Cinta Untuk Dokter Nisa

Cinta Untuk Dokter Nisa
Cium Aku!


__ADS_3

Fauzan duduk di kursinya, ia tersenyum mengingat kejadian di bandara, menyentuh hidung mancung dan bibir tipis dengan jarinya. Kenzo dan Ayesha memperhatikan sikap Fauzan.


“Ada apa dengan kakak mu sayang?” Kenzo menatap Ayesha.


“Entahlah, sejak naik pesawat, ia terus senyum sendiri.” Ayesha melirik Fauzan.


“Kita bisa menanyakan ketika sudah sampai, istirahatlah.” Kenzo menyentuk kepala Ayesha agar merebahkan pada bahunya.


“Apa yang aku lakukan? Aku menjanjikan sesuatu yang tidak pasti padanya.” Fauzan membuka dasi dan beberapa kancing kemeja. Pria itu mengusap kepalanya dan memejamkan mata.


Mobil berhenti tepat di depan pintu utama rumah Stevent, Viona berlari menariki tangga menuju kamarnya, ia melemparkan tas di lantai dan menghempaskan tubunya di atas tempat tidur memeluk Jas hitam milik sang Pangeran pujaan hati. Gadis itu berguling-guling seakan sedang bersama Fauzan dengan mencium aroma parfum dari prianya.


“Ya Tuhan, aku tidak akan mencuci jas ini, ia akan menemani diriku tidur.” Viona mencium dan memeluk jas tidak berhenti.


***


Stevent pergi ke rumah sakit untuk bertemu dengan Nathan dan Valentino membicarakan pengobatan papa Alexander. Pria tampan itu berjalan menuju ruangan dokter muda yang sangat menyukai adiknya, ia tidak mengunjungi papa dan mama. Valentino menyambut kedatangan Stevent dengan ramah.


“Selamat siang Tuan Stevent, silahkan masuk.” Valentino tersenyum.


“Selamat siang, terimakasih.” Stevent berjabat tangan dengan Valentino.


“Bagaimana perkembangan Papa Alexander?” Stevent duduk di depan Valentino.


“Kami sedang melakukan penelitian dan tes ulang pada darah Tuan Alexander sesuai denga saran Nyonya Affiah.” Valentino mengeluarkan berkas dari amplop coklat.


“Nyonya Afifah?” Stevent menatap Valentino penuh tanda tanya.


“Ya, istri dari Tuan Nathan.” Valentino tersenyum.


“Bukankah dia gadis desa.” Stevent melihat berkas yang diletakkan di atas meja.


“Dia Gadis desa tetapi kuliah di Kota.” Valentino tersenyum tampan.


“Apa kamu sudah tahu jika Afifah adalah adik Dokter Aisyah?” tanya Stevent.


“Apa? Benarkah? Pantas saja dia sangat ahli di bidang kimia.” Valentino tersenyum ramah, mengingat tentang Afifah di kampus.


“Apa kamu mengenalnya?” tanya Stevent lagi.


“Semua orang mengenal dirinya tetapi dia tidak bisa mengingat wajah dan nama orang lain kecuali yang tinggal dengan dirinya.” Valentino mengingat senyum Afifah ketika bertemu semua orang.


“Hmm. Ap adia sakit?” Stevent terus bertanya.


“Awalnya tidak, tetapi akhirnya menjadi sebuah penyakit.” Valentino banyak mengetahiu tentang Afifah karena wanita itu sangat popular dengan kecantikan dan kecerdasannya.


“Baiklah, bagaiman dengan kondisi papa Alexander?” tanya Stevent.


“Racun berasal dari tanaman herbal tetapi tumbuhan ini tidak ada di Indonesia.” Valentino menyerahkan berkas kepada Stevent.


“Apa aku bisa bertemu dengan Nathan?” tanya Stevent.


“Oh ya, ini undangan untuk anda.” Valentino membuka laci dan menyerahkan sebuah undangan mewah berwarna biru langit.

__ADS_1


“Pesta pernikahan.” Stevent tersenyum.


“Ya, jika Anda mau bertemu dengan Tuan Nathan, dia ada di laboratorium bersama istrinya.” Valentino beranjak dari kursi.


“Apa yang ia lakukan bersam istrinya di laboratorium?” tanya Stevent.


“Bermain dengan formula.” Valentino tersenyum.


“Mereka berdua adalah pasangan yang pas dengan sama-sama ahli kimia dan gila melakukan penelitian.” Valentino membuka pintu untuk Stevent. Mereka berjalan bersama menuju Laboratorium.


Nathan memperhatikan Afifah yang fokus dengan gelas dan tabung kaca yang berisi darah Papa Alexander. Wanita itu begitu semangat bermain dengan formula yang ada di depannya, terasa mengulang masa indah ketika dia masih kuliah.


“Sayang, apa kamu melupakan suamimu.” Nathan memeluk Afifah dari belakang, ia tidak sanggup lagi menahan kesendirian tanpa diperdulikan istrinya.


“Nathan, aku belum selesai.” Afifah tidak bergerak, ia tidak mau melakukan kesalahan ketika melakukan penelitian.


“Lepakan Formula itu!” bisik Nathan di telinga Afifah.


“Biarkan aku menyelesaikan ini.” Suara Afifah terdengar lembut.


