
Rumah Jhonny.
Aisyah dan Jhonny duduk salah berhadapan di ruang tengah dan terpisah meja besar.
Keduanya hanya terdiam menatap buku nikah yang tergeletak di atas meja.
Percaya dan tidak percaya, mereka telah menikah secara hukum hanya dengan beberapa berkas dan tanda tanya saja.
Sesekali mereka saling bertatapan dan membuang pandangan kembali ke atas meja dan kembali memperhatikan dua buku di atas meja.
"Apakah kita sudah menikah?" Tanya Jhonny.
"Hmm." Jawab Aisyah tanpa melihat Jhonny.
"Kita akan tidur dalam satu kamar?" Tanya Jhonny.
"Tidak." Jawab Aisyah.
"Kenapa?" Jhonny memperhatikan Aisyah dengan wajah bingung.
"Karena kita belum menikah secara agama." Ucap Aisyah mengambil buku dari atas meja dan membacanya.
"Apa aku boleh menyentuh kamu?" Tanya Jhonny lagi.
"Tidak boleh." Jawab Aisyah.
"Baiklah aku akan pergi ke kantor sekarang." Jhonny beranjak dari kursinya dan berjalan menuju garasi mobil.
"Apa kamu marah?" Aisyah menatap Jhonny yang menggelengkan kepalanya.
"Kapan kita akan menemui orang tuaku? Tanya Aisyah.
"Kapan pun kamu mau." Jawab Jhonny berlalu.
"Jangan lupa kamu sedang berpuasa." Teriak Aisyah menghentikan langkah Jhonny dan kembali mendekati Aisyah.
"Apa yang boleh dan tidak boleh?" Tanya Jhonny.
"Apa kamu tidak pernah berpuasa?" Tanya Aisyah menatap Jhonny yang menggelengkan kepalanya.
"Pergilah, aku akan mengirimkan pesan untuk dirimu." Ucap Aisyah.
"Baiklah." Jhonny melanjutkan langkah kakinya menuju mobilnya.
"Aku harus searching dan mengirimkan kepada Jhonny." Aisyah mengambil ponselnya.
Mencari penjelasan tentang puasa, larangan ketika berpuasa.
"Aku juga baru belajar." Ucap Aisyah duduk kembali di kursinya.
Aisyah melihat buku dan akta nikah uang masih tergeletak di atas meja.
"Aku harus menyimpan buku ini sampai kami sah secara agama." Aisyah mengambil buku dan berjalan menaiki tangga menuju kamarnya.
Kamar yang sangat besar dan mewah, sebanding dengan kamar miliknya di rumah Jordan.
Aisyah membuka sebuah lemari raksasa dan menyimpan buku dan akta nikah dalam sebuah laci dan menguncinya.
Merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur yang empuk.
Terdengar ketukan pintu kamar, Aisyah membuka pintu dan melihat seorang pelayan.
"Maaf Nyonya, ada tamu." Ucap pelayan sopan.
"Apa, pelayan memanggilku Nyonya?" Gumam Aisyah dalam hati.
"Siapa?" Tanya Aisyah.
"Saya tidak tahu Nyonya." Jawab pelayan.
"Baiklah, saya akan segera turun." Ucap Aisyah.
"Saya permisi Nyonya." Pelayan segera menuruni tangga kembali melanjutkan pekerjaannya.
Aisyah merapikan pakaian dan hijabnya, dan segera menemui tamu yang telah menunggu di ruang tamu.
Berjalan santai menuju ruang tamu tanpa berpikir bahwa tamu yang datang adalah tamu sangat istimewa.
"Assalamualaikum." Salam Aisyah dan melihat tamu yang datang.
Aisyah terdiam membeku dan terkejut, ia tidak tahu harus berkata apa.
Sedih senang bercampur menjadi satu, air mata Aisyah mengalir tanpa perintah.
"Aisyah Sayang." Mama Aisyah berlari memeluk Aisyah.
"Mama, maafkan Aisyah." Aisyah membalas pelukan Mamanya.
Papa Aisyah ikut memeluk anak dan istrinya, Mami Jordan juga sangat merindukan Asiyah.
"Biarkan aku memeluk putriku." Ucap Mami Jordan.
Mereka bergantian memeluk Aisyah yang masih berdiri di tempatnya.
Seorang pria tampan berjalan masuk ke dalam rumah dengan senyuman khas miliknya.
Pria yang tidak asing lagi untuk Aisyah, dan sudah lama tidak berjumpa setelah kecelakaan itu.
"Jordan." Ucap Aisyah lembut dan pingsan hampir jatuh ke lantai.
Untungnya Papa Aisyah dengan sigap menangkap putrinya.
Jordan segera berlari dan membantu Papa Aisyah mengangkat Aisyah ke atas Sofa.
