Cinta Untuk Dokter Nisa

Cinta Untuk Dokter Nisa
Dia harus Mati


__ADS_3

Nayla membanting semua barang - barang yang ada di atas meja rias, Herry melihat dan menunggu apa yang dilakukan Nonanya.


" Kenapa, kenapa Stevent bersamanya ?" Nayla berteriak menarik jas Herry dan menggoncang - goncangkan tubuh Herry.


Herry hanya diam, menerima kemarahan Nayla.


" Dia harus Mati !" Nayla menatap Herry tajam matanya merah karena amarah dan menangis.


Herry memeluk Nayla memberi ketenangan.


" Tidurlah, aku akan membunuhnya untuk kamu" Herry menenangkan Nayla


" Sungguh " Nayla menatap manja kepada Herry


" Tentu saja " Herry mencium kening Nayla.


Nayla berjalan menuju tempat tidur di temani Herry.


" Gunakan kamar sebelah, biar pelayan merapikan kamarmu " Herry menarik tangan Nayla yang mengangguk-angguk kepalanya menuju kamar sebelah.


Nayla berbaring di tempat tidur di temani Herry duduk di sofa.


***


Nathan menaiki tangga dengan tergesa-gesa, ia langsung menuju kamar Nayla yang pintunya terbuka, Nathan hanya melihat beberapa pelayan sedang merapikan dan membersihkan kamar.


" Dimana Nayla ?" tanya Nathan Kepada para pelayan


" Di kamar sebelah Tuan " Jawab seorang pelayan yang paling dekat dengan Nathan.


Nathan berjalan dengan emosi menuju kamar sebelah, ia membuka pintu yang tertutup dan terkunci. Nathan mengetuk-ngetuk pintu.


Herry mendekat dan membuka pintu.


" Dimana Nayla ?" tanya Nathan kepada Herry dan mendorong tubuh Herry dengan kasar.


Nathan berjalan menuju Nayla yang sedang tertidur, ia menarik selimut yang menutupi tubuh seksi adiknya dengan kasar dan membuangnya ke sembarang.


" Nayla, apa yang kamu lakukan pada Nisa ?" Nathan berteriak dan mengejutkan Nayla dan Herry yang berada di pintu.


" Apa, aku tidak melakukan apapun " Nayla duduk di tempat tidur dengan mata bengkak.


" Tidak usah membohongiku, Kamu mau membunuh Nisa, dan bahkan jika tidak ada Stevent mereka pasti sudah melecehkan Nisa !" Nathan membentak Nayla dengan penuh emosi hingga matanya merah.


" Dia merebut Stevent dariku " Nayla membentak Nathan


" Kau Gila Nayla, Kau ingin mencelakakan semua orang demi kepuasan dirimu " Nathan memegang wajah Nayla dengan kedua tangannya.


" Ini bukan cinta, Nayla sadarlah, Herry selalu ada untukmu, apa yang kamu butuhkan lagi ?" tangan Nathan pindah ke bahu Nayla menggenggam dengan erat, Nayla merasakan sakit.


"Jika kamu masih bertindak bodoh, aku akan mengirimkan kamu ke tempat Opa dan Oma!" ancam Nathan


" Tidak " Nayla berteriak. Siapa yang akan mau tinggal bersama Opa dan Oma, di desa terpencil, jauh dari pusat kota dan hanya berkebun dan berternak.


Membayangkan saja Nayla jijik. Herry menatap kasihan kepada Nayla, ini pertama kalinya Nathan sangat marah.

__ADS_1


" Dengar Herry, jika kamu berani menyentuh Nisa seujung kuku saja, Kamu akan berada di penjara bawah tanah dan tak akan pernah lagi melihat Matahari !" Nathan berlalu melewati Herry keluar dari kamar.


Nayla kembali menangis histeris, menghamburkan tempat tidur, melemparkan bantal, guling dan sepray ke segala arah. Ia Memecahkan kaca rias dan lemari menggunakan kursi. Nayla berteriak sepuas - puasnya. Herry masih terdiam tak berani mendekat.


" Dia harus Mati .....!" Nayla berteriak


" Dia membuat Nathan marah padaku !" Nayla kembali menangis.


Nayla mulai tenang, ia duduk di atas tempat tidur yang telah berantakan. Herry mendekat.


" Bawa aku ke club miliki Nathan " Nayla menuju kamar mandi membersihkan diri. Ia keluar dari kamar mandi dengan menggunakan handuk putih sebatas paha dan rambut terbungkus handuk berjalan menuju ruang ganti pakaian.


