
Rumah Mewah bagaikan kastil dengan tiang-tiang tinggi menjulang, ukiran naga berwarna emas melingkar di atas gerbang utama.
Seorang wanita dengan rambut bergelombang berwarna emas, duduk di atas sofa besar panjang dan empuk, ia menggunakan mini dress tanpa lengan berwarna merah darah, sehingga menampakkan kulit putih bersih dan lembut. Ia tampak cemberut.
Seorang lelaki paruh baya duduk di kursi tunggal besar memegang tongkat kayu dengan ukiran naga. Ia menyilang kan kaki di atas kaki lainnya, menghisap tembakau dan mengeluarkan asap memenuhi ruangan.
"Kenapa dengan wajah putri cantik Dady?" tanya Tuan Nero kepada putrinya.
"Aku menunggu Hery untuk melaporkan, keadaan Stevent?" jawab Nayla kesal dan membuat ayahnya tertawa.
"Kau ingin membunuhnya tapi kau juga khawatir" Nero menatap tajam pada Nayla.
"Dady, aku sangat ingin membuat Stevent cacat tak berdaya bagaimana mayat, meletakkannya di atas ranjang, menemani diriku seperti boneka milikku dan hanya milikku" Nayla tersenyum licik
Terdengar tepukan tangan dari arah pintu masuk, Seorang pria tampan dengan tubuh atletis terawat berjalan mendekati Nayla dan mencium keningnya.
"Kakak" Nayla beranjak dan memeluk kakaknya.
"Kakak, kenapa baru pulang?" keluh manja Nayla.
"Bisnis kakak sedang lancarnya" Nathan duduk di samping Nayla yang terus memeluk tangannya.
"Hei, kenapa dengan wajah cantik adikku?" Nathan mencubit pipi adiknya.
"Itu masalah Cinta, adik mu tergila-gila pada Stevent yang tidak tersentuh" jawab ayahnya menghisap cerutunya.
"Ooh, gadis Bodoh ada banyak pria di dunia ini, kenapa kau harus jatuh cinta pada Stevent" Nathan merebahkan punggungnya pada kursi.
"Kakak, kau tahu aku selalu mau barang mahal, baru dan bagus, seperti Stevent" jawab Nayla tersenyum melepaskan tangan Nathan.
"Kakak rasa, kamu hanya ingin membuat Stevent menjadi koleksi mu saja" Nathan menghembuskan nafasnya.
Seorang pria paruh baya bahkan terlihat lebih tua mendekati Tuan Nero dan berbisik.
"Tuan, ada Hery di Depan" bisik pelayan pria.
"Suruh dia masuk" perintah Nero, pelayan hanya mengangguk dan berjalan keluar ruangan.
Harry datang mendekat, memberi hormat kepada 3 tuannya secara bergantian.
"Sayang, Dady ke kamar" Tuan Nero mencium putra dan putrinya, dan berjalan menaiki tangga menuju kamarnya.
Nayla berjalan mendekati pria tinggi dan tampan, yang masih berdiri mematung, Hery adalah Pelayan Nayla yang sangat setia dan memujanya bagai seorang Dewi, usianya lebih muda dari Nathan dan Nayla.
"Harry, Bagaimana perkerjaan kamu?" Nayla mendekat membelai wajah Hery dengan lembut, Nayla selalu berbicara lembut dengan Harry,, bagi Nayla supaya ****** selalu patuh kepada tuannya, maka harus di perlakukan dengan penuh kasih sayang.
__ADS_1
"Dimana Mayat Stevent?" tanya Nayla lagi dan kini memeluk Hery dari belakang, Nathan hanya memperhatikan Adiknya dan tersenyum.
"Maafkan saya Nona, saya gagal" jawab Hery tegas. Nayla melepaskan pelukannya dan kembali duduk di kursi.
"Ceritakan kepadaku" perintah Nayla memainkan kuku cantik berwarna merah.
"Ketika saya akan mengambil tubuh Tuan Stevent, sebuah mobil BMW putih mendekati mobil Stevent" jelas Hery sedikit berbohong.
"Baiklah, kamu boleh istirahat dan cari tahu dimana keberadaan dan keadaan Harry" perintah Nayla, Harry mengangguk dan berlalu meninggalkan Nathan dan Nayla.
"Apa yang ingin kau lakukan?" tanya Nathan.
"Kakak, bisakah kamu memberikan Stevent obat yang bisa membuat ia patuh kepadaku?" Nayla merebahkan kepalanya di bahu Nathan.
"Baiklah nanti akan kakak usahakan" Nathan berjalan keluar menuju mobilnya dan melaju ke arah villa di samping rumah utama.
***
Villa Nathan
Nathan menghentikan mobil tepat di depan pintu villa, ia berjalan masuk ke dalam. Villa yang selalu terawat bersih dan rapi.
Nathan berjalan menuju kamarnya. Ia melepaskan sepatu dan jasnya, melonggarkan dasi dan membuka beberapa kancing kemeja, merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur besar dan luas, Sudah lama ia meninggalkan kamar itu, sejak lulus kuliah dan menjalankan bisnisnya.