"Mi, kita bawa Aisyah ke hotel saja." Ucap Jordan.
Beberapa pelayan mengintip dari dapur, mereka masih ingat dengan wajah Jordan yang pernah membuat kekacauan di rumah Jhonny beberapa waktu yang lalu.
Jordan segera menggendong Aisyah dan akan membawanya masuk ke mobil.
Beberapa pengawal menghadang Jordan dan keluarganya.
"Maaf Tuan, anda tidak boleh membawa Nyonya Aisyah tanpa seizin Tuan Jhonny." Ucap seorang pengawal.
"Dia adalah putri kami, saya Papa Aisyah, kalian tidak punya hak untuk menghalangi kami membawa putri kami pulang." Bentak Papa Aisyah.
Pengawal hanya terdiam, mereka telah menghubungi Jhonny tetapi tidak ada jawaban.
"Katakan kepada Tuan Jhonny, Aisyah di bawa keluarganya pulang." Jordan tersenyum.
"Tuan, Tolong tunggu Tuan Jhonny kembali." Pengawal masih berusaha menahan Jordan.
Jordan kembali ke dalam rumah dan membaringkan Aisyah di atas Sofa.
"Sayang, kenapa Aisyah di bawa masuk lagi?" Tanya Mami bingung.
"Aku akan menghajar para pengawal itu mi." Ucap Jordan tersenyum.
__ADS_1
Selama di pulau terpencil, Jordan terus mengasah kemampuannya.
"Papa saja yang gendong Aisyah." Ucap Papa Aisyah.
Papa dan Papi segera menggendong Aisyah ke dalam mobil.
Jordan berkelahi dengan beberapa pengawal yang sedang berjaga di rumah.
Tidak banyak pengawal karena Jhonny tidak membutuhkan itu.
Ia berpikir Jordan sudah meninggal tidak akan ada lagi orang yang akan menggangu Aisyah dan dirinya.
Empat pengawal dan petugas keamanan terkapar di atas tanah.
Jordan tersenyum, tidak sulit baginya untuk merobohkan empat pria yang tidak terlatih seperti dirinya.
"Jhonny sangat rugi membayar kalian." Jordan menendang tubuh para pengawal yang tergeletak tidak berdaya.
Dua buah mobil segera meninggalkan rumah Jhonny menuju hotel dimana mereka menginap.
Keluarga Jordan dan Aisyah memilih hotel di depan pesantren Abi Ramadhan karenaLokasi yang sangat strategis.
Jordan menggendong Aisyah sampai ke kamarnya yang bersebelahan dengan kamar orang tua mereka.
Jordan membaringkan tubuh Asiyah di atas tempat tidurnya.
"Sayang, bagaimana keadaan Aisyah?" Mama terlihat khawatir.
"Sejak kapan Aisyah berjilbab?" tanya Mami.
"Sejak dia meninggalkan Aku." ucap Jordan mengelus pipi Aisyah.
Papa dan Papi menunggu di rumah depan kamar.
"Biarkan Aisyah beristirahat." ucap Mami mencium dahi Aisyah.
"Putriku, kita akan segera pulang ke rumah." Mama mencium pipi Aisyah.
Mereka semua keluar dari kamar Jordan meninggalkan Aisyah dan Jordan.
Pintu kamar terbuka lebar, Jordan duduk di samping Aisyah memandang wajah wanita yang sangat ia rindukan.
"Aisyah, Aku mencintai dirimu, kita akan segera menikah." Jordan mengusap kepala dan mengelus pipi Aisyah yang masih belum sadarkan diri.
***
Perusahaan Stevent.
Mereka melanjutkan meeting yang sempat tertunda karena Stevent harus ke rumah sakit untuk menemui Nisa.
"Tuan Fauzan, anda tidak membawa assisten?" tanya seorang pengusaha muda.
"Asisten saya sedang bermain dengan anak-anak." Fauzan tersenyum membuat seisi ruangan bingung.
Tidak ada pengusaha yang menolak bekerja sama dengan perusahaan Fauzan, hanya saja Fauzan yang masih memilih perusahaan yang akan ia terima dan di tolak.
Meeting selesai tepat waktu sholat Zuhur, Fauzan, Stevent dan Jhonny berjalan bersama menuju musholla perusahaan.
Selesai sholat mereka kembali ke ruangan Stevent untuk mendiskusikan perusahaan yang layak bekerjasama dengan perusahaan Fauzan.
"Jika semua urusan ini sudah selesai, kami akan segera kembali ke Kairo." tegas Fauzan meletakkan berkas di atas meja.
"Kenapa tergesa-gesa?" tanya Stevent.
"Kerjasama dengan perusahaan di Kairo belum selesai, Ayesha membuat jebakan dalam berkas kerjasama yang ia tawarkan dalam perusahaan barunya." Fauzan tersenyum.
