Cinta Untuk Dokter Nisa

Cinta Untuk Dokter Nisa
Harapan


__ADS_3

Pulau Terpencil.


Seorang pria tampan dengan bertelanjang dada duduk di teras rumah terbuat dari kayu.


Dilo menempelkan ramuan obat-obatan yang terbuat dari tumbuhan.


Ada banyak luka di tubuh Jordan, ia masih bersyukur hanya luka luar dan goresan, tidak membuat patah tulang atau cidera parah.


"Dilo, apakah masih lama untuk sembuh?" tanya Jordan pada Dilo.


"Tentu saja, butuh waktu 1 Minggu lagi agar luka mengering." jawab Dilo.


"Lama sekali, aku takut Aisyah sudah menjadi milik orang." ucap Jordan mengingat air mata Aisyah.


"Siapa Aisyah?" tanya Dilo.


"Kekasih ku." Jawab Jordan menahan sakit di sekujur tubuhnya.


Jordan sangat beruntung bertemu dengan penduduk pulau yang baik yang bisa melakukan pengobatan dan terapi.


Setiap pagi sebelum dioleskan ramuan, Jordan juga mendapatkan pijatan dan diurut seluruh tubuhnya.


Pengobatan, perawatan dan terapi tradisional sangat efektif untuk tubuh Jordan yang cidera.


Meminum ramuan tradisional yang dibuat oleh ayah dan emak Dilo, sangat mengagumkan.


Wajar saja masyarakat desa terpencil memiliki tubuh yang sehat dan kuat.


Tidak ada makanan dan minuman yang mengandung bahan kimia dan pengawet.


"Dilo, apakah helikopter bisa ke pulau ini?" tanya Jordan.


"Tentu saja, pernah ada helikopter berhenti di pulau seberang sana." Dilo menunjukan sebuah pulau lagi.


Jordan beranjak dari kursi dan melihat pulau terlihat sangat kecil dari lokasinya.


"Apakah pulau itu ada penghuninya?" tanya Jordan.


"Ada, itu namanya pulau kembar, sudah di beli oleh seorang pria kaya." jelas Dilo.


"Ooh." Jordan menganggukkan kepalanya.


Tidak ada listrik dan ponsel di pulau terpencil, bahkan jaringan pun tidak ada.


Jordan harus keluar dari pulau dengan mengandalkan kekuatan pada tubuhnya.


Sudah seminggu lebih Jordan di pulau terpencil, menikmati liburan dengan nuansa zaman purba tanpa teknologi.


Seminggu kemudian Jordan akan melakukan perjalanan pulang bersama Dilo.


Rumah Sakit


Jhonny memandang Aisyah sedang membaca Alquran di sofa. Ia tersenyum puas bisa melihat Aisyah.


"Aku harus segera sembuh, Aku akan menikahkan dirimu." gumam Jhonny.


Dokter Reynaldi dan beberapa perawat masuk ke dalam ruangan Jhonny.


Jhonny melakukan terapi setiap hari karena ia mulai bisa berjalan, Kondisi tubuh yang mulai membaik.


Seorang perawat membawa kursi roda untuk Jhonny.


Jhonny di bantu perawat pria untuk pindah dari tempat tidur ke kursi roda.


"Nona Aisyah, Tuan Jhonny akan melakukan terapi, apa Anda akan ikut?" tanya dokter Reynaldy.


"Tentu saja." Dokter Aisyah tersenyum.


Aisyah mendorong kursi roda Jhonny, ia telah menghabiskan waktunya menemani Jhonny di rumah Sakit.


Dokter dan perawat lebih dulu keluar meninggalkan Jhonny dan Aisyah.


Jhonny benar-benar tidak punya keluarga, tidak ada yang mengunjungi Jhonny.


Hanya Nisa dan Stevent yang selalu datang memantau keadaan Jhonny.


Ingin sekali Aisyah bertanya tentang keluarga Jhonny, apakah Jhonny tidak punya siapa-siapa di dunia ini kecuali Stevent.


Aisyah merasa lebih beruntung daripada Jhonny, ia memiliki keluarga lengkap tetapi ia pergi meninggalkan keluarganya dan memilih hidup susah.

