Cinta Untuk Dokter Nisa

Cinta Untuk Dokter Nisa
Cemburu Anak Nakal


__ADS_3

Laboratorium Aisyah.


Aisyah bekerja dengan sangat serius, ia telah berhasil membuat formula penetral racun dengan bahan herbal tanpa efek samping dalam bentuk cairan, ia butuh kemasan yang lebih efektif seperti kapsul agar bisa digunakan kapan saja.


“Aku butuh Nathan, pria itu memiliki segalanya.” Aisyah duduk memperhatikan formula miliknya.


“Semua orang yang ada disekitarku gila kerja.” Jhonny menyenderkan tubuhnya di depan pintu memperhatikan Aisyah yang tidak memperdulikan dirinya.


“Ah Nathan kamu dimana?” Aisyah berteriak dan mengambil ponselnya, mendengarkan nama pria lain yang disebutkan Aisyah membuat mata Jhonny melotot karena terkejut dan cemburu.


“Apa? Dia memikirkan pria lain sedangkan diriku meikirkan dirinya setiap detik.” Jhonny berjalan cepat mendekati Aisyah yang sedang melihat layar ponselnya mencari kontak Nathan. Ia menarik tangan Aisyah hingga ponsel terjatuh kelantai.


“Apa yang kamu lakukan?” Aisyah terkejut, pria itu langsung mencium bibir istrinya dengan kasar.


“Ah tidak, pria ini sedang marah tapi kenapa?” Aisyah berbicara di dalam hatinya, ia meladeni ciuman kasar Jhonny dengan santai.


Tidak sampai diciuman, emosi dan cemburu Jhonny membuat diirnya bernafsu tidak terkontol, tangannya menyobek gamis Aisyah dengan kasar. Menyadari Jhonny menggila Aisyah mendorong tubuh suaminya jatuh kelantai.


“Ada apa dengan dirimu?” Aisyah mulai emosi dan melihat ponselnya tergeletak di lantai.


“Aku cemburu.” Jhonny menatap tajam pada Aisyah.


“Apa kamu cemburu pada tanaman ini?” Aisyah mengangkat tumbuhan yang ada di atas meja.


“Kamu menyebutkan nama pria lain dan akan menghubunginya.” Jhonny menunduk seperti anak kecil dan melakukan kesalahan.


“Ya Tuhan, Kamu seperti anak nakal yang sedang mengamuk?” Aisyah melihat gamisnya sobek dan mengambil ponsel yang tergeletak di lantai.


“Aku butuh bantuan Nathan untuk membuat ramuan ini menjadi sebuah kapsul secara modern.” Aisyah memijit kepalanya dan tersenyum melihat Jhonny yang masih duduk di lantai.


“Sayang, aku tidak akan pernah mencintai pria lain, kamu adalah pria langka yang ada di dunia ini.” Aisyah menyentuh pipi Jhonny.


“Maafkan aku.” Jhonny melihat gamis yang sobek dan bibir bengkak Aisyah.


“Aku tahu kamu sangat merindukan diriku, maafkan aku yang terlalu sibuk.” Aisyah memeluk Jhonny dan mencium bibir pria itu dengan lembut.


“Apa kamu mau bercinta?” Tangan Aisyah bermain ditelinga Jhonny menimbulkan rasa geli dan hasrat pada jiwa pria itu. Dengan cepat ia menggendong tubuh istrinya dan berjalan menuju kamar mereka.


Jhonny membaringkan tubuh Aisyah di tempat tidur, ia menatap tubuh indah dan wajah cantik yang tersenyum menggoda, wanita itu beranjak dari tempat tidur dan membuka hijab dan gamis yang telah sobek.


Tangan lembut Aisyah membuka kancing kemeja Jhonny, melihat wajah tampan yang mulai memerah, ia tidak bisa menahan godaan istrinya yang hanya menggunakan pakaian dalam dan tidak bisa menutupi tubuh seksi berisi.


Jhonny menarik kepala Aisyah dengan jari-jari kekarnya, mencium bibir yang terus menyapa untuk dinikmati di jam makan siang, cacing yang kelaparan terlupakan untuk mengenyangkan hasrat dan menghilangkan dahaga jiwa pada sang pemilik cinta suci dalam ikatan halal.