"Kamu tidak akan percaya Stevent, ia membedakan isi kerjasama dengan yang ia persentasi kan, jika para pengusaha itu tidak membaca dengan teliti maka mereka akan terjebak dan otomatis tidak akan mendapatkan kerjasama ini." jelas Fauzan.
"Siapa yang membuat berkas itu?" tanya Stevent penasaran.
"Aku, dan dalam waktu singkat ia bisa merubahnya." Fauzan tertawa.
"Apakah kecerdasan Ayesha di atas dirimu?" tanya Stevent.
"Tentu saja, ketika kami bertanding berkuda dan memanah, ia hanya kalah pada kekuatan karena ia seorang wanita." Fauzan terus memuji adiknya.
"Kamu menginginkan wanita seperti Ayesha untuk menjadi pendamping hidupmu." tegas Stevent yang membuat Fauzan terdiam.
"Hmm, mungkin saja." Fauzan kembali tersenyum.
"Apa Kamu membandingkan semua wanita dengan adikmu?" tanya Stevent.
"Tidak, aku belum bertemu dengan wanita yang cocok." Fauzan tersenyum.
"Bagaimana kamu bisa Jatuh Cinta kepada istrimu?" tanya Fauzan tersenyum.
"Dia seorang Dokter dan menyelamatkan diriku dari kematian." Stevent tersenyum mengingat pertemuan pertama ia dengan Nisa.
"Aku bisa menilai dari raut wajah penuh kebahagiaan." Fauzan tersenyum.
Jhonny memperhatikan dua pria sempurna yang sedang mengobrol dengan asyiknya.
"Yang menyelamatkan diriku dari kematian adalah Ayesha." ucap Fauzan tersenyum.
"Dia Dokter yang hebat." lanjut Fauzan.
Jhonny duduk di kursinya dan mengambil ponsel dari saku jasnya yang ia silent selama meeting.
Ada banyak panggilan yang tidak terjawab, tetapi Jhonny tidak menemukan panggilan dan pesan dari Aisyah.
"Kenapa dia tidak menghubungi diriku?" gumam Jhonny dengan wajah kecewanya.
"Jhonny, bagaimana dengan pernikahan dirimu?" tanya Stevent membuyarkan lamunan Jhonny.
"Kami sudah mendapatkan buku nikah." Jhonny berdiri.
"Wah, selamat." ucap Stevent dan Fauzan.
"Bagaimana rasanya?" tanya Stevent.
"Rasa apa Tuan?" tanya Jhonny bingung membuat Fauzan dan Stevent tertawa.
"Rasanya menikah." ucap Fauzan tersenyum.
"Sama saja." jawab Jhonny datar, Fauzan dan Stevent kembali tertawa.
Johnny semakin bingung, ia dijadikan bahan tertawaan dua bos besar di depannya.
"Apanya yang lucu." gumam Jhonny kesal.
"Hey Jhonny, bagaimana bisa sama saja, kamu sudah punya teman tidur." Stevent menepuk bahu Jhonny.
"Saya masih tidur sendirian." ucap Jhonny jujur.
Fauzan dan Stevent memegang perut mereka masing-masing, Jhonny benar-benar melucu di siang hari.
"Cukup, sebaiknya kamu duduk." tegas Fauzan menahan tawa.
__ADS_1
"Kamu benar-benar menghibur diriku." ucap Fauzan.
Jhonny segera duduk dan melihat ke wajah Stevent dan Fauzan yang telah merah karena tertawa.
"Kamu adalah pengantin baru, tentu kehidupan kamu akan berubah." ucap Stevent.
"Semua masih sama Tuan, masih belum boleh." jelas Jhonny menunduk.
"Sudahlah Stevent, kamu tidak usah mempermainkan Jhonny, sekarang ia sedang berpuasa tentu saja semuanya tidak boleh." Fauzan tersenyum.
"Ooh, karena puasa jadi tidak boleh dekat-dekat Aisyah." pikir Jhonny.
"Baiklah, aku tunggu keputusan kamu untuk memilih perusahaan yang layak bekerjasama dengan diriku." Fauzan berdiri dan berjabat tangan dengan Stevent dan Jhonny.
"Kamu tidak pulang bersama dengan diriku?" tanya Stevent.
"Tidak, Terima kasih, aku akan memanggil taksi ." Fauzan tersenyum, meninggalkan Jhonny dan Stevent.
"Assalamualaikum." Fauzan menutup pintu.
"Waalaikumsalam." jawab Jhonny dan Stevent.
Stevent memperhatikan Jhonny, ia masih penasaran dengan pernikahan Jhonny.
Jhonny terlihat gelisah, ia masih belum menghubungi Aisyah.
"Ada apa dengan dirimu?" tanyakan Stevent.
"Aisyah tidak menghubungi diriku." Jawab Jhonny.
