Cinta Untuk Dokter Nisa

Cinta Untuk Dokter Nisa
Aku Mau Bercinta


__ADS_3

Mobil sport hitam berhenti di garasi, selama perjalanan Stevent hanya diam.


Nisa memandang wajah suaminya yang terlihat kusut.


Stevent membuka sabuk pengaman, mencium dahi Nisa dan keluar dari mobil membuka pintu mobil untuk Nisa.


Tanpa ada kata yang keluar dari mulut Stevent, ia mengendong Nisa masuk ke dalam rumah hingga sampai di kamar.


Stevent melepaskan tubuh Nisa perlahan duduk di tepi tempat tidur, Nisa mengunci tangannya di leher Stevent.


Hingga wajah mereka berdekatan dan mata saling bertatapan. Stevent duduk di samping Nisa.


Nisa menatap mata Stevent, menarik leher Stevent semakin mendekat dan mencium lembut bibir suaminya.


Stevent memejamkan matanya, menikmati ciuman dari Nisa, ciuman penuh kehangatan dan cinta.


"Aku mencintaimu." bisik Nisa dan tersenyum.


"Aku mencintaimu." Stevent memeluk erat tubuh Nisa.


"Katakan padaku, apa yang harus aku lakukan?" Stevent mengusap pipi lembut Nisa.


"Tidak ada, kamu telah melakukan semuanya untukku, aku bahagia menjadi istrimu, biarkan aku menikmati cinta bersama dirimu selamanya." Nisa memeluk Stevent.


"Sayang, jika Nathan bisa mengobati dirimu aku akan bersujud di kakinya." Stevent meletakkan tangannya di pipi Nisa.


"Sayang, kamu tidak perlu melakukan itu, jika Allah berkehendak, aku pasti akan sembuh." Nisa tersenyum mencubit pipi suaminya.


"Dengarkan aku, kita akan menjalani hidup seperti biasanya, tidak akan terjadi apa - apa." Nisa mendekatkan hidungnya pada Stevent.


Stevent mencium lembut bibir Nisa, memberikan kekuatan pada dirinya, ia tidak ingin terbangun dari mimpi indah sejak bertemu dengan Nisa.


***


Malam semakin larut, Stevent memeluk Nisa tidak ingin melepaskannya.


Ia sangat takut ketika bangun Nisa hilang dari pelukannya.


Nisa membuka matanya perlahan, berusaha bergerak melepaskan diri dari Stevent.


"Jangan pergi!" ucap Stevent meracau dalam tidur dan mengunci pelukannya.


"Aku tidak akan pergi." Nisa mengusap lembut wajah Stevent.


"Aku sangat mencintai dirimu, aku berharap kita bisa menua bersama dalam kebahagiaan dan kemesraan ditemani anak dan cucu kita." Air mata mengalir wajah Nisa.


Nisa mendekap tubuh Stevent meletakkan wajahnya di dada bidang yang sangat kekar.


Memejamkan mata, menghirup aroma maskulin dari tubuh Stevent yang selalu ia rindukan.


Terdengar adzan subuh, membukakan mata Nisa.


"Sayang, bangunlah kita harus solat." Nisa menepuk pipi Stevent dengan lembut.


"Aku tidak mau sholat." ucap Stevent mengeratkan pelukannya.


"Kenapa?" tanya Nisa lembut, ia tahu pasti Stevent masih marah dengan keadaan dirinya.


"Karena Tuhan akan mengambil dirimu dariku."Stevent tetap memejamkan matanya.


"Sayang, aku masih di sini, jika kamu seperti ini Tuhan benar-benar akan mengambil diriku." ucap Nisa lembut.


"Kenapa kamu berbicara seperti itu?" Stevent membuka matanya dan menatap Nisa.


"Jika seorang anak kecil ingin sesuatu dari orang tuanya, apa yang harus anak itu lakukan?" tanya Nisa.


"Bersikap baik dan menurut" Jawab Stevent.

__ADS_1


"Apa kamu tidak ingin meminta sesuatu kepada Allah?" tanya Nisa tersenyum mengusap lembut pipi Stevent.


"Aku meminta agar dirimu selalu bersama dengan diriku selamanya." ucap Stevent.


"Apa yang harus kamu lakukan agar permintaan dirimu dikabulkan?" tanya Nisa lagi.


Stevent terdiam, ia tahu maksud penjelasan Nisa.


"Sayang, jika kamu mencintai diriku dan meminta kita selalu bersama Kepada Allah, yang harus kamu lakukan adalah sholat tepat waktu dan perbanyak sholat malam" Nisa mencium bibir Stevent.


"Aku akan melakukannya untuk bisa terus bersama dengan dirimu." Stevent beranjak dari tempat tidur penuh semangat.


Nisa tersenyum, dan ikut bersama Stevent menuju kamar mandi untuk mandi bersama.


Sepasang suami istri melaksanakan shalat bersama, sujud panjang memohon keajaiban Tuhan.


Stevent begitu khusus berdoa, meminta kesembuhan Nisa dan mereka bisa selalu bersama selamanya.


Stevent meneteskan air matanya, ia begitu rapuh dan lemah, menyadari bahwa dirinya sangat membutuhkan cinta Nisa.


Ia tidak pernah takut dengan kematian, tetapi kini Stevent takut kehilangan Nisa.


Nisa tidak tahu jika pria di depannya menangis dalam doa.


"Sayang, apa kamu akan membaca Alquran?" Nisa menyentuh punggung Stevent dengan lembut.


