Cinta Untuk Dokter Nisa

Cinta Untuk Dokter Nisa
Balas Dendam


__ADS_3

Wajah Afifah masih cemberut melihat tangannya yang terborgol bersama Nathan dan jalan-jalan di pinggiran taman kota setelah berbelanja. Ia tidak bisa menolak pria gila yang semakin menggila dengan kelakukan overprotektifnya.


“Nathan, tanganku sangat lelah.” Afifah menghentikan langkah kakinya.


‘Sayang, jika kaki kamu yang lelah aku cukup kuat menggendong tubuh kecil yang imut ini.” Nathan tersenyum dan melihat bibir Afifah yang maju kedepan karena cemberut.


“Dan jangan menggodaku dengan bibir yang kamu mancungkan.” Nathan mendekat.


“Arrg.” Afifah kesal ia berjalan melewati Nathan dan tubuhnya tertarik hampir terjatuh karena borgol pada tangannya dengan sigap Nathan menangkap tubuh wanita itu.


“Hati-hati sayang.” Nathan tersenyum tetapi khawatir dengan Afifah yang hampir terjatuh.


“Ini semua karena dirimu!” Afifah berusaha unutk berdiri.


“Aku selalu menjaga kamu sayang.” Nathan tesenyum menggoda.


“Nathan, bisakah kamu membuka borgol ini?” Afifah memelas.


“Apa yang akan aku dapatkan jika aku melepaskan borgol ini?” Nathan mengangkat tangannya.


“Aku janji tidak akan pernah meninggalkan dirimu.” Afifah terlihat serius.


“Apa jaminanmu?” Nathan mendekati wajahnya pada Afifah.


“Berkas berhargaku ada di kamar hotel dan kuncinya ada pada dirimu, kamu bisa mengambilnya.” Afifah menatap Nathan.


“Kamu lebih berharga dari berkas-berkas itu.” Nathan menatap Afifah.


“Aku membutuhkan semua berkas itu untuk menemukan orang tua kandungku.” Afifah menatap Nathan dengan sorotan mata sendunya dan memelas.


“Berjanjilah untuk selalu bersamaku.” Nathan mendekatkan wajahnya pada Afifah yang harus mendongak ke atas karena pria itu sangat tinggi.


“Ya, aku berjanji.” Afifah terdiam, Nathan membuka borgol dan menyimpannya di tas kekasihnya.


“Terimakasih.” Afifah tersenyum dan berjalan menuju ayunan yang ada di taman.


“Apa kamu tidak pernah ke kota?” tanya Nathan memegang tali ayunan.


“Pernah, ketika aku kuliah tetapi aku tidak pernah menikmati kehidupan kota karena aku sibuk belajar agar mendapatkan beasiswa full.” Afifah menarik tali ayuanan dan melayang di udara.


“Bagaimana dengan seorang kekasih, apa kamu memilikinya?” tanya Nathan lembut.


“Aku tidak pernah menerima pernyataan cinta dari semua pria karena aku tidak punya waktu untuk itu.” Afifah tersenyum.


“Asraf juga melarang diriku dekat dengan pria selain dirinya.” Ayunan telah melambung tinggi diudara, hijab dan gamisnya melambai-lambai.


“Apakah kamu pernah jatuh cinta?” Nathan menahan tali Ayunan.


“Tidak.” Afifah turun dari Ayunan.


“Kamu mau kemana?” Nathan menarik gamis Afifah.


“Kembali ke hotel.” Afifah menoleh.


“Afifah, sebenarnya kamu tidak perlu datang ke kota ini hanya untuk mencari orang tua kamu, aku bisa melakukannya dengan menggunakan koneksiku.” Nathan menatap Afifah.


“Baiklah, lakukan, aku akan menunggu hasil dari pencarian dirimu.” Afifah tersenyum dan berpikir ia hanya bisa pasrah dengan keadaan bahwa dirinya tidak bisa lari dari pria itu.


“Akan aku lakukan untuk dirimu.” Nathan tersenyum tampan, ia sangat bahagia dengan perkataan Afifah seakan ada angina segar yang menyapu wajahnya.


“Ayo, kita kembali ke hotel dan beristirahat.” Nathan menarik gamis Afifah, malam semakin larut.


“Lepaskan.” Afifah menarik gamisnya dan berlari dengan senyuman meninggalkan Nathan.

__ADS_1


“Dia benar-benar seperti gadis remaja yang sangat lincah.” Nathan tersenyum dan mempercepat langkahnya.


