Cinta Untuk Dokter Nisa

Cinta Untuk Dokter Nisa
Apa Kamu Mau Ikut?


__ADS_3

Ayumi sampai lebih dulu di Perusahaan Manufaktur, seorang pria paruh baya dan putrinya telah menunggu kedatangan mereka. Om Robet dan Rebecca, wanita yang mencintai Stevent dari kecil dan berteman dengan Viona. Ayumi membuka jaket dan helmnya tetapi tetap menggunakan masker wajah, ia duduk di atas motor memperhatikan sekeliling.


Mobil, Kenzo, David dan Fauzan memasuki tempat parkir bersamaan. Kenzo membuka pintu untuk istrinya dan menggandeng mesra keluar dari mobil. David mempelakukan hal yang sama pada Viona tetapi ia tidak bisa menggandeng mesra tangan gadis itu. Fauzan keluar dari mobil dan melihat Ayumi yang masih duduk di atas motor Sport hitam.


“Dia itu wanita atau pria?” Fauzan menutupi wajahnya menggunakan masker dan melangkahkan kaki menuju pintu utama perusahan.


“Selamat datang Nona Viona.” Om Robet tersenyum.


“Halo Om.” Viona tersenyum.


“Halo Viona.” Sapa Rebecca pelan.


“Hai.” Viona melihat sekilas.


“Silahkan Tuan dan Nyonya.” Om Robet membawa para pemegang saham masuk ke dalam ruangan meeting.


“Aku tidak ingin masuk.” Fauzan melihat Asraf dan melirik Ayumi yang melewati dirinya mengikuti Viona. Asraf melihat Rebecca yang berdiri di depan pintu dengan pakaian seksi menyambut kedatagan mereka.


“Kita akan masuk ketika wanita itu tidak berdiri di pintu lagi.” Asraf menutupi Fauzan dari Rebecca yang terus memperhatikan mereka.


“Tuan, apakah anda tidak masuk?” Rebecca mendekati Asraf.


“Nona, silahkan anda masuk duluan kami akan menyusul.” Asraf melindungi Fauzan dari pandangan Rebecca.


“Baiklah.” Rebecca berjalan di depan Asraf dan Fauzan paling belakang.


“Katakan pada Viona untuk meminta para karyawatinya menutup aurat mereka.” Fauzan berbicara di belakang Asraf.


“Akan saya katakan Tuan.” Asraf berjalan di depan Fauzan.


Semua orang telah berada di ruang rapat bersama dengan para staf perushaan yang memiliki peran penting dari Perusahaan Manufaktur. Om Robet mengumumkan pemilik Perusahaan sekaligus yang akan menjadi Ceo secara langsung yang dapat di dengarkan dan dilihat di layar computer para karyawan.


Viona berdiri di bagian atas ruangan yang terlihat langsung oleh semua karyawan, Om Robet juga memperkenalkan para pemegang saham yang bekerjasama dengan Perusahaan mereka. Tepuk tangan riuh dan bisikan terdengar bahwa Viona terlihat masih muda dan belum menyelesaikan kuliahnya. Berbeda dengan Ayumi yang memperhatikan sekeliling.


“Aku yakin Alexander akan segera muncul.” Ayumi tersenyum, iamelihat layar ponselnya.


“Kami telah mengantarkan kamu sampai perusahaan dan memberikan dukungan, tugas kami sudah selesai.” Ayesha menyentuh pundak Viona dengan lembut.


“Apa kalian akan pergi?” Viona terlihat khawatir.


“Tentu saja Viona, kami masih dalam bulan madu.” Kenzo tersenyum memandnag Ayesha.


“Ah, aku belum memberi hadiah untuk kak Kenzo dan Putri Ayesha.” Viona melihat Kenzo.


“Aku hanya mau kamu menjadi wanita sukses dan mandiri, jangan segan-segan untuk bertanya dan minta bantuan diriku.” Kenzo tersenyum.


“Terimakasih.” Viona menunduk, ia tidak berani melihat wajah Kenzo terlalu lama karena akan mengingatkan dirinya pada pertemuan pertama mereka.


“”Gadisku, kamu tahu aku di mana, datang atau hubungi langsung, aku akan datang untuk dirimu.” David tersenyum tampan.


“Viona, kamu selalu dikelilingi pria tampan.” Rebecca berbicara dalam hari ia melihat David dan Asraf serta melirik pria tingga yang menutupi wajahnya dengan masker wajah.


Jika masker itu dibuka akan terjadi keributan di Perusahaan, para wanita akan berteriak histeris dan mungkin akan ada yang pingsan karena melihat sang Pengeran secara langsung. Tidak ada yang tidak mengenali Fauzan pria, paling tampan di dunia, kaya, cerdas, berbakat dan sangat menghargai wanita.


