
Kondisi Nisa semakin membaik, formula telah diberikan kepada Nisa.
Stevent bingung harus pulang ke rumah mana, rumah Abi terlalu sempit, Stevent tidak mau ada yang mengetahui rumah rahasia.
"Sayang, kita pulang kemana?" Stevent memeluk Nisa yang sedang duduk.
"Sayang, kenapa kamu selalu bingung harus pulang kemana?" Nisa menyentuh pipi Stevent.
"Aku akan mencari rumah yang dekat dengan pesantren, tunggu sebentar." Stevent keluar dari ruangan Nisa.
Stevent menghubungi beberapa orang kepercayaan untuk mendapatkan rumah yang dekat dengan pesantren.
"Bagaimana pun caranya harus mendapatkan rumah terbaik." Stevent mondar-mandir di depan pintu menunggu kabar baik dari anak buahnya.
"Sayang, aku akan keluar mencari rumah baru untuk kita berempat." Stevent mencium dahi Nisa.
"Sayang, pindahkan aku ke kursi roda." Nisa menarik tangan Stevent.
"Kamu mau kemana?" Stevent menatap Nisa.
"Aku mau bersama bayi kita." Nisa tersenyum.
"Baiklah." Stevent menggendong Nisa dan meletakkan di atas kursi roda.
"Terimakasih." Nisa tersenyum.
Stevent mendorong kursi roda Nisa menuju ruangan bayi mereka.
Jhonny dan Aisyah terkejut, mereka sedang berciuman.
"Dokter Aisyah, aku titip Nisa, Jhonny kita pergi sebentar." Stevent mendorong kursi roda Nisa di samping bayi kembar.
Stevent mencium bayi kembar dan istrinya sebelum keluar dari ruangan.
"Kita mau kemana Tuan?" tanya Jhonny.
"Mencari rumah baru." Stevent berjalan cepat menuju parkir mobil diikuti Jhonny.
Mobil melaju meninggalkan parkiran menuju kawasan perumahan daerah pesantren.
Stevent dan Jhonny memperhatikan sekeliling untuk mendapatkan rumah yang mewah.
"Tuan, rumah di sini semuanya berpenghuni." Jhonny melihat kearah Stevent.
"Aku mau rumah itu." Stevent mengehentikan mobilnya.
Rumah mewah dengan taman bunga dan pohon yang rindang.
"Apa kita langsung masuk?" tanya Jhonny.
"Ya." Stevent memasuki perkarangan rumah mewah.
Stevent dan Jhonny keluar dari mobil dan berjalan menuju pintu utama rumah.
"Selamat siang Tuan." seorang petugas keamanan menyapa Stevent dan Jhonny.
"Selamat Siang, saya mau bertemu dengan pemilik rumah ini." Stevent menatap tajam kepada petugas keamanan.
"Dengan siapa?" tanya petugas keamanan.
"Stevent Lu Alexander." Stevent melihat sekeliling lingkungan.
"Baik Tuan, saya permisi." petugas keamanan masuk ke dalam rumah meninggalkan Stevent dan Jhonny berdiri di depan pintu.
__ADS_1
"Tuan, Anda tidak perlu repot-repot, saya bisa melakukannya." Jhonny menunduk.
"Tidak apa, aku lebih suka mencari sendiri." Stevent melihat pintu terbuka, seorang perempuan seksi dan cantik tersenyum.
"Selamat siang Stevent." Wanita seksi tersenyum.
"Selamat siang." Stevent melihat wanita di depannya.
"Silahkan masuk." Wanita memberikan jalan untuk Stevent dan Jhonny.
Stevent tidak mengenali wanita yang ada di depannya.
"Silahkan duduk." Wanita cantik duduk di depan Stevent.
"Apakah anda pemilik rumah ini?" tanya Jhonny sopan.
"Anda benar." Wanita itu tersenyum melihat dua pria tampan di depannya.
"Dengan nona siapa?" Jhonny melirik Stevent.
"Perkenalkan nama saya Fanny." Wanita itu menyodorkan tangannya kepada Jhonny dan Stevent.
"Apakah kamu mau menjual rumah ini kepada saya." Stevent langsung pada pokok pembicaraan tanpa basa basi.
"Kenapa kamu mau membeli rumah saya?" Fanny tersenyum.
"Aku sangat menyukai rumah anda karena dekat dari pesantren Istriku." Stevent memperhatikan Fanny.
"Ah ternyata anda telah menikah." Fanny terlihat kecewa.
"Anda benar dan saya sangat mencintai istri saya." Stevent menatap tajam kepada Fanny.
"Aku tidak menjual rumah ini." Fanny melirik Jhonny.
