Cinta Untuk Dokter Nisa

Cinta Untuk Dokter Nisa
Kembali Bekerja dan Belajar


__ADS_3

Pagi hari Nisa telah mempersiapkan semuanya untuk suami dan anak-anaknnya. Wanita itu terlihat cekatan dan sibuk di pagi hari membuat Stevent heran dan terus memperhatikan istrinya.


“Sayang, ada apa dengan dirimu?” Stevent memeluk tubuh Nisa dari belakang.


“Ada apa dengan diriku? Apa kamu lupa sesuatu?” Nisa menyentuh pipi Stevent dan membuka tangan kekar yang melingkar di pinggangnya.


“Lupa? Tidak ada yang aku lupakan.” Stevent memandang wajah istrinya yang telah menghadap dirinya.


“Sayang, hari ini aku kembali bekerja.” Nisa tersenyum.


“Apa? Bukankan baru bulan depan?” Stevent merasa itu masih sangat lama.


“Sayang, lihatlah putra dan putri kita yang sudah tumbuh besar.” Nisa menarik tangan suaminya.


“Sayang, bisakah kamu menambahkan masa cuti.” Stevent memeluk tubuh istrinya.


“Sayangku, cintaku, suamiku ini sudah kita bicarakan dengan Samuel dan tidak bisa di rubah lagi sesuai dengan prosedur rumah sakit.” Nisa mencubi pipi Stevent.


“Ayo turun, sebentar lagi Umi dan Ninis akan datang kerumah untuk menemani Azzam dan Azzura.” Nisa menarik tangan suaminya.


“Aku akan mengantar dirimu.” Stevent menatap manja pada Nisa.


“Sayang, aku harus mengendarai sendiri agar mudah untuk kembali kerumah ketika jadwalku kosong.” Nisa tersenyum manja.


“Baiklah.” Suara Stevent terdengar lemah. Ayumi baru saja kembali ke Jepang dan dirinya harus pergi kerumah sakit untuk bertemu dengan Valentino dan Nathan, selain itu ia juga harus menyelesaikan masalah perusahaan Papa Alexander.


“Sayang, ada apa?” Nisa memeluk pinggang Stevent.


“Tak ada.” Stevent tersenyum. Ketika Umi dan Ninis telah dirumah, mereka berdua pamit pergi bekerja. Nisa dan suaminya berjalan bersama menuju garasi mobil.


“Sayang.” Stevent menarik tangan Nisa dan memeluknya.


“Hmm.” Nisa menyembunyikan wajahnya di dada bidang Stevent mencium aroma maskulin dan selalu ia rindukan.


“Menyetirlah dengan pelan.” Stevent mencium kepala Nisa.


“Ya, rumah sakit bahkan terlihat dari sini Sayang.” Nisa mendongakkan wajahnya sehingga pria itu langsung mencium bibir istrinya dengan lembut dan cukup lama.


“Sayang, kamu bisa mencium aku sepuasnya ketika di kamar.” Nisa tersenyum.


“Berangkatlah, aku akan mengikutikamu di belakang.” Stevent membuka pintu mobil Nisa.


“Terimakasih.” Nisa mencium pipi suaminya dan masuk kedalam mobil, pria itu memasang sabuk pengaman dan mencium dahi istrinya.


“Hati-hati.” Stevent menutup pintu dan segera masuk kedalam mobilnya agar ia bisa mengikuti Nisa dari belakang. Mobil suami istri itu melaju menuju rumah sakit, ketika mobil Nisa telah memasuki tempat parkir Stevent melaju mobilnya menuju kantornya.


Wanita cantik itu melambaikan tangannya dan tersenyum melihat mobil Stevent yang pergi meninggalkan rumah sakit. Dokter ahli bedah bernama Annisa Salsabila kembali bekerja di rumah sakit Samuel. Ia menarik napas dan membaca bismilah melangkahkan kakinya masuk ke dalam gedung rumah sakit. Nisa berjalan dengan santai, koridor tampak hening tidak ada seorangpun yang terlihat, ia terus melangkahkan kaki menuju ruangannya.


“Assalamualaikum.” Nisa membuka pintu perlahan ia sangat terkejut Tim Dokter bedah menyambut dirinya dengan sebuah ledakan dari Party Popper. Sebuah spanduk bertuliskan selamat bergabung kembali. Ada banyak buket bunga di ruangan Nisa yang diberikan oleh para pasien yang pernah Nisa rawat, para perawat dan dokter.


“Waalaikumsalam.” Dini berjalan mendekati Nisa dengan membawa sebuah kue cantik.