Jari- jari indah telah berhasil membuka semua kancing kemeja, menyentuh tubuh kekar dengan dada bidang pria yang tidak pernah tersentu selain istrinya, tubuh pria itu semakin bergetar tidak tertahankan untuk melahap tubuh Aisyah.


Pendingin ruangan telah berada pada suhu terendah agar dapat menyeimbangi rasa panas yang hadir dalam tubuh dua sejoli yang telah berada di atas tempat tidur, gerakan, gesekan dan goncangan ditemani irama napas tersengal dan erangan kenikmatan ketika hentakan pada puncak tertinggi surga dunia. Magma panas membanjiri pintu gua Aisyah.


Tubuh basah oleh keringat yang telah mengalahkan dinginnya suhu ruangan, olah raga di siang hari melupakan jam makan siang, pria wajah datar itu tersenyum puas, ia tidak menyangka akan mendapatkan suguhan nikmat dari istrinya yang cantik. Ciuman penutup dan pelukan di bawah guyuran air shower membersihkan diri.


Aisyah lebih dulu menyelesaikan mandi dan turun ke ruang makan, menunggu Jhonny untuk makan siang, tetapi pria itu tidak kunjung turun dara kamar, ia membuka layar ponselnya dan mencari nomor Nathan, wanita itu mau minta bantuan untuk membuat kapsul dari hasil ramuan dirinya.


“Aku harap pria gila ini masih menggunakan nomor yang lama.” Aisyah menekan icon panggilan.


“Assalaamualaikum.” Suara lembut seorang wanita menjawab panggilan Aisyah yang terdiam dan berpikir, setahunya tidak ada yang pernah menyentuh barang pribadi Nathan apalagi seorang wanita.


“Halo, ada yang bisa saya bantu?” tanya Afifah karena tidak ada jawaban salam dari penelpon.


“Waalaikumsalam, maaf, apakah ini nomor ponsel Nathan?” tanya Aisyah.


“Ya, tetapi dia sedang dalam perawatan,” jawab Afifah.


“Anda siapa?” tanya Aisyah.


“Aku entahlah, mungkin aku adalah kekasihnya, wanitanya dan calon istrinya, itu yang sering ia katakan.” Afifah tertawa.


“Apa Nathan telah punya kekasih?” tanya Aisyah.


“Tunggu dulu, apakah kamu gadis yang kecelakaan di depan rumah sakit?” Aisyah mengingat pernah bertemu dengan wanita yang direbut Nathan dari Jhonny.


“Aku tidak tahu tetapi aku pernah kecelakan tertabrak mobil.” Suara Afifah lembut dan polos.


“Siapa nama kamu?” tanya Aisyah.


“Afifah.” Wanita itu merasakan ada kedekatan dengan Aisyah.


“Bagaimana keadaan kamu?” Aisyah yakin Afifah telah diracuni dengan formula hebat yang hanya dimiliki Nathan, pria itu adalah dewanya racun dan obat.


“Aku baik terimakasih, ada yang mau anda pesankan untuk Nathan, akan aku sampaikan.” Afifah berbicara dengan lembut dan sopan.


“Apakah kamu tidak curiga jika seorang wanita menghubungi Nathan?” Aisyah heran, biasanya wanita akan banyak bertanya jika ada wanita lain yang menghubungi kekasihnya termasuk dirinya.


“Tidak, selalu berpikiran baik saja.” Afifah tersenyum.


“Hm, katakan saja pada Nathan dokter Aisyah menghubungi dirinya.” Aisyah merasa tertampar dengan kalimat Afifah.


“Baiklah akan aku sampaikan atau satu jam lagi anda bisa menghubungi Nathan kembali.” Suara Afifah sangat lembut dan tulus.


“Terimakasih.” Aisyah tersenyum, ia yakin wanita itu telah menggeserkan posisi Nisa yang pernah ada di hati Nathan.


“Sama-sama.” Panggilan terputus, Afifah melihat Nathan yang masih tertidur pulas, ia berjalan mendekati pria itu dan duduk di sampingnya.