"Kami akan membayar berapa pun atau anda berniat pindah ke perumahan elit akan kami tukarkan." Jhonny memperlihatkan layar ponsel kepada Fanny.
"Aku selalu mendapatkan yang aku inginkan." Stevent berdiri.
"Apa kamu mengancam saya?" Fanny dan Jhonny berdiri.
"Aku beri waktu sampai malam." Stevent keluar dari rumah Fanny.
"Ini adalah kartu nama saya, silahkan hubungi jika Anda telah membuat keputusan, terima kasih." Jhonny menunduk dan berjalan menyusul Stevent.
Fanny membaca nama dalam kartu yang diberikan kepada dirinya.
"Apa yang akan mereka lakukan jika aku menolak?" Fanny masuk ke ruang keluarga.
"Siapa tamunya?" tanya Papa Fanny.
"Seorang pria yang mau membeli rumah kita dengan harga mahal." Fanny duduk.
"Apa kamu telah menolaknya?" tanya Mama Fanny.
"Tentu saja tetapi mereka tidak menyerah dan memberi waktu sampai malam." Fanny meletakkan kartu nama di atas meja.
"Jhonny assisten Stevent Lu Alexander." Mama Fanny membaca kartu nama.
"Jangan mencari masalah dengan Stevent Lu." Papa mengambil kartu nama dari tangan Mama.
"Apakah dia pria yang berkuasa?" tanya Fanny penasaran.
"Pria berkuasa dan dingin." Papa menyelesaikan makannya.
__ADS_1
Fanny mengambil kartu nama yang tergeletak di meja.
"Sebaiknya kita segera berkemas." Papa Fanny beranjak dari kursi.
"Dia memberi waktu sampai malam." Fanny melihat papanya.
"Katakan kita setuju untuk menjual rumah ini beserta isinya." Papa menarik tangan Mama.
"Kenapa pa?" tanya Mama bingung.
"Kita harus segera membereskan semua barang yang penting." Papa berjalan menuju kamar mereka.
"Aku akan melihat apa yang akan dilakukan Stevent, jika kau menolak keinginan dirinya." Fanny tersenyum.
***
"Selidiki pemilik rumah!" perintah Stevent kepada Jhonny.
"Baik Tuan." Jhonny menjalankan mobil Stevent kembali ke rumah sakit.
"Dengar, aku harus mendapatkan rumah itu dengan segala cara." Stevent keluar dari mobil dan berjalan cepat menuju ruangan anak dan istrinya.
Jhonny tetap berada di dalam mobil, ia segera melacak tentang Fanny dan orang tuanya.
"Tuan Budiman, hanya pengusaha kecil." Jhonny segera menghubungi Stevent.
Hanya dengan jentikan jari perusahaan Budiman yang bergerak di bidang perhotelan akan hancur dengan mudah.
Stevent melihat Nisa sedang memberi ASI untuk putra mereka Azzam.
Aisyah mengendong putri cantik mereka Azzura.
"Dimana Jhonny?" Aisyah bertanya kepada Stevent.
"Dia masih ada tugas sebentar lagi kembali." Stevent mengambil Azzam dari gendongan Nisa.
"Tutup gamis kamu sayang!" Stevent berbisik di telinga Nisa.
"Putra papa tidur terus." Azzam mencium pipi Azzam.
"Dia pasti tidur jika sudah kenyang." Nisa tersenyum.
Jhonny masuk ke dalam ruangan bayi, ia mengambil Azzura dari gendongan Aisyah.
"Tuan, putri anda sangat cantik." Jhonny menatap wajah Azzura.
"Tentu saja, istriku sangat cantik dan aku sangat tampan." Stevent mencium dahi Nisa.
"Anda benar." Jhonny melirik perut Aisyah.
Aisyah mengambil kembali Azzura dari gendongan Jhonny dan memberikan kepada Nisa.
"Jhonny temani aku jalan-jalan." Aisyah menarik tangan Jhonny keluar dari ruangan.
"Apa aku tidak cantik?" Aisyah menatap kepada Jhonny.
"Kamu wanita paling cantik." Jhonny mencium bibir Aisyah.
***
Mohon dukungnnya berikan like, Komentar, bintang 5 dan Vote. Terimakasih.
Baca juga Novel Author berjudul “Arsitek Cantik” dan "Unforgettable Lady"
__ADS_1
Novel Kakakku “Nyanyian Takdir Aisyah dan Cinta Bersemi di Ujung Musim.” (Fitri Rahayu). Terimakasih.
Semoga kita semua dalam keadaan sehat dan selalu mendapatkan perlindunganNya, Aamiin.