Cinta Untuk Dokter Nisa

Cinta Untuk Dokter Nisa
Tanda Cinta Aisyah


__ADS_3

Aisyah tersenyum, ia melihat mobil Jhonny telah meninggalkan perkarangan rumah mereka, bagi Aisyah Jhonny luar biasa.


“Maaf Nyonya, saya harus izin masuk ruang bioskop.” Kepala pelayan mendekati Aisyah.


“Untuk apa?” tanya Aisyah.


“Tuan Jhonny berkata ada yang harus di buang dan di ganti baru.” Kepala pelayan menunduk.


Aisyah menutup mulutnya menahan tawa, selama bercinta Jhonny telah menghancurkan bantal, guling dan kasur.


“Baiklah.” Aisyah berjalan di depan kepala pelayan menaiki tangga hingga sampai di ruangan bioskop mini milik Jhonny.


“Permisi Nyonya.” Kepala pelayan membuka pintu dan memperhatikan seisi ruangan Bioskop.


Aisyah menutup mulut menahan tawa ketika melihat tempat tidur berantakan dan bulu angsa dimana – mana.


“Maaf Nyonya, apa yang terjadi?” kepala pelayan heran dan bingung dengan tempat tidur, kasur, bantal dan guling telah hancur serta bulu angsa berterbangan.


“Em, semalam saya bermain dengan Jhonny di sini.” Aisyah tersenyum.


“Baiklah Nyonya, saya akan mengganti semuanya dengan yang baru.” Kepala pelayan keluar dari ruangan.


Aisyah duduk di atas tempat tidur, akhirnya ia tertawa lepas melihat kekacauan yang Jhonny ciptakan selama bercinta.


“Untungnya dia tidak menghancurkan diriku.” Aisyah beranjak dari tempat tidur dan meninggalkan ruangan.


Beberapa pelayan datang untuk membersihkan ruangan dan menunggu tempat tidur beserta perlengkapan yang baru.


Aisyah keluar dari rumah berjalan menuju laboratorium yang kini menjadi miliknya, melihat tanaman obat yang terus tumbuh subur dan indah.


Aisyah menghabiskan waktunya berada di laboratorium dan kebun obat.


Meracik beberapa teh tradisional dari tanaman obat untuk kesehatan dan kecantikan.


***


Jhonny memarkirkan mobilnya di tempat biasa dan berjalan dengan santai melewati beberapa karyawan yang senyum – senyum dan berbisik ketika Jhonny telah melewati mereka.


Tidak ada yang tahu tentang pernikahan Jhonny dan Aisyah, mereka mulai nakal dengan pikiran masing – masing ketika melihat bekas gigitan cinta di leher Jhonny.


Jhonny masuk ke dalam ruangan Stevent, ia melihat Stevent telah duduk di kursi kebesarannya dengan fokus memandangi layar komputer.


“Selamat pagi Tuan, maaf saya terlambat.” Jhonny berdiri di depan Stevent dan membungkukkan badan memberi hormat.


“Apakah menikah membuat kamu tidak disiplin?” Stevent mengangkat kepalanya melihat Jhonny yang masih menunduk.


“Maafkan saya Tuan, saya tidak akan mengulangi lagi.” Jhonny masih menunduk dan tidak berani mengangkat kepalanya.


"Kembalilah ke kursi kamu!” perintah Stevent.

__ADS_1


“Terimakasih Tuan.” Jhonny berjalan menuju kursi kerjanya yang berada dekat pintu.


Jhonny tidak fokus bekerja, bayangan malam pertama dan Aisyah yang sangat menggoda membuat wajah Jhonny memerah dan panas, ia segera ke kamar mandi untuk mencuci wajah.


Di kamar mandi Jhonny bukan hanya mencuci wajah tetap ia langsung mandi ingatan malam panas benar – benar mengganggu pikiran Jhonny.


Stevent heran melihat Jhonny yang keluar kamar mandi dengan rambut basah dan berantakan serta wajah yang merah.


Jhonny kembali duduk di kursinya dan mengaruk kepala yang tidak gatal, ia melihat Aisyah yang agresif terus menari – nari di sudut ruangan.


“Ada apa dengan dirimu?” tanya Stevent yang mulai terganggu dengan tingkah Jhonny yang gelisah dan tidak tenang.


“Tidak apa Tuan.” Jhonny melihat kearah Stevent yang memandangi dirinya.


Stevent beranjak dari kursi dan berjalan mendekati Jhonny, ia harus memastikan sesuatu yang terlihat samar – samar.


“Ada yang bisa saya bantu Tuan?” Jhonny berdiri menghadap Stevent.


Stevent tertawa terbahak – bahak, hingga ia terduduk di sofa memegang perutnya, butiran bening melewati sudut matanya.


“Ya Tuhan.” Stevent tidak bisa berkata – kata, ia terus tertawa dan membayangkan perjalanan Jhonny dari tempat parkir hingga sampai keruangan mereka.


Jhonny melongo dan kebingungan bahkan hampir takut dengan tingkah Stevent yang aneh dan tiba – tiba tertawa terbahak – bahak.