“Kenapa kita selalu kembali kerumah sakit?” Afifah tersenyum, ia menyadari hari-hari mereka berdua terus berada di rumah sakit.


Roy berdiri di depan pintu, ia membawa tas Afifah yang berisi ponsel dan obat, ia tidak berani mendekati wanita itu karena dilarang Nathan.

__ADS_1


“Roy, kenapa kamu tidak masuk?” Afifah berjalan mendekati Roy.


“Bagaimana kabar Tuan Nathan?” Roy melihat kearah pria yang masih tertidur nyanyak pasca operasi.


“Dia baik, Nathan selalu membawa formulanya.” Afifah tersenyum cantik.


“Kenapa kamu masih berdiri di sana, masuklah.” Afifah membuka lebar pintu.


“Aku hanya mengantarkan tas kamu.” Roy menyerahkan tas punggung pada Afifah.


“Kenapa kamu tidak masuk?” Afifah menatap lembut pada Roy.


“Aku harus kembali ke kota untuk mengurus bisnis Tuan Nathan yang telah lama ia tinggalkan.” Roy melirik Afifah, ia sangat rindu wajah lembut yang sellau tersenyum itu.


“Apakah aku mengacaukan bisnis dan pekerjaan Nathan?” Afifah melihat kearah Nathan.


“Apa, Nathan yang telah mengacaukan kehidupan tenag dirimu.” Roy berbicara di dalam hatinya.


“Ah tidak, ia sering melakukan perjalanan, ada banyak orang yang akan membantu Tuan Nathan.” Roy tersenyum, ia tidak mau membuat Afifah merasa bersalah karena yang salah adalah Nathan.


“Aku pergi sekarang, tolong jaga Tuan Nathan.” Roy pergi meninggalkan ruangan Nathan.


“Afifah.” Suara pria itu serak.


“Ya.” Afifah berjalan mendekati Nathan.


“Kapan aku keluar dari rumah sakit?” Nathan berusaha untuk duduk.


“Kamu harus banyak beristirahat.” Afifah tersenyum.


“Aku tidak perlu beristirahat, kit aharus segera menemui orang tua kamu.” Nathan mau turun dari tempat tidur.


“Apa yang kamu lakukan, duduk dan diamlah di tempat tidur ini!” Afifah menekan tubuh Nathan.


“Kenapa, apa kamu tidak mau bertemu dengan orang tua kamu?” Nathan menatap tajam pada Afifah.


“Aku tidak terburu-buru, yang terpenting kesembuhan dan kesehatan dirimu.” Afifah menutupi ubuh Nathan yang terbuka dengan selimut.


“Aku tidak percaya wanita yang aku cari selama ini ada di depanku dan telah membuat aku jatuh cinta pada dirinya.” Nathan berbicara di dalam hatinya.


“Kenapa kamu melihat diriku seperti itu, jika tidak suka aku akan pergi.” Afifah bersiap menjauh dari Nathan.


“Tidak, jangan pergi dan jangan tinggalkan aku.” Nathan menahan tangan Afifah.


“Menurutlah!” Afifah menatap Nathan dengan lembut.


“Aku akan menurut selama dirimu selalu berada di samping diriku.” Nathan menatap Afifah manja.


“Aku akan selau berada di samping dirimu.” Afifah melepaskan pegangan tangan Nathan.


“Aku tidak akan melepaskan dirimu, walau apapun yang akan terjadi karena kamu adalah milikku.” Nathan tersenyum.


“Apa kamu tidak cemburu?” Nathan menatap Afifah.


“Cemburu? Kenapa?” tanya Afifah bingung.


“Lupakan saja.” Nathan kecewa.


“Hanya aku yang mencintai dirimu tetapi kamu tidak mencintai aku.” Nathan melihat panggilan terakhir.


“Dokter Aisyah.” Nathan melihat Afifah yang kembali duduk di sofa dan memakan makanan yang telah ia pesan dengan ponsel Nathan.


“Apa dia tidak mau bertanya siapa Dokter Aisyah, tidakkah ada cemburu sedikit saja dihatinya?” Nathan cemberut, ia menekan icon panggilan.


“Ada apa dokter Aisyah?” Nathan membuka panggilan dan melihat Afifah.


