Cinta Untuk Dokter Nisa

Cinta Untuk Dokter Nisa
Sholat lah


__ADS_3

Terdengar adzan subuh membangunkan Nisa dari tidur panjangnya, ia merasakan tubuhnya sangat nyaman, Nisa segera duduk dari tidurnya, Ia melihat ada Mama di samping kiri dan Umi di samping kanan.


Nisa tersenyum bahagia, akhirnya ia kembali kerumah walaupun bukan rumahnya tapi dia berada di antara dua wanita yang sangat mencintainya.


Nisa membangunkan Umi dan Mama.


" Nisa sayang " Kedua wanita di samping Nisa kompak memeluknya. Tanpa sadar air mata Nisa meneteskan air matanya.


" Alhamdulilah ya Allah, aku berada di antara orang-orang yang mencintai diriku " Nisa berbicara dalam hatinya.


" Umi, Ma waktunya sholat Subuh, Nisa mau mandi dulu " Nisa beranjak dari tempat tidur.


" Umi, apakah Umi membawa baju ganti untuk Nisa?" Nisa melihat Umi sedang merapikan tempat tidur.


" Umi kamu tidak perlu membawa apapun sayang, kemarilah" Mama menarik tangan Nisa menuju lemari pakaian dengan ukuran sangat besar dan membukanl pintu.


" Lihatlah Stevent telah menyiapkan semuanya untuk kamu" Mama menyentuh gamis yang tergantung rapi di dalam lemari.


Nisa sangat terkejut, Semua sesuai dengan ukuran tubuh Nisa, banyak sekali Stelan gamis langsung dengan jilbab dan cadarnya.


"Apakah dia mau aku menggunakan cadar?" Nisa berbicara dalam hati tersenyum menahan tawa.


" Kapan ia membalikkan semuanya Ma?" tanya Nisa, ia menyentuh pakaian di dalam lemari.


" Kata Jhonny sejak ia bertemu denganmu" jawab Mama tersenyum memberikan handuk berwarna putih.


" Terimakasih Ma " Nisa mengambil handuk dan menuju kamar mandi.


Perlahan Nisa membuka pintu kamar mandi, Nisa kembali terkejut. Peralatan mandi tersusun rapi dan semuanya adalah perlengkapan mandi yang biasa Nisa gunakan. Shampo, sabun, pasta gigi, bahkan pembersih wajah.


" Ya Tuhan, pria ini penuh kejutan" Nisa menyentuh semua peralatan yang tersusun di lemari, ia segera membuka pakaiannya dan membersihkan diri.


Nisa merasakan nyaman dan segar pada tubuhnya, ia keluar menggunakan baju handuk menuju lemari pakaian, Nisa memilih gamis berwarna Hijau daun muda.


Nisa tersenyum melihat mama menggunakan mukenah.


Umi menjadi imam, Mereka solat bersama.


Nisa dan Umi melihat Mama menangis.


" Ada apa Ma?" tanya Nisa


" Mama sudah sangat lama tidak sholat " jawab Mama memeluk Nisa.


" Astagfirullah ya Allah" gumam Nisa dalam hati.


" Mama hanya Islam di KTP" jelas Mama.


Papa Stevent pria tanpa agama mereka menikah secara hukum dan Islam, namun tidak menjalankan perintah Agama.


Mereka menikmati kehidupan yang sempurna dengan harta melimpah tanpa kekurangan apapun. Bagi mereka Dunia adalah surga.


Stevent di didik untuk bisa membangun usaha dan menghasilkan uang sebanyak-banyaknya. Stevent harus mencapai kesuksesan di Dunia.


" Nisa sayang, Tolong bantu Mama dan keluarga Mama untuk kembali ke jalan Tuhan " ucap Mama kembali memeluk Nisa dan menangis.


Umi mengusap punggung Mama.


" Iya Ma, Nisa akan berusaha" jawab Nisa.


Nisa melepaskan pelukannya dan mengusap air mata Mama.


" Apakah Mama bisa membaca Alquran?" tanya Nisa, mama menggelengkan kepalanya.


Nisa tersenyum,


" Mama bisa belajar di pesantren, Sekarang Mama bangunkan Papa untuk sholat " ucap Nisa dan Mama mengangguk.


" Kamu bangunkan Stevent, dia tidur di kamar ujung " Mama berjalan keluar kamar meninggalkan Umi, Nisa terdiam.


" Sayang, Umi lihat Abi dulu" Umi juga meninggalkan Nisa.


Nisa merapikan sajadah dan mukenah. Dengan membaca Bismillah Nisa melangkahkan kakinya menuju kamar Stevent.