“Kak, kami pamit dulu.” Ayesha memegang tangan Fauzan dengan lembut.


“Ya, hati-hati.” Fauzan mencium kepala Ayesha.


“Gadis kecil, apa kita akan berkeliling Perusahaan baru kamu?” David mendekati Viona.


“Tentu saja.” Viona tersenyum dan melirik Fauzan.


“Aku akan menemani kalian berkeliling.” Rebecca tersenyum.


“Maaf Nona, bisakah Tuan Robet saja yang menemani kami.” Asraf melihat kearah Rebecca.


“Tapi kenapa?” tanya Rebecca bingung, ia juga mau berada diantara pria tampan dan para pengusaha sukses itu.

__ADS_1


“Maaf, Tuanku tidak leluasa berada di dekat wanita yang tidak menutupi auratnya.” Asraf melihat kearah Fauzan yang memainkan ponselnya.


“Baiklah.” Rebecca terlihat kecewa, ia segera kembali ke ruang kerjanya.


“Pantas saja Viona menutupi seluruh tubunya ternyata para pria ini tidak mau dekat dengan wanita berpakaian seksi.” Rebecca melihat Fauzan, ia sangat penasaran dengan wajah pria yang bahkan tidak melirik dirinya sama sekali.


“Ayumi, apa kamu tidak ikut?” Viona melihat kearah Ayumi.


“Mereka akan menemani anda Nona.” Ayumi tersenyum dari balik penutup wajahnya.


“Kamu akan pergi kemana?” tanya Viona khawatir, ia tidak berani berada diantara David dan Fauzan.


“Aku akan mengawasi dan melindungi anda dari jauh.” Ayumi tersenyum.


“Ayo nona Viona.” Om Robet melihat kearah Viona.


“Tenanglah aku akan menjaga dirimu.” David tersenyum.


Ayumi melihat Viona bersama para pria tampan berkeliling, ia melihat kepergian Kenzo dan Ayesha dari lantai atas, wanita itu menunggu kedatangan Alexander, tetapi ia yakin Pria itu telah berada di Perusahaan hanya saja tidak tahu dimana keberadaannya.


“Aku rasa Alexander menunggu Viona ditinggal sendiri.” Ayumi membuka layar computer untuk melihat semua kamera yang ada di perusahaan. Wanita itu telah menghubungkan kamera dengan komputernya. Ia melihat mobil Alexander memasuki tempat parkir yang ada di belakang kantor, pria itu membawa beberapa pengawal.


“Ah, ikan hiu sudah datang.” Ayumi tersenyum.


“Apa yang kamu lakuan di sini?” Rebecca menatap tajam pada Ayumi.


“Aku mengawasi Nona Vona dari jauh.” Ayumi memperlihatkan layar komputernya pada Rebecca, dimana Viona sedang berjalan bersama tiga pria tampan dan papanya.


“Kamu siapanya Viona?” tanya Rebeca memperhatikan Ayumi.


“Aku hanya seorang pengawal.” Ayumi tersenyum.


“Oh.” Rebecca berjalan meninggalkan Ayumi yang kembali memindahkan layar computer untuk memantau pergerakan Alexander.


“Baiklah, untuk sementara para pria itu akan melindungi Viona tetapi tidak dengan kendaraan mereka.” Ayumi menutup layar computer, memasukan ke dalam tas, ia segera menyusuri dinding kaca untuk turun ke lantai paling dasar. Wanita itu menempel pada dinding kaca dan meloncat dengan ringannya untuk berpindah.


“Siapa kamu?” tanya Pria itu khawatir.


“Aku hanya seorang pengawal.” Ayumi melemparkan jarum pada tangan dan kaki dua orang pria yang berada di samping mobil David dan Fauzan. Tidak ada rasa sakit dan luka tetapi lama kelamaan pria itu merasakan kebas dan tidak berdaya.


“Apa ini?” Seorang pria mencabut jarum kecil dari lengan kanannya.


“Jarum beracun.” Ayumi tersenyum melihat dua pria yang terduduk di samping mobil.


“Apa?” Wajah kedua pria tampak panik karena merasakan tubuh yang tidak berdaya lagi. Ayumi menarik tangan salah satu pria dan meletakkan di dekat mobil Alexander dan kembali unutk menyeret pria satu lagi.


“Aku harus kembali.” Ayumi berlari menuju pintu belakang untuk menyusul Viona.


“Ah, aku akan betah bekerja di perusahaan ini.” David melihat taman belakang kantor.


“Perusahaan ini hasil desain Tuan Stevent.” Om Robet tersenyum.


“Iya, kakakku bahkan mendesain sendiri rumah dirinya dan Jhonny.” Viona tersenyum cantik.


“Stevent suka dunia Desain tetapi Tuan Alexander tidak mengizinkannya.” Om Robet berjalan di samping Viona.


