
Stevent memasuki ruangannya , ia melihat Jhonny telah duduk di kursi kerja dan fokus dengan pekerjaanya.
“Selamat pagi Tuan.” Jhonny berdiri menyambut kedatangan Stevent.
“Kirimkan semua informasi yang kamu dapat kepada diriku!” Stevent membuka jasnya dan mengaktifkan layar computer.
“Sudah Tuan.” Jhonny kembali duduk di kursinya.
“Siapa Zayn?” Stevent membuka kotak masuk di layar komputernya.
“Seorang pengusaha seklaigus dosen dan menyukai nona Viona.” Jhonny berjalan kearah Stevent.
“Apakah dia benar – benar menyukai Viona?” Stevent menatap tajam pada Jhonny.
“Saya tidak tahu, tetapi berdasarkan penyelidikan saya, Tuan Alexander akan melakukan pernikahan bisnis.” Jhonny melihat layar tapnya.
“Pernikahan bisnis, apa yang papa rencankan?” Stevent memperhatikan semua informasi yang tertera di layar computer.
“Zayn memaksa Viona untuk menjadi kekasihnya.” Stevent melihat kepada Jhonny.
“Seperti yang anda lakukan pada Nyonya Nisa.” Jhonny membalas tatapan Stevent tanpa ekspresi.
“Haruskah kamu mengingatkan diriku?” Stevent menatap Jhonny dengan tatapan tajam.
“Maafkan saya Tuan.” Jhonny menunduk.
“Jhonny, apakah Viona sedang menerima hukuman dari perbuatan ku?” Stevent menatap Jhonny.
“Maksud Anda hukum karma?” Jhonny bali bertanya.
“Tidak akan aku biarkan, aku akan menikahkan Viona dengan pria terbaik sesuai keinginan Viona.” Stevent tersenyum.
“Apakah nona Viona telah memiliki calon?” tanya Jhonny.
“Dia menyukai Fauzan.” Stevent memijit batang hidungnya.
“Usia mereka berbeda jauh Tuan.” Jhonny duduk di Sofa.
“Semuanya berbeda jauh, Viona tidak akan bisa menggapai Fauzan, dia akan menertawakan diriku.” Stevent menarik napas panjang.
“Selera nona Viona sangat bagus seperti anda Tuan.” Jhonny membuka berkas yang tersusun di atas meja.
“Lupakan masalah Viona, bagaimana dengan perusahaan Papa?” Stevent beranjak dari kursinya dan duduk di sofa depan Jhonny.
“Beberapa perusahaan telah kembali berjalan, Tuan Alexander juga telah menjalin kerjasama dengan Tuan Nero Aguero.” Jhonny sangat serius tidak ada yang terlewatkan.
“Apa papa benar – benar mau menghancurkan perusahaan kita?” Stevent tersenyum. Jhonny hanya terdiam, ia melirik Stevent.
“Kapan Kenzo akan kembali?” Stevent beranjak dari sofa dan memakai jasnya.
“Saya belum mendapatkan kabar Tuan.” Jhonny memperhatikan Stevent yang siap pergi.
“Kenzo sangat beruntung mendapatkan seorang putri tapi apa menurut kamu Ayesha secantik Nisaku?” Stevent tersenyum.
“Berdasarkan penelitian beberapa agen yang penasaran dengan wajah Tuan Putri Ayesha mengatakan, dia sangat cantik.” Jhonny menatap Stevent.
“Kamu luar biasa tidak ada yang tidak kamu ketahui.” Stevent tersenyum.
“Saya selalu mencari informasi semua orang yang berada disekeliling anda Tuan.” Jhonny beranjak dari sofa.
“Kita pergi mengunjung pabrik Kenzo.” Stevent berjalan meninggalkan ruangan kerja dan diikuti Jhonny.
***
Nisa dan Viona berjalan bersama menuju taman untuk menghirup udara segar, mereka bosan berada di dalam kamar sepanjang hari.
“Kak, ketika Kak Stevent memaksa kakak menerima cintanya, apa kakak membencinya?” Viona menatap Nisa yang duduk di bawah pohon.
