
Fauzan dan Asraf berjalan menuju pesantren, mereka akan memberikan bantuan untuk para santri dan santriwati sebelum pergi ke desa.
Viona sedang bermain bersama santriwati di bawah pohon, lukanya telah membaik, ia hanya syok saja melihat darah dan ketakutan karena memecahkan perobatan restoran sehingga membuat Viona pingsan.
"Apakah pesantren ini milik anda Tuan?" tanya Asraf mengikuti langkah kaki Fauzan menuju rumah Abi.
"Ini adalah tempat Kenzo dibesarkan." Fauzan tersenyum dan mengucapkan salam ketika telah berada di depan pintu. Umi membuka pintu dan tersenyum menjawab salam Fauzan.
"Umi, saya mengantarkan keperluan sekolah untuk santri dan santriwati." Fauzan tersenyum.
"Terimakasih, masukan saja ke gudang penyimpanan dan akan dibagikan ketika benar-benar dibutuhkan." Umi keluar dari rumah dan berjalan bersama menuju pesantren.
Umi meminta bantuan para pengajar dan petugas pesantren untuk memindahkan barang-barang yang Fauzan berikan dari mobil ke dalam gudang penyimpanan.
Fauzan tersenyum melihat Viona yang sedang tertawa dan bermain bersama santriwati. Dia seperti gadis remaja yang tidak pernah menikmati masa kecilnya.
"Dia terlihat bahagia ketika bersama anak kecil." Fauzan tersenyum.
"Berdasarkan informasi yang saya dapatkan, Nona Viona tidak mempunyai teman, ia selalu dikekang selain itu semua temannya palsu, mendekati Nona Viona hanya untuk mendapatkan perhatian Stevent, teman pertama yang ia percaya adalah Dokter Nisa istri dari tuan Stevent." Asraf membaca informasi yang ada pada layar ponselnya.
"Luar biasa, apa kamu menyukainya?" Fauzan tersenyum kepada Asraf.
"Saya mencari informasi untuk anda Tuan dan untuk saat ini wanita yang aku sukai adalah kakak ku sendiri." Asraf tersenyum.
"Kamu tidak boleh menyukai kakak kandung kamu." Fauzan menatap tajam kepada Asraf.
"Maksudnya, saya akan menyukai wanita seperti kakak saya." Asraf tersenyum.
"Kamu membuat saya penasaran saja." Fauzan menepuk pundak Asraf.
"Alhamdulillah." Asraf tersenyum.
Viona menaiki ayunan dan melambung tinggi, anak-anak keasyikan mengayun Viona, hingga terus melayang di udara, ia bisa melihat Fauzan dan Asraf berjalan ke arah dirinya bersama Umi.
Jilbab Viona melambai-lambai, dengan tunik menutupi tubuh hingga lutut dan celana jeans panjang pas di badannya.
Viona ingin menghentikan ayunan dan bertemu dengan Fauzan, tetapi anak-anak terus menarik tali sehingga ayunan semakin kencang.
"Hentikan ayunan aku mohon." Viona merasa mual ketika melihat ke bawah, ia baru menyadari bahwa ayunan sudah sangat tinggi.
"Hentikan." Viona berteriak mengejutkan Fauzan dan Asraf.
Dengan cepat Asraf berlari melewati Fauzan, menghentikan ayunan dan menangkap Viona yang terjatuh karena tubuhnya yang tidak stabil.
Viona memuntahkan semua isi perutnya, Asraf mengambil saputangan dari saku jasnya dan memberikan kepada Viona. Seorang anak kecil memberikan air putih kepada Viona.
"Apa kamu baik-baik saja?" Asraf menatap khawatir pada Viona.
"Terimakasih." Viona mengelap mulutnya dengan saputangan Asraf yang mencari pasir untuk menutupi muntah Viona.
Fauzan memperhatikan Viona dan Asraf dari jauh dan tersenyum, ia melanjutkan langkah kakinya menuju gudang penyimpanan barang-barang pemberian dari donatur untuk pesantren.
"Jika kamu tidak bisa bermain ayunan sebaiknya jangan dilakukan karena akan membuat dirimu tidak nyaman dan sakit." Asraf menatap Viona.
Viona merasa lebih nyaman, ia melihat pria yang telah menyelamatkan dirinya dan melihat kekonyolan yang ia lakukan, itu sangat memalukan.
Wajah Viona memerah dan terasa panas, pria asing di depannya telah melihat dua kali kebodohan yang ia lakukan untuk dua kali pertemuan.