“Apa rencana kamu dengan perusahaan ini?” tanya Fauzan.


“Aku harus memperlajarinya terlebih dahulu.” Viona menatap Fauzan.


“Yang pertama selesaikan kuliah kamu secepatnya, barulah terjun langsung pada perusahaan ini, untuk sementara biarkan David dan Tuan Robet yang memegang perusahaan.” Fauzan melihat Viona sekilas.


“Bagaimana dengan anda, apakah anda tidak membantu saya?” tanya Viona memberanikan diri.


“Aku cukup puas dengan ada David yang sangat perhatian dan siap membantu kamu, jadi kamu akan kembali ke Arab.” Fauzan menatap lurus ke depan.


“Tapi, anda adalah Rajanya dunia bisnis.” Viona kecewa karena Fauzan akan kembali ke Arab.

__ADS_1


“Nona, Tuan Fauzan harus kembali ke kerajaan untuk merayakan pemobatan sebagi Pangeran tertua dan calon Raja tepat diusia tiga puluh tahun.” Asraf menunduk.


“Apa usia anda sudah tiga puluh tahun?” David menatap Fauzan.


“Ada apa? Apa aku terlihat tua?” tanya Fauzan.


“Oh my God, kmau terlihat sangat muda, aku berpikir usia anda di bawah dua puluh lima tahun.” David tersenyum, ia benar-benar tidak percaya.


“Terimakasih atas pujian anda.” Fauzan tersenyum.


“Kapan anda akan pulang?” tanya Viona sedih.


“Secepatnya, apa kamu mau ikut?” Fauzan tersenyum, ia terlihat serius.


“Apa? Apa aku boleh ikut?” tanya Viona.


“Tidak.” Fauzan tertawa dan berjalan menuju taman perusahaan.


“Hey, kenapa kamu cemberut?” David menyentuh hidung Viona.


“Ah, apa aku terlihat cemberut?” Viona tersenyum.


“Ya, sedikit.” David tersenyum.


“Baiklah, kita sudah selesai berkeliling, bagaimana jika kita beristrirahat di kanti perusahaan?” Om Robet tersenyum.


“Terimakasih Om.” Viona berjalan mengikuti Om Robet menuju kantin Perusahaan.


“Hey, Tuan Fauzan, mari kita memesan makanan dan minuman gratis.” David berteriak.


“Apa anda mau ikut Tuan?” tanya Asraf.


“Ya, jika kantin sepi kita bisa makan dan minum tanpa bertemu karyawan.” Fauzan berjalan mengikuti David.


“Kami memiliki ruang Ekslusif untuk para pemegang saham dan tamu penting.” Om Robet membawa mereka ke sebuah ruangan khusus di damping kantin perusahaan yang tidak bisa dimasui sembarangan orang.


“Bagus sekali.” Fauzan tersenyum, ia memilih kursi dan membuka maskernya.


Beberapa pelayan dalam ruang makan sangat terkejut tetapi mereka harus menahan diri karena melakukan sedikit kesalahan saja maka mereka akan dipecat.


“Ya Tuhan, apakah itu pangeran Arab?” Seorang wanita yang mengantarkan menu makanan memeluk erat buku menu.


“Nona, bisakah kamu berikan daftar menu pada kami?” tanya Asraf lembut.


“Ah ya Tuan, maaf.” Dengan tangan gemetar pelayan memberikan buku menu pada Asraf dan yang lainnya, ia segera kembali ke dapur.


“Ya Tuhan, pria itu juga sangat tampan.” Wanita itu memegang tangan rekannya.


“Apakah dia benar-benar pangeran Arab?” tanya rekannya.


“Ya, tetapi dia selalu menunduk sehingga wajahnya tidak terlihat jelas.” Pelayan terlihat bersemangat.


“Apa kamu tidak tahu Pangeran Arab selalu menjaga pandanganya,” sambung seorang lagi.


“Jika dia melihat kearahku, aku akan pingsan.” Wanita itu terduduk di lantai.


“Nona Viona sangat beruntung.” Para pelayan bergosip ria di dalam dapur.


Mengagumi manusia sekedar saja, begitu juga dengan rasa cinta agar kamu tidak terlalu terluka. Cinta sejati hanyalah milik Sang Pencipta yang Maha Mencintai UmatNya.


***Love You All***


Jika Suka bisa berikan like, Komentar, bintang 5, Tips, Vote. Terimakasih.


Baca juga Novel Author berjudul “Unfogettable Lady" cari di aplikasi Dream/ Innovel.


Baca juga Novel Kakakku atas nama Fitri Rahayu. Terimakasih.

__ADS_1


Semoga kita semua dalam keadaan sehat dan selalu mendapatkan perlindunganNya, Aamiin.


__ADS_2