Herry menelan ludah melihat tubuh seksi hanya terbalut handuk lewat berlenggang di depan.


Nayla terlihat cantik keluar dari ruang ganti, ia menggunakan dres hitam batas paha dengan bagian pundak terbuka, riasan wajah yang sempurna menutupi mata bengkak bekas menangis.


" Ayo berangkat" Nayla berjalan keluar dari kamar diikuti Herry, menuju garasi mobil miliknya. Herry selalu mengikuti Nayla, ia selalu ada untuk Nayla, menjaganya dan menuruti semua keinginan Nayla.


Herry mengendarai motor milik Nayla menuju club malam milik Nathan.


***


Nathan masuk ke kamarnya dan duduk di Sofa, mengambil ponselnya dan melakukan penggilan, menghubungi assisten pribadi menanyakan keberadaan Nisa, ia tidak dapat mengunjungi ponsel Nisa.


Berdasarkan pengamatan anak buahnya, Nisa di bawa ke rumah Stevent.


" Aku harus mengirimkan beberapa orang untuk mengawasi Nayla " Nathan memejamkan matanya.


Nathan kembali mencoba menghubungi nomor Nisa.


" Assalamualaikum " Suara lembut terdengar dari seberang


" Aku di rumah Stevent "


" Kenapa kamu di sana ?" Nathan pura-pura tidak tahu.


" Pagi tadi aku di serang para preman " jelas Nisa singkat


" bagaimana keadaanmu ?"


" Aku baik, hanya kelelahan, mereka menyuntikkan obat bius kepada ku " Suara Nisa terdengar lemah


" Aku akan menjemputmu " ucap Nathan


" Tak usah, ada mobil ku di sini Terimakasih" Nisa tak mau membuat Stevent marah.


Panggilan terputus. Stevent mengambil ponsel Nisa dan mematikannya.


" Apa yang kamu lakukan, aku sedang berbicara " Nisa melihat Stevent menatap layar ponselnya.


" Nathan " Stevent tersenyum dan Memblokir nomor Nathan kemudian menghapusnya.


" Aku tidak mau kamu berhubungan dengan Nathan !" Stevent memberikan ponsel kepada Nisa.


Nisa tidak menjawab ia malas berdebat dengan Stevent yang menatap tajam ke arah Nisa.

__ADS_1


Nisa merapikan tempat tidur dan dirinya, mengambil tas yang ada di atas berangkas.


" Aku mau pulang, Terimakasih telah menolong ku " Nisa tersenyum ikhlas dan berjalan menuju pintu.


" Siapa yang mengizinkan kamu pulang ?"Nisa menghentikan langkahnya


" Aku tidak perlu izin dari anda Tuan Stevent ' Nisa berucap lembut dan berjalan tidak menghiraukan larangan Stevent.


Stevent menarik kasar tangan Nisa hingga berada di pelukannya.


" Astagfirullah, lepaskan aku " Nisa berontak berusaha melepaskan diri dari pelukan Stevent.


" Aku tidak suka di bantah !" Stevent menatap wajah Nisa yang terpejam menghindari saling tatap.


" kamu tidak akan kemana-mana !" Stevent melepaskan pelukannya dan berjalan menuju pintu meninggalkan Nisa di kamar yang masih gugup.


Ketika telah mendapatkan ketenangan jiwa Nisa berjalan menuju pintu yang tertutup, Nisa memegang gagang pintu dan berusaha membuka pintu yang terkunci.


Nisa kaget, Stevent benar-benar menguncinya.


" Apa yang harus aku lakukan?" pikir Nisa


Ia tidak mau menghabiskan tenaga untuk berteriak atau menggedor - gedor pintu karena itu adalah perbuatan sia - sia. Rumah yang besar, daun pintu dan dinding yang tebal tidak akan ada orang yang mendengarkan.


***


Nathan berpikir ponsel Nisa yang tiba-tiba mati,


" Stevent " gumam Nathan berjalan menuju kamar Nayla, kamar telah kembali bersih dan rapi. Tidak ada Nayla maupun Herry.


" Kemana mereka pergi ?" Nathan bertanya pada dirinya sendiri.


Nathan menghubungi Roni, orang kepercayaannya.


" Ikuti Nayla !" perintah Nathan.


Aku harus kerumah Stevent dan menjemput Nisa. Nathan berjalan kembali ke kamarnya untuk mengambil jas dan kunci mobilnya.


*


*


*


*


😍 **Thanks for Reading 😊


Dukung terus Author


Komentar


like


Vote

__ADS_1


Terimakasih 🤗


💓 Love you Readers ♥️**


__ADS_2