“Aku butuh bantuan dirimu.” Aisyah berharap Nathan akan mengizinkan dirinya masuk ke laboratorium dan pabrik obat milik Nathan.


“Katakan saja.” Nathan terus memperhatikan Afifah yang sedang menikamti makanan sendirian.


“Aku mau meminta izin kamu masuk laboratorium dan pabrik pembuatan obat milik kamu.” Aisyah sangat berharap bantuan Nathan.


“Apa yang mau kamu lakukan di pabrikku?” Nathan mencurigai Aisyah.


“Aku hanya mau mengemas ramuan yang aku buat menjadi kapsul.” Aisyah kesal.


“Katakan saja, ramuan apa yang kamu mau akan aku berikan dalam bentuk kapsul jadi.” Nathan tidak mau Aisyah mengetahui rahasia di pabriknya.


“Aku mau buatan diriku sendiri.” Aisyah sangat ingin bertemu dengan Nathan.


“Berikan saja ramuan kamu pada Roy, ia akan membawanya ke pabrik.” Nathan tidak akan mengizinkan Aisyah datang ke pabrik.


“Kamu dimana?” tanya Aisyah kesal.


“Aku di luar provinsi bersama kekasihku jadi jangan menganggu.” Nathan mematikan ponselnya, Aisyah sangat kesal, berbicara dengan pria keras kepala melebihi Stevent.


“Kenapa dia tidak perduli ketika aku berbicara dengan wanita lain?” Nathan kesal dengan sikap cuek Afifah.


“Selamat siang.” Dokter Joe tersenyum pada Afifah.


“Selamat siang Dokter, maaf kami kembali lagi dengan terluka.” Afifah tersenyum cantik.


“Nathan adalah anak nakal jadi ia akan terus terlukan.” Dokter Joe melirik Nathan yang menatap tajam pada dirinya.


“Anda sangat pandai bercanda.” Afifah tertawa.

__ADS_1


“Aku tidak suka melihat dirinya tersenyum dan tertawa kepada pria lain.” Wajah tampan Nathan semakin cemberut dan kesal.


“Terimakasih Nona, anda sangat manis.” Joe tersenyum dan berjalan mendekati Nathan.


“Hey, kenapa wajah kamu sangat jelek?” Joe tersenyum.


“Periksa aku dan segera pergi dari ruangan diriku.” Nathan menatap tajam pada Joe.


“Kamu sangat suka masuk rumah sakit, sepertinya rumah sakit adalah tempat kencan kalian, apa kamu bertemu dengan dirinya di rumah sakit?” Dokter Joe berbisik di telinga Nathan.


“Ya, aku mengalami kecelakaan.” Nathan tersenyum.


“Itu kesialan atau keberuntungan?” Joe memeriksa luka Nathan.


“Aku tidak tahu tetapi aku senang bertemu dengan dirinya.” Nathan menatap Afifah yang duduk membaca majalah kesehatan.


“Kamu baik-baik saja dan bisa segera pulang, untuk dewa obat luka tembakan tidak berarti apa-apa.” Joe tersenyum.


“Kapan aku bisa keluar dari rumah sakit?” tanya Joe.


“Kenapa kamu masuk rumah sakit lagi padahal baru keluar tetapi aku cukup senang mengobati dirimu karena ada nona cantik itu.” Joe tersenyum ia sangat suka menggoda Nathan.


“Aku benar-benar akan menyuntikkan formula bagus pada dirimu.” Nathan tersenyum dengan menaikan salah satu sudut bibirnya.


“Aku tidak berani, segeralah sembuh dan keluar dari ruangan ini.” Joe berjalan menuju Afifah.


“Bagaimana keadaan Nathan?” tanya Afifah pada Dokter Joe.


“Pria itu baik-baik saja, kematian masih sangat jauh.” Joe melirik Nathan.


“Hidup mati seseorang tidak ada yang tahu karena itu adalah takdir dari Tuhan.” Afifah tersenyum.


“Baiklah Nona manis, tolong jaga anak nakal itu, saya permisi.” Joe keluar dari ruangan.


“Terimakasih Dok.” Afifah tersenyum.


