
(❤️ FAVORIT, LIKE, KOMENTAR, VOTE, BINTANG 5 😘) DUKUNGAN KAMU ADALAH PENYEMANGAT AUTHOR UPDATE 💪
Semua orang di ruang makan berdiri menatap Putra sulung keluarga Kim.
"Perkenalkan putra Sulung kami seorang Dokter bedah Kim Min Jook." Tuan Kim memperkenalkan putranya.
"Selamat malam semuanya, saya Kim Min Jook, teman satu kamus dengan Nisa." Min Jook tersenyum puas.
Ia benar-benar tidak percaya akan bertemu Nisa di rumahnya.
"Apa kabar Oppa Min?" sapa Nisa.
"Aku baik, senang bisa bertemu kembali dengan dirimu." Min Jook tersenyum melihat ke arah Nisa.
Stevent mengepalkan tangannya, ia masih ingat ketika Kim min Jook mengatakan dirinya tidak pantas untuk Nisa.
"Semuanya, silahkan duduk kita bisa menikmati makan malam bersama." ucap Tuan Kim.
Jade mencuri pandang kepada Viona yang baru ingat siapa Min Jook, Dokter bedah yang melakukan operasi Kenzo.
Semua kembali duduk, Min Jook memperhatikan Nisa yang hanya peduli kepada Stevent.
"Sayang, kamu tidak makan?" Nisa menatap Stevent.
"Kita pulang sekarang." Stevent menarik tangan Nisa.
"Tuan Kim, saya mohon maaf kami permisi pulang duluan, Istri saya sedang hamil dan saya tidak mau kami terlalu larut di jalanan." jelas Stevent memberi hormat dengan sopan.
"Stevent, jika makan malam belum selesai, kamu tidak boleh pulang, itu namanya tidak sopan." ucap Papa Alexander menatap Stevent.
"Maafkan suami saya, sejak saya hamil Stevent jadi tidak suka seafood." Nisa tersenyum memeluk lengan Stevent.
"Oooh." semua tertawa, mereka bisa mengerti.
"Kami akan menunggu di taman, permisi." Nisa tersenyum dan berjalan bersama Stevent menuju taman rumah Tuan Kim.
Viona menahan senyum, jika bukan di ruang makan, Stevent pasti sudah memukul wajah tampan Kim Min Jook.
Min Jook tersenyum, melihat Nisa yang berusaha menenangkan Stevent dengan kelembutannya.
Mereka berdua telah berada di taman, ada pohon Anggur hitam yang sedang berbuah.
"Sayang, kenapa kita tidak pulang saja?" Stevent memeluk Nisa dari belakang.
"Sayang, hormati aturan bertamu, jangan sampai menyinggung Tuan rumah." Nisa memutar tubuhnya meletakkan tangannya di pipi Stevent.
"Aku mau mengigit dirimu." ucap Stevent, Nisa tersenyum, sebenarnya ia merasa lapar.
"Sayang, apa Anggur ini bisa dimakan?" Nisa memetik Anggur dari tangkainya.
"Tentu saja bisa dan rasanya sangat manis." ucap Min Jook tersenyum.
"Ah benarkah." Nisa tidak tahu yang menjawab dirinya adalah Min Jook.
Dua orang pria berdiri berdampingan dan saling bertatapan. Dengan stelan jas yang pas di badan dan tangan di masukan ke dalam saku celana.
"Sayang, aku akan....." kalimat Nisa terputus.
Min Jook dan Stevent memiliki tinggi badan yang sama, hanya saja tubuh Stevent lebih berisi dan berotot.
"Oppa Min." Nisa berjalan mendekat.
"Halo My Angel, kamu semakin cantik." ucap Min Jook mengambil wadah untuk buah Anggur.
Nisa hanya diam,ia memegang tangan Stevent yang terus menatap Min Jook.
Min Jook memetik buah Anggur, mencucinya dan memberikan kepada Nisa.
"Cobalah, Anggur ini sangat manis." Min Jook tersenyum manis sangat tampan dengan ciri khas wajah Korea.
__ADS_1
Nisa sangat Khawatir, Stevent akan menghamburkan buah Anggur.
"Sayang, kamu suka buah Anggur, ambillah, kita bisa makan bersama." ucap Nisa lembut dan tersenyum kepada Stevent.
Stevent mengambil wadah berisi Anggur dari tangan Min Jook dan tersenyum, ia tidak akan memukul pria itu di depan istrinya yang sedang hamil.
"Terimakasih." ucap Stevent dan mencuci kembali Anggur dengan air galon yang telah di siapkan di bawah pohon Anggur yang melilit kerangka besi.
"Duduklah." ucap Nisa kepada Stevent dan Min Jook.
Sebuah kursi taman berwarna putih terbuat dari besi senada dengan kerangka tempat pohon Anggur melilit.
Kursi berhadapan dan meja di tengah-tengahnya.
Stevent dan Nisa duduk berdampingan sedangkan Min Jook duduk di depan Stevent.
"Bagaimana pernikahan kalian?" tanya Min Jook memakan Anggur.
"Kami sangat bahagia." jawab Stevent singkat.
"Oppa Min, bagaimana kabar kamu?" tanya Nisa menggenggam tangan Stevent.
Min Jook memperhatikan tangan Nisa dan Stevent, ia tahu Nisa hanya mau meredam emosi Stevent.
Pertemuan pertama mereka sangat buruk, Min Jook langsung mendapatkan pukulan di wajahnya.
Nisa benar-benar sabar menghadapi Stevent yang emosi dan sangat pencemburu.
"Papa dan Mama meminta ku untuk pulang." ucap Min Jook.
"Apakah oppa akan menetap di sini?" tanya Nisa.