“Aku benci dengan Stevent ketika dia terus mendekatkan dirinya kepada diriku dan menyentuh ku secara paksa, aku sangat membencinya tetapi aku memaklumi itu karena waktu itu kakakmu bukan seorang muslim.” Nisa tersenyum.
“Apakah aku sedang dihukum Tuhan karena perbuatan kak Stevent kepada kak Nisa?” Viona menatap Nisa.
“Apa maksud kamu Viona?” Nisa mengengam tangan Viona.
“Prof Zayn memaksa diriku untuk menjadi kekasihnya, seperti kak Stevent memaksa kak Nisa dulu.” Viona terlihat khawatir.
“Kadang, hukuman tidak diberikan kepada kita tetapi kepada orang yang kita sayangi.” Nisa menarik napasnya.
Semua yang dikatakan Viona benar, setiap perbuatan pasti akan mendapatkan balasan yang setimpal baik atau buruknya agar manusia menyadari kesalahan mereka dan bisa memperbaiki diri menjadi manusia yang lebih baik.
“Apa yangharus aku lakukan, aku bahkan tidak mengenal Prof Zayn.” Viona merebahkan kepalanya di pundak Nisa.
“Berdoa dan berusaha.” Nisa mengusap tangan Viona dengan lembut.
“Bagaimana cara aku berdoa dan berusaha?” Viona menatap Nisa.
“Usaha pertama kamu telah meminta bantuan kakak kamu dan berdoalah dalam sepertiga malam, Sholat tahajut dengan khusyuk memintalah kepada Allah, Insya Allah akan Allah kabulkan.” Nisa menyentuh pipi mulus Viona.
“Terimakasih Kak.” Viona memeluk Nisa.
“Tenangkan hatimu mengadulah kepada Allah dalam sujud.” Nisa mengusap punggung Viona.
“Apa kabar Mama dan Papa?” Nisa melepaskan pelukannya.
“Mereka baik.” Viona tersenyum.
Ponsel Nisa bordering dari saku gamisnya, ia melihat sebuah nomor yang sudah sangat lama tidak menghubungi dirinya.
“Siapa Kak?” tanya Viona.
‘Papaku.” Nisa tersenyum, ia menggeserkan icon hijau untuk menerima panggilan.
“Halo Papa, apa kabar?” Nisa menjawab panggilan.
“Sayang, kamu dimana papa telah berada di hotel dekat pesantren kamu.” Suara lembut yang cukup membuat Nisa rindu walaupun mereka tidak dekat karena pria itu adalah Papa kandungnya.
“Nisa di rumah sakit Pemerintah, tidak jauh dari tempat papa menginap.” Nisa sangat senang bis abertemu dengan papanya.
“Baiklah sayang, papa akan segera kesana.” Papa mengakhiri panggilan dan menuju rumah sakit.
Papa Mark keluar dari hotel, ia cukup lelah baru saja datang dari Jepang, tetapi ia sangat merindukan putrinya, Papa Mark melihat seorang wanita yang tidak asing keluar dari pesantren menuju mobilnya di pinggir jalan.
__ADS_1
“Maria.” Mark berteriak dan berlari kearah Maria.
“Mark, apa yang kamu lakukan disini?” Maria memandang pria yang tidak pernah berubah tetap tampan dan menawan.
“Aku mau mengunjungi putriku.” Mark menatap wanita yang sangat ia cintai.
“Aku juga mau mengunjungi Nisa, bagaimana jika kita pergi bersama?” Maria tersenyum.
“Tentu saja, aku baru saja akan memanggil taksi.” Mark tersenyum.
“Masuklah!” Maria membuka pintu untuk dirinya.
“Biarkan aku yang mengemudi.” Mark menahan tangan Maria.
“Baiklah.” Maria tersenyum dan bertukar tempat dengan Mark.
Mobil Maria melaju menuju rumah sakit yang tidak jauh dari pesantrean, mereka berdua hanya terdiam selama berada di dalam mobil.