"Memalukan, usianya pasti masih muda tetapi ia terlihat dewasa seperti Fauzan." Viona tersenyum kecut, ia benar-benar sangat malu.
"Maafkan aku telah merepotkan Anda." Viona beranjak dari tanah tetapi ia merasakan kakinya sakit hingga terjatuh dan memeluk Asraf.
"Ah tidak, apa yang aku lakukan, aku benar-benar bodoh." Viona berbicara di dalam hati dan melotot melihat wajah tampan Asraf. Ia berada di atas tubuh Asraf yang terbaring di atas tanah karena ditimpa Viona.
"Apa kamu bisa bergeser kesamping?" Asraf menatap mata biru Viona.
__ADS_1
"Apa, ah iya, aku, aku." Viona gugup ia duduk di atas tubuh Asraf dan mengangkat tangannya.
"Bisakah kamu turun dari tubuhku?" Asraf masih terbaring, ia tidak bisa bergerak karena tubuh Viona.
"Maaf, maafkan aku." Viona bergeser kesamping dan tertunduk malu, wajahnya memerah.
"Apa kaki kamu sakit?" tanya Asraf lembut dan Viona mengangguk tanpa melihat Asraf.
"Tunjukkan kepada diriku!" Asraf meminta melihat kaki Viona.
"Tidak apa-apa." Viona tetap menunduk.
"Mungkin aku bisa mengobatinya, semua keluarga saya bisa mengurut kaki yang keseleo bahkan patah." Asraf menarik kaki Viona dan melihat warna merah pada pergelangan.
"Apakah ini sakit?" tanya Asraf dan Viona meringis.
"Tahanlah sedikit!" Asraf menatap Viona.
"Hm." Viona mengangguk.
"Aaarrg." Viona berteriak mengejutkan semua orang, air mata mengalir membasahi pipinya.
"Bagaimana sekarang?" tanya Asraf melihat Viona menutup mulutnya.
Fauzan berlari kearah Viona dan Asraf, melihat Asraf memegang dan memijit kaki Viona.
"Apa yang terjadi?" tanya Fauzan.
Melihat Fauzan datang, Viona menarik kakinya dari tangan Asraf dan menjauhkan diri.
"Kaki Nona Viona terkilir tetapi saya telah mengobatinya, dan sekarang baik-baik saja." Fauzan berdiri.
"Cobalah untuk berdiri!" Fauzan menatap tajam kepada Viona.
"Bagaimana, apakah masih sakit?" tanya Asraf lembut dan melepaskan pegangannya.
"Tidak, terimakasih atas bantuan kamu." Viona menggoyangkan kakinya.
"Syukurlah." Asraf tersenyum.
"Sebaiknya kamu beristirahat agar tidak menambah cedera pada tubuh kamu yang ceroboh!" Fauzan menatap tajam kepada Viona.
"Baiklah." Viona menunduk, ia sangat sedih selalu mengacaukan pertemuan dirinya dengan Fauzan.
"Bodoh-bodoh." Viona memukul kepalanya dan berjalan menuju rumah Abi dan Umi.
Fauzan heran kenapa setiap kali bertemu dengan Viona selalu ada kejadian yang tidak terduga. Pertama kali mereka bertemu Viona hampir menabraknya dengan mobil.
"Bagaimana Stevent mendidik adiknya sehingga menjadi gadis yang sangat ceroboh." Fauzan memijit batang hidungnya.
"Ada apa Tuan?" tanya Asraf.
"Ini adalah akibat salah asuh." Fauzan mengusap wajah dengan kedua tangannya.
"Sebaiknya kita kembali ke hotel untuk beristirahat dan besok melakukan perjalanan ke desa kamu." Fauzan berjalan menuju mobilnya.
"Baik Tuan." Asraf bersemangat senyuman kebahagiaan terlihat jelas di wajahnya.
Viona mengintip dari balik kaca kamar Nisa yang berada di lantai atas, ia melihat kepergian Fauzan dan Asraf dengan perasaan kacau.
Viona sangat kesal dengan semua kecerobohan dan kebodohan yang ia lakukan, rasanya ia hanya pintar di kampus saja tetapi tidak dalam kehidupan sehari-hari dan percintaan.
***
Roy berkeliling desa, ia benar-benar mendapatkan apa yang ia inginkan, latar dalam foto semua ada di desa Sinjay. Ia harus melihat pakaian yang Afifah gunakan setiap harinya untuk meyakinkan dirinya bahwa wanita dalam foto adalah Afifah.
__ADS_1
Roy mengendarai motor warga dan berhenti tepat di sebuah rumah yang menjadi salah satu latar dalam foto, seorang warga mengapa Roy.