“Selamat datang Dokter Nisa.” Tim Dokter bedah menyambut kedatangan Nisa bersamaan. Nisa tersenyum bahagia. Ia sangat merindukan Tim yang selalu bekerja sama dengan dirinya di ruang operasi.


“Terimakasih semuanya.” Nisa tersenyum.


“Dokter Nisa, aku sangat merindukan dirimu.” Dini memeluk Nisa.


“Kenapa kamu tidak mengunjungi diriku?” tanya Nisa.

__ADS_1


“Aku takut bertemu suamimu.” Dini berbisik di telinga Nisa.


“Halo Nisa, senang bertemu dengan kamu.” Kim Min Jook mengulurkan tanganya kepada Nisa.


“Halo Oppa Kim.” Nisa tersenyum cantik.


Mereka semua berjalan menuju kantin untuk makan bersama menyambut kembalinya Nisa, dokter paling hebat dan dikenal banyak orang. Semua sangat merindukan dirinya untuk kembali bekerja dan merasakan ketengangan di meja operasi.


***


Nathan membuka pintu mobil untuk istri tercinta, wanita cantik itu tersenyum melihat suami yang mulai posesif dan berbahaya ketika mereka hanya berdua. Afifah keluar dari mobil melihat sekeliling rumah sakit yang sangat mewah. Ia pernah magang di rumah sakit itu ketika masih kuliah hanya saja Afifah tidak mengingatnya.


“Sayang.” Nathan memberikan tangannya agar wanita itu menggandeng diriya.


“Ya.” Afifah tersenyum dan memeluk lengan kekar suaminya. Mereka berjalan bersama menuju ruangan pemilik Rumah Sakit yang tidak lain adalah Nathan.


“Sayang, kemarilah.” Nathan mendudukan Afifah di kursi kerjanya.


“Ini kursi kamu.” Afifah mendongak wajahnya dan mendapatkan ciuman di bibir.


“Nathan.” Afifah mendorong tubuh suaminya, ia mendengar pintu di ketuk.


“Masuklah!” Nathan berjalan meuju sofa dan membiarkan Afifah duduk di kursinya.


“Selamat pagi Tuan Nathan.” Valentino melihat gadis cantik dan imut tersenyum kepada dirinya yang sedang duduk di kursi Nathan.


“Selamat pagi Valentino, duduklah.” Nathan melihat Afifah.


“Aku merasa pernah melihat gadis itu.” Valentino melirik Afifah yang telah menunduk dan menatap layar computer di depannya.


”Katakan ada apa?” Nathan menatap tajam pada Valentino.


“Bisakah kita langsung ke laboratorium rumah sakit, aku telah meneliti sebuah racun baru.” Valentino melihat kearah Nathan.


“Sayang, kita akan ke laboratorium.” Nathan berjalan mendekati Afifah.


“Baiklah.” Afifah tersenyum.


“Valen, kenalkan istriku Afifah.” Nathan tersenyum.


“Ya, Afifah Mahasiswi angkatan di atas ku yang mendapatkan beasiswa dari kampus.” Valentino berbicara di dalam hatinya dan menatap Afifah.


“Halo, senang bertemu dengan anda dokter.” Afifah mengulurkan tangannya.


“Senang bertemu dengan anda Nyonya.” Valentino berjabat tangan dengan Afifah.


“Mari kita ke laboratorium.” Nathan menggandeng tangan istrinya keluar dari ruangan.


“Aku belum mematikan computer kamu.” Afifah menyentuh tangan Nathan dengan lembut.


“Tak apa.” Nathan tersenyum.


Mereka bertiga berjalan bersama menuju laboratorium rumah sakit. Valentine terus mengingat Afifah, kakak angkatan yang sangat popular tetapi tidak bisa mengingat nama orang sehingga ia tidak pernah jatuh cinta dan menolah semua pria yang menyatakan cinta. Wanita itu seorang perawat yang mengambil beberapa jurusan sekaligus, anehnya walaupun Afifah pelupa tetapi sangat cerdas dalam ilmu kesehatan.


“Kakak ini tidak akan mengenali diriku dan aku juga tidak mau Nathan cemburu, aku sangat mengenal pria ini.” Valentino berjalan di belakang Afifah dan Nathan.


“Selamat pagi Tuan Nathan.” Semua karyawan laboratorium memberi salam.


“Selamat pagi semuanya, perkenalkan istriku Afifah, aku akan mengundang kalian semua untuk pesta kedua di Villa pribadiku di tepi pantai.” Nathan tersenyum dan memeluk pinggang Afifah dari samping. Semua bertepuk tangan menyambut kabar gembira dari Nathan.