Keduanya tidak bercerai dan tidak ada yang menikah lagi, masih setia pada diri sendiri untuk tetap menyendiri, Mark tidak mengerti apa yang dipikirkan Maria sedangkan dirinya masih tetap mencintai Maria.
Mark dan Maria melangkahkan kakinya bersama menuju taman, untuk bertemu putri mereka yang sangat dirindukan.
“Nisa.” Mark dan Maria bersama memanggil Putri mereka yang tersenyum melihat papa dan mamanya berjalan bersama dan sangat kompak, ia sangat bahagia jika Papa dan Mamanya bisa kembali bersama.
“Mama, Papa.” Nisa beranjak dari kursi dan memeluk Mama dan Papanya begantian.
“Sayang, kandungan kamu sudah sangat besar.” Mama Maria mengusap perut Nisa.
“Iya Ma, Nisa akan segera melahirkan.” Nisa tersenyum menatap wajah cantik mamanya.
“Sayang, kemarilah Papa sangat merindukan putri papa.” Mark memeluk Nisa sangat erat.
“Apa kabar kamu sayang, papa akan di sini menemani kamu hingga melahirkan.” Papa Mark mengusap kepala Nisa.
“Pa, Ma, perkenalkan Viona, adik Stevent.” Nisa menarik tangan Viona.
“Ah, kamu sangat cantik seperti Veronika.” Mark tersenyum.
“Terimakasih Om dan Tante.” Viona tersenyum.
“Kak, aku jalan – jalan di sekitar rumah sakit, kakak bisa bersama dengan Om dan Tante.” Viona tersenyum.
“Tak apa Viona.” Nisa tersenyum.
“Aku hanya mau berkeliling.” Viona tersenyum melihat Nisa berada diantara papa dan Mamanya.
“Jangan keluar dari lingkungan rumah sakit!” Nisa tersenyum.
“Tentu saja.” Viona melambaikan tangannya berjalan ke atap rumah sakit, ia mau melihat lantai kosong yang sedang di bangun taman.
Ponsel Viona berdering sebuah nomor baru muncul di layar ponselnya, Viona menerima panggilan tanpa bersuara.
“Halo Viona.” Suara yang sangat Viona kenal.
“Prof.” Suara Viona lembut penuh rasa khawatir.
“Panggil diriku Zayn ketika kita tidak di kampu,” ucap Zayn.
“Ah, ya Tuhan.” Ponsel Viona terjatuh ke lantai, sepasang tangan kekar memegang pinggang ramping Viona dari belangkang.
“Hati – hati Nona.” Suara lembut terdengar dari belakng Viona dan berusaha menarik tubuh Viona agar bisa berdiri tegak.
“Terimakasih, maafkan saya.” Viona menatap wajah tampan yang pernah sekali ia lihat di pesantren dengan tubuh seksi bersama Kenzo dan Stevent.
“Apa anda baik – baik?” Samuel menatap mata biru Viona yang telah menghadap dirinya dengan tangan Samuel masih di pinggang Viona.
“Saya baik, terimakasih.” Viona mundur beberapa langkah karena wajah mereka terlalu dekat.
“Apa kita pernah bertemu?” Samuel memandang wajah cantik Viona.
“Ya, satu kali di pesantren.” Viona mencari ponselnya.
“Apa yang kamu cari?” Samuel berjalan mendekati Viona.
“Ponselku.” Viona melihat sekeliling.
“Ini.” Samuel menyerahkan ponsel yang masih aktif sehingga Zayn dapat mendengarkan semua percakapan Samuel dan Viona.
“Terimakasih.” Viona mengambil ponselnya.
“Ikatlah tali sepatu kamu.”Samuel melihat tali sepatu Viona yang terlepas.
“Ah ya.” Viona segera mengikat tali sepatunya dan meletakkan ponsel di telinganya.
“Halo Viona, siapa itu?” Suara Zayn terdengan emosi.
“Aku tidak tahu, aku tidak sengaja menabraknya dan ponselku terjatuh.” Viona berjalan menjauhi Samuel.
“Dimana kamu?” tanya Zayn.
“Apa?” Viona terkejut, tidak mungkin ia mengatakan dirinya berada dirumah sakit.