“Afifah, kemarilah.” Nathan kesal.


“Apa kamu butuh sesuatu?” Afifah berjalan mendekati Nathan.


“Bisakah kamu tidak tersenyum kepada pria lain?” Nathan menatap tajam pada Afifah.


“Senyum adalh ibadah paling mudah.” Afifah tersenyum.


“Tapi senyuman kamu akan meluruhkan hati semua pria yang melihatnya.” Nathan cemberut.


“Apa kamu cemburu?” Afifah tersenyum.


“Aku sangat cemburu dan marah karena kamu adalah milikku.” Nathan menarik tangan Afifah hingga jatuh di dadanya.


“Nathan, apa yang kamu lakukan ini akan membuat luka kamu terbuka.” Afifah mendorong tubuh Nathan.


“Ambilkan formula yang ada di dalam tas kamu!” Nathan membuang mukanya, ia sangar ingin marah pada Afifah.


“Apa kamu marah?” Afifah memiringkan kepalanya menggoda Nathan.


“Tidak.” Nathan memaksa tersenyum.


“Aku akan keluar dan menunggu kamu tidak marah lagi.” Afifah tersenyum.


“Tetaplah disini, aku tidak marah.” Nathan menatap manja pada Afifah.


“Aku akan mengambil tasku.” Afifah tersenyum.


“Afifah, cobalah untuk mencintai diriku.” Nathan menggenggam tangan Afifah.


“Nathan, aku tidak pernah berpikir untuk membentuk keluarga.” Afifah menatap Nathan.


“Kenapa?” Nathan melihat Afifah dengan raut wajah kecewa.


“Apa jadinya jika seorang istri lupa punya suami dan seornag ibu yang lupa punya anak?” Afifah menatap Nathan dengan tatapan sedih.


“Aku akan mengobati dirimu hingga benar-benar sembuh, aku ahli kimia memiliki laboratorium pribadi, rumah sakit dan pabrik pembuatan obat, aku bisa melakukan apapun untuk menyembuhkan dirimu.” Nathan menggenggam tangan Afifah.


“Apa kita akan menikah setelah aku sembuh?” Afifah menarik tangannya.


“Kita akan menikah setelah bertemu orang tua kamu dan selama pernikahan aku akan mengabiskan sisa hidupku untuk mengobati dirimu dan membentuk keluarga bersama dengan kamu.” Nathan menyakinkan Afifah.


“Ya.” Afifah tersenyum, ia yakin Nathan bisa menyembuhka dirinya karena ia telah merasaknnya sekarang.


“Nathan, beristirahatlah agar kamu segera puliha dan secepatnya kita keluar dari rumah sakit ini.” Afifah tersenyum dan berjalan menuju meja mengambil tasnya.


“Aku akan menuruti dirimu.” Nathan tersenyum.


Afifah menyuntikkan formula pada selang infus Nathan, ia membuang jarum pada tempat sampah dan berbaring di sofa panjang samping tempat tidur pria itu.


“Bagaimana ia tahu formula yang harus di suntikkan pada diriku?” Nathan memperhatikan Afifah yang telah memejamkan matanya setelah ia meminum obat.


Afifah telah berserah diri pada keadaan, ia pernah berusaha lari dari Nathan tetapi kembali dipertemukan lagi dalam situasi yang tidak terduga, mungkin pria itu adalah jodoh yang Tuhan kirimkan untuk melengkapi dirinya yang kekurangan karena penyakit langka. Wanita itu membutuhkan Nathan untuk mengobati dirinya yang sakit, pria yang sempurna menjadi pendamping hidupnya.


***


Untuk yang Suka berikan like, Komentar, bintang 5, Tips, Vote serta bantu promosikan. Terimakasih.


Baca juga Novel Author berjudul “Arsitek Cantik” dan "Mengejar Cinta Ariel" dan "Tabib Cantik Bulan Purnama"

__ADS_1


Novel Kakakku “Nyanyian Takdir Aisyah dan Cinta Bersemi di Ujung Musim.” (Fitri Rahayu). Terimakasih.


Semoga kita semua dalam keadaan sehat dan selalu mendapatkan perlindunganNya, Aamiin.


__ADS_2