__ADS_1


Mereka memuji kecantikan istri Nathan, wajah imut, menggemaskan telihat masih sangat muda dengan senyuman yang manis dan ramah. Pujian yang mereka berikan kepada Afifah seakan menghina Nathan karena memiliki istri bagaikan gadis remaja yang masih sekolah.


“Valen, apa yang harus kita bahas, pasti istriku sudah tidak sabar untuk belajar.” Nathan mencubit dagu lancip Afifah membuat wanita itu malu karena sikap suaminya.


Tentu saja Afifah sangat menyukai dunia racun karena itu adalah keahliannya hanya saja ia tidak menyelesaikan kuliahnya di jurusan ahli kimia dan tidak ada yang tahu karena wanita itu langsung hilang begitu saja. Sebenarnya itu terjadi karena ia hilang kontak dengan Asraf sehingga Afifah kembali ke desa.


“Ya, dia pasti sangat suka.” Valen menunduk menyembunyikan senyumannya.


“Aku menemukan racun baru pada tubuh pasien bernama Tuan Alexander.” Valentino berjalan menuju ruanganya di laboratorium.


“Tuan Alexander, papa Stevent?” Nathan menatap pada Valentino.


“Ya.” Valentino melirik Affiah yang fokus memperhatikan cairan yang ada di meja Valentino.


“Apa aku boleh melihatnya?” Afifah menatap pada Valentino.


“Tentu saja Nyonya.” Valentino pindah dan membiarkan Afifah mendekat.


“Ini darah yang telah terkontaminasi racun.” Afifak memegang tabung kaca berisi cairan yang telah berwarna hitum.


“Apakah kamu hanya mengambil darah pada satu tempat?” tanya Affiah pada Valentino.


“Ya.” Valentino memperhatikan Afifah.


“Harusnya kamu mengmabil darah dari semua bagian tubuh pasien paling ujung, seperti ujung jari kaki.” Affiah melepaskan tabung kaca.


“Pasti ada bekas luka atau pori-pori terbuka yang menjadi jalan masuknya virus, kamu harus menyinari tubuh pasien dengan cahaya pendeteksi racun.” Afifah pindah dari meja kerja Valentino.


“Ya, dia adalah mahasiswi terbaik yang pernah aku dengar di kampus.” Valentino melirik Nathan.


“Maaf, kami terlambat mengetahui racun pada tubuh pasien karena mengalami kecelakaan.” Valentino menatap Afifah.


“Apa anda mau melihat pasien?” tanya Valentino pada Afifah tetapi melihat kearah Nathan.


“Tidak, aku harus belajar lagi.” Afifah menggandeng Nathan, ia harus merayu pria itu agar mengizinkan dirinya kembali kuliah jurusan kimia.


“Maksud anda?” tanya Valentino.


“Afifah akan kuliah lagi hingga menjadi seorang ahli kimia yang hebat.” Nathan tersenyum.


‘Baiklah, lakukan yang Afifah katakan dan simpulkan hasil dari racun ini agar kita bis amembuat penawarnya.” Nathan menarik tangan Afifah keluar dari laboratorium yang berisi para pria cerdas dan hebat.


“Nathan, kapan aku akan kuliah lagi?” Afifah menahan tangan Nathan.


“Kamu terlihat tidak sabaran.” Nathan memutar tubuhnya menghadap Afifah.


“Aku mau kembali belajar.” Afifah tersenyum.


“Benarkah?” Nathan mendekatkan wajahnya pada Afifah.


“Ya.” Afifah membenturkan hidung mereka berdua dan berlari meninggalkan Nathan.


“Oh, dia sudah bisa menggoda.” Nathan tersenyum dan menyusul Afifah.


Teruslah belajar karena usia bukanlah patokan kesuksesan seseorang. Tuhan telah ciptakan dunia beserta isinya agar manusia terus belajar dan mencari tahu tentang ilmu pengetahuan. Alam telah tersedia bagi manusia yang berpikir dan menjadi tanda-tanda kekuasaanNya maka dari itu jangan lupa untuk bersyukur atas nikmat yang telah diberikan.


***LoveYouAll***


Halo semuanya, berikan Like, Komentar dan Vote yaa, dukungan kalian sangat berarti buat Author, terimakasih.

__ADS_1


Baca juga Novel Author yang ada di Innovel berjudul “Unforgettable Lady” dan Novel kakak ku Nama Pena “Fitri Rahayu” di Noveltoon. Terimakasih.


Semoga kita semua selalu dalam keadaan sehat dan selalu dalam lindungan Tuhan, aamiin.


__ADS_2