Stevent menikmati buah Anggur hitam dengan salah satu tangan yang terus menggenggam tangan Nisa.
"Ya, Aku akan bekerja di rumah Sakit pemerintah milik Samuel." Min Jook tersenyum.
"Sayang, kamu kenapa, aku akan mengambilkan air untukmu." Nisa berjalan masuk ke dalam rumah.
Min Jook menatap Nisa yang meninggalkan mereka berdua, ia yakin Singa di depannya akan mulai bertindak.
"Kenapa kamu harus memilih Rumah Sakit Samuel?" Stevent telah berdiri dan memegang kerah kemeja Min Jook.
"Karena kerjasama perusahaan, Apa urusan dengan dirimu?" Min Jook bingung karena dia tidak tahu jika Nisa bekerja di sana.
"Kamu sengaja memilih rumah sakit yang sama dengan Nisa." mata Stevent memerah.
"Hahaha." Min Jook tertawa.
"Aku sangat beruntung, karena aku tidak tahu Nisa bekerja di sana." ucap Min Jook menarik tangan Stevent dari kerahnya.
"Apa, Dia tidak tahu, Oh stupid." pikir Stevent.
"Dia adalah Istri ku jangan pernah berani dekati Nisa lagi." ancam Stevent dengan mata memerah.
"Kami adalah tim Dokter bedah, melakukan operasi dalam satu ruangan yang sama, itu akan tetap terjadi." Min Jook.
Dua pria yang bersitegang dengan tatapan yang saling memancarkan kilatan permusuhan.
"Sayang." suara Nisa membuat dua pria yang bersitegang kembali duduk dengan tenang di kursi mereka, seakan tidak terjadi apa-apa.
Nisa membawa dua gelas air minum dengan menggunakan nampan.
"Apa yang kalian diskusikan?" tanya Nisa tersenyum, karena Stevent dan Min Jook tidak berkelahi.
"Pekerjaan." jawab Stevent dan Min Jook kompak sehingga mereka saling bertatapan.
"Syukurlah." Nisa memberikan gelas berisi air putih kepada Stevent dan Min Jook.
"Apakah Papa masih lama?" tanya Stevent dan meminum air dari gelas.
__ADS_1
"Mereka meminta kita semua untuk masuk." ucap Nisa tersenyum dan menggandeng tangan Stevent.
Stevent melirik Min Jook dan memberikan senyuman kemenangan.
"Oppa, tidak masuk?" Nisa menoleh ke arah Min Jook yang masih duduk di kursinya.
"Ohya, tentu." Min Jook berjalan di samping kiri Nisa dan Stevent di samping kanan.
Nisa berada di antara pria tampan dan gagah begitu sempurna.
Mereka masuk bersama, semua mata tertuju kepada mereka bertiga.
Bagaikan cover sebuah novel, seorang wanita cantik dan berjilbab di antara pria berwajah Eropa dan Korea.
"Min Jook, Apakah Nisa ini adalah teman yang membuat kamu mau menjadi dokter Bedah?" tanya Nyonya Wei Yun.
"Tentu Ma, Nisa Mahasiswi cerdas dan masih sangat muda." Min Jook berjalan mendekati Mama.
Jade memperhatikan Nisa, ia ingat kakaknya pernah mengirimkan foto wanita berhijab kepada dirinya.
"Ah, Dunia sangat sempit." gumam Jade dalam hati.
Min Jook sering menghubungi Jade dan bercerita tentang Nisa, wanita cantik dan cerdas, selalu berpakaian tertutup.
"Oooh, Cinta pertama Jook." ucap Tuan Kim tertawa.
Nisa benar-benar merasa tidak nyaman, ia melihat kearah Stevent, seakan mereka menuduh Stevent merebut dirinya dari Min Jook.
"Kami berteman karena kuliah pada kampus yang sama dan kebetulan satu kelas." Nisa tersenyum ramah dan menggenggam erat tangan Stevent.
Mereka berdua masih berdiri, Stevent seakan enggan untuk duduk.
"Dia memang cantik dan lembut." Jade melirik Nisa.
"Papa, Mama dan Tuan Kim beserta keluarga, kami pamit pulang, Saya sangat lelah dan mengantuk." Nisa memberi hormat.
Nisa segera menarik tangan Stevent berjalan menuju mobil sport.
"Aku akan mengantarkan kalian." ucap Jook.
"Tidak usah, Terima kasih." Nisa tersenyum.
Stevent menatap tajam ke arah Min Jook yang berjalan mendekat.
Ia segera menggendong Nisa dan berjalan menuju mobilnya meninggalkan Min Jook.
"Kenapa mereka harus mengatakan itu?" Kesal Stevent.
"Sayang, tidak usah dengarkan omongan orang lain, Aku hanya milik kamu." Nisa tersenyum dan mencium pipi Stevent.
Stevent memancungkan mulutnya, meminta Nisa untuk mencium bibirnya.
Nisa melingkarkan tangannya di leher Stevent dan mendekatkan bibir mereka.
Mencium bibir Stevent dengan posisi di gendong dan berjalan pelan menuju mobil.
"Apa kamu masih marah?" tanya Nisa tersenyum.
Stevent membuka pintu dan mendudukkan Nisa di kursi penumpang, ia memutari mobil dan duduk di kursi pengemudi.
"Aku hanya cemburu." Stevent mencium bibir Nisa di dalam mobil yang masih berada di parkiran halaman rumah Tuan Kim.
**************************************
Semoga Readers semua selalu dalam keadaan sehat dan mendapatkan rezeki yang berlimpah Aamiin 😇
Baca juga "Arsitek Cantik dan Nyanyian Takdir Aisyah" Terimakasih 🤗.
Love You Readers 💓 Thanks for Reading 😊
__ADS_1