“Kamu dimana Viona, aku akan menemui dirimu.” Zayn menekankan suaranya.
“Aku di minimarket dan aku bersama supir.” Viona gugup, ia segera turun dari atas gedung.
Samuel memperhatikan Viona yang terlihat tergesa – gesa dan berbohong kepada orang yang menghubunginya.
Viona segera mematikan ponselnya dan tidak mengaktifkannya lagi, ia berharap Zayn akan bepikir ponselnya kehabisan batre.
Kaki Viona sangat lelah berlari turun dari atas gedung, ia duduk di koridor rumah sakit dan mengatur napasnya.
“Aku tidak akan mengaktifkan ponselku untuk hari ini, aku benar – benar takut kepada Zayn.” Viona kembali melanjutkan langkah kakinya menuju taman.
Ia melihat Nisa yang tersenyum bahagia diantara Papa dan Mamanya, penuh kasih sayang dan perhatian.
“Papa Kak Nisa sangat menyayanginya, itu terlihat jelas.” Viona duduk di bawah pohon melihat kebahagian Nisa.
“Kak Nisa selalu bertemu dengan orang – orang yang mencintai dan menyayanginya.” Viona terlihat sedih, ia sangat berharap bisa mendapatkan cinta kasih luar biasa seperti Nisa.
Papa Mark memeluk Nisa, ia akan kembali ke Hotel untuk beristirahat karena akan melakukan pertemuan Bisnis dengan perusahaan Stevent besoknya.
__ADS_1
“Papa sangat menyayangi dirimu.” Papa Mark memeluk dan mencium dahi Nisa tak ingin ia lepaskan.
Seorang pria tampan mengepalkan tangannya menahan cemburu melihat Papa Mark yang terus memeluk dan mencium Nisa. Stevent melangkahkan kakinya dengan cepat dan menarik tubuh Nisa dalam pelukannya.
“Sayang, aku sangat merindukan dirimu.” Stevent memeluk Stevent dan mengusap dahi Nisa membersihkan bekas ciuman Papa Mark.
“Halo Stevent, Apa kabar?” Papa Mark tersenyum, ia telah paham dengan tingkah cemnuru berlelebihan.
“Halo Papa.” Stevent mengulurkan tangannya dan berjabat tangan dengan Papa Mark.
“Halo Mama Maria.” Stevent mengulurkan tangannya kepada Mama Maria yang hanya melihat tidak suka kearah Stevent.
“Ma.” Nisa menarik tangan Mama Maria.
Stevent menatap Mama Maria, ia bisa melihat tatapan tidak suka dari Mama Maria kepada dirinya yang Stevent tidak tahu apa penyebabnya.
“Baiklah, Stevent saya harus kembali ke hotel untuk beristirahat.” Papa Mark mengusap kepala Nisa.
“Hati – hati Pa.” Nisa tersenyum.
“Mama akan mengantar papa.” Mama memeluk dan mencium dahi Nisa.
“Dah Ma.” Nisa melambaikan tangannya.
“Sayang, berapa kali papa Mark memeluk kamu dan dimana saja dia mencium dirimu?” Stevent mengambil saputangan dari saku celananya dan mengusap wajah Nisa.
“Sayang, Papa Mark adalah Papaku.” Nisa menahan tangan Stevent.
“Tidak ada yang boleh mencium dirimu lebih dari satu kali, katakan kepada Papa Mark satu kali saja.” Stevent mencium dahi, pipi kiri dan kanan, dua mata dan hidung Nisa.
“Baiklah Sayangku.” Nisa memeluk Stevent.
“Dimana Viona?” tanya Stevent.
“Aku di sini.” Viona berjalan mendekati Stevent dan Viona.
“Apa kamu tidak pulang?” Stevent memeluk Nisa dari belakang meletakan dagunya di atas pundak Nisa.
“Apa aku boleh tidur di sini?” Viona tersenyum.
“Jika kamu mau menjadi penonton kemesraan aku dan Nisa.” Stevent tersenyum dan mencium pipi Nisa.
“Aku pulang sekarang.” Viona cemberut.