Seorang pria menabrakkan dirinya pada Nathan dan menikam sebilah pisau belati, darah bercucuran dari perut pria yang tidak siap dengan serangan mendadak dari orang yang tidak dikenal.


“Bagaimana rasanya ketika perut kamu dibongkar dengan pisau ini?” bisik pria itu pada Nathan yang tersungkur di tanah dan melihat kearah Afifah, ia khawatir pria itu akan melukai wanitanya.


“Nathan, kamu dimana?” Afifah menoleh, ia tidak melihat Nathan di tempat tadi.


“Nathan, kamu jangan bercanda.” Afifah melihat sekeliling.


“Siapa gadis cantik itu?” tanya pria berbisik di telinga Nathan yang berada di balik mobil.


“Jangan sakiti dia!” Nathan memegang perutnya.


“Ah, ini akan sangat menyenangkan, melihat orang yang dicintai tersakiti akan sangat menyiksa dirimu.” Pria itu tersenyum, ia menarik pisau tajam dari perut Nathan dan kembali menikamnya hingga dua kali.


“Kasian sekali gadis itu jika harus menjadi kekasih kamu yang penuh dengan dosa.” Pria itu tersenyum dan melihat Afifah yang sedang mencari Nathan.


“Jangan dekati dia!” Nathan mengengam tangan pria itu dan memukulnya dengan kekuatan yang tersisa.


Pria itu tersungkur di tanah, Nathan benar-benar kuat untuk melindungi orang yang ia cintai, ia berlari mendekati Afifah dengan tubuh bersimpah darah.


“Nathan, apa yang terjadi?” Afifah terkejut melihat Nathan.


“Cepatlah lari dari sini!” Nathan menarik tangan Afifah.


“Arrg.” Nathan terseungkur di tanah, pria asing itu menendang Nathan.


“Apa yang kamu lakukan? Tolong.” Afifah berteriak dan menatap tajam pada pria yang berdiri di depannya yang mengunakan masker.


“Afifah,” ucap pria itu pelan.


“Siapa kamu?” tanya Afifah heran karena pria itu mengenali dirinya.


“Tidak lepaskan aku.” Afifah berusaha melepaskan tangannya.


Mendengar suara Afifah Nathan segera beranjak dari tanah dan menikam sebuah jarum pada pria itu, yang merasakan panas pada lengannya.


“Jangan sentuh Afifah!” Mata Nathan merah.


“Apa yang kamu suntikan pada diriku?” Pria itu khaawatir karena ia tahu Nathan adalah ahli kimia.


“Racun itu bertahan cukup lama dan kamu butuh diriku untuk mendapatkan penawarnya.” Nathan tersenyum dan terjatuh ke tanah.


“Nathan.” Afifah meletakkan kepala Nathan di pangkuannya.


“Kenapa kamu mau membunuh Nathan?” Afifah kebingungan.


“Dengar Afifah, pria ini adalah seorang pembunuh tanpa belas kasih, ia hanya perlu sebuah formula hebat untuk membunuh tanpa meninggalkan jejak, ia bahkan mengambil organ penting dari tubuh manusia yang telah ia bunuh.” Pria itu terduduk di tanah, ia merasa tubuhnya semakin melemah.


“Kamu bohong dan siapa kamu yang mengenali diriku?” Afifah berteriak.


“Kita pernah menjadi teman.” Pria itu tersenyum dari balik masker.


“Nathan, berikan penawar untuk pria itu.” Afifah berbisik di telinga Nathan yang masih sadarkan diri.


“Kamu mau aku memaafkannya.” Nathan tersenyum menahan sakit.


“Hm.” Afifah mengangguk.


“Ada di dalam tas kamu, ampul dengan cairan bening.” Nathan kesulitan berbicara, ia kehilangan banyak darah. Afifah membuka tasnya dan mengambilkan satu ampul berisi cairan bening dan sebatang jarum suntik.


“Kemarilah!” Suara Afifah lembut, ia tidak bisa bergerak karena Nathan berbaring di pangkuannya.

__ADS_1


“Apa itu penawarnya?” tanya pria itu yang menggeserkan tubuhnya perlahan mendekati Afifah.


“Ya, Nathan tidak akan berbohong.” Afifah memegang tangan pria dengan masker dan menyuntikkannya.


“Pergilah!” Afifah manatap tajam pada Pria itu.