__ADS_1


"Sudah berapa lama aku tidak pulang?" Aisyah berbicara di dalam hatinya.


Sepasang suami istri yang sangat sempurna berjalan mendekati Jhonny.


"Assalamualaikum, dokter Aisyah." sapa Nisa.


"Waalaikumsalam, Nisa." Dokter Aisyah tersenyum melihat genggaman erat tangan Stevent.


"Apa kabar Jhonny?" Nisa mendekat.


"Aku baik Nyonya." jawab Jhonny melihat kearah Stevent.


"Sayang, kamu tidak menyapa Jhonny?" Nisa menarik tangan Stevent mendekati Jhonny.


"Cepatlah sembuh, banyak pekerjaan yang terbengkalai." Ucap Stevent.


"Apakah seperti itu cara menyapa?" Nisa mencubit hidung Stevent.


Jhonny dan Aisyah hanya bisa menjadi penonton kemesraan yang di perlihatkan Nisa dan Stevent.


"Jangan menggodaku di depan mereka berdua." Stevent memeluk tubuh Nisa dari belakang.


"Ya Tuhan, kalian benar-benar, ah sudahlah." gerutu Aisyah dan mendorong kursi roda Jhonny.


"Sayang, apa yang kamu lakukan, dokter Aisyah marah." Nisa tersenyum.


"Kamu yang menggoda terlebih dahulu." bisik Stevent di telinga Nisa dan mencium pipi Nisa.


"Ayo kita lihat terapi Jhonny." Nisa menarik tangan Stevent menyusul dokter Aisyah.


"Kamu tidak udah membantu, tidak boleh bekerja." Stevent menahan tangan Nisa.


Nisa tersenyum cantik dan mengangguk, Stevent menggandeng tangan Nisa dan berjalan bersama.


Seorang pria tampan berada di ruangannya berdiding kaca melihat pasangan mesra dari jauh.


"Apa yang kau lihat?" tanya Nathan pada Samuel.


"Tidak ada." Jawab Samuel duduk di samping Nathan.


"Apa yang membuat kamu datang kemari? apa kamu tidak punya pekerjaan?" Samuel tersenyum.


"Hey, apa kamu sudah lama tidak pemanasan?" Samuel berdiri membuka jas miliknya dan melemparkannya sembarangan.


Nathan telah membuka beberapa kancing kemejanya.


"Kamu benar, selain pemanasan aku harus menghukum dirimu." Nathan tampak serius.


"Apa kesalahan ku?" Samuel memperhatikan Nathan yang terlihat serius.


"Bug" pukulan mendarat di perut Samuel.


"Auh" Samuel memegang perutnya.


Samuel dan Nathan sering latihan dan adu kekuatan tapi tampaknya Nathan terlalu serius.


Samuel ingin membalas tetapi Nathan sangat gesit dan lincah, gerakan dan pukulan Nathan terus mengenai Samuel.


Samuel tersungkur di lantai, bibirnya pecah. Nathan menatap Samuel dengan emosi.


"Ada apa dengan mu? kenapa kamu melampiaskan emosi Kepada diriku?" Sakit berusaha beranjak dari lantai.


"Apakah Rumah Sakit ini tidak ada dokter bedah lagi?" Nathan menarik kerah baju Samuel.


"Hey, Bro, apa Kami memiliki banyak dokter bedah terbaik." Samuel melepaskan tangan Nathan.


"Benarkah? lalu kenapa kamu harus memakai dokter bedah yang sedang cuti untuk melakukan operasi besar?" Nathan menatap tajam pada Samuel.


"Apa maksud kamu?" Samuel menyentuh bibirnya yang pecah.


"Jangan katakan kamu tidak tahu tentang tim dokter bedah di rumah sakit ini!" bentak Nathan.


"Ada apa dengan tim dokter bedah?" tanya Samuel bingung.


"Kenapa Nisa melakukan operasi bedah Otak?" Nathan Kembali menarik kerah baju Samuel.


"Nisa? Dokter Nisa?" tanya Samuel meyakinkan dirinya.