“Kamu melupakan diriku ketika bermain dengan formula-formula ini.” Nathan mencium pipi Afifah.


“Aku akan memberikan ciuman setelah ini sebagi gantinya.” Affiah tersenyum.


“Benarkah?” Nathan melepaskan pelukannya dan berdiri di seberang meja.


“Ya, aku janji.” Afifah memancungkan mulutnya menggoda Nathan.


“Jangan lakukan itu!” Nathan kesal.


“Aku mau membantu dirimu.” Nathan menatap Afifah.


“Aku sedang belajar, sshhh.” Afifah tersenyum cantik.


“Belajar? kamu begitu cerdas dan bahkan tidak perlu kuliah lagi.” Nathan berbicara di dalam hatinya dan memperhatikan Afifah. Pintu laboratorium terbuka, Nathan melihat Valentino masuk bersama Stevent. Pria itu segera berjalan menuju pintu meninggalkan Afifah yang masih fokus dengan penelitiannya.


“Halo Stevent.” Nathan tersenyum dan mengulurkan tangannya.


“Halo, selamat atas pernikahan dirimu.” Stevent berjabat tangan dengan Nathan.


“Terimakasih atas hadiah luar biasa yang telah kamu berikan.” Nathan tersenyum tampan.


“Tidak perlu sungkan, aku sangat bahagia atas perniakahan kamu.” Stevent melihat punggung seornag wanita berhijab yang sedang fokus bekerja.


“Apakah itu istrimu?” tanya Stevent.


“Ya.” Natha tersenyum.


“Apa kamu tidak mau memperkenalkannya kepadaku?” tanya Stevent tersenyum, pria itu penasaran dengan wajah Afifah, apakah mirip dengan Aisyah atau jauh lebih cantik.


“Dia sedang tidak ingin di ganggu, kemarilah.” Nathan berjalan menuju sofa yang ada di samping pintu masuk.


“Silahkan duduk.” Natha duduk di sofa diikuti Stevent dan Valentino.

__ADS_1


“Bagaimana Papa kamu bisa terkena racun dari tumbuhan yang hanya tumbuh di pegunungan Jepang?” tanya Nathan.


“Apa? Jepang?” Stevent terkejut yang ada dipikirannya adalah Ayumi.


“Untuk apa ia melakukan ini?” Stevent bertanya pada dirinya sendiri.s


“Apakah bisa disembuhkan?” tanya Stevent.


“Tentu saja, tidak ada yang tidak bisa aku lakukan.” Nathan tersenyum.


“Terimakasih.” Stevent melihat Afifah.


“Kesehatan Tuan Alexander berada di bawah tanggungjawab Valentino.” Nathan bernajak dari sofa.


“Terimakasih.” Stevent berdiri dan merapikan jasnya.


“Jangan lupa hadir pada pesta pernikahan ku yang kedua.” Nathan tersneyum tampan.


“Baiklah, aku permisi.” Stevent keluar bersama Valentino dan Nathan berjalan mendekati Afifah yang telah membuka jas laboratoriumnya.


“Sayang, apa kamu sudah selesai?” Nathan memeluk Afifah dari belakang.


“Apa kamu tidak mau menanyakan hasilnya?” tanya Afifah.


“Aku tahu kamu akan membuat laporannya sendiri.” Nathan memutar tubuh Afifah agar menghadap dirinya.


“Kamu memang cerdas.” Afifah menyentuh hidung Nathan, ia sangat senang dengan keberhasilan dirinya melakukna penelitian pada racun baru yang ada di tubuh Tuan Alexander.


“Berikan aku ciuman!” Nathan menatap tajam pada Afifah.


“Tidak disini.” Afifah melihat sekeliling.


“Baiklah.” Nathan menarik tangan Afifah keluar laboratorium dan berjalan menuju ruanganya.


“Nathan, ap akamu tidak lapar?” Afifah berusa menghindari Nathan.


“Kita akan makan setelah kamu memberikanaku ciuman.” Nathan tersenyum.


“Kamu selalu mencium diriku.” Afifat tersenyum.


“Tapi aku belum pernah mendapatkan ciuman dari kamu.” Nathan membuka pintu ruangannya.


“Jika mau melakukan lebih, aku punya kamar sayang.” Nathan membuak pintu di samping meja kerjanya.


“Kita melakukan di rumah saja.” Afifah tersenyum.


“Kamu benar, sekarang cium bibirku!” Nathan berdiri di depan Afifah.


“Aku sedang senang, aku akan melakukannya.” Afifah melingkarkan tangannya di leher Nathan dan menariknya agar pria itu menunduk mendekatkan bibir mungil dan tipis. Wanita itu mulai memasukkan bibir bawah Nathan dalam mulutnya, mencium lembut dan mengisap dengan perlahan. Nathan tersenyum, ia segera membalas ciuman hangat dari istrinya.


**LoveYouAll***


Halo semuanya, berikan Like, Komentar dan Vote yaa, dukungan kalian sangat berarti buat Author, terimakasih.

__ADS_1


Baca juga Novel Author yang ada di Innovel/ Dream berjudul “Unforgettable Lady” dan Novel kakak ku Nama Pena “Fitri Rahayu” di Noveltoon. Terimakasih.


__ADS_2