!” Afifah memukul pintu kamar hotel.
Nathan berjalan menuju kamarnya dengan tersenyum tetapi masih marah pada Afifah yang telah meninggalkan dirinya dan bersama pria lain berdua dalam satu mobil melakukan perjalanan yang panjang.
“Aku harus menghukum dirimu dan Kim.” Nathan berjalan menuju kamar mandi untuk membersihkan diri.
Ponsel Nathan bordering, ia keluar dari kamar mandi hanya menggunakan handuk berwarna putih sebatas paha melingkrt di pinggang dan melihat panggilan dari Afifah, pria itu tersenyum, akhirnya ia mendapatkan panggilan dari kekasihnya.
“Halo sayang, apa kamu merindukan diriku?” Nathan duduk di tepi tempat tidur.
“Aku lapar dan aku tidak tidak mempunyai pakaian ganti, kamu telah meningalkan koperku di bandara.” Afifah kesal.
“Kita akan makan dan berbelanja, kartu tidak berbatas dan ponsel baru ada di dalam tas kamu.” Nathan tersenyum mendengar suara Afifah yang keasal.
“Terserah.” Afifah memutuskan panggilan, ia merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur dan menyuntikkan formula Nathan.
“Afifah, kamu semakin menggemaskan.” Nathan beranjak dari tempat tidur dan berganti pakaian yang telah tersedia di dalam lemari pakaian. Pria itu biasa pergi kemanapun tidak ada yang tidak mengenal dirinya di dalam dunia bisnisnya.
Nathan keluar dari kamarnya dan membuka pintu kamar Afifah, ia melihat wanita itu berbaring di atas tempat tidur dengan jarum suntik jatuh di lantai. Nathan mengambil jarum dan membuangnya ke tong sampah.
“Apa kamu menyuntikan formula?” Nathan menatap wajah Afifah yang terlihat kesakitan..
“Ya, tanganku terasa sakit.” Afifah melihat lengannya berdarah.
__ADS_1
“Kenapa kamu sangat ceroboh.” Nathan mengambil tisu dan membersihkan tangan Afifah.
“Formula ini harus disuntikkan melalui selang infus.” Nathan menatap tajam pada Afifah.
“Hm.” Afifah memejamkan matanya menahan sakit.
“Aku akan memesan makanan, kita makan di kamar saja.” Nathan mengambil ponselnya dan mengubungi dapur restoran.
“Kamu mau makan apa?” tanya Nathan.
“Aku bisa makan apasaja.” Afifah berbaring menghadap ke dinding.
“Bukankan kamu pernah kuliah dijurusan kesehatan?” Nathan duduk di samping Afifah.
“Aku bahkan mengambil jurusan spesialis dokter bedah dan perawat sekaligus secara diam-diam tetapi aku menjadi guru karena menyukai anak-anak.” Afifah menarik selimut menutupi tubuhnya.
“Setelah makan, komdisi tubuh kamu akan membaik.” Nathan beranjak dari tempat tidur kembali ke kamarnya dan mengambil obat untuk Afifah. Ia menunggu makanan datang di depan pintu kamar yang terbuka. Beberapa pelayan datang mengantar pesanan makanan dan meletakkan di atas meja dengan rapi.
“Bangunlah, makanan telah tiba, setelah makan minum obat.” Nathan mendekati Afifah dan menyerahkan botol berisi kapsul.
“Tubuhku sangat lemah.” Afifah beranjak dari tempat tidur wajahnya terlihat pucat.
“Kamu kelelahan karena tidak pernah melakukan perjalanan jauh, masih untung tidak mabuk perjalanan.” Nathan menynetuh dahi Afifah.
“Kamu benar.” Afifah memegang kepalanya dan berjalan perlahan menuju meja yang penuh dengan makanan.
“Aku sangat lapar.” Afifah duduk dan menikamati makanan bersama Nathan.
Ponsel lama Afifah berdering, Nathan memperhatikan wanita itu yang tetap fokus makan tanpa memperdulikan bunyi ponsel yang berulang kali dan tidak berhenti.
“Dis seperti Nisa yang tidak akan berbicara ketika sedang makan dan tidak akan bernajak dari kursinya.” Nathan tersenyum berbicara di dalam hatinya.
Afifah menyelesaikan makannya, ia melihat Nathan yang terus memperhatikan dirinya selama makan hingga selesai.
“Jika melihat ku membuat kamu kenyang sebaiknya tidak usah memesan banyak makanan.” Afifah beranjak dari kursi dan melihat ponselnya.
“Kamu benar tetapi aku harus memakan dirimu.” Nathan tersenyum nakal.
“Aneh.” Afifah duduk di tepi tempat tidur dan melakukan panggilan.
“Siapa yang akan kamu hubungi?” Nathan berdiri di samping Afifah.
“Asraf.” Afifah tidak memperdulikan Nathan.
“Tidak boleh.” Nathan merebut ponsel Afifah.