Nisa telah berdiri tepat di depan pintu kamar Stevent, kamar yang pernah ia tempati.


Nisa kembali membaca bismillah, ia mengetuk pintu perlahan dan mengucapkan salam.

__ADS_1


Tidak ada jawaban, Nisa memegang gagang pintu dan pintu Tidak terkunci, ia membuka pintu perlahan memanggil Stevent dan menyalakan lampu utama.


Nisa berdiri di depan pintu, ia melihat Stevent masih terlelap dalam tidurnya, Stevent terlihat lelah, sudah 2 malam ia tidak tidur.


Nisa melangkahkan kakinya mendekati tempat tidur Stevent. Ia berdiri di samping tempat tidur tepat bagian kepala Stevent.


Nisa sedikit membungkukkan tubuhnya.


" Stevent bangunlah " Suara lembut Nisa berbisik di telinga Stevent, ternyata tidak susah membangunkan Stevent.


Stevent membuka matanya perlahan, ia menatap wajah cantik dan sangat cantik berada tepat didepan matanya.


Seorang wanita dengan pakaian panjang berwarna hijau daun senada dengan warna jilbabnya tersenyum manis ke arah Stevent.


"Apakah aku bermimpi, bertemu bidadari di kamarku" gumam Stevent dalam hati, ia tidak berkedip sama sekali.


Nisa mendekat, ia melambaikan tangannya di wajah Stevent.


" Apakah kamu sudah bangun" Suara lembut menenangkan terdengar di telinga Stevent.


Stevent menarik tangan Nisa hingga hampir menimpa Tubuhnya. Dengan sigap Nisa bertahan pada kepala tempat tidur.


" Apa aku tidak bermimpi?" tanya Stevent menatap wajah yang hanya berjarak beberapa centimeter saja. Nisa segera mendorong tangannya yang dari tadi bertahan pada kepala tempat tidur hingga ia bisa langsung berdiri tegak.


" Bangunlah, kamu harus segera sholat subuh, waktunya tidak banyak lagi" Nisa berjalan meninggalkan Stevent.


" tunggu " Nisa menghentikan langkahnya, Stevent beranjak dari tempat tidur.


" Ada apa ?" tanya Nisa memutar tubuhnya, Stevent memperhatikan Nisa dari atas hingga ke bawah ia tersenyum. Pakaian yang dipakai Nisa adalah pembelinya, Bahkan ia telah merepotkan semua orang dalam satu butik demi memilih semua pakaian untuk Nisa.


" Kamu harus menunggu aku sholat" Stevent mendekati Nisa.


" Kenapa?" tanya Nisa


" Mengkoreksi dan menilai hasil belajarku selama ini " Stevent berjalan mendekati lemari pakaian dan mengambil handuk.


" Duduklah, tunggu aku jangan kemana-mana!" perintah Stevent dan berjalan menuju kamar mandi.


Nisa merapikan tempat tidur Stevent, kemudian ia mengambil sebuah buku kesehatan yang tersusun rapi di rak buku.


Nisa duduk di sofa santai.


Stevent kembali mendekati Nisa yang fokus dengan bacaannya.


" Aku sudah siap " ucap Stevent berdiri di depan Nisa.


Nisa melihat seorang pria sangat tampan berada di depannya dengan Stelan baju koko.


" Sholatlah!" perintah Nisa dan tersenyum.


Stevent berjalan ke sebuah sudut di samping lemari, sudah ada sajadah, Nisa mengikuti Stevent.


" Kamu di belakang saja !" perintah Stevent


" Kenapa?" tanya Nisa


" Karena kecantikan kamu akan menggangu kekhusyukan sholat ku " Stevent serius namun Nisa malah tertawa seakan sedang mendengar gombalan.


" Baiklah, aku akan duduk di sofa itu" Nisa kembali ke Sofa.


Stevent mulai Sholat, Nisa benar - benar memperhatikan setiap gerakan Stevent, ia sangat terharu, pria yang tumbuh tanpa dasar agama, mau berusaha dan belajar di usia yang tidak muda lagi dan pada Tingkat kesuksesan Dunia.


Stevent tidak membutuhkan apa lagi, ia telah memiliki dunia namun, ia sedang berusaha mengejar akhirat.


Stevent telah selesai sholat, Nisa masih terus memandang ke arah Stevent dalam lamunannya, ia tidak menyadari Stevent telah berjalan mendekatinya dan berjongkok di depan Nisa.


" Apa aku sangat tampan? " Stevent menggoda Nisa


" Maaf " Nisa menundukkan pandangannya.


Stevent berdiri, ia mau membuka pakaian di Depan Nisa.


" Apa yang kamu lakukan?" tanya Nisa kaget.