“Kemarilah.” Nisa melepaskan tangan Stevent dan memeluk Viona.
“Sebentar saja.” Stevent melihat Nisa.
“Hati – hati di jalan.” Nisa mengusap kepala Viona.
“Terimakasih kak.” Viona tersenyum.
“Sayang, berikan pelukan untuk Viona!” Nisa menarik tangan Stevent dan memeluka Viona.
“Aku akan mencari tahu tentang Zayn,” bisik Stevent di telinga Viona.
“Terimakasih kak.” Viona memeluk erat Stevent merasakan kekuatan yang Stevent berikan untuk dirinya.
“Pulanglah dan jangan pergi keluar apalagi bersama pria asing.” Stevent melepaskan pelukannya.
“Tidak, aku tidak akan melakukannya lagi.” Viona gugup, ia berpikir pasti Fauzan telah bercerita kepada Stevent ketika ia keluar bersama Valentino.
Viona meninggalkan Nisa dan Stevent, berjalan menuju parkiran mobil, ia sangat takut akan diintrogasi oleh Papa Alexander karena hari sudah sangat petang.
“Sayang, apa kamu sudah mandi?” Stevent berbisik di telingan Nisa.
“Aku menunggu dirimu untuk mandi bersama.” Nisa memutar tubuhnya menghadap Stevent.
“Hari sudah sangat petang, sebaiknya kita mandi.” Stevent membawa tiang infus.
Stevent membantu memandikan Nisa yang kesulitan untuk bergerak karena perutnya yang terus membesar dari ukuran normal dengan ada dua calon bayi.
“Sayang, apa kamu tidak lelah?” Nisa menatap wajah tampan suaminya.
“Menghabiskan waktu bersama dirimu adalah obat dari semua kelelahanku.” Stevent mencium dahi Nisa.
“Pejamkan matamu, aku akan membersihkan wajah cantik istriku.” Stevent tesenyum dan menyentuh wajah mulus Nisa.
“Kamu benar – benar cantik.” Stevent mengusap wajah Nisa dengan sabun wajah.
“Aku harus memandikan bayiku.”Stevent mengusap perut Nisa dengan sabun.
“Menyenangkan sekali, kita berempat mandi bersama.” Stevent tersenyum bahagia dan tertawa sehingga wajahnya semakin tampan.
“Seringlah tersenyum dan tertawa.” Nisa menyentuh pipi Stevent.
“Kenapa?” Stevent menatap Nisa.
“Senyuman dan tawa kamu sangat manis dan menambah ketampanan dirimu.” Nisa tersenyum.
“Aku hanya akan tersenyum dan tertawa bersama kamu dan anak – anak kita.” Stevent mencium sekilas bibir Nisa.
Stevent mengeringkan rambut dan tubuh Nisa hingga memakaikan baju tidur Nisa dan mengantarkan ke tempat tidur.
"Sayang terima kasih, kamu adalah suami yang sempurna." Nisa menyentuh pipi Stevent dan mengecup bibir suaminya.
"Karena kamu adalah Istri yang sangat aku cintai, aku harus menjadi suami sempurna untuk dirimu, agar tidak ada pria lain yang bisa menyaingi diriku." Stevent membalas kecupan Nisa.
Menu berbuka dan makan malam lengkap diantarkan langsung ke kamar dan ditata rapi di atas meja makan.
Kebahagian terindah bagi Stevent adalah terus bersama Nisa, wanita yang sangat ia cintai dan sayangi untuk yang pertama dan terakhir dalam hidupnya.
***Baca juga Novel baru Author***
(Cari : AnnaLee di aplikasi Joy lada)
Mohon dukungnnya berikan like, Komentar, bintang 5 dan Vote. Terimakasih
Baca juga Novelku “Arsitek Cantik”
Novel Kakakku “Nyanyian Takdir Aisyah dan Cinta Bersemi di Ujung Musim.” (Fitri Rahayu), Terimakasih.
__ADS_1
Semoga kita semua dalam keadaan sehat dan selalu mendapatkan perlindunganNya, Aamiin.