“Nathan kembalikan, aku tidak mau Asraf khawatir.” Afifah tidak mempunyai tenaga untuk merebut ponselnya dari Nathan.
“Aku yang akan menghubungi Asraf.” Nathan mentap tajam pada Afifah.
“Aku mau berbicara dengan Asraf.” Afifah memelas.
“Tidak boleh.” Nathan tersenyum.
“Kenapa?” Afifah bingung.
“Karena Asraf bukan adik kamu.” Nathan memasang borgol di tangan Afifah ke tiang tempat tidur.
“Ya Tuhan, pria ini benar-benar gila.” Afifah memegang kepalanya.
“Jika Asraf tahu mereka bukan saudara kandung, pastilah pria itu akan berpikir untuk memiliki Afifah.” Nathan duduk di sofa depan kamar mereka dan menghubungi Asraf menggunakan ponsel Afifah.
“Halo, Kakak dimana? Aku sangat merindukan kakak.” Asraf sangat bersemangat menerima panggilan dari nomor Afifah.
“Kakak kamu bersama diriku dan kamu tidak boleh merinduka Afifah.” Nathan menekankan suraranya menahan cemburu.
“Nathan, dimana kakakku?” tanya Asraf.
“Dia sedang berada di tempat tidur, kami menginap di hotel yanga sama.” Nathan tersenyum.
“Kamu berbohong.” Asraf meninggikan suaranya.
“Tenanglah, tidak terjadi apa-apa antara aku dan Afifah, ia sedang beristirahat, kamu tidak perlu khawatir, aku akan memberikan ponsel kepada Afifah.” Nathan tidak mau membuat Asraf khawatir dan mencari Afifah dengan bantuan Fauzan.
“Aku mengawasi dirimu.” Nathan berbisik di telingan Afifah dan menyerahkan ponsel.
“Assalamualikum, halo Asraf.” Suara Afifah terdengar lembut.
“Waalaikumsalam, kakak apa kamu baik-baik saja? Kenapa kamu bersama Nathan, bagaimana jka kakak tersesat?” Asraf memberikan banyak pertanyaan.
“Asraf, kakak sangat baik dan tidak akan tersesat karena formula Nathan berhasil memulihkan ingatan kakak untuk sementara.” Afifah tersenyum.
“Benarkan?” tanya Asraf.
“Ya.” Afifah berusaha memberika suara yan terdengar bahagia.
“Kenapa kakak tidak menemui diriku sebelum pergi?” tanya Asraf pelan.
“Maafkan kakak yang terburu-buru, kakak akan segera kembali.” Afifah menarik napas dan ponsel kembali diambil Nathan, pria itu tidak tahan mendengar percakapan anatara dua orang yang terlihat mesra dimatanya.
“Asraf.” Afifah harus istirahat, ia baru selesai minum obat.” Nathan memutuskan panggilan.
“Nathan, aku belum selesai.” Afifah menatap tajam pada Nathan.
“Kalian tidak akan pernah selesai, membosankan.” Nathan mematikan ponsel Afifah dan memasukan ke saku jasnya.
“Kembalikan ponselku!” Afifah menarik jas Nathan.
“Jangan menggodaku.” Nathan tersenyum.
“Ada apa dengan dirimu?” Afifah menatap Nathan.
“Aku sedang marah karena kamu meninggalkan diriku dan pergi bersama pria lain.” Nathan memegang dagu Afifah.
“Apa yang akan kamu lakukan?” tanya Afifah.
“Menghukum dirimu dan Kim Min Jook.” Nathan tersenyum.
“Kamu berjanji tidak akan menyakiti orang lagi.” Afifah terlihat khawatir.
__ADS_1
“Mm, kamu benar tetapi pria itu telah berani membawa kekasihku pergi.” Nathan duduk di sofa samping tempat tidur.
“Aku minta maaf semua ini salahku dan bukan salah Dokter Kim.” Afifah menatap Nathan.
“Aku memaafkan kamu sayang.” Nathan tersenyum.
“Aku tidak akan menyakiti siapapun selama kamu berada di sisiku, aku telah mengatakannya berulang kali sayang.” Nathan membuka borgol Afifah dan memindahkan ketangannya.
“Apa lagi ini?” Afifah melihat tangannya yang kembali bersama tangan Nathan.
“Kamu sudah baikkan, kita akan pergi ke butik pakaian muslimah.” Nathan tersenyum.
“Tunggu dulu, kamu tidak perlu melakukan ini aku tidak akan pergi dari kamu.” Afifah menahan tangan Nathan.
“Ini adalah hukuman untuk kamu.” Nathan tersenyum tampan.
“Kamu telah memaafkanku, Nathan aku mohon buka borgol ini.” Suara Afifah melembut dan tersenyum cantik.
“Apa kamu sedang menggodaku?” Nathan menatap wajah menggemaskan Afifah.
“Tidak, aku sedang memohon.” Afifah menakupkan tangannya di wajahnya sehingga tangan Nathan ikut terangkat dan mengenai bibirnya.