"Apa kamu tahu Nisa sedang hamil dan kondisi rahim yang lemah." Nathan melepaskan tangannya dari leher Samuel.

__ADS_1


"Tunggu, apa kamu mengenal dokter Nisa?" tanya Samuel menatap Nathan uang tidak terluka sedikitpun.


"Dia adalah wanita pertama yang aku cintai." Nathan duduk di sofa.


Samuel merapikan kemejanya, mengambil tisu untuk membersihkan darah di sudut bibirnya.


"Jadi wanita yang dia sembunyikan selama ini adalah dokter Nisa." gumam Samuel.


"Aku tidak tahu mereka memanggil dokter Nisa untuk melakukan operasi bedah Otak." Samuel membuka lemari pendingin dan mengambil 2 buah minuman kaleng.


Samuel memberikan satu kaleng minuman dingin Kepada Nathan. Memperhatikan wajah frustasi Nathan.


"Ada apa dengan dirimu? Hari ini aku benar-benar sial." ucap Samuel tersenyum.


"Aku berusaha mencari obat untuk Nisa, ia dalam keadaan tidak sehat." Nathan mengambil dan membuka minuman kaleng. Meneguk habis minuman.


"Apa maksud kamu?" Samuel menepuk pundak Nathan, ia tidak marah sama sekali kepada Nathan.


"Aku tetap mencintai Nisa walaupun dia telah menikah dengan Stevent, aku menyayangi Nisa." ucap Nathan lembut.


"Akhirnya, ia mengatakan siapa wanita yang ia cintai dan wanita yang sama dengan yang telah meluruhkan hatiku dan putriku." Samuel menarik nafas panjang dan membuangnya.


"Apa yang akan kamu lakukan, apakah kamu perlu bantuan ku?" tanya Samuel.


"Ya, bisakah kamu kembali ke laboratorium bersamaku?" tanya Nathan.


"Aku sudah lama tidak menggunakan jas laboratorium." ucap Samuel.


Nathan beranjak dari kursi dan memandang ke luar dinding kaca. Ia melihat seorang wanita sedang mendorong kursi roda.


"Dokter Aisyah." Nathan tersenyum puas, ia ingat Aisyah telah berhasil menyelamatkan Nisa.


"Siapa?" tanya Samuel berjalan mendekati Nathan.


"Pertemukan aku dengan wanita itu." ucap Nathan.


Samuel melihat wanita berjilbab, ia tidak mengenalinya.


"Aku tidak mengenalinya." ucap Samuel.


"Dia seorang ahli kimia dan pengobatan tradisional, dia bersembunyi di desa terpencil." Nathan tersenyum, ia yakin dengan bekerjasama dengan Aisyah mereka bisa menemukan formula yang hebat tanpa efek samping.


"Benarkah, berarti dia wanita yang luar biasa." Samuel merangkul pundak Nathan.


"Tentu saja, dia bahkan bisa membuat penawar untuk racun yang aku buat." ucap Nathan kagum.


"Nisa masih punya harapan untuk sembuh." Nathan tersenyum.


"Ah, apakah dia masih sendiri?" Samuel bersemangat.


"Aku tidak tahu, carilah kesempatan untuk bertemu dengan dirinya." Nathan mengambil jas dan menggunakannya.


"Hey kamu mau kemana?" tanya Samuel.


"Aku mau bertemu dokter Nada, dia pasti bisa mempertemukan aku dengan Dokter Aisyah.


Nathan bersemangat.


"Sorry for today." Nathan meninggalkan Samuel.


"Andai kita bertemu bersama dengan Nisa, aku tidak akan mampu bersaing dengan dirimu." Samuel tersenyum dan meringis menahan sakit di bibir dan perutnya.


***


**


*


Terimakasih telah membaca Karya Author


*


**


***


Mohon dukungannya untuk selalu memberikan Like Komentar Vote dan Bintang 5 😘 Terimakasih


Semoga Readers semua selalu dalam keadaan sehat dan mendapatkan rezeki yang berlimpah Aamiin 😇

__ADS_1


Love You Readers 💓 Thanks for Reading 😊


__ADS_2