Stevent tidak pernah seperti itu selama mereka bersama, Stevent tertawa terlihat mengerikan di mata Jhonny.


“Jhonny, apa yang terjadi semalam?” tanya Stevent menghapus air matanya.


“Bagaimana Tuan bisa tahu?” tanya Jhonny semakin bingung.


“Seluruh dunia akan tahu jika mereka melihat leher kamu.” Stevent kembali tertawa, ia ingat bagaimana susahnya ia meminta Nisa membuatkan satu saja tanda merah di lehernya dan Jhonny mendapatkan banyak tanda merah yang telah memenuhi leher Jhonny.


Jhonny menyentuh lehernya, ia tidak tahu ada apa dengan lehernya karena yang merapikan dirinya adalah Aisyah sehingga ia tidak melihat dirinya di cermin.


Ketika mandi di kantor, ia hanya membasahkan diri untuk menghilangkan rasa panas pada tubuhnya karena godaan Aisyah.


“Pergilah bercermin!” bentak Stevent.


Jhonny segera beranjak dari Sofa dan berjalan ke kamar mandi untuk melihat lehernya, ada tanda merah yang dibuat oleh Aisyah dengan berhasrat, Jhonny tersenyum, ia menyukai itu.


“Saya sangat suka dengan tanda merah ini Tuan, menyenangkan.” Jhonny tersenyum dan berdiri di hadapan Stevent yang gantian melongo melhat senyuman bodoh Jhonny.


“Apa, aku merasa senyuman Jhonny mengejekku yang tidak mendapatkan tanda merah dari Nisa.” Stevent menggaruk kepalanya yang tidak gatal, ia telah dikalahkan Jhonny dalam satu ronde permainan.


“Kembalilah ke kursi kamu, aku jijik melihat leher kamu!” Stevent kesal ia beranjak dari sofa dan kembali ke kursinya.


“Baik Tuan.” Jhonny masih tersenyum sendiri, ingatan tentang wanita cantik yang mengigit lehernya dan memakan telinganya kembali menari dipikiran Jhonny.


Stevent memperhatikan Jhonny dari kursinya yang ikut tidak fokus dengan pekerjaanya, ia sudah lama tidak bermain panas dengan Nisa.

__ADS_1


“Siapa yang menang malam tadi? Jhonny atau Dokter Aisyah?” Stevent bergumam dan merinding melihat Jhonny yang masih tersenyum sendirian.


“Jhonny, apakah malam pertama kamu membuat kamu gila?” Stevent benar – benar penasaran dengan sikap kaku Jhonny.


“Iya Tuan, Saya menghancurkan bantal, guling dan kasur di ruangan bioskop.” Jhonny menjawab pertanyaan Stevent dengan jujur.


Stevent kembali tertawa terbahak – bahak, ia tidak bisa membayangkan apa yang dilakukan Jhonny hingga menghancurkan semua benda itu.


“Hey Jhonny kamu bercinta atau mengamuk?” Stevent kembali mengusap air matanya.


“Saya berusaha menahan diri agar tidak mengamuk dan meremukkan tubuh Aisyah.” Jhonny menunduk.


“Astaga, Dokter Aisyah luar biasa bisa merobohkan kamu.” Stevent menahan tawa.


“Anda benar Tuan, saya tidak sadarkan diri hingga detik ini.” Jhonny bersemangat.


“Jika ada Nisa, ia akan memarahi diriku menanyakan malam pertama Jhonny.” Stevent menutup mulutnya.


“Ah, Aku merindukan istriku.” Stevent beranjak dari kursi dan mengmabis jasnya.


“Anda mau kemana Tuan?” Jhonny melihat kearah Stevent yang sudah berada di depan pintu.


“Menemui istriku.” Stevent membuka pintu.


“Ah, katakan kepada Dokter Aisyah Nisa dirawat di rumah sakit pemerintah, mungkin dia mau menemani Nisa selama kamu bekerja.” Stevent memutar tubuhnya melihat Jhonny.


"Apakah Nyonya sakit?" tanya Jhonny.


"Tidak, aku tidak mau melihat dia kesakitan karena harus di tusuk jarum setiap malam." Stevent keluar dari ruangan.


“Baik Tuan.” Jhonny menunduk memberi hormat.


“Aku juga mau bertemu istriku Tuan,” gumam Jhonny dalam hati.


Jhonny duduk di kursinya dengan tegap, menyentuh lehernya dan kembali tersenyum, ia tidak akan bekerja untuk hari ini, karena Aisyah terus mengganggunya.


***


(Cari : AnnaLee di aplikasi Joy lada)->Novel baru Author dan masih review di Noveltoon


Mohon dukungnnya berikan like, Komentar, bintang 5 dan Vote. Terimakasih


Baca juga Novelku “Arsitek Cantik”


Novel Kakakku “Nyanyian Takdir Aisyah dan Cinta Bersemi di Ujung Musim.” (Fitri Rahayu), dan Putih Abu - Abu (Sohibul Iksan) Terimakasih.


Semoga kita semua dalam keadaan sehat dan selalu mendapatkan perlindunganNya, Aamiin.


Love You All and Thanks For Reading.

__ADS_1


__ADS_2