Stevent memutar tubuhnya, mencium dahi dan memeluk Nisa erat.


"Sayang, Aku mau suamiku yang dulu, penuh semangat dengan mata tajam yang menakutkan." Nisa tersenyum menahan tawa.


"Apa kamu mengejekku?" Stevent menatap Nisa.


"Tidak, tapi kamu memang pria tampan yang mengerikan." Nisa mencubit pipi Stevent.


"Berikan aku ciuman!" ucap Stevent manja, setelah sholat dan menumpahkan isi hatinya Stevent merasakan ketenangan di dalam hatinya.


Stevent membuka mukenah Nisa, dan menggendongnya ke tempat tidur.


"Bidadari ku semakin cantik." Stevent mengusap lembut perut Nisa dan menciumnya.


"Jagain Mama Sayang." Stevent berbicara dengan perut Nisa yang tertawa menahan geli.


"Iya Papa Sayang, Kita berdua akan jagain Mama." ucap Nisa tersenyum dan mengusap rambut Stevent.


"Apa kita jalan-jalan sekarang?" Stevent mencium bibir Nisa.


"Aku mau bercinta" Nisa menikmati ciuman Stevent.


Mendengar perkataan Nisa Stevent melepaskan ciumannya, ia menatap wajah Nisa.


Nisa tersenyum menahan tawa, mambalas tatapan Stevent.


"Aku tidak mau, melukai dirimu" ucap Stevent beranjak dari tempat tidur.


Nisa menarik tangan Stevent menatap dengan manja dan menggoda.


"Ya Tuhan, jangan biarkan Bidadari ini menggodaku." Stevent membuka bajunya dan melemparkan ke lantai.


Berjalan kembali pada Nisa dan memakan bibir istrinya.


"Aaaah, ciuman ini tidak pernah ingin ku lepaskan." gumam Stevent dalam hati.


Jemari lembut Nisa bermain di telinga Stevent, membakar hasrat yang Stevent rasakan, melupakan kesedihan yang ia rasakan.


Nisa sengaja menggoda Stevent, untuk menenangkan bahwa Nisa baik - baik saja.


Menikmati ciuman yang tidak pernah bisa memberikan kepuasan pada pasangan suami istri yang saling mencintai.

__ADS_1


Jari lembut Nisa berjalan dan menyentuh setiap sudut tubuh Stevent membangkitkan jiwa bercinta dari junior dan sang pemiliknya.


Stevent tidak bisa menahan sentuhan Nisa.


"Jangan lakukan, itu akan membuat diriku seperti harimau kelaparan yang siap menerkam dirimu tanpa sadar." Stevent berbisik di telinga Nisa dan tertawa.


"Biarkan aku bermain dengan lembut, nikmat saja Sayang" bisik Stevent lagi, memasukkan lidahnya ke dalam lekukan telinga Nisa, membuat Nisa bergidik merinding.


Stevent memakan telinga Nisa dengan lembut dan nikmat, ia seakan kelaparan dan ingin menghabiskan setiap bagian dari tubuh Nisa tanpa sisa.


Lidah yang hangat memberikan sensasi yang luar biasa, menjilati telinga dan leher Nisa.


Memberikan tanda merah terang sangat kontras dengan kulit putih bersih di leher Nisa.


Erangan Nisa, membuat Stevent semakin menggila, bagaikan permintaan untuk memberikan sesuatu yang lebih.


"Aaaah" Stevent memberikan banyak tanda merah di leher dan dada Nisa.


Tubuh yang semakin berisi terlihat semakin seksi dan menggoda.


Bagian ternikmat yang tidak boleh di lewatkan adalah bukit kembar yang sangat Indah, bermain di sana sungguh menyenangkan dan membuat ketagihan.


Menikmati makanan di atas bukit yang tidak bisa memberikan rasa kenyang dan kepuasan.


Perut indah sedikit lebih berisi karena ada dua janin yang tersimpan di dalamnya.


Stevent mencium lembut perut Nisa, dan berbisik.


"Sayangi Mama ya" Stevent melanjutkan aksinya.


Junior sudah tidak tahan lagi ingin bertemu sang pujaan hati dapat menggigit dengan nikmat.


Perlahan Stevent mengizinkan Junior memasuki mulut cantik yang sangat menggoda.


Pintu pertama yang harus di dobrak dengan lembut, sedikit sempit, memberikan sensasi ciuman yang memabukkan.


"Aaah." kenikmatan yang selalu ingin di rasakan setiap waktunya memberikan rasa candu luar biasa.


Gesekan lembut dan perlahan, untuk menciptakan rasa yang berbeda dengan dua bibir yang tidak terlepaskan.


Kenikmatan yang sangat sempurna, Ketika semburan pada puncak tertinggi dapat dirasakan bersama.


Nafas panjang bertemu dengan erangan kepuasan, dengan tubuh berpelukan tidak ingin dilepaskan.


Bercinta di pagi hari selesai sholat subuh sungguh sensasi yang luar biasa.


Bercinta dengan pasangan halal sebagai ibadah bersama, mencapai kenikmatan dunia.


***


**


*


Terimakasih telah membaca Karya Author


*


**


***


Mohon dukungannya untuk selalu memberikan Like Komentar Vote dan Bintang 5 😘 Terimakasih.


Semoga Readers semua selalu dalam keadaan sehat dan mendapatkan rezeki yang berlimpah Aamiin 😇


Love You Readers 💓 Thanks for Reading 😊

__ADS_1


__ADS_2