"Hubungi dia!" perintah Stevent dan Jhonny segera menghubungi nomor ponsel Aisyah.
Lama Jhonny menunggu tidak ada yang menjawab.
Jhonny terus mencoba menghubungi nomor ponsel Aisyah.
"Halo Aisyah, kamu dimana?" Jhonny khawatir.
"Halo Jhonny, Aisyah bersama diriku." sebuah suara yang tidak asing terdengar dari sebrang ponsel.
"Jordan." ucap Jhonny membuat Stevent menoleh kearah Jhonny.
"Ada apa?" tanya Stevent.
Jhonny terdiam, tidak menjawab pertanyaan Stevent. Ponselnya jatuh di atas meja.
Ia kebingungan, yang Jhonny tahu Jordan telah meninggal, tetapi suara itu milik Jordan.
Stevent segera mengambil ponsel Jhonny dan meletakkan ke telinganya.
"Halo kamu siapa?" tanya Stevent.
"Saya Jordan, kekasih Aisyah," ucap Jordan.
"Aisyah telah menikah dengan Jhonny." tegas Stevent.
"Tanpa restu orang tua Aisyah pernikahan mereka tidak sah." Jordan mematikan ponsel.
Stevent melihat Jhonny yang masih terdiam dan kebingungan.
"Lacak lokasi ponsel Aisyah!" perintah Stevent.
"Baik Tuan." Jhonny segera menyalakan layar komputernya.
"Sangat dekat, Hotel Star 5 di depan pesantren Abi." tegas Jhonny.
"Apa, Kenapa harus di depan pesantren?" Stevent kesal, ia tidak mau membuat Nisa khawatir.
"Apa yang harus saya lakukan Tuan?" tanya Jhonny yang tiba-tiba tidak bisa berpikir.
"Aku harus membawa Nisa jauh dari pesantren," ucap Stevent.
"Jhonny hubungi pelayan di rumah kamu, bagaimana Jordan bisa membawa Aisyah pergi?" Stevent khawatir dengan Nisa.
"Tuan, Jordan membawa orang tua mereka untuk menjemput Aisyah." ucap Jhonny pelan.
Jhonny merasa benar-benar telah kalah dalam pertarungannya dengan Jordan.
Stevent terdiam, ia menatap sedih ke arah Jhonny.
"Kamu harus menanyakan Aisyah, dia akan pilih kamu atau Jordan, selain itu kalian sudah menikah." Stevent menepuk pundak Jhonny untuk memberikan ketenangan.
"Cepatlah, jemput Aisyah!" Stevent merapikan berkas yang berserakan di atas meja dan mematikan komputer.
"Jhonny, kamu harus berhasil membawa Aisyah bersama dirimu, jika tidak hidup kamu akan hancur." bisik Stevent di telinga Jhonny.
Ia dan Jhonny bergegas meninggalkan ruang Stevent dan berjalan menuju lift yang akan langsung mengantarkan mereka berdua ke tanah parkir.
Mereka menggunakan mobil masing-masing melaju menuju pesantren.
Mobil Stevent dan Jhonny telah memasuki perkarangan rumah Abi.
Tidak ada mobil Fauzan di sana, Stevent segera bergegas masuk ke rumah.
Jhonny berdiri di depan pagar pesantren menatap hotel star 5 dari kejauhan.
"Apa yang kamu lakukan di sana?" Jhonny bertanya pada dirinya sendiri.
Stevent mengajak Nisa kembali ke rumah rahasia dan akan ditemani Viona.
"Dimana Fauzan dan Ayesha?" tanya Stevent.
"Mereka pergi ke tempat olahraga berpedang." Jawab Viona.
"Baiklah Sayang, aku akan mengatakan kamu dan Viona ke rumah kita." ucap Stevent.
"Aku harus pamit kepada Umi." ucap Nisa bingung karena Stevent terlihat tergesa-gesa.
"Kamu bisa menghubungi Umi dengan ponsel kamu." tegas Stevent.
"Sayang, ada apa?" tanya Nisa khawatir.
"Aku harus membantu Jhonny." Stevent tersenyum.
Viona dan Nisa segera masuk ke mobil menuruti perintah Stevent.
Menuju rumah rahasia, Stevent percaya Viona tidak akan memberitahukan lokasi rumah mereka kepada orang lain.
*****
Selamat Menunaikan ibadah Puasa 🤗
Semoga Suka, Mohon Dukungan dengan Like Komentar Vote dan Bintang 5 😘 Terimakasih.
Baca juga "Arsitek Cantik", Nyanyian Takdir Aisyah" dan " Cinta Bersemi di ujung Musim"
Semoga Kita semua selalu dalam keadaan sehat dan mendapatkan rezeki yang berlimpah Aamiin 😇
__ADS_1