“Apa kamu tidak mau mengetahui aku?” tanya pria itu pelan.


“Tidak, karena aku tidak akan mengenali dirimu.” Afifah melihat Nathan yang berusaha membuka matanya.


“Nathan, apakah kamu masih punya formula untuk menghentikan pendarahan?” Afifah membongkat isi tasnya, ia tidak tahu entah kapan pria itu menaruh semua formula di dalam tas.


“Ya, cairan berwarna merah terang.” Nathan menggenggam tangan Afifah dengan erat.


“Dimana aku harus menyuntikkannnya?” Afifah memegang jarum suntik.


“Langsung dekat pada luka.” Nathan kesakitan.


Afifah membuka kemeja Nathan dan melihat luka tusukan yang terbuka lebar dan sangat dalam, darah terus mengalir, tetapi pria itu sangat kuat, ia bahkan tidak pingsan dan masih sanggup menyuntikkan racun pada lawannya.


“Aku sudah menghubungi unit kesehatan hotel dan sebentar lagi ambulans akan datang.” Afifah menyuntikkan obat pada luka Nathan.


“Jangan tinggalkan aku!” Nathan mencengram tangan Afifah dengan kuat tidak mau ia lepaskan, ia takut wanita itu akan meninggalkan dirinya ketika tidak sadarkan diri.


“Aku tidak akan meninggalkan dirimu.” Afifa tersenyum dan menyentuh luka Nathan.


Mobil ambulans milik hotel telah tiba di lokasi kejadian, para petugas segera mengangkat tubuh Nathan masuk ke dalam mobil, ia tidak melepaskan genggaman tangannya yang telah membuat sakit tangan Afifah.


Mobil melaju menuju rumah sakit kota dengan kecepatan tinggi, membawa Nathan langsung menuju ruangan IGD, dengan sigap para perawat dan dokter jaga melakukan pertolongan pertama pada pasien.


“Nathan lepaskan tangannku.” Afifah kebingungan, pria it uterus sadarkan diri walaupuntelah kehilangan banyak darah dan berkenti ketika telah mendapatkan suntikan.


“Nona, apakah anda istrinya?” tanya dokter pria.


“Ya,” jawab Nathan menahan sakit.


“Tuan, lepaskan tangan istri anda kita harus melakukan operasi kecil untuk menetupi luka di bagian dalam.” Dokter melihat tangan Nathan yang terus mencengkram tangan Afifah.


“Aku akan menunggu dirimu.” Afifah berbisik di telinga Nathan.


“Aku berjanji tidak akan meninggalkan dirimu.” Afifah tersenyum, perlahan Nathan melepaskan genggamannya dan menatap Afifah dengan sendu.


Tempat tidur brangkar di dorong menuju ruang operasi menjauh dari Afifah dengan gamis yang berlumuran darah dari tubuh Nathan. Pria itu terus memandang wanita yang ia cintai yang semakin jauh dan hilang dari matanya.


Afifah terduduk di kursi tunggu di ruangan IGD, ia memikirkan pria yang menyerang Nathan, dan perkataan yang mengatakan bahwa Nathan adalah seorang pembunuh. Tidak mungkin pria itu menyerang Nathan tanpa ada alasan kuat.


“Siapa pria itu, dia mengenali diriku tetapi aku yakin tidak akan ingat dirinya.” Afifah menyenderkan tubuhnya di kursi.


“Ya Tuhan kehidupan ku yang tenang kini menjadi kacau, cobaan apa yang harus aku jalani.” Afifah beranjak dari kursi dan berjalan menuju ruangan operasi.


Semakin tinggi sebatang pohon semakin kuat angin yang menerjangnya. Teruslah berdiri kokoh mengikuti arah angin bukan melawannya. Bergoyang dengan indah saling melengkapi mengikuti irama alam.


***


Mohon dukungnnya berikan like, Komentar, bintang 5, Tips, Vote serta bantuan promosikan, jika suka . Terimakasih.


Love You so much, Muuach.


Baca juga Novel Author berjudul “Arsitek Cantik” dan "Mengejar Cinta Ariel" dan " Tabib Cantik Bulan Purnama"


Novel Kakakku “Nyanyian Takdir Aisyah dan Cinta Bersemi di Ujung Musim.” (Fitri Rahayu). Terimakasih.


Semoga kita semua dalam keadaan sehat dan selalu mendapatkan perlindunganNya, Aamiin.

__ADS_1


__ADS_2