"Aku sangat merindukanmu" gumam Nathan mencium foto yang ada di tangannya, ia menyimpan kenangan bersama gadis yang tidak ingin diketahui oleh keluarganya, karena ketika masih kuliah ia tidak boleh jatuh cinta tapi jika ia sudah berhasil Nathan boleh melakukan apa saja, itu pesan Dadynya.
Nathan tertidur dengan memeluk foto di atas dadanya.
Bunyi ketukan pintu membangunkan Nathan, ia melirik jam tangannya ternyata ia tertidur hampir dua jam, Nathan melihat foto tergeletak di atas dadanya, dan memasukkan ke dalam dompetnya, beranjak mendekati pintu. Seorang wanita paruh baya, pelayan Nathan dari kecil yang masih setia hingga saat ini.
"Maaf Tuan muda, nona Nayla ada di bawah" ucap wanita itu dengan menunduk.
"Buatkan kami jus buah segar dan katakan kepada Nayla aku sedang mandi" perintah Nathan dan menutup pintu, pelayan kembali ke bawah menuju Nayla dan menyampaikan pesan Nathan, lalu pergi ke dapur.
Nayla duduk di sofa dan memainkan ponselnya. Berita kecelakaan Stevent akibat pecah ban mobil telah tersebar, Tidak ada yang mengatakan bahwa Stevent ditembak,, karena pihak rumah sakit telah di minta untuk merahasiakan keadaan Stevent dan mengatakan bahwa Stevent baik-baik saja.
Orang-orang Stevent telah merendam berita kecelakaan. Tidak ada wartawan yang boleh masuk rumah sakit karena akan menggangu ketenangan pasien.
Nathan menuruni tangga menemui Adiknya yang Sedangkan minum jus.
"Ada apa? apa kamu ingin mengajak kakak makan siang? sapa Nathan menggulung lengan kemejanya dan duduk di depan adiknya.
"Apakah kamu mengenal Dokter ini?" Nayla menunjukkan sebuah foto Dokter Cantik dengan kerudung putih tersenyum manis kepada pasien di depannya. Dengan sigap Nathan merebut ponsel Nayla hingga membuat Nayla terkejut.
"Dimana Dokter ini bertugas?" tanya Nathan menatap tajam kepada Nayla membuat Nayla gugup.
__ADS_1
"Ia bekerja di Rumah Sakit pusat" jawab Nayla bingung, Nathan mengambil kunci mobilnya dan meninggalkan Nayla. Ia bergegas menuju mobilnya dan melaju dengan kecepatan tinggi membelah jalan kota menuju ke rumah sakit pusat.
Nayla mematung
"Apa-apaan Nathan?" ucap Nayla kesal berjalan menuju mobilnya kembali ke rumah utama.
Nathan menghentikan mobilnya tepat di depan pagar rumah mereka. Ia memutar balik mobil dan mengikuti mobil Nayla kembali menuju rumah utama.
"Nayla" Nathan dan Nayla keluar dari mobil mereka.
"Kakak kembali lagi" tanya Nayla masih bingung.
"Masuklah ke mobil ku" perintah Nathan dan Nayla menurutinya.
"Kita mau kemana?" tanya Nayla penasaran.
"Akan siang" jawab Nathan singkat dan tersenyum kepada adiknya. Ia sadar ia bisa menemui Nisa kapan saja, sekarang ia benar-benar bahagia, ia sudah menemukan Wanita pujaannya berkat adiknya.
"Kenapa kakak tersenyum terus" Nayla menatap curiga pada kakak.
"Kakak sedang bahagia, katakan yang kamu inginkan akan kakak berikan, kecuali Stevent" jelas Nathan tertawa kepada Nayla karena ia melihat wajah Nayla cemberut.
"Apa yang membuat kakak bahagia" tanya Nayla penasaran.
"Annisa Salsabila" jawab Nathan fokus ke depan.
"oh, nama Dokter itu Annisa Salsabila" Nayla melirik kakaknya yang masih tersenyum, Nayla ingat ketika kuliah kakaknya pernah bercerita tentang seorang gadis pujaan hatinya, yang ia tinggalkan ketika mereka pindah karena urusan bisnis Dadynya.
"Yah, usianya masih muda tapi karena kecerdasannya ketika sekolah ia masuk kelas akselerasi dan loncat kelas" ucap Nathan.
"Ia pasti jadi rebutan pria di kampus" Nayla menggoda kakaknya.
"Tentu saja, ia wanita yang sempurna" Nathan tersenyum mengingat ia mengancam semua pria yang mendekati Nisa ketika mereka masih satu kampus.
Kendaraan Nathan berhenti di parkiran restoran, Mereka makan siang bersama. Selesai makan siang Nathan menemani adiknya berbelanja di mall terbesar di pusat kota.
***
Thanks for reading 😊
dukung terus Author yaa😍 tinggalkan Like, komentar dan Vote. Terimakasih.
Baca juga "perfect Woman"
Love you readers 💓
__ADS_1