"Ada yang bisa saya bantu Tuan?" tanya pria itu dengan ramah.
"Rumah siapa ini?" tanya Roy penasaran.
"Ini adalah rumah Bu guru Afifah." Pria itu tersenyum dan melewati Roy yang terdiam. Kini ia yakin wanita yang disukai Candra adalah Afifah.
"Sepertinya usia Afifah di atas Candra." Roy turun dari motor dan melihat sekeliling rumah.
"Ia tinggal sendirian di rumah yang sederhana tetapi indah."Roy tersenyum dan meninggalkan rumah Afifah kembali ke rumah dokter Riyan.
Nathan duduk di teras rumah Dokter Riyan, ia terlihat betah tinggal di desa dan belum ada niat untuk pulang.
"Kamu dari mana Roy?" Nathan menatap tajam pada Roy.
"Aku hanya berkeliling." Roy tersenyum, ia tidak ingin memberitahu kepada Nathan bahwa wanita yang mereka cari adalah Afifah.
"Oh, apakah kamu sedang mencari kekasih sementara di desa ini?" Nathan tersenyum.
"Tidak Tuan, jika aku menyukai wanita aku akan langsung menikahinya." Roy tersenyum dan duduk di samping Nathan.
"Aku juga akan melakukan hal yang sama." Nathan tersenyum.
"Gadis di desa ini sangat cantik dan ramah." Roy melihat beberapa wanita yang lewat di depan mereka dan tersenyum.
"Inilah bedanya gadis kota dan desa, lihatlah pakaian sederhana dan tertutup itu, benar-benar gadis desa yang mempesona." Nathan tersenyum yang ia bayangkan adalah Afifah.
Nathan melirik jam berwarna hitam di tangan kirinya, ia menunggu waktu Afifah pulang dari sekolah dan berharap bisa berkencan di desa.
"Bagaimana tangan anda Tuan?" tanya Roy melihat tangan Nathan yang dipasang gips.
"Aku baik-baik saja." Nathan tersenyum dan melihat tangannya.
"Ah, bagaimana hasil penyelidikan foto wanita itu, aku sangat yakin kamu tidak pernah gagal." Nathan menatap Roy yang tampak gugup dan terkejut.
"Maafkan aku yang telah melupakan tugas utama ku." Roy menunduk.
"Tidak apa, lupakan saja wanita itu, bersantailah selama di desa dan kita akan kembali bekerja ketika sudah berada di kota." Nathan tersenyum, pria yang sedang jatuh cinta terlibat bahagia.
"Baik Tuan terimakasih." Roy tersenyum.
"Aku akan jalan-jalan pada pukul dua siang, kamu jangan mengikuti diriku." Nathan masuk ke dalam rumah meninggalkan Roy.
"Sampai kapan aku harus menyembunyikan Afifah adalah wanita yang ada di ponsel Candra?" Roy menarik napas dalam-dalam dan membuangnya, ia menyenderkan tubuhnya di kursi dan memejamkan matanya.
"Apa yang akan Nathan lakukan kepada dirimu, gadis desa yang tidak tahu apa-apa?" Roy mengacak rambutnya, ia bahkan harus menyembunyikan rasa sukanya kepada Afifah.
Senyuman dan kelembutan Afifah telah membuat Roy jatuh cinta pada pandangan pertama. Roy sangat dilema dengan perasaannya. Yang harus ia lakukan adalah segera mengajak Nathan kembali ke kota agar menjauh dari Afifah. Cepat atau lambat Nathan akan berusaha mencari wanita pada foto.
Roy membuka layar ponselnya dan melihat lekat pada foto wanita yang membelakangi kamera yang selalu menutup wajahnya.
"Kenapa kamu harus berhubungan dengan Candra dan berada dalam bahaya?" Roy berbicara pada dirinya sendiri.
"Mungkin Afifah tidak mengenal Candra sehingga ia tidak merasa kehilangan atau Candra adalah pria yang mengagumi Afifah seperti diriku." Ada banyak pertanyaan yang mengganggu pikiran Roy.
***
Mohon dukungnnya berikan like, Komentar, bintang 5 dan Vote. Terimakasih.
Baca juga Novel Author berjudul “Arsitek Cantik” dan "Mengejar Cinta Ariel"
Novel Kakakku “Nyanyian Takdir Aisyah dan Cinta Bersemi di Ujung Musim.” (Fitri Rahayu). Terimakasih.
Semoga kita semua dalam keadaan sehat dan selalu mendapatkan perlindunganNya, Aamiin.
__ADS_1