" Aku akan ganti pakaian, apa kamu mau melihat ku ?" Stevent kembali menggoda Nisa.


Nisa beranjak dari kursi keluar dari kamar, menunju ruang tengah. Semua keluarga telah berkumpul.

__ADS_1


Viona berlari mendekati Nisa dan memeluknya.


" Bagaimana kabar kamu Nisa?" tanya Viona


" Aku baik" Nisa melepaskan pelukannya tersenyum melihat dan mencubit pipi chubby Viona.


" Kemarilah " Viona menarik tangan Nisa dan duduk bersebelahan di Sofa.


" Nisa kita akan membicarakan pernikahan kamu dengan Stevent" ucap Tuan Alexander Papa Stevent. Nisa hanya terdiam dan menunduk.


" Bagaimana Tuan Ramadhan?" tanya Tuan Alexander.


" Saya serahkan keputusan Kepada anak-anak" jawab Abi melihat Nisa sekilas.


" Pernikahan akan segera di laksanakan secepatnya" tegas Stevent menuruni anak tangga.


Ia tidak ingin pernikahannya kembali gagal.


" Bagaimana jika pernikahan di laksanakan bersama dengan hari pesta" ucap Mama.


" Berarti 4 hari lagi" ucap Viona bersemangat. Umi melirik Nisa, Umi sangat berharap Kenzo yang menjadi suami Nisa, mereka sudah sangat mengenal Kenzo, urusan Agama Kenzo jauh lebih paham.


" Bagaimana Nisa?" tanya Mama bahagia.


" Aku terserah Umi dan Abi" ucap Nisa melihat ke arah Umi dan Abi yang saling pandang.


" Bagaimana Tuan Ramadhan?" tanya Tuan Alexander


Mereka serba susah, bagaimana menjelaskan pada Kenzo, karena awal rencana pernikahan adalah paksaan dan ancaman dari Stevent berhubungan dengan Fathur.


Sampai saat ini mereka belum bertemu dengan Fathur namun Jhonny mengatakan Fathur dalam pengawasan anak buah mereka kembali mengelola penginapan dan restoran.


Stevent telah memberi modal untuk membangun kembali usaha di puncak, karena ia tahu semuanya milik Nisa.


Pada hari pernikahan Stevent telah berjanji akan mengumpulkan semua keluarga Abi Ramadhan, termasuk anak dan istri Fathur yang berada di luar negeri.


" Kami akan menyetujui semua keputusan demi kebaikan " jawab Abi tegas.


Nisa menarik nafas panjang, ia tidak mengerti yang Ia rasakan, ada sesak di hatinya, tiba - tiba ia teringat Kenzo yang selalu berkata akan terus menunggu Nisa.


Semua bahagia mendengar keputusan yang telah di sepakati, kecuali Nisa dan Umi.


Ada kegelisahan yang menggangu hati mereka.


" Nisa akan tinggal di rumah ini sampai hari pernikahan " ucap Stevent melihat Nisa


" Kenapa ?" tanya Nisa refleks dan khawatir.


" Aku tidak mau kejadian penculikan terulang lagi !" mata tajam menatap Nisa, tajam penuh kekhawatiran.


" Benar sayang, Mama dan Viona akan menemani kamu" ucap Mama bersemangat


" Kamu lagi cuti juga kan, kita bisa jalan-jalan" sambung Viona..


" Nisa tidak akan kemana-mana!" tegas Stevent.


Semua melihat ke arah Stevent, mereka bisa mengerti dengan kekhawatiran Stevent setelah kejadian penculikan.


" Pa, ma, aku mau berbicara dengan Tuan Ramadhan, sebentar " Ucap Stevent melihat ke arah Abi.


" Tentu saja, mari kita bersiap sarapan " Ucap Mama dan menarik tangan Papa,Viona menarik tangan Nisa dan diikuti Umi.


" Ada apa ?" tanya Abi


" Maafkan saya mengganggu waktu Anda, jika Anda ingin melihat puncak, anak buah saya bisa menemani Anda, Fathur sudah beraktivitas seperti biasa" ucap Stevent lembut.


" Terimakasih, Setelah pernikahan kamu, saya akan melihat puncak dan saya harap tidak ada lagi bisnis haram disana" Abi berjalan meninggalkan Stevent menuju ruang makan.


Stevent dapat merasakan ketidaksukaan Abi, tentu saja tidak suka, Stevent meminta Nisa dengan ancaman.


********************************************


♥️ Thanks for Reading 😊


Selalu Tinggalkan Like dan komentar setelah membaca sebagai PENYEMANGAT Author


Terimakasih

__ADS_1


♥️ Love you Readers 💓


__ADS_2