“Kamu sedang menggoda diriku.” Nathan mendekat.
“Nathan.” Afifah menurunkan tangannya dan mundur.
“Baiklah, aku akan membuka borgol ini.” Nathan mengeluarkan kunci dari saku celananya.
“Terimakasih.” Suara Afifah lembut.
“Rapikan pakaian kamu!” Nathan bejalan keluar kamar.
“Pria gila, dialah yang membuat diriku terlihat berantakan.” Afifah menggerutu merapikan gamis dan hijabnya.
Afifah berjalan di depan Nathan, ia tidak mau terlalu dekat dengan pria yang suka berubah-rubah sikap, membuat dirinya khawatir.
“Jika kamu berjalan terlalu jauh dariku, aku akan memasnagkan kembali borgol.” Nathan tersenyum melihat Afifah menghentikan langkah kakinya.
“Kita tidak boleh terlalu dekat.” Afifah tersenyum terpaksa.
“Dan tidak boleh terlalu jauh.” Nathan berbisik di telinga Afifah.
“Lama-lama aku bisa gila.” Afifah berbicara di dalam hatinya, ia sangat kesal dengan perubahan hidup yang ia jalani saat ini.
"Kemarilah, ada sebuah butik di samping hotel ini." Nathan menarik tali gamis Afifah.
"Pelan-pelan." Afifah mengikuti langkah kaki Nathan.
Ada banyak pasang mata yang memperhatikan Afifah dan Nathan, melihat pria tampan dewasa berjalan bersama gadis kecil yang imut.
"Mereka akan berpikir aku bermain bersama gadis remaja." Nathan menepuk dahinya.
"Itu bukan salahku." Afifah tertawa.
"Yah, wajah kamu terlalu menggemaskan, akan ada banyak anak remaja yang menggoda dirimu." Nathan menatap Afifah.
"Itu juga bukan salahku." Afifah tersenyum.
"Salah diriku yang membawa kamu keluar kamar, apa kita harus segera kembali ke kamar?" Nathan mengehentikan langkah kakinya.
"Kita belum sampai butik." Afifah berlari menuju butik meninggalkan Nathan.
"Wanita ini, ia bisa bertingkah kekanakan dan kadang dewasa." Nathan berlari menyusul Afifah masuk ke dalam butik.
"Jangan lari-lari!" Nathan kembali memasang borgol.
"Ya Tuhan." Afifah memijit kepalanya.
"Pilihkan semua gamis yang cocok untuk kekasih ku dan langsung bungkus!" ucap Nathan pada pelayan butik.
"Baik Tuan." para pelayan segera mencari gamis untuk Afifah.
"Kau mau mencobanya." Afifah masuk ke kamar ganti di ikuti Nathan.
"Apa yang kamu lakukan?" Afifah kesal.
"Kamu tidak perlu mencobanya Sayang, ini adalah butik terbaik, pasti cocok untuk tubuh indah mu." Nathan tersenyum.
Afifah duduk di sofa dan melihat gamis yang telah dikumpulkan oleh para pelayan dan tergantung di depannya.
"Pilihlah!" Nathan tersenyum.
"Terserah dirimu." Afifah membuka majalah.
"Bungkus semuanya!" perintah Nathan.
"Aku akan memilih." Afifah melirik Nathan dan beranjak dari sofa.
"Apa yang akan aku lakukan dengan pakaian sebanyak ini?" gerutu Afifah.
"Itu adalah jawaban untuk kata terserah." Nathan tersenyum.
Afifah memilih beberapa gamis dan hijab dengan warna lembut.
Setelah melakukan pembayaran mereka kembali ke kamar masing-masing untuk beristirahat dan akan melakukan pencarian esok hari.
Cobaan yang Tuhan berikan untuk menguji kesabaran seorang insan dalam menghadapi manusia yang hampir tidak mengenal Tuhannya. Manusia yang berpikir apa yang ia dapatkan adalah hasil usaha dirinya sendiri, bukan pemberian dari Sang Pengusaha alam semesta ini.
Hanya wanita terpilih yang akan mampu untuk mendamping para pria sombong dan angkuh agar mereka bisa kembali kejalanNya. Melembutkan hati yang keras agar tidak jatuh terlalu dalam pada jurang kehancuran iman dan melupakan Sang pemilik kehidupan.
***
Mohon dukungnnya berikan like, Komentar, bintang 5, Tips, Vote serta bantuan promosikan, jika suka . Terimakasih.
Love You so much, Muuach.
Baca juga Novel Author berjudul “Arsitek Cantik” dan "Mengejar Cinta Ariel" dan " Tabib Cantik Bulan Purnama"
Novel Kakakku “Nyanyian Takdir Aisyah dan Cinta Bersemi di Ujung Musim.” (Fitri Rahayu). Terimakasih.
__ADS_1
Semoga kita semua dalam keadaan sehat dan selalu mendapatkan